Guru Sekumpul dalam Kenangan

Guru Sekumpul bersama putra tercinta

Guru Sekumpul bersama putra tercinta

Abah Guru yang murah senyum

Abah Guru yang murah senyum

Musholla Arraudhan  (pengajian Guru Sekumpul)

Musholla Arraudhan (pengajian Guru Sekumpul)

Makam Guru Sekumpul

Makam Guru Sekumpul

Iklan

Banjar : Negeri Tuan Guru

Rumah Banjar

Rumah Banjar

Sejarah Suku Banjar :
Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti Suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya).

Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): ” Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton….Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya”.

Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): “Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.

Suku Banjar di Kalimantan Timur

Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara dan Jempang, Kutai Barat, Samarinda Ulu, Samarinda, Samarinda Ilir, Samarinda (Samarinda), Balikpapan, dan Tarakan.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau (ayahanda Puteri Petung) dari Kerajaan Kuripan (versi lainnya dari Kerajaan Bagalong di Kelua, Tabalong) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Kesultanan Pasir) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Organisasi Suku Banjar di Kalimantan Timur adalah Kerukunan Bubuhan Banjar Kalimantan Timur (KBB-KT).
[sunting]

Suku Banjar di Kalimantan Tengah

Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta’inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama [[Pangeran Adipati Antakusuma.

Suku Banjar yang datang dari lembah sungai Negara (wilayah Batang Banyu) terutama orang Negara (urang Nagara) yang datang dari Kota Negara (bekas ibukota Kerajaan Negara Daha), kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan telah cukup lama mendiami wilayah Kahayan Kuala, Pulang Pisau, yang kemudian disusul orang Kelua (urang Kalua) dari Tabalong dan orang Hulu Sungai lainnya mendiami daerah yang telah dirintis oleh orang Negara. Puak-puak suku Banjar ini akhirnya melakukan perkawinan campur dengan suku Dayak Ngaju setempat dan mengembangkan agama Islam di daerah tersebut.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Suku Banjar terbagi 3 subetnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asliDayak:

* Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
* Banjar Batang banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa
(Maanyan sebagai ciri kelompok)
* Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai,Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)

Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.
Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Suku Banjar di Jawa Tengah

Suku Banjar di Jawa Tengah hanya berkisar 10.000 jiwa, jadi tidak sebanyak di Jambi, Riau dan Sumatera Utara. Suku Banjar terutama bermukim di Kota Semarang dan Kota Surakarta. Di Semarang suku Banjar (dahulu) kebanyakan bermukim di Kampung Banjardi Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, Semarang. Dahulu kampung ini merupakan wilayah kelurahan Banjarsari, Kecamatan Semarang Tengah yang telah dilikuidasi karenanya adanya penataan wilayah administrasif kota Semarang. Migrasi suku Banjar ke kota Semarang kira-kira pada akhir abad ke-19 dan bermukim di sebelah barat kali Semarang berdekatan dengan kampung Melayu (Ex. Kelurahan Melayu Darat yang telah dilikuidasi). Di wilayah ini suku Banjar membaur dengan suku lainnya seperti suku Arab-Indonesia, Gujarat, Melayu, Bugis dan suku Jawa setempat. Keunikan suku Banjar di kampung ini , mereka mendirikan rumah panggung (rumah ba-anjung) seperti di daerah asalnya, tetapi sayang kebayakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut. Sedangkan di Surakarta suku Banjar kebanyakan bermukim di Kampung Jayengan. Suku Banjar di Surakarta memiliki yayasan Darussalam, yang diambil dari nama Pesantren terkenal yang ada di kota Martapura. Kebanyakan suku Banjar di Jawa Tengah merupakan generasi ke-5 dari keturunan Martapura, Kabupaten Banjar. Tokoh suku Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf asal Martapura, yang pernah menjabat Bupati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah. Beliau juga ketua Ikatan Keluarga Kalimantan ke-1, saat ini dijabat Bpk. H Akwan dari Kalimantan Barat. Di samping itu ada pula Ikatan Keluarga Banjar di Semarang, yang diketuai H. Karim Bey Widaserana dari Barabai.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.

