Doa Harian di Bulan Suci Ramadhan

Lembayung Senja

PRAKATA

Tanpa terasa waktu berjalan  silih berganti tanpa henti hingga tiba waktunya dengan izin Allah SWT kita bertemu kembali dengan Bulan Penuh Kemulian dan KeridhoanNya yakni Bulan Suci Ramadhan. Telah banyak Saudara kita yang telah berpulang dipanggil olehNya sehingga tidak dapat lagi menemui Bulan Ramdhan, akan tetapi kita semua masih diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk beribadah kepadanya, memperbaiki/mengkoreksi diri dan meningkatkan amal ibadah serta keimanan kita kepadaNya dengan menjalankan Puasa dan memperbanyak amalan dibulan penuh keberkahan ini. Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Dengan berbagai keistimewaannya,  Kita selaku Umat Islam haruslah memperbanyak Doa kepadaNya sebagai tanda kita adalah hamba yang lemah dihadapanNya dan juga mensyukuri atas segala karunia yang telah diberikan olehnya. Semoga dalam menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan ini kita diberikan kemudahan olehNya.

Amin Ya Rabbal Alamiin

Do’a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :
“Artinya : Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir : 60].

Doa Doa di Bulan Suci Ramadhan

Doa Hari Ke 1

Yaa Allah! Jadikanlah Puasa Ku Sebagai Puasa Orang-Orang Yang Benar- Benar Berpuasa. Dan Ibadah Malam Ku Sebagai Ibadah Orang-Orang Yang Benar-Benar Melakukan Ibadah Malam. Dan Jagalah Aku Dan Tidurnya Orang-Orang Yang Lalai. Hapuskanlah Dosa Ku … Wahai Tuhan Sekalian Alam!! Dan Ampunilah Aku, Wahai Pengampun Para Pembuat Dosa.

Doa Hari Ke 2

Yaa Allah! Dekatkanlah Aku Kepada Keridhoan-Mu Dan Jauhkanlah Aku Dan Kemurkaan Serta Balasan-Mu. Berilah Aku Kemampuan Untuk Membaca Ayat-Ayat-Mu Dengan Rahmat-Mu, Wahai Maha Pengasih Dad Semua Pengasih!!

Doa Hari Ke 3

Yaa Allah! Berikanlah Aku Rezki Akal Dan Kewaspadaan Dan Jauhkanlah Aku Dari Kebodohan Dan Kesesatan. Sediakanlah Bagian Untuk Ku Dari Segala Kebaikan Yang Kau Turunkan, Demi Kemurahan-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Dermawan Dari Semua Dermawan!

Doa Hari Ke 4

Yaa Allah! Berikanlah Kekuatan Kepada Ku, Untuk Menegakkan Perintah- Perintah-Mu, Dan Berilah Aku Manisnya Berdzikir Mengingat-Mu. Berilah Aku Kekuatan Untuk Menunaikan Syukur Kepada-Mu, Dengan Kemuliaan-Mu. Dan Jagalah Aku Dengan Penjagaan-Mu Dan Perlindungan- Mu, Wahai Dzat Yang Maha Melihat.

Doa Hari Ke 5

Yaa Allah! Jadikanlah Aku Diantara Orang-Orang Yang Memohon Ampunan, Dan Jadikanlah Aku Sebagai Hamba-Mu Yang Sholeh Dan Setia Serta Jadikanlah Aku Diantara Auliya’-Mu Yang Dekat Disisi-Mu, Dengan Kelembutan-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih Di Antara Semua Pengasih.

Doa Hari Ke 6

Yaa Allah! Janganlah Engkau Hinakan Aku Karena Perbuatan Maksiat Terhadap-Mu, Dan Janganlah Engkau Pukul Aku Dengan Cambuk Balasan- Mu. Jauhkanlah Aku Dari Hal-Hal Yang Dapat Menyebabkan Kemurkaan-Mu, Dengan Anugerah Dan Bantuan-Mu, Wahai Puncak Keinginan Orang-Orang Yang Berkeinginan!

Doa Hari Ke 7

Yaa Allah! Bantulah Aku Untuk Melaksanakan Puasanya, Dan Ibadah Malamnya. Jauhkanlah Aku Dari Kelalaian Dan Dosa-Dosa Nya. Dan Berikanlah Aku Dzikir Berupa Dzikir Mengingat-Mu Secara Berkesinambungan, Dengan Taufiq- Mu, Wahai Pemberi Petunjuk Orang- Orang Yang Sesat.

Doa Hari Ke 8

Yaa Allah! Berilah Aku Rezki Berupa Kasih Sayang Terhadap Anak-Anak Yatim Dan Pemberian Makan, Serta Penyebaran Salam, Dan Pergaulan Dengan Orang-Orang Mulia, Dengan Kemuliaan-Mu, Wahai Tempat Berlindung Bagi Orang-Orang Yang Berharap

Doa Hari Ke 9

Yaa Allah! Sediakanlah Untuk Ku Sebagian Dari Rahmat-Mu Yang Luas, Dan Berikanlah Aku Petunjuk Kepada Ajaran-Ajaran-Mu Yang Terang, Dan Bimbinglah Aku Menuju Kepada Kerelaan-Mu Yang Penuh Dengan Kecintaan- Mu, Wahai Harapan Orang-Orang Yang Rindu.

