Jembatan Rumpiang Marabahan

Jembatan Rumpiang Marabahan

Jembatan Rumpiang Marabahan

Landmark Baru Kalimantan Selatan selain Jembatan Barito, Jembatan Rumpiang yang dibuat untuk menghubungkan Kotamadya Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala Marabahan, membentang diatas Sungai Barito sehingga dengan terhubungnya dua kota tersebut diharapkan Marabahan bisa lebih maju dan Berkembang. Kabupaten Barito Kuala yang beribukota Marabahan adalah Kabupaten  paling dekat Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan yang masih tertinggal dalam hal pembangunan dan perekonomian . Dulunya untuk mencapai Kota marabahan masyarakat menggunakan jasa transportasi air Ferry penyeberangan yang memerlukan waktu yang cukup lama sehingga arus barang tidak begitu lancar dan juga kurang efektif dan efisien dari segi biaya, sehingga Pemerintah Daerah membuka isolasi kawasan dengan membangun Jembatan Rumpiang.

Jembatan Gantung Type Busur,

Adapun data teknisnya sebagai berikut :
– Jembatan kelas A, lebar perkerasan 7 m
– Lebar jembatan 9 m
– Total Panjang bentang 753,83 m
– Tinggi bebas lalu lintas sungai 15 m
– Panjang bentang utama 200 m
– Konstruksi bentang utama pelengkung rangka baja
– Tinggi Pelengkung dari lantai jembatan 36

Sungai Martapura

Sungai Martapura

Sungai Martapura

Taman Siring Martapura

Taman Siring Martapura

Sungai Martapura adalah anak sungai Barito yang melewati kota Banjarmasin dan kota Martapura ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sekarang Tambah cantik dengan dilakukan pembendungan siring untuk mencegah abrasi dari sungai martapura, dengan dilakukan penyaringan ditambah penempatan taman beserta lampu hias makin menambah pesona sungai martapura.

Pasar Terapung Muara Kuin

Pasar Terapung (Floating Market)

Pasar Terapung (Floating Market)

Buat kamu yang belum ke Pasar Terapung di Banjarmasin saya sarankan kamu mencoba untuk berkunjung ke Pasar Terapung dijamin rame deh…Percaya deh…

Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Suasana dan kegiatan pasar

Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.

Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.

Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Potensi wisata

Obyek wisata ini sering dianggap sebagai daya tarik yang fantastik, Banjarmasin bagaikan Venesia di Timur Dunia, karena keduanya memiliki potensi wisata sungai. Namun kedua kota berbeda alam dan latar belakang budayanya. Di Banjarmasin masih banyak ditemui di sepanjang sungai rumah-rumah terapung yang disebut rumah lanting, yang selalu oleng dimainkan gelombang.

Daerah Kuin merupakan tipe permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai (waterfront village) yang memiliki beberapa daya tarik pariwisata, baik berupa wisata alam, wisata budaya maupun wisata budaya. Kehidupan masyarakatnya erat dengan kehidupan sungai seperti pasar terapung, perkampungan tepian sungai dengan arsitektur tradisionalnya. Hilir mudiknya aneka perahu tradisional dengan beraneka muatan merupakan atraksi yang menarik bagi wisatawan, bahkan diharapkan dapat dikembangkan menjadi desa wisata sehingga dapat menjadi pembentuk citra dalam promosi kepariwisataan Kalimantan Selatan. Masih di kawasan yang sama wisatawan dapat pula mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, pulau Kembang, pulau Kaget dan pulau Bakut. Di Kuin juga terdapat kerajinan ukiran untuk ornamen rumah Banjar.

Jembatan Barito

Jembatan Barito

Jembatan Barito

Jembatan Barito adalah jembatan yang membelah Sungai Barito di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Jembatan ini memiliki panjang 1.082 meter yang melintasi Sungai Barito selebar 800 meter dan pulau kecil (Pulau Bakut) selebar 200 meter. Jembatan ini terdiri dari jembatan utama sepanjang 902 meter, dan jembatan pendekat 180 meter, dengan lebar 10,37 meter. Ketinggian ruang bebas jembatan utama 15 – 18 meter, sehingga bisa digunakan untuk lalu lintas perairan.

Jembatan ini pertama kali diresmikan pada tahun 1997 oleh Presiden Soeharto.

Tetapi sayang sungguh sayang, Aset negara ini (Jembatan Barito red:) kurang terpelihara,  kurang terawat, dan kurang diawasi oleh Pemerintah Daerah sehingga banyak terjadi pencurian material jembatan seperti Batang kawat, baut, besi dan sebagainya, jika terus dibiarkan maka akan mengakibatkan korban jiwa, Naudzubillah semoga tidak terjadi hal2 yang tidak kita inginkan.

Jembatan Barito sebagai penghubung trans kalimantan seyogyanya diperlihara dan dikemas sebagai tujuan wisata dengan menambah fasilitas wisata dan mempercantik keelokan Jembatan seperti pemasangan lampu hias disepanjang areal jembatan, adanya resort atau lainnya yang mendukung sebagai obyek wisata  sehingga Jembatan Barito menjadi salah satu Kebanggaan (landmark) Masyarakat Banjar dan menghasilan retribusi pendapatan bagi Pemerintah Daerah.

Semoga Hal tersebut dapat diwujudkan.