Penyebaran Suku Banjar Secara Singkat

Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan . Hal tersebut mempengaruhi penyebaran suku-suku bangsa di Kalimantan . Pada jaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa . Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung , sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama . Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, Sungai Barito dan Sungai Tabalong pada jaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Ketika orang Melayu generasi pertama yang menjadi nenek moyang suku bangsa Banjar bermigrasi ke daerah ini mereka mendarat di sebelah timur teluk tersebut, diduga di sekitar kota Tanjung, di Tabalong yang di masa tersebut terletak di tepi pantai , mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan . Suku Dayak Maanyan bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggalnya dekat laut , suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar . Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan. Menurut Kitab Negarakertagama, wilayah lembah sungai Tabalong dan Barito merupakan propinsi Majapahit di kawasan ini. Wilayah Tabalong secara intensif mendapat pengaruh dari pendatang, sehingga berdiri beberapa kerajaan di wilayah ini. Wilayah Tabalong semula merupakan pemukiman Suku Dayak Maanyan . Sedangkan wilayah Barito merupakan pemukiman suku Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju bermigrasi dari arah barat Kalimantan Tengah, merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Kelompok dari Suku Dayak Ngaju yang banyak mendapat pengaruh pendatang adalah suku Dayak Bakumpai dan Barangas. Belakangan pengaruh agama Islam menjadi ciri bagi Suku Dayak Bakumpai dan Barangas. Suku Banjar yang bertempat tinggal di daerah atas di kaki pegunungan Meratus dari kota Tabalong sampai Tanah Laut merupakan kelompok Pahuluan. Kelompok Pahuluan bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah berawa-rawa di tepi sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan. Di wilayah tersebut terbentuk kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi agama Hindu dan Majapahit dibuktikan dengan adanya peninggalan bekas-bekas candi di Hulu Sungai Utara dan Tapin . Dari wilayah Batang Banyu yaitu daerah tepian sungai Negara dari Tabalong hingga muaranya di sungai Barito, suku Banjar bergerak ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yang banyak terdapat perkampungan orang Barangas (Ngaju) yaitu membentuk Kerajaan Banjar , sehingga terbentuklah kelompok Banjar Kuala yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu , suku Jawa , Suku Dayak Bukit , suku Dayak Maanyan , suku Dayak Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Dari wilayah Kalimantan Selatan , suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan . Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Hulu Sungai Utara yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan ( Hindu ) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Kesultanan Pasir Belengkong ) di daerah Pasir , selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta’inbillah ( 1650 – 1672 ), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma . Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito Utara mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati ) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu ( Murung Raya ), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman . Suku Banjar terbagi 3 kelompok berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku :
– Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
– Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
– Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok) Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin ( Kalimantan Tengah ) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan, Benuaq dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan. Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan , Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, Monarki Kesultanan Indragiri sebelum Monarki yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Indragiri. Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah , Perak Darul Ridzuan ( Kerian , Sungai Manik , Bagan Datoh ), Selangor ( Sabak Bernam , Tanjung Karang), Johor ( Batu Pahat ) dan juga negeri Sabah ( Sandakan , Tenom , Keningau , Tawau ) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Negeri Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten ) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.

Indonesia dan Diplomasi


Politik luar negeri merupakan kepanjangan dari kepentingan nasional suatu negara. Dengan demikian, maka sejatinya politik luar negeri yang dijalankan, adalah semata-mata demi mendukung dan mewujudkan kepentingan nasional bangsa. Jika keluar dari frame tersebut, maka politik luar negeri tak akan banyak artinya. Kepentingan nasional bangsa Indonesia tertuang dalam pembukaan (Undang-Undang Dasar) UUD 1945, yaitu menjamin kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Itu baru tujuan ideal dari kepentingan nasional. Sementara secara operasional, tujuan nasional sangat tergantung dari tantangan zaman masing-masing rejim. Di era pemerintahan Orde Lama, prioritas kepentingan dititikberatkan pada isu pengakuan internasional atas kemerdekaan Indonesia dan penguatan persatuan nasional. Oleh karenanya, politik luar negeri yang diusung semaksimal mungkin ditujukan dalam rangka menjawab problem tersebut. Begitu pun dengan politik luar negeri yang berorientasi pembangunan dan stabilitas gaya Orde Baru. Namun, sejak krisis ekonomi menghantam Indonesia sembilan tahun lalu, politik luar negeri kita juga ikut “turun panggung”. Tak ada lagi peran aktif Indonesia seperti peran aktif dalam penyelesaian konflik di Filipinan Selatan maupun Bosnia. Dunia internasional tak lagi menganggap Indonesia sebagai negara penting. Apalagi dengan demokratisasi dan transparansi yang digulirkan, membuat masyarakat internasional—dengan mata telanjang sekalipun—mengetahui berbagai borok rejim negeri ini yang di masa lalu ditutup rapat. Kasus korupsi, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) hingga kekerasan seakan akrab dengan image Indonesia dari pada peran sebagai peace maker maupun solidarity maker.


Namun awan gelap diplomasi internasional itu mulai berarak pergi. Tiga tahun terakhir, berbagai kemajuan dicapai pemerintah Indonesia dalam diplomasi internasional, sehingga secara tidak langsung, mengubah persepsi masyarakat dunia terhadap kita. Gejalan ini sepenuhnya disadari oleh pemerintah. Sebagaimana disampaikan Menlu Hassan Wirajuda, bahwa performence politik luar negeri Indonesia pasca reformasi dapat dikatakan sangat leluasa sepanjang sejarah diplomasi kita. Ada dua indikator yang dapat digunakan untuk menyimpulkan membaiknya tampilan Indonesia di dunia internasional tersebut. Pertama, kemajuan dan prestasi Indonesia mendapat apreasiasi dari masyarakat dunia. Kedua, terjadinya perubahan-perubahan setelah berakhirnya pengkotak-kotakan dunia atas dua blok, Barat dan Timur, dan sejalan dengan itu menguatnya multilateralisme. Salah satu faktor yang penting, kata Menlu, adalah terpilihnya Indonesaia pada sembilan organ-organ penting di PBB dan organisasi internasional lainnya. Pada organ-organ penting itu Indonesia terpilih dengan rata-rata angka dukungan sangat tinggi, sekitar 165 dari 192 anggota PBB. Bahkan Indonesia juga dipercaya masuk ke dalam Dewan HAM PBB dan Dewam Keamanan. Sesuatu yang di masa lalu sangat mustahil, mengingat track record kita yang dianggap sebagai negara pelanggar HAM. Bahkan pada November 2007 nanti, Indonesia akan menjadi Ketua Sidang DK PBB, menggantikan Prancis. Besarnya dukungan masyarakat internasional itu merupakan penegasan kembalinya Indonesia ke “orbit” negara-negara strategis di dunia. Sebuah ungkapan yang eksplisit dikatakan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa Indonesia saat ini merupakan negara paling dinamis dan penting di Asia Pasifik.