Doa Hari Ke 10

Yaa Allah! Jadikanlah Aku Diantara Orang-Orang Yang Bertawakkal Kepada-Mu, Dan Jadikanlah Aku Diantara Orang- Orang Yang Menang Disisi-Mu, Dan Jadikanlah Aku Diantara Orang-Orang Yang Dekat Kepada- Mu Dengan Ihsan-Mu, Wahai Tujuan Orang-Orang Yang Memohon.

Doa Hari Ke 11

Yaa Allah! Tanamkanlah Dalam Diriku Kecintaan Kepada Perbuatan Baik, Dan Tanamkanlah Dalam Diriku Kebencian Terhadap Kemaksiatan Dan Kefasikan. Jauhkanlah Dariku Kemurkaan-Mu Dan Api Neraka Dengan Pertolongan-Mu, Wahai Penolong Orang-Orang Yang Meminta Pertolongan.

Doa Hari Ke 12

Yaa Allah! Hiasilah Diriku Dengan Penutup Dan Kesucian. Tutupilah Diriku Dengan Pakaian Qana’ah Dan Kerelaan. Tempatkanlah Aku Di Atas Jalan Keadilan Dan Sikap Tulus. Amankanlah Diriku Dari Setiap Yang Aku Takuti Dengan Penjagaan-Mu, Wahai Penjaga Orang-Orang Yang Takut.

Doa Hari Ke 13

Yaa Allah! Sucikanlah Diriku Dari Kekotoran Dan Kejelekan. Berilah Kesabaran Padaku Untuk Menerima Segala Ketentuan. Dan Berilah Kemampuan Kepadaku Untuk Bertaqwa, Dan Bergaul Dengan Orang-Orang Yang Baik Dengan Bantuan-Mu, Wahai Dambaan Orang-Orang Miskin.

Doa Hari Ke 14

Yaa Allah! Janganlah. Engkau Hukum Aku, Karena Kekeliruan Yang Ku lakukan. Dan Ampunilah Aku Dari Kesalahan-Kesalahan Dan Kebodohan. Janganlah Engkau Jadikan Diriku Sebagai Sasaran Bala’ Dan Malapetaka Dengan Kemuliaan-Mu, Wahai Kemuliaan Kaum Muslimin.

Doa Hari Ke 15

Yaa Allah! Berilah Aku Rezki Berupa Ketaatan Orang-Orang Yang Khusyu’. Dan Lapangkanlah Dadaku Dengan Taubatnya Orang-Orang Yang Menyesal, Dengan Keamanan-Mu, Wahai Keamanan Untuk Orang-Orang Yang Takut.

Doa Hari Ke 16

Yaa Allah! Berilah Aku Kemampuan Untuk Hidup Sebagaimana Kehidupan Orang-Orang Yang Baik. Dan Jauhkanlah Aku Dari Kehidupan Bersama Orang-Orang Yang Jahat. Dan Naungilah Aku Dengan Rahmat-Mu Hingga Sampai Kepada Alam Akhirat. Demi Ketuhanan-Mu Wahai Tuhan Seru Sekalian Alam.

Doa Hari Ke 17

Yaa Allah! Tunjukkanlah Aku Kepada Amal Kebajikan Dan Penuhilah Hajat Serta Cita-Cita Ku. Wahai Yang Maha Mengetahui Keperluan, Tanpa Pengungkapan Permohonan. Wahai Yang Maha Mengetahui Segala Yang Ada Didalam Hati Seluruh Isi Alam. Sholawat Atas Mohammad Dan Keluarganya Yang Suci.

Doa Hari Ke 18

Yaa Allah! Sedarkanlah Aku Akan Berkah-Berkah Yang Terdapat Di Saat Saharnya. Dan Sinarilah Hatiku Dengan Terang Cahayanya Dan Bimbinglah Aku Dan Seluruh Anggota Tubuhku Untuk Dapat Mengikuti Ajaran-Ajarannya, Demi Cahaya-Mu Wahai Penerang Hati Para Arifin.

Doa Hari Ke 19

Yaa Allah! Penuhilah Bagianku Dengan Berkah-Berkahnya, Dan Mudahkanlah Jalanku Menuju Kebaikan-Kebaikannya. Janganlah Kau Jauhkan Aku Dari Ketertedmaan Kebaikan- Kebaikannya, Wahai Pembed Petunjuk Kepada Kebenaran Yang Terang.

Doa Hari Ke 20

Yaa Allah! Bukakanlah Bagiku Pintu-Pintu Sorga Dan Tutupkanlah Bagiku Pintu-Pintu Neraka, Dan Berikanlah Kemampuan Padaku Untuk Membaca Ai-Quran Wahai Penurun Ketenangan Di Dalam Hati Orang-Orang Mu’min.

Doa Hari Ke 21

Yaa Allah! Berilah Aku Petunjuk Menuju Kepada Keridhoan- Mu. Dan Janganlah Engkau Bed Jalan Kepada Setan Untuk Menguasaiku. Jadikanlah Sorga Bagiku Sebagai Tempat Tinggal Dan Peristirahatan, Wahai Pemenuh Keperluan Orang- Orang Yang Meminta.

