Al-Hasan Al-Bashriy

Datanglah seseorang utusan kepada Ummu Salamah ra (salah seorang di antara istri RasuluLLAH SAW, namanya Hind binti Suhailin) yang mengkabarkan bahwa salah seorang sahaya wanitanya telah melahirkan seorang putra, maka bayi itu ditimang dan didoakan oleh wanita yang mulia tersebut dan diberi nama al-Hasan. Kelahiran anak tersebut juga menjadi kegembiraan bagi keluarga seorang sahabat terkemuka yang lain yaitu Zaid bin Tsabbit ra (salah seorang diantara 7 orang ahli Qur’an dan penulis mushaf al-Qur’an di zaman Nabi SAW, Abubakar ra dan Umar ra), karena ayah dari bayi itu adalah bekas hamba sahayanya.

Ummu Salamah ra adalah seorang wanita yang sangat taqwa kepada ALLAH SWT, ia meriwayatkan 387 hadits dari suaminya penghulu para nabi SAW, ia wanita yang cerdas dan juga pandai baca-tulis. Sehingga bayi itu hidup dan dibesarkan dalam pangkuan keluarga yang harum semerbak dengan suasana keluarga nabi SAW (walaupun saat itu nabi SAW telah wafat). Ketika besar kelak ia tinggal di Bashrah (sekarang di wilayah Iraq), sehingga ia digelari al-Hasan al-Bashri.

Selama hidupnya al-Hasan banyak belajar dari Utsman ra, Ali ra, Ibnu Abbas ra, Abu Musa al-Asy’ari ra, Ibnu Umar ra, dll. Diantara mereka semua ia sangat dekat dengan Amirul Mu’minin Ali ra, ia mewarisi ibadah-ibadah dan berbagai ilmu seperti fashahah dan balaghah. Setelah usia 14 tahun ia pindah ke Bashrah bersama keluarganya. Saat di Bashrah, Hasan sering mengikuti kuliah-kuliah Ibnu Abbas ra dan ia mempelajari semua ilmunya seperti tafsir, hadits, qira’at al-Qur’an, fiqh, lughah, adab, dll.

Ia dikenal konsisten, lugas dan berani. Khalid bin Maslamah berkata tentangnya : “Ia adalah orang yang perbuatannya selalu sama dengan niatnya, jika ia menyatakan sesuatu yang ma’ruf maka ialah yang pertama melakukannya dan jika ia menyerukan yang munkar maka ialah yang pertama meninggalkannya.” Ketika al-Hajjaj, penguasa yang kejam di Bashrah ketika itu berbuat sewenang-wenang, maka hanya Hasan yang berani mengingatkannya dengan terang-terangan.

Saat itu Hajjaj membangun rumah yang indah antara Kufah dan Bashrah, lalu ia mengundang rakyatnya untuk mendoakannya, Hasan datang dan ketika diminta bicara ia berkata : “Kita telah menyaksikan disini sebuah rumah yang didirikan oleh orang yang terburuk di zaman kita ini, sungguh Fir’aun dulupun telah membangun bangunan yang lebih besar dari ini tapi kemudian ia dibinasakan oleh ALLAH SWT. Semoga Hajjaj mengetahui bahwa ahlus-sama’ (penduduk langit) telah mengutuknya atas perbuatannya ini dan ahlul-ardh (penduduk bumi) telah menipunya dengan meridhai perbuatannya ini!…” Sampai orang-orang berkata : “Hasbuk, hasbuka ya aba Sa’id..” (Cukup, cukup wahai abu Sa’id…)

Maka Hasan menukas dengan tajam : “Demi ALLAH, ALLAH SWT telah mengambil janji dari kami ahli ilmu untuk menyampaikan kebenaran dan tidak menyembunyikannya!” Maka berteriaklah Hajjaj dengan gusarnya : “Demi ALLAH! Akan aku minumkan darahnya pada kalian wahai penduduk Bashrah!” Maka dipanggillah 100 orang algojo dengan pedang terhunus dan Hasan diminta maju melewati mereka semua, tapi Hasan berjalan melewati semua pedang itu dengan sama sekali tidak bergeming, dengan ‘izzah seorang mu’min dan tsabat (ketegaran) seorang ulama yang shadiq (benar).

Tiba-tiba Hajjaj merasa gentar, sehingga didudukkannya Hasan di singgasananya, lalu ia berkata :

“INNAKA ANTA SAYYIDIL ‘ULAMA YA ABA SA’ID!” (Sungguh engkau ini adalah pemimpinnya para ulama wahai abu Sa’id), maka diberinya ia minyak wangi dan ia meminta nasihatnya, maka berkatalah al-Hasan :

“Takutlah engkau pada ALLAH wahai Ibnu Hubairah dan janganlah kau takut pada Yazid bin Abdul Malik (khalifah kaum muslimin ketika itu).