Kepentingan Nasional Kini

Jika kita bedah, definisi kepentingan nasional pada potret Indonesia kini terletak pada isu-isu antara lain, keutuhan NKRI, pembangunan ekonomi, revitalisasi militer dan pelestarian lingkungan. Pada isu yang pertama, kita telah melewati masa-masa sulit dalam penyelesaian separatisme di Aceh, hingga akhirnya menemukan solusi melalui jalan damai. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinski, Agustus 2005 bukan hanya bermanfaat bagi rakyat Aceh dan Indonesia, tetapi juga menjadi model penting bagi resolusi konflik di dunia. Pembangunan ekonomi kini juga tengah digalakkan dan tidak berhenti pada jargon. Melainkan melalui pemberian berbagai insentif, diantaranya pemotongan pajak dan menekan biaya siluman. Dengan cara ini diharapkan masyarakat internasional merespon keseriusan Indonesia untuk bengkit dari krisis. Sementara itu, revitalisasi militer sangat mendesak sebagai konsekuensi dari luasnya wilayah Indonesia. Dengan jumlah pulau yang sebanyak 17.500, tak ada jalan lain kecuali memperkuat kemampuan militer guna melindungi kepentingan nasional di seluruh wilayah kedaulatan kita. Pengalaman buruk embargo oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di masa lalu, kini coba dipecahkan melalui kerja sama strategis dengan partner baru dari Timur. Rusia dipilih sebagai partner strategis Indonesia ke depan karena negara ini memiliki kemampuan yang tak kalah dengan AS dan negara-negara Barat dalam teknologi militer.


Khusus menyangkut pelestarian lingkungan, Indonesia dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi sorotan dunia. Hal itu berkaitan dengan dilangsungkannya Konferensi tentang Perubahan Iklim dan Pemanasan Global (Climate Change & Global Warming), di Bali akhir tahun ini. Forum yang akan dihadiri oleh para pemimpin dari 180 negara di dunia nantinya diperkirakan akan mengeluarkan resolusi penting, pasca Protokol Kyoto, 1997. Pasalnya, masyarakat internasional kini mulai menemukan satu suara untuk mencegah kehancuran bumi. Rentetan bencana di Indonesia, India, Pakistan hingga Amerika dan Eropa lebih dari cukup untuk mengatakan tidak pada praktek perusakan bumi. Presiden SBY sendiri dalam sambutannya di depan forum Tingkat Tinggi PBB mengenai Climate Change baru-baru ini bersikap pragmatis mengenai perlunya menghentikan global warming. Menurut Presiden, Indonesia tak perlu penjelasan lebih panjang lagi soal dampak global warming dan climate change, karena Indonesia sudah mengalami, menjadi korban dan menderita kerugian. Untuk itu, SBY mengajak PBB agar menjadikan konferensi Bali nanti sebagai awal paradigma baru pembangunan dunia.

Agar posisi tawar Indonesia dan negara-negara yang memiliki hutan (Tropical Rainforest Countries) diperhitungkan, SBY menggagas sebuah inisiatif berupa Forestry Eight (F-8). Terbukti, dukungan terus mengalir atas inisiatif ini. Tiga negara lainnya melengkap F-8 menjadi 11 negara. Dari semua negara yang bergabung, yang paling menggembirakan adalah kehadiran Brasil. Bukan saja selama ini Brasil enggan ikut dalam forum serupa, melainkan terutama mengingat posisi Brasil sebagai pemilik hujtan hujan tropis terbesar di dunia. Selain Brasil dan Indonesia, F-8 terdiri dari Kamerun, Kolombia, Kongo, Kostarika, Gabon, Malaysia, Papua Nugini, dan Peru. Tuntutan Indonesia, mewakili F-8 yang disampaikan pada acara High-Level Meeting on Climate Change, adalah perlunya negara maju melakukan transfer teknologi dan memberi insentif kepada negara-negara berkembang pemilik hutan hujan tropis. Saat ini, apresiasi negara maju terhadap upaya negara pemilik hutan hujan tropis menyelamatkan dunia dari perubahan iklim global masih kurang memadai. Memang ada skema pemberian insentif melalui Clean Development Mecanism, tapi itu semua dirasa tidak cukup.

Era kebangkitan diplomasi Indonesia telah nyata terwujud. Namun tugas berikut tak kalah berat. Yaitu pemerintah dituntut untuk mentransfer kesuksesan di forum internasional ke dalam negeri. Ukurannya sederhana, dimana jumlah rakyat miskin berkurang, harga-harga bahan pokok terkendali, pengangguran menurun dan keamanan terjamin. Tanpa hasil nyata itu, diplomasi yang kinclong hanya akan menjadi momenumen tanpa arti.

Kerjasama Indonesia dan AS

anung/presidensby.info)
Presiden SBY dan Presiden Bush, di Istana Bogor, Senin (20/11) petang. (foto: anung/presidensby.info)

Bogor: Kunjungan Presiden Amerika Serikat George W.Bush ke Indonesia dengan membahas sejumlah agenda, adalah untuk memperkuat dan meningkatkan kerjasama diantara kedua bangsa dan negara. Demikian disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers bersama dengan Presiden Bush, usai melakukan pertemuan bilateral antara kedua delegasi, serta mengadakan pertemuan dengan sembilan tokoh Indonesia, di Istana Bogor, Senin (20/11) petang.