Doa Hari Ke 22

Yaa Allah! Bukakanlah Bagiku Pintu-Pintu Karunia-Mu, Turunkan Untuk ku Berkah-Berkah Mu. Berilah Kemampuan Untuk ku Kepada Penyebab- Penyebab Keridhoan-Mu, Dan Tempatkanlah Aku Di Dalam Sorga-Mu Yang Luas, Wahai Penjawab Doa Orang-Orang Yang Dalam Kesempitan.

Doa Hari Ke 23

Yaa Allah! Sucikanlah Aku Dari Dosa-Dosa, Dan Bersihkanlah Diriku Dari Segala Aib. Tanamkanlah Ketaqwaan Di Dalam Hatiku, Wahai Penghapus Kesalahan Orang-Orang Yang Berdosa.

Doa Hari Ke 24

Yaa Allah! Aku Memohon Kepada-Mu Hal-Hal Yang Mendatangkan Keridhoan- Mu, Dan Aku Berlindung Dengan- Mu Dan Hal-Hal Yang Mendatangkan Kemarahan-Mu, Dan Aku Memohon Kepada-Mu Kemampuan Untuk Mentaati-Mu Serta Menghindari Kemaksiatan Terhadap-Mu, Wahai Pemberi Para Peminta.

Doa Hari Ke 25

Yaa Allah! Jadikanlah Aku Orang-.Orang Yang Menyintai Auliya-Mu Dan Memusuhi Musuh-Musuh Mu. Jadikanlah Aku Pengikut Sunnah-Sunnah Penutup Nabi-Mu, Wahai Penjaga Hati Para Nabi.

Doa Hari Ke 26

Yaa Allah! Jadikanlah Usaha ku Sebagai Usaha Yang Di syukuri, Dan Dosa-Dosa ku Di ampuni, Amal Perbuatan Ku Diterima, Dan Seluruh Aib ku Di tutupi, Wahai Maha Pendengar Dan Semua Yang Mendengar.

Doa Hari Ke 27

Yaa Allah! Rizkikanlah Kepadaku Keutamaan Lailatul Qadr, Dan Ubahlah Perkara-Perkara ku Yang Sulit Menjadi Mudah. Terimalah Permintaan Maafku, Dan Hapuskanlah Dosa Dan Keslahanku, Wahai Yang Maha Penyayang Terhadap Hamba- HambaNya Yang Sholeh.

Doa Hari Ke 28

Yaa Allah! Penuhkanlah Hidupku Dengan Amalan-Amalan Sunnah, Dan Muliakanlah Aku Dengan Terkabulnya Semua Permintaan. Dekatkanlah Perantaraanku Kepada-Mu Diantara Semua Perantara, Wahai Yang Tidak Tersibukkan Oleh Permintaan Orang-Orang Yang Meminta.

Doa Hari Ke 29

Yaa Allah! Liputilah Aku Dengan Rahmat Dan Berikanlah Kepadaku Taufiq Dan Penjagaan. Sucikanlah Hatiku Dan Noda-Noda Fitnah Wahai Pengasih Terhadap Hamba- HambaNya Yang Mu’min.

Doa Hari Ke 30

Yaa Allah! Jadikanlah Puasa ku Disertai Dengan Syukur Dan Penerima Di Atas Jalan Keridhoan-Mu Dan Keridhoan Rasul. Cabang-Cabangnya Kokoh Dan Kuat Berkat Pokok-Pokoknya, Demi Kenabian Mohammad Dan Keluarganya Yang Suci, Dan Segala Puji Bagi Allah Tuhan Sekalian

Sumber :  Berbagai Media

Mutiara Ilmu : Makmun Masbuk

islamic041

Soal Jawab: Makmum Masbuk
Kategori: Fiqh dan Muamalah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ustadz, ana ingin bertanya beberapa hal tentang makmum masbuk yg ana blm paham:
Jika telah tertinggal satu rakaat atau lebih, pada saat imam tahiyat akhir, kita kan juga ikut baca tahiyat, nah duduknya itu mesti ikut imam (tawarruk) atau duduk iftirasy?
Kapan harus bangun untuk menyempurnakan rakaat yg tertinggal, apakah begitu imam selesai salam yg pertama atau haruskah menunggu imam menyelesaikan salamnya yg kedua?
Kita masuk jama’ah sedang mendapati imam sedang berdiri (pada saat imam membaca sirr) , apakah masih disunnahkan kita baca doa iftitah & ta’awudz atau sebaiknya langsung baca Al Fatihah?