Ingatlah, bahwa ALLAH dapat berbuat kepada Yazid, tapi Yazid sama sekali tidak dapat berbuat kepada ALLAH. Aku takut bahwa ALLAH akan memindahkanmu dari gemerlapnya istanamu ini ke gelapnya kuburanmu nanti, dan disana kau hanya ditemani oleh amalmu dan RABB-nya Yazid, sungguh tidak ada ketaatan kepada makhluq jika ia tidak taat kepd ALLAH.” Sehingga Hajjaj menangis terisak-isak sampai basah janggutnya.

Ia sering menasihati orang-orang dengan kata-katanya : “Hati-hatilah kalian, dunia ini awalnya fana’ dan kesusahan dan akan berakhir dengan fana’ dan kesusahan pula, ingatlah bahwa dunia ini halalnya akan menjadi hisab dan haramnya akan menjadi azab.” Ketika akan wafatnya Hasan berkata :

“Dimanakan tetangga yang telah meminta bantuanmu, dimanakah keluarga yang selama ini bersamamu, dimanakah teman yang selama ini mendekatimu. Sungguh diri kita ini adalah angka, setiap terbit matahari maka berkuranglah angkamu dan juga sebagian dari dirimu.”

Hasan wafat di usia 80 tahun pada hari Jum’at di Bashrah, dan ribuan orang datang melayat, sehingga baru terjadi dalam sejarah Islam ketika itu shalat Ashar menjadi tertunda di Bashrah karena ramainya orang yang ikut mengantar jenazah dan menguburkan jasad al-Hasan al-Bashri… []

Rabi’ Ibnu Khutsaim

Rabi’ Ibnu Khutsaim adalah seorang dari Bani Mudharr (Quraisy), beliau adalah seorang yang selalu tenggelam dalam ibadah pada ALLAH SWT, sehingga orang-orang mengatakan: “Ia adalah orang yang dari sejak jari-jarinya masih merah sudah ahli ibadah.” Dari sejak kecil Rabi’ dibesarkan dalam ibadah kepada ALLAH SWT, ia seorang yang terjaga dari perbuatan maksiat. Ketika usia masih kanak-kanak ia sudah sedikit sekali tidur di waktu malam, ibunya sering memergokinya di tengah malam sedang shalat diam-diam sementara suara tangis di dalam dadanya bagaikan air yang sedang mendidih di dalam kuali.

Ketika ibunya bertanya kepadanya: “Mengapakah kamu tidak tidur?”

Jawabnya: “Bagaimana aku bisa tidur, sementara malam telah makin larut dan musuhku senantiasa mengintaiku.”

Kata ibunya: “Siapakah musuhmu itu anakku?” Jawab Rabi’: “Maut wahai ibu.”

Semakin remaja maka makin tambah-tambah taqwanya, sehingga setiap malam suara tangisnya makin memilukan, pagi dan siang haripun ia sering berlinangan air mata. Sampai-sampai ibunya menjadi bingung dan bertanya kepadanya:

“Anakku sayang, apakah kau pernah berbuat dosa besar?”

Jawab Rabi’: “Benar ibu, aku telah berbuat dosa yang sangat besar.”

Kata ibunya: “Inna liLLAHi… Dosa apakah itu?”

Jawab Rabi’: “Aku telah membunuh orang wahai ibu.”

Kata ibunya : “Ya RABB! Kalau begitu segeralah minta maaf dan kita mohonkan untuk bisa membayar diyat kepada keluarganya.”

Jawab Rabi’: “Wahai ibu, aku telah membunuh diriku sendiri dan aku membunuhnya dengan dosa-dosaku, itu sebabnya aku selalu menangis…”

Rabi’ Ibnu Khutsaim adalah murid tersayang dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra (salah seorang dari 7 orang ahli al-Qur’an dimasa Nabi SAW). Ketika pertama kali ia bertemu dengan Ibnu Mas’ud ra, maka Ibnu Mas’ud berkata:
“Aku melihat kamu sekali saja wahai anak, aku lihat wajahmu termasuk AL-MUKHBITIN (orang-orang yang sangat khusyu’ kepada ALLAH SWT).”

Suatu hari Mundzir ats Tsauri berkunjung ke rumah Hilal bin Isaaf (keduanya adalah tokoh tabi’in), lalu kata Hilal:
“Mari kita berkunjung ke rumah syaikh kita.

” Lalu mereka berdua datang ke rumah Rabi’ Ibnu Khutsaim.

Kata Hilal: “Jika engkau duduk bersamanya, maka sungguh ia akan menundukkan kepala menghormatimu dan tidak akan berbicara sebelum engkau mulai berbicara.”

Rabi’ adalah seorang yang sangat miskin, bukan karena tidak berusaha tapi karena ia selalu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, sehingga bajunya penuh tambalan disana-sini. Suatu hari selesai bekerja dan mendapatkan upahnya, ia membeli makanan dan ketika akan dimakannya ia berkata dalam hati:
“Alangkah bahagianya jika aku berikan ini pada orang yang lebih membutuhkan…
” Maka diberikannya