“ Hari ini kita mendapatkan kunjungan Presiden Amerika Serikat, Presiden Bush yang bertujuan untuk meningkatkan persahabatan dan kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat, dan secara khusus dalam pertemuan bilateral kita membahas sejumlah agenda, sekali lagi untuk memperkuat dan meningkatkan kerjasama diantara kedua bangsa dan negara, “ jelas SBY.

Ditambahkan, dalam pertemuan bilateral, perbincangan dimulai dengan ucapan terima kasih dan penghargaan Indonesia terhadap bantuan dana kerjasama yang diberikan oleh AS terhadap Indonesia pada bidang ekonomi, investasi dan perdagangan, pendidikan dna kesehatan, teknologi dan militer, dan lain lain.‘Kita juga berterima kasih terhadap bantuan Amerika Serikat dan negara – negara sahabat yang lain , ketika Aceh dan Nias mengalami tsunami, dan Jogja dan Jawa Tengah mengalami gempa. Ini menunjukkan bahwa kerjasama telah berlangsung dengan baik dan kita ingin meningkat di waktu yang akan datang, “ kata SBY lagi.

Pembahasan yang lebih rinci dilakukan untuk topik – topik seperti kerjasama di bidang kesehatan. “Kita membahas secara agak rinci peningkatan kerjasama Indonesia – Amerika Serikat, terutama di bidang kesehatan, khususnya kerjasama dalam menghadapi flu burung, dan kerjasama di dalam menghadapi berbagai penyakit menular.yang ada di negara – negara tropis, khususnya di Indonesia, “ kata SBY.

Untuk bidang pendidikan, Indonesia – AS memiliki kerjasama yang baik, dan kedua negara sepakat untuk terus melaksanakan kerjasama ini dan AS akan terus memberikan bantuan bagi peningkatan pendidikan di Indonesia yang menjadi bagian penting dalam agenda nasional pemerintah RI.

Sedangkan di bidang energi, Indonesia dan AS ingin mengembangkan kerjasama di bidang pembangunan bio energi, atau bio fuel sebagai energi alternatif. “ Dalam hal ini Amerika Serikat telah siap untuk berbagi di bidang teknologi dan hal – hal lain yang berkaitan dengan pengembangan energi alternatif khususnya bio fuel di negara kita, “ jelas SBY.

‘ Kita membahas kerjasama di bidang penanganan bencana alam, dan ke depan kerjasama dalam membangun ,i>early warning system untuk tsunami akan dilaksanakan. Kita berterima kasih atas kerjasama dan bantuan ini, baik dari Amerika Serikat khususnya dan beberapa negara yang membantu Indonesia untuk menggelar early warning system di waktu yang akan datang, “ kata SBY.

Presiden SBY menjelaskan bahwa delegasi kedua negara bertukar pikiran terhadap masalah – masalah global baik di Asia maupun Timur Tengah. Misalnya berkenaan dengan situasi di Korea, Irak maupun Palestina, dan kedua negara bersepakat untuk mencari solusi terbaik atas konflik – konflik yang terjadi di daerah itu.

“Setelah pertemuan bilateral tadi Presiden Bush dan saya bertemu dengan para tokoh masyarakat, para pakar yang membahas tentang bagaimana kerjasama di bidang – bidang yang kita bahas tadi , meningkatkan kualitas hidup, dari rakyat kita melalui partnership dan kerjasama diantara Amerika Serikat dan Indonesia. Diskusi berlangsung terbuka, konstruktif, kritis dan sangat baik untuk kita dengar bersama agar kerjasama di waktu yang akan datang benar – benar bisa menyentuh kepentingan rakyat Indonesia, khususnya dalam meningkatkan taraf hidup dan hal – hal lain yang menjadi tujuan pembangunan kita, “ kata SBY.

Sumber : Situs resmi Presiden RI

Ahmadinejad: Iran dan Indonesia, Pelabuhan Utama Perdamaian Dunia


sby_ahmadinejad.jpg

Presiden SBY mendapat sambutan kenegaraan dari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, di Teheran, Selasa (11/3/2008).

Dalam acara penyambutan resmi tersebut, kedua pemimpin negara berada di tempat kehormatan dan setelah pengumandangan lagu kebangsaan Iran dan Indonesia, kedua pemimpin berjalan berdampingan dan memeriksa barisan pasukan kehormatan.

salah satu agenda pembicaraan kedua Kepala Negara itu adalah pembahasan seputar Resolusi DK PBB Nomor 1803 soal sanksi berat Iran.

sby-man.jpg

Mahmoud Ahmadinejad menyebut Iran dan Indonesia sebagai dua negara yang berperan sebagai pelabuhan utama bagi tegaknya perdamaian di dunia.

Pernyataan itu disampaikan Ahmadinejad dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono di Tehran hari ini. Ahmadinejad mengatakan, perluasan kerjasama Tehran-Jakarta menguntungkan dunia Islam dan dunia internasional. Menurutnya, Iran dan Indonesia tidak mengenal batas dalam meningkatkan hubungan dan kerjasama. Ahmadinejad menegaskan bahwa Iran siap menyalurkan pengalamannya di berbagai bidang termasuk di bidang teknologi nuklir sipil, teknologi nano dan ekonomi.

Pada kesempatan itu Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan persamaan antara Iran dan Indonesia seraya mengatakan, “Kerjasama Republik Islam Iran dan Indonesia menguntungkan dunia Islam dan kemanusiaan.”

Indonesia dan Iran hari ini menandatangani lima nota kesepahaman di berbagai bidang di Tehran. Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad setelah penandatangan nota kesepahaman tersebut kepada para wartawan menyebut kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Iran sebagai lawatan bersejarah yang bisa menjadi lonjakan besar dalam peningkatan hubungan bilateral.