Demikian pertanyaan ana, Jazakallah khairan katsiraa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban Ustadz:

Dilihat dari jumlah rakaatnya, maka bisa dibagi dua:
Jumlah rakaat yang sholatnya adalah dua rakaat, seperti sholat subuh, jum’at dll. Maka cara duduk tasyahud dalam sholat seperti ini adalah iftirasy. Ada dua hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini yaitu hadits dari Abdullah bin Zubair yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanad yang hasan dan hadits dari Wail bin Hukr yang diriwayatkan oleh Nasai no. 1158 dengan sanad yang shahih.
Sholat yang jumlah rakaatnya lebih dari 2 rakaat. Maka untuk sholat jenis ini pada tasyahud awal duduk iftirasy dan pada tasyahud akhir dengan tawarruk. Dalilnya adalah hadits dari Abu Humaid As-Sa’idi, beliau menceritakan tata cara yang Nabi lakukan di hadapan sepuluh orang sahabat dan mereka semua membenarkannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari n0. 794. Rincian seperti di atas merupakan pendapat Imam Ahmad.

Adapun Untuk makmum yang masbuk maka dirinci sebagai berikut:
Masbuk pada sholat dua rakaat maka duduknya hanya iftirasy.
Masbuk dalam sholat yang lebih dari dua rakaat dan imam sudah duduk tasyahud akhir, maka ada dua kemungkinan:
– Makmum tertinggal dua rakaat atau lebih. Maka dalam kondisi ini makmum iftirasy dan tidak mengikuti imam, mengingat bahwa Nabi saat sholat dua rakaat duduk dengan iftirasy.
– Makmum tertinggal satu rakaat maka posisi duduknya adalah tawarruk sama dengan imamnya sebagaimana cara Nabi dalam sholat yang lebih dari dua rakaat.

Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rohimahulloh mengatakan, “Ada sebagian orang berpendapat kalau seorang masbuk dua rakaat dan mendapati imam duduk terakhir maka makmum duduk tawarruk seperti posisi duduk imam dengan dalil hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Imam itu diangkat hanya untuk diikuti”, tapi yang tampak bagiku masbuk tersebut tetap duduk iftirasy.” (Diringkas dari Majalah An-Nashihah vol. 01 th I/1422 H hal 2-5).

Dalam Syarah Al Mumthi’ 2/312-313, Syaikh Al Utsaimin menyatakan bahwa tidak ada kewajiban mengikuti dalam gerakan sholat yang tidak menyebabkan makmum mendahului atau terlambat dari imam.

***

Hal ini terkait dengan hukum salam kedua, wajib ataukah mustahab. Tentang hadits yang menunjukkan bahwa Nabi pernah hanya mengucapkan sekali salam dalam sholat beliau, Syaikh Albani mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Adh Dhiya dalam Al-Mukhtarat dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam As-Sunan 1/243 dengan sanad yang shahih.” (Sifat Sholat Nabi hal. 188), Jika demikian, hukum salam kedua adalah mustahab, jadi makmum masbuk bisa berdiri untuk menyempurnakan sholat sesudah salam pertama imam, meski tak diragukan lagi bahwa berdiri sesudah salam imam yang kedua merupakan tindakan mengikuti imam yang lebih sempurna.

***

Di antara kesalahan dalam sholat yang disebutkan oleh Syaikh Masyur As-Salman adalah “Menyibukkan diri untuk membaca doa iftitah dengan perlahan, membaca ta’awudz dan basmalah yang mana hal tersebut baru selesai setelah imam ruku’ atau hampir ruku.”

Ibnul Jauzi mengatakan, “Di antara orang yang terkena penyakit was-was ada yang baru bisa bertakbir dengan benar sesudah imam hampir ruku, orang tersebut lantas membaca doa iftitah dan ta’awudz dan sesudah imam ruku’. Hal ini merupakan tipuan iblis. Ta’awudz dan doa iftitah yang dilakukannya hukumnya adalah sunnah sedangkan bacaan Al Fatihah yang ditinggalkannya adalah wajib. Makmum pun wajib membacanya menurut sebagian ulama, karena itu tidak sepantasnya dikalahkan dengan hal yang hukumnya sunnah. Dulu ketika aku masih kecil, aku sholat bermakmum di belakang guru kami seorang pakar ilmu fikih, Abu Bakar Ad-Dainuri. Beliau mengetahui aku berbuat seperti itu, beliau lantas mengatakan, “Wahai anakku, sesungguhnya para ulama telah berselisih pendapat tentang makmum, apakah wajib membaca Al Fatihah ataukah tidak, akan tetapi mereka tidak berselisih pendapat kalau doa iftitah itu sunnah, oleh karena itu sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunnah.” (Talbis Iblis hal. 139. Lihat Al-Qoulul Mubin fi Akhtai’ Al-Mushallin hal. 267).

***

Penanya : Zaini
Dijawab Oleh : Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Sumber : http://muslim.or.id/soaljawab/fiqh-dan-muamalah/soal-jawab-makmum-masbuk.html

Ingin Hidup Lebih Bermakna :

KH. Abdullah Gymnastiar

KH. Abdullah Gymnastiar

Pesan moral AA GYM

1. Beribadah dengan benar.

Jika hidup tanpa ibadah yang benar ibarat hidup tanpa pondasi, bangunan tanpa pondasi akan roboh Dengan beribadah dengan benar Insya Allah akan membuat kita semakin tawadhu dan kokoh kepada Allah

2. Berakhlak Baik.

Ibadah bagus siang malam, tapi selesai sholat mulut kotor, tidak jujur, apalah artinya ibadah, kalau tidak dibarengi akhlak baik.