Ahmadinejad mengatakan bahwa hubungan Iran dan Indonesia semakin meningkat dan luas, dan kedua negara memiliki banyak kesamaan pandangan dalam berbagai masalah regional dan internasional. Dikatakannya bahwa Iran dan Indonesia memiliki pandangan yang sama menyangkut isu Timur Tengah, Palestina, Afganistan dan Irak.

Presiden Iran menambahkan, Tehran dan Jakarta sama-sama menekankan persatuan dan solidaritas bangsa-bangsa di kawasan, penghormatan atas kedaulatan setiap negara, dan penolakan intervensi asing. Kedua negara juga mengimbau untuk mengerahkan semua potensi dan sarana demi mengakhiri pendudukan dan pembunuhan warga sipil yang tak berdosa. Di bagian lain pernyataannya, Presiden Ahmadinejad memuji sikap Indonesia menyangkut isu nuklir Iran yang bertujuan damai.

Sementara itu, menurut rencana, SBY, Presiden Indonesia akan bertemu pula dengan Pemimpin Spiritual Ayatullah Udhma Sayid Ali Khamenei, hari ini jam lima sore, waktu Tehran.

Kesederhanaan Seorang Presiden Iran

iran-president-5.jpg


Televisi Fox Amerika pernah bertanya pada Presiden Iran Ahmadinejad : ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda katakan pada diri anda?” Ahmadinejad menjawab, ”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar dan itu adalah melayani bangsa Iran”.

Itulah kalimat pembuka penyiar TV memperkenalkan seorang Ahmadinejad. Ahmadinejad, Presiden Iran yang mencengangkan banyak orang ketika menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah.

Mantan walikota Teheran itu menutup ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai terlalu besar. Ia lalu meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan sederhana dan mengisi dengan kursi kayu. Sekali lagi fakta yang mengesankan…!

Dalam beberapa kesempatan Presiden juga bergabung dengan petugas kebersihan kota untuk membersihkan jalan di sekitar rumah dan istana Presiden.

Dibawah kepemimpinan Ahmadinejad, setiap menteri yang diangkat selalu menandatangani perjanjian dengan banyak ketentuan, terutama yang ditekankan adalah agar setiap menteri tetap hidup sederhana . Seluruh rekening pribadi dan keluarganya akan diawasi dan kelak jika masa tugasa berakhir sang menteri harus menyerahkan jabatannya dengan kewibawaan . Caranya adalah agar dirinya dan keluarganya tidak memanfaatkan keuntungan sepeser pun dari jabatannya.

Ahmadijed juga mengumumkan bahwa kemewahan terbesar dirinya adalah mobil Peogeot 504 buatan tahun 1977dan sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahun lalu yang terletak di salah satu daerah miskin di Teheran. Rekening tabungannya nol dan penghasilan yang diterima hanyalah gaji sebagai dosen sebesar kurang dari Rp 2.500.000,-. (U$ 250)

Asal tahu saja Presiden tetap tinggal di rumahnya. Satu-satunya rumah miliknya, salah satu presiden Negara terpenting di dunia secara strategi, ekonomi, politik dan tentunya minyak dan pertahanannya.

Ahmadinejad bahkan tidak mengambil gajinya sebagai presiden (yang merupakan haknya). Alasannya seluruh kekayaan adalah milik Negara dan ia hanya bertugas menjaganya.

Hal lain yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa setiap hari. Isinya adalah bekal sarapan, beberapa potong roti sandwinch dengan minyak zaitun dan keju . Ahmadinejad menyantap dengan nikmat makanan buatan isteri tersebut Di sisi lain ia menghentikan semua makanan istimewa yang biasa disediakan untuk presiden.

Ahmadinejad juga mengalihkan pesawat kepresidenan menjadi pesawat angkutan barang (cargo) dengan alasan untuk menghemat pengeluaran Negara. Presien juga memilih terbang dengan pesawat biasa di kelas ekonomi.

Ahmadinejad selalu melakukan rapat dengan para menteri kabinetnya untuk memantau semua aktivitas. Semua menteri bisa masuk ke ruangannya tanpa harus izin.Ia juga menghapus semua acara seremonial seperti red carpet, foto-foto dan iklan pribadi ketika jika mengunjungi Negara lain.

Jikalau harus menginap di hotel ia selalu memastikan untuk tidak tidur dengan ruangan dan tempat tidur mewah. Alasannya ia tidak tidur di tempat tidur tetapi tidur di lantai beralaskan matras sederhana dan sepotong selimut.

Apakah semua tindakan dan kelakuan presiden menimbulkan rasa tidak hormat?
iran-presiden.jpg
Coba bandingkan dengan foto-foto berikut. Ahmadinejad tidur di ruang tamu selepas dijaga pengawal kepresidenan seharian kemanapun ia pergi. Foto ini dibuat oleh adiknya dan diterbitkan harian Wifaq yang sehari kemudian menyebar di majalah dan Koran seluruh dunia terutama Amerika Serikat.

iran-president-2.jpg

Saat shalat berjamaah di masjid Presiden tidak duduk di shaf pertama.

iran-president-7.jpg

Foto terakhir adalah presiden sedang menikmati makan di ruang makan

Bagaimana dengan Presiden dan pejabat-pejabat serta anggota MPR/DPR kita?

Semoga Hati Pemimpin Bangsa ini tidak memikirkan keuntungan semata saja. Amin

Surat Mahmud Ahmadinejad kepada George W. Bush (7 s/d 15)

Presiden Ahmadinejad VS Presiden Bush

Presiden Ahmadinejad VS Presiden Bush

Bagian Ketujuh

Tuan Presiden,

Salah satu kewajiban pemerintah adalah mewujudkan keamanan dan ketenangan bagi rakyatnya. Masyarakat negara Anda dan negara-negara yang bertetangga dengan poros krisis dunia tidak lagi merasakan keamanan dan ketenangan selama bertahun-tahun.

Setelah peristiwa 11 September, bukannya meredam jiwa dan menenangkan masyarakat Amerika yang sangat menderita akibat peristiwa tersebut tapi sebagian media massa Barat malah membesar-besarkan kondisi tidak aman dan senantiasa mengabarkan adanya kemungkinan serangan teroris serta senantiasa sengaja menjaga agar masyarakat dalam kondisi takut dan khawatir. Apakah ini yang disebut melayani rakyat Amerika? Apakah kerugian yang berasal dari ketakutan dan kekhawatiran dapat dihitung?

Coba anda bayangkan, rakyat Amerika merasa bakal ada serangan. Mereka merasa tidak aman ketika berada di jalanan, tempat kerja dan di rumah. Siapa yang dapat menerima kondisi seperti ini? Mengapa media bukannya memberitakan hal-hal yang dapat menenangkan dan memberikan keamanan sebaliknya malah mengabarkan ketidakamanan?

Sebagian berkeyakinan bahwa propaganda besar-besaran ini dijadikan fondasi dan alasan untuk menyerang Afghanistan. Bila sudah begini kiranya baik bila saya berikan sedikit petunjuk terkait dengan media.

Dalam prinsip dasar media, penyampaian informasi yang benar dan menjaga amanat dalam menyebarkan berita adalah prinsip dasar yang manusiawi dan telah diakui. Saya merasa perlu untuk mengucapkan dan mengumumkan rasa penyesalan yang dalam atas ketiadaan rasa tanggung jawab sebagian media Barat berkaitan dengan komitmen ini.

Alasan utama agresi ke Irak adalah adanya senjata pemusnah massal. Tema ini diulang-ulang sedemikian rupa sehingga masyarakat percaya dan akhirnya basis penyerangan Irak pun tercipta.
Apakah kebenaran tidak akan hilang dalam atmosfer yang direkayasa dan berisi kebohongan?
Apakah hilangnya sebuah kebenaran sesuai dengan tolok ukur yang telah saya jelaskan sebelumnya?
Apakah kebenaran juga akan hilang di sisi Tuhan?

Bagian Kedelapan

Tuan Presiden,

Di semua negara masyarakatlah yang menanggung anggaran belanja negaranya sehingga pemerintah dapat melayani mereka. Pertanyaannya di sini adalah, dengan anggaran tahunan ratusan miliar dolar untuk pengiriman pasukan ke Irak apa yang didapat oleh masyarakat?

Anda sendiri mengetahui bahwa di sebagian negara bagian Amerika masyarakat hidup dalam kemiskinan. Ribuan orang tidak memiliki rumah. Pengangguran adalah masalah besar dan masalah ini kurang lebih juga terjadi di negara-negara lain. Apakah dalam kondisi yang seperti ini pengiriman sejumlah besar pasukan dan itu pun dengan anggaran luar biasa dari masyarakat dapat dibenarkan dan sesuai dengan dasar-dasar yang telah disebutkan sebelumnya?

Bagian Kesembilan

Tuan Presiden,
Apa yang sudah disebutkan adalah sebagian dari penderitaan masyarakat dunia, masyarakat kawasan kami dan masyarakat Anda. Namun maksud asli saya yang sedikitnya pasti akan Anda benarkan adalah sebagai berikut:
Para penguasa memiliki masa tertentu dan tidak selamanya berkuasa. Namun nama mereka akan diingat dan tertulis dalam sejarah. Dan di masa depan, dekat atau jauh, ia akan senantiasa dinilai. Masyarakat akan berkata: dalam periode kita ini apa yang telah terjadi.

Apakah untuk masyarakat kita menyiapkan keamanan dan kesejahteraan atau malah ketidakamanan dan pengangguran?
Apakah kita memang hendak mewujudkan keadilan atau hanya membela kelompok istimewa dengan imbalan harga kemiskinan dan kepapaan sebagian besar masyarakat dunia? Apakah kita memberikan kekayaan dan pangkat pada sekelompok orang dan lebih memilih kerelaan mereka ketimbang kerelaan masyarakat dan Tuhan?
Apakah kita membela hak-hak masyarakat dan kaum miskin atau kita tidak memandang mereka sedikit pun?
Apakah kita membela hak-hak manusia di seluruh dunia atau malah memaksakan perang dan ikut campur secara ilegal dalam urusan negara lain atau membangun sel-sel rahasia dan memenjarakan sebagian orang di sana?
Apakah kita telah mewujudkan perdamaian dunia atau malah menyebarkan ancaman dan kekerasan di seluruh dunia?
Apakah kita telah berbicara dengan jujur kepada rakyat kita dan masyarakat dunia atau malah menunjukkan kebenaran yang telah diputarbalikkan?
Apakah kita termasuk pembela masyarakat atau pembela para penjajah dan penzalim?
Apakah dalam pemerintahan kita yang lebih dipentingkan adalah logika, akal, moral, perdamaian, mengamalkan perjanjian, menyebarkan keadilan, melayani masyarakat, kesejahteraan dan kemajuan, menjaga kehormatan manusia ataukah kekuatan persenjataan, ancaman, ketidakamanan, tidak memperdulikan masyarakat, menahan kemajuan masyarakat dunia dan menginjak hak-hak manusia?