3. Belajar tiada henti.

Akhlak sudah baik, ibadah bagus tapi itu tidak cukup karena masalah akan bertambah, potensi konflik bertambah,kebutuhan semua bertambah, bagaimana mungkin menyikapi segala yang makin ruwet dengan ilmu yang tidak bertambah Ciri sukses adalah orang-orang yang cinta ilmu dengan belajar.

4. Bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas.

Yang harus standar ada pada diri kita adalah bekerja optimal dengan pemikiran yang cerdas karena ada yang kerja keras tetapi akal tidak digunakan akibatnya cuma jadi pekerja keras saja

5. Bersahaja dalam hidup.

Ada orang yang bekerja keras tetapi sia-sia, karena ditipu oleh keborosan, bermegah-megah, diperdaya, dikutuk oleh orang lain dan menjadi kedengkian. Kenapa? Karena tidak bersahaja, padahal akibat gemar bersahaja maka kemampuan keuangan kita lebih tinggi diatas kebutuhan sehingga bisa menyimpan uang, bersadaqoh, dan berinvestasi, budaya masyarakat kita diharapkan bukan budaya punya barang, tapi budaya berinvestasi akibatnya selalu punya nilai tambah.

6. Bantu sesama

Alat ukur sukses kita setelah bersahaja adalah punya kelebihan untuk memajukan sanak saudara anak paman, tetangga kiri, tetangga kanan, depan belakang, anak pembantu. Kesuksesan kita mulai diukur dengan kemampuan membantu orang lain, membuat lapangan kerja sebanyak mungkin, kita harus terus berbuat dengan kerja keras membantu banyak orang, sehingga orang lain lebih maju lagi dengan mepunyai tata nilai yang sama, ibadah yang bagus, akhlak yang bagus, terus berusaha untuk belajar menambah ilmu dan bekerja keras.

Dengan saling tolong-menolong Insya Allah akan terjadi sinergi, agar bergeraknya bangsa ini seimbang tidak hanya satu dua orang, karena alat ukur kesuksesannya sama, pola sama, kita mengharapkan kebangkitan ,kalau ada mahasiswa yang pintar lihat juga tetangganya terbawa pintar atau tidak? kalau ada dosen brilian jangan lihat dosennya tapi lihatlah keluarganya, lihat tetangganya, lihat sanak saudaranya, kalau hanya dia sendiri yang maju belum begitu sukses, kalau ada pengusaha kaya brilian punya perusahaan raksasa, lihat kiri kanannya, lihat kesejahteraan kawannya. Kalau dia yang sukses sendirian berarti belum sukses. Alat ukur sukses bukan dengan melejit sendiri, tapi bagaimana kita mengangkat dan membantu yang lain.

7. Bersihkan hati selalu.

Mengapa? Allah tidak menerima amal, kecuali ikhlas, jangan merasa ujub ,dengan tidak merasa berjasa,dengan tidak merasa paling bisa,dengan tidak merasa paling mulia, tetapi semuanya karena Allah, Alhamdullilah. Semua ini adalah karunia Allah kita harus merasa beruntung karena dijadikan jalan; jalan rezeki bagi tetangga, jalan ilmu bagi mahasiswa, jalan kesuksesan bagi semuanya, Allah-lah Yang Memberi. Inilah orang yang akan sukses, karena dia tidak menjadi sombong, apalah artinya kita mendapatkan banyak hal kalau kita tidak mendapat ridlo dari Allah karena kesombongan kita. Dengan beribadah dengan benar, membuat kita semakin tawadhu , kokoh mengabdi kepada Allah, hati tentram, kehidupan akan seimbang.

Salam Hormatku Untuk Ustadz Abdullah Gymnastiar

Sujud Tilawah

Bersimpuh memohon ampunan

Bersimpuh memohon ampunan

Prakata

Tilawah artinya bacaan: jadi sujud tilawah adalah sujud bacaan. Di dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat, apabila kita membaca sampai ayat tersebut, kita disunnahkan bersujud. Ayat tersebut disebut ayat sajdah dan sujudnya disebut sujud tilawah.

Jumhur ulama menyatakan bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah bagi si pembaca maupun yang ikut mendengar, baik membacanya itu di dalam (pada waktu) salat atau di luar salat.

Shahabat Abu Hurairah r.a. berkata:

“Dulu kami bersujud bersama Rasulullah Saw. dalam surah ‘Idzas samaa un syaqqat’ dan ‘Iqraa bismi Rabbikalladzii khalaq’.” (HR. Muslim)

Shahabat Ibn Abbas r.a. berkata:

“Surah Shaad tidak termasuk Azaaim sujuud (sujud yang dianjurkan), namun aku pernah melihat Rasulullah Saw. bersujud pada saat membaca surah itu.” (HR Bukhari)

Menurut Imam Ahmad, ayat sajdah dalam Al-Quran itu ada 15, yaitu:

1. Akhir surah Al-A’raaf;
2. Ayat 15 surah Ar-Ra’d;
3. Ayat 49 surah An-Nahl;
4. Ayat 109 surah Al-Israa;
5. Ayat 58 surah Maryam;
6. Ayat 18 surah Al-Hajj;
7. Ayat 77 surah Al-Hajj;
8. Ayat 60 surah Al-Furqan;
9. Ayat 26 surah An-Naml;
10. Ayat 15 surah As-Sajdah;
11. Ayat 24 surah Shaad (yang disebut shahabat Ibn Abbas di atas);
12. Ayat 37 surah Fus-Shilat;
13. Ayat 62 surah An-Najm;
14. Ayat 21 surah Al-Insyiqaaq;
15. Ayat 19 surah Al-’Alaq (ini dan sebelumnya adalah yang shahabat Abu Hurairah r.a. di atas).