Dan pada akhirnya mereka akan berkata, apakah kita setia dengan sumpah yang kita ucapkan dalam rangka melayani masyarakat yang merupakan tugas asli kita dan apakah kita mengamalkan ajaran-ajaran para Nabi ataukah tidak?

Bagian Kesepuluh

Tuan Presiden,
Sampai kapan dunia akan menanggung beban berat ini? Dengan proses semacam ini, kemanakah dunia akan melangkah? Sampai kapan masyarakat dunia harus menanggung beban keputusan-keputusan salah dari para penguasa? Sampai kapan cakrawala ketakutan harus terbentang di hadapan masyarakat dunia akibat ditimbunnya senjata pemusnah massal? Sampai kapan darah anak-anak, para wanita dan laki-laki harus mengalir di atas batu-batu jalanan dan rumah-rumah mereka harus dihancurkan?
Apakah Anda rela dengan kondisi dunia sekarang ini? Apakah Anda berpikir bahwa kebijakan yang telah ada ini dapat terus berlangsung?

Andai ratusan miliar dolar yang dipakai untuk membiayai keamanan, pertahanan, pengiriman pasukan dialokasikan sebagai modal dan bantuan bagi negara-negara miskin, pengembangan kebersihan, perang melawan berbagai macam penyakit, pendidikan, peningkatan kemampuan berfikir dan jasmani, menolong korban bencana alam, menciptakan lapangan pekerjaan, penghijauan dan pengentasan kemiskinan, menggalang perdamaian, menghilangkan perselisihan antar negara-negara, menghilangkan peperangan kabilah dan ras dan lain-lain… Dapatkah dibayangkan keadaan dunia akan seperti apa? Dan apakah pemerintahan dan rakyat Anda tidak merasa bangga dengan ini?

Apakah posisi politik dan ekonomi pemerintahan dan rakyat Anda tidak akan semakin kokoh? Dengan mengucapkan rasa penyesalan penuh, saya harus mengucapkan apakah masyarakat dunia semakin membenci pemerintah Amerika?

Bagian Kesebelas

Tuan Presiden,
Saya tidak bermaksud untuk melukai perasaan seorang pun.
Bila Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Ismail, Yusuf dan atau Nabi Isa AS hadir di dunia hari ini dan melihat perilaku semacam ini, apakah yang akan dikatakan mereka? Apakah dalam dunia yang dijanjikan, dunia yang diliputi oleh keadilan dan Nabi Isa AS akan hadir, kita akan diberi sebuah peran? Apakah mereka akan menerima kita?

Pertanyaan kunci saya adalah: apakah tidak ada lagi jalan yang lebih baik dalam pergaulan dengan masyarakat dunia?

Saat ini di dunia ada ratusan juta orang Kristen, ratusan juta orang Islam dan jutaan lagi orang pengikut Nabi Musa AS. Semua agama Ilahi memiliki persamaan dalam satu kalimat yaitu kalimat tauhid, keyakinan akan Tuhan Yang Esa dan tidak ada tuhan selain Dia di dunia ini.

Al-Quran al-Karim menegaskan persamaan ini dan menyeru semua pengikut agama ilahi dengan sabdanya:

“Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah berpegang pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari pada Allah.” (Ali Imran: 64)

Bagian Keduabelas

Tuan Presiden,
Berdasarkan firman ilahi kita semua diajak untuk menyembah Allah Yang Esa dan mengikuti utusan-utusan ilahi.

“Penyembahan kepada Tuhan Yang Esa yang Maha kuasa dan berkuasa atas segala sesuatu.”
“Allah Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan yang tampak, masa lalu dan yang akan datang. Dan Ia mengetahui apa yang terlintas di benak hamba-Nya dan mencatat amalan mereka.”
“Tuhan sang pemilik langit dan bumi dan semua alam di bawah kekuasaan-Nya”,
“Pengaturan seluruh alam di tangan-Nya dan Ia memberikan janji untuk mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.”
“Ia adalah penolong mereka yang terzalimi dan musuh mereka yang menzalimi.”
“Dia Maha Pengasih dan Penyayang.”
“Ia adalah penolong kaum mukminin dan Ia menuntun mereka dari kegelapan kepada keterangbenderangan.”
“Ia mengawasi perbuatan hamba-hamba-Nya.”
“Ia menyerukan hamba-Nya untuk beriman dan berbuat baik dan menginginkan agar mereka berbuat berdasarkan kebenaran dan untuk tetap istiqamah dalam kebenaran.”
“Allah menyerukan agar hamba-hamba-Nya untuk menaati utusan-Nya dan Ia sebagai saksi dan pengawas perbuatan hamba-hamba-Nya”, “Puncak keburukan terkait dengan orang-orang yang menginginkan kehidupan yang terbatas di dunia ini dan tidak mengikuti perintah-Nya dan menzalimi hamba-hamba Allah”,
“Puncak kebaikan dan surga yang kekal hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa di hadapan keagungan ilahi dan tidak mengikuti hawa nafsunya”.

Kami yakin bahwa kembali kepada ajaran para Nabi adalah satu-satunya jalur kebahagiaan dan kesuksesan. Saya mendengar bahwa Anda adalah seorang penganut Kristen dan percaya akan janji Ilahi akan adanya pemerintahan orang-orang shaleh di muka bumi.

Kami juga percaya bahwa Nabi Isa AS adalah salah satu Nabi besar ilahi. Dalam al-Quran Nabi Isa AS mendapat penghormatan yang luar biasa dan ini adalah ucapan Nabi Isa AS yang dinukil oleh al-Quran:

Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam: 36)

Penghambaan dan ketaatan kepada Allah adalah seruan semua para Nabi. Tuhan seluruh masyarakat di Eropa, Afrika, Amerika, dan negara-negara kepulauan, seluruh dunia hanya satu dan Ia adalah Tuhan menginginkan kemuliaan bagi semua hamba-Nya dan memberikan kehormatan kepada umat manusia.

Dan dalam firman Allah:

Allah Yang Maha Berkuasa dan Tinggi mengutus para Nabi yang memiliki mukjizat dan tanda-tanda yang jelas untuk memberi petunjuk kepada manusia akan tanda-tanda kebesaran Tuhan serta menjauhkan manusia dari dosa. Allah mengirimkan kitab dan mizan agar manusia dapat menegakkan keadilan dan tidak berbuat zalim”.

Semua ayat-ayat ini terdapat dalam kitab suci.

Para Nabi dan utusan ilahi memberikan janji bahwa pada suatu hari nanti semua manusia akan dibangkitkan di hadapan Allah untuk diperhitungkan amal perbuatannya. Mereka yang berbuat baik akan diantarkan ke surga dan mereka yang berbuat buruk akan mengalami siksaan ilahi.

Saya pikir kita berdua sama-sama meyakini akan hari itu.
Tetapi perhitungan para penguasa tidak akan ringan. Karena kita harus memberikan jawaban kepada masyarakat dan semua orang disebabkan perbuatan kita yang memiliki dampak dalam kehidupan mereka.

Para Nabi menginginkan perdamaian dan ketenangan yang berdasarkan prinsip-prinsip penyembahan kepada Allah, keadilan, menjaga harkat dan martabat manusia.

Bila kita semua meyakini tauhid dan penyembahan kepada Tuhan, keadilan, menjaga harkat dan martabat manusia, hari akhir, apakah kita tidak bisa memainkan peranan yang lebih penting dan indah dalam menyelesaikan problem dunia saat ini yang muncul akibat ketidaktaatan kepada Allah dan ajaran-ajaran para Nabi?
Apakah keyakinan akan prinsip-prinsip ini tidak akan memperluas dan menjamin perdamaian, persaudaraan dan keadilan?
Apakah prinsip-prinsip itu bukan merupakan ajaran tertulis atau tidak tertulis mayoritas masyarakat dunia?
Apakah Anda tidak ingin mengabulkan seruan ini?
Kembali secara hakiki pada ajaran para Nabi, tauhid dan keadilan, pada penjagaan terhadap harkat dan martabat manusia serta ketaatan kepada Tuhan dan utusan-utusan-Nya

Bagian Ketigabelas

Tuan Presiden,
Sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan yang berada dalam jalur kezaliman tidak akan pernah bertahan lama. Tuhan tidak membiarkan dunia dan manusia begitu saja. Bukankah sudah banyak kejadian yang bertolak belakang dengan rencana-rencana para penguasa. Fakta sejarah menunjukkan bahwa ada kekuatan yang lebih di atas segalanya yang mengatur semua hal.

Bagian Keempatbelas

Tuan Presiden,
Apakah indikasi perubahan di dunia pada masa ini dapat diingkari? Apakah keadaan dunia sekarang dengan sepuluh tahun yang lalu dapat dibandingkan. Perubahan terjadi begitu cepat terjadi dan mencakup dimensi yang sangat luas. Masyarakat dunia tidak rela dengan kondisi dunia saat ini. Mereka tidak percaya dengan janji-janji sebagian penguasa yang berpengaruh di dunia.

Sebagian besar masyarakat dunia merasa tidak aman. Mereka tidak setuju dengan berkembangnya kondisi ini begitu juga dengan perang. Masyarakat dunia protes akan adanya jurang pemisah yang dalam antara mereka yang kaya dan miskin, antara negara yang sejahtera dan miskin. Masyarakat semakin membenci kebejatan moral yang semakin meningkat.

Mayoritas masyarakat di negara-negara merasa sedih karena basis budaya mereka terancam, institusi keluarga berantakan dan kasih sayang seta cinta kasih yang semakin luntur.

Masyarakat dunia mulai pesimis memandang organisai-organisai internasional karena hak-hak mereka tidak dipertahankan oleh organisasi tersebut.

Liberalisme dan Demokrasi Barat tidak mampu mendekatkan manusia kepada idealisme mereka. Liberalisme dan Demokrasi adalah pecundang. Para pemikir dan cendekiawan dunia dengan jelas mendengar suara runtuhnya pemikiran dan sistem Liberal-Demokrasi. Hari ini perhatian masyarakat dunia semakin meningkat kepada sebuah fokus. Dan fokus itu adalah Tuhan Yang Esa. Dan tentunya masyarakat akan sukses mengatasi masalah mereka dengan tauhid dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran para Nabi.
Pertanyaan penting dan serius saya di sini adalah: Apakah Anda tidak ingin menyertai mereka?

Bagian Kelimabelas

Tuan Presiden,
Mau tidak mau, dunia sedang mengarah pada penyembahan Allah dan keadilan. Kehendak Allah akan mengalahkan segala-galanya.

Keselamatan untuk mereka yang mengikuti petunjuk
Mahmud Ahmadinejad
Presiden Republik Islam Iran

Teheran, 17-02-1384
7 Mei 2006