Menurut Imam syafi’i, hanya ada 14 ayat. Beliau tidak memasukkann ayat 24 surah Shaad (nomor 11) sebagai ayat sjadah. Menurut beliau sujud di situ sujud syukur. (Lebih jauh bacalah Ibanat al-Ahkaam jilid I hal 481-488).

Caranya: Apabila –saat membaca Al-Quran– Anda sampai pada ayat sajdah tersebut, takbirlah (Allaahu Akbar) dan bersujudlah dengan khusuk.

Kalau Anda berada dalam salat, sehabis sujud tilawah, kembalilah ke posisi semula (kembali berdiri meneruskan bacaan atau jika ayat tersebut merupakan akhir bacaan Anda –terus rukuk).

Nah, dari keterangan ini, jelaslah perbedaan antara sujud tilawah dengan sujud sahwi yang kita lakukan karena kealpaan pada saat salat, atau sujud syukur yang kita lakukan karena kita menerima kenikmatan atau mendengar berita yang menggembirakan.

Shahabat Abu Bakrah r.a. menceritakan:

“Bahwa Nabi kita Saw. jika kedatangan berita gembira selalu bersujud kepada Allah.” (HR kelima tokoh hadis kecuali an-Nasa’i)

Adapun bacaan ketika sujud tilawah, ada dua riwayat yang dapat saya kemukakan. Pertama, dari Sayyidatina ‘Aisyah r.a., katanya: “Nabi Saw. pernah dalam sujudnya karena membaca Al-Quran suatu malam membaca:

“Wajahku bersujud kepada Yang menciptakannya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya.” (HR lima tokoh imam hadis kecuali Ibn Majah)

Yang kedua dari shahabat Ibn Abbas ra.a.:


“Ya Tuhanku, hapuskanlah dosa dariku dengan sujud ini dan catatlah pahala untukku dengan sujud ini, dan jadikanlah sujud ini sebagai simpanan untukku di sisi-Mu.” (HR Ibn Majah)

Demikianlah, selamat mengamalkan!
Wallaahu A’lam.

Kapan Lailatul Qadar?


09/09/2008

Tidak ada kepastian mengenai kapan datangnya Lailatul Qadar, suatu malam yang dikisahkan dalam Al-Qur’an “lebih baik dari seribu bulan”. Ada Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, meyebutkan bahwa Nabi pernah ditanya tentang Lailatul Qadar. Beliau menjawab: “Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.” (HR Abu Dawud).

Namun menurut hadits lainnya yang diriwayatkan Aisyah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal gasal dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan.
(HR. Bukhari)

Menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadal itu terjadi pada 17 Ramadhan, 21 Ramadhan, 24 Ramadhan, tanggal gasal pada 10 akhir Ramadhan dan lain-lain.

Diantara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang Lailatul Qadar adalah untuk memotivasi umat agar terus beribadah, mencari rahmat dan ridha Allah kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terpaku pada satu hari saja.

Jika malam Lailatul Qadar ini diberitahukan tanggal kepastiannya, maka orang akan beribadah sebanyak-banyaknya hanya pada tanggal tersebut dan tidak giat lagi beribadah ketika tanggal tersebut sudah lewat.

Umat Islam hanya ditunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Di antara tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar adalah:

1. Pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim.

2. Pada malam harinya langit nampak bersih, tidak nampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini berdasarkan riwayat, Imam Ahmad.

Dalam Mu’jam at- Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Malam Lailatul Qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas.”

Amalan-amalan untuk Mendapatkan Laiatul Qadar

Para ulama kita mengajarkan, agar mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar, maka hendaknya kita memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan, diantaranya:

1. Senantiasa shalat fardhu lima waktu berjama’ah.
2. Mendirikan shalat malam atau qiyamul lail (shalat tarawih, tahajud, dll)
3. Membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya dengan tartil.
4. Memperbanyak dzikir, istighfar dan berdoa.
5. Memperbanyak membaca:

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنَّا

Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Dzat yang Maha Pemurah.

KH A. Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

I’tikaf

I’tikaf artinya berdiam di dalam masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pada setiap bulan Ramadhan selama 10 hari yang terakhir, selalu melaksanakan i’tikaf. Bahkan secara khusus –pada tahun wafatnya–, beliau beri’tikaf pada bulan Ramadhan itu selama 20 hari, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibu Hurairah.

Pelaksanaan i ‘tikaf oleh Rasulullah SAW dan para Shahabat selama 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan itu erat kaitannya dengan Lailatul Qadar. Dalam artian, Nabi dan para shahabat beri’tikaf atau bertekun ibadah untuk berjaga-jaga ketika turun Lailatul Qadar.

Sedikit pun tidak disangsikan lagi bahwa, tempat pelaksanaan i’tikaf itu adalah masjid. Namun, masalahnya adalah masjid yang mana? Sementara Rasulullah SAW melaksanakan i’tikaf di masjidnya sendiri, yakni masjid Nabawi di Madinah. Oleh sebab itulah, ada banyak pendapat mengenai dimana seharusnya i’tikaf itu di­laksanakan. Lantaran pengertian masjid tempat i ‘tikaf yang ditunjukkan Al Qur’an dianggap masih relatif.

Firman Allah SWT:

وَأنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ

Sedangkan kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS Al Baqarah 2: 187)

Pendapat pertama; i’tikaf itu hanya dapat dilaksanakan di 3 masjid. Yakni Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Dimana pendapat ini didasar­kan pada hadits yang menjelaskan bahwa, dilarang atau tidak akan diberangkatkan kendaraan kecuali menuju 3 masjid tersebut di atas.

Pendapat kedua, menyatakan; i’tikaf itu harus dilaksanakan di Masjid Jami’. Yakni masjid yang biasa digunakan untuk mendirikan shalat 5 waktu berjamaah dan ibadah Jum’at. Pendapat ini mungkin tepat, jika dikaitkan bahwa i’tikaf yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW itu di masjidnya sendiri yang termasuk dalam kategori Masjid Jami’.

Menurut pendapat kami, jika kita perhatikan Al-Baqarah ayat 187 sebagaimana tersebut di atas, nampak jelas bahwa pengertian masjid yang dinyatakan itu sifatnya umum. Lantaran tidak diikuti dengan satupun nama masjid tertentu. Baik dari ketiga masjid sebagaimana pendapat di atas, maupun selain Masjid Jami’.

Dengan demikian, mengacu pada lahirnya ayat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa; i’tikaf dapat dilaksanakan di Masjid Jami’ dan lainnya seperti mushalla misalnya; Walaupun memang, i’tikaf Ramadhan itu lebih baik dilaksanakan di Masjid Jami’, supaya ketika harus melaksanakan kewajiban ibadah Jum’at misalnya, ia tak perlu lagi keluar dari masjid tempat i’tikafnya menuiu Masiid Jami’.

Apakah yang Dikerjakan Ketika Beri’tikaf?

Sesuai dengan tujuan i’tikaf yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka orang yang sedang i’tikaf hendaknya memperbanyak amal ibadah. Misalnya, dengan cara; shalat sunnat, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, istighfar, shalawat Nabi, serta memperbanyak do ‘a dan tafakkur. Begitu pula dapat dengan cara melakukan kebajikan lainnya, seperti; mempelajari tafsir, hadits, dan atau ilmu-ilmu agama Islam lainnya. Orang yang sedang beri’tikaf hendaknya menghindari segala hal yang tidak ada manfaatnya, baik dalam perbuatan maupun ucapan.

Sabda Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ

Di antara kebaikan seorang Islam adalah, meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmitzi dan Ibnu Majah, dari Abu Bashrah)

Daam konteks i’tikaf, termasuk dalam hal yang tidak bermanfaat adalah, berdiam diri dengan sia-sia. Jadi, bukan berdiam karena tafakkur.

Orang yang sedang i’tikaf, wajib melaksanakan segala sesuatu yang merupakan unsur atau hakikat dari i’tikaf itu sendiri. Lantaran unsur-unsur itulah yang disebut sebagai rukun. Niat misalnya, yang wajib dilaksanakan untuk setiap ibadah, juga wajib dilaksa­nakan ketika i’tikaf. Karena petunjuk secara umum dalam suatu hadits telah jelas, bahwa setiap ibadah wajib disertai dengan niat.
Selain itu, orang yang sedang beri’tikaf juga wajib tinggal di dalam masjid, lantaran tinggal di dalam masjid merupakan unsur penentu untuk dapat disebut i’tikaf.

Orang-orang yang sedang i’tikaf juga wajib menghindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkannya. Seperti, bersetubuh dan keluar dari masjid tanpa alasan yang sah.

Dapatkah I’tikaf Dilaksanakan Setiap Saat?

Sejauh yang kami dapat dari keterangan berbagai hadits, i’tikaf itu dilaksanakan oleh Rasulullah SAW hanya pada bulan Ramadhan. Dan walaupun pernah dilaksanakan pula olehnya pada 10 hari pertama bulan Syawal, hanya sebagai pengganti i’tikaf Rama¬dhan, yang gagallantaran satu dan lain hal.

Maka boleh jadi, dengan hanya mengambil kesimpulan dari berbagai hadits yang mengungkap tentang i’tikaf Ramadhan, muncul suatu pendapat yang menyatakan bahwa, i’tikaf tidak disunnatkan secara mutlak sebagai suatu bentuk ibadah yang dapat dilaksanakan setiap saat. Pendapat ini, memang cukup beralasan.

Namun menurut kami, jika kita berbicara mengenai perintah melaksanakan nadzar i’tikaf, sebagaimana perintah Rasulullah SAW kepada ‘Umar bin Khattab untuk memenuhi nadzar i’tikafnya, maka di dalamnya nampak jelas terkandung pengertian bahwa i’tikaf berarti suatu bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Atau dengan kata lain, i’tikaf adalah suatu ibadah yang dapat dilaksanakan setiap waktu, jika memang kita kehendaki. Seandainya i’tikaf tidak termasuk sebagai suatu bentuk ketaatan kepada-Nya, maka tentu saja Umar bin Khattab tidak akan diperintah untuk memenuhi nadzar i’tikafnya.

Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ نَذَرَ أنْ يُطِيْعَ اللهَ فَلْيُطِيْعُهُ

Siapapun yang telah bematzar akan berbuat taat kepadaAllah, maka laksanakanlah natzar tersebut.” (HR. Bukhari)

Selain itu –sebagai tambahan– terdapat beberapa hadits yang menunjukkan larangan melaksanakan natzar yang tidak membawa nilai kebaikan atau ketaatan kepada Allah SWT sebagai ibadah. Dengan demikian, nampak semakin jelas bahwa i’tikaf merupakan suatu bentuk ibadah yang secara mutlak dapat dilaksanakan setiap saat, dengan mendapat pahala meskipun hanya sesaat.

KH Arwani Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Mas’ail PBNU

Sholat Mata Terpejam


Banyak diantara umat muslim saat ini yang masih sering memejamkan mata ketika sholat, umumnya mereka beralasan bahwa dengan memejamkan mata akan meningkatkan konsentrasi atau lebih khusu’ dalam melaksanakan sholat. Bahkan dapat membayangkan dan menangisi dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Dan ada diantara mereka yang juga ada yang hanya membaca bacaan sholat didalam hati dengan maksud lebih mendukung dan menghayati sholatnya. Sebagai seorang muslim yang selalu mencari keutamaan dan kebenaran, tentunya kita lebih mendahulukan Ilmu sebelum memutuskan atau melaksanakan suatu perkara. Sehingga apa yang kita amalkan seperti sholat, tidaklah menjadi suatu hal yang sia-sia apalagi dosa karena telah menyelisihi Syariat Islam. Untuk itu marilah kita pelajari dan amalkan fatwa dari Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Utsaimin dalam kitabnya As Syarhul Mumti’ 4/52 yang membahas tentang perkara-perkara seperti yang dijelaskan diatas.

Pendapat yang shohih hukumnya makruh, karena menyerupai perbuatan orang Majusi saat mereka mengibadati api, dimana mereka memejamkan mata mereka. Dan dikatakan juga, perbuatan itu termasuk perbuatan orang Yahudi. Menyerupai perbuatan non Muslim sekurang-kurangnya adalah haram, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka memejamkan mata dalam sholat sekurang-kurangnya menjadi makruh, kecuali jika ada faktor penyebabnya, seperti sekelilingnya terdapat hal yang menyibukkannya (mengganggunya) bila ia membuka kedua matanya, maka pada saat itu ia memejamkan kedua matanya untuk menjauhi faktor yang merusak.

Jika ada orang yang mengatakan: saya mendapatkan diri saya lebih khusu’ kalau seandainya kedua mata dipejamkan, apakah antum akan menfatwakan agar saya memejamkan kedua mata? Jawabnya: TIDAK, karena kekhusukan ini, dimana antum mendapatkannya dengan mengerjakan hal-hal yang makruh datangnya dari syaitan, hal itu seperti khusu’nya kaum sufi dalam membaca zikir-zikir mereka yang mereka jadikan ibadah, sementara perbuatan itu adalah bid’ah (tidak dikenal dalam ajaran Islam). Terkadang syaita akan menjauh dari hati antum bila antum memejamkan kedua mata antum, lalu ia tidak mengganggu, supaya syaitan itu memperdayai atau menjatuhkan antum untuk berbuat hal yang makruh. Maka kita katakan: bukalah kedua matamu dan berusahalah untuk khusu’ didalam sholatmu. Adapun memejamkan kedua mata antum untuk khusu’ tanpa ada sebab, maka itu tidak boleh, karena ini dari syaitan.

Perlu kita ketahui bahwa faktor utama untuk mendapatkan sholat khusu’ adalah sholat seperti sholatnya Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, dan Rasulullah tidak pernah memejamkan matanya, kalau seandainya memejamkan mata itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan kekhusu’kan, pastilah Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.

Adapun masalah membaca dalam hati, itu menyelisihi sunnah, karena membaca itu adalah dengan menggerakkan bibir dan mendengarkan bacaan itu untuk diri kita sendiri. Inilah makna membaca menurut bahasa Arab, maka sholatnya dibagi dua yaitu jahriyah dan sirriyah. Jahriyah adalah dengan mengeraskan suara, adapun Sirriyah adalah dengan melunakkan suara, dimana yang mendengarkan itu adalah kita sendirai, tentunya dengan menggerakkan bibir.

Adapun yang telah antum perbuat, InsyaAllah sholat antum sah dan diterima Alloh Ta’ala, karena anda tidak mengetahui hukumnya, adapun setelah ini, janganlah mengulangi perbuatan tersebut. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita sholat yang khusu’ dan menerima seluruh ibadah kita. amiin. Wallahu ‘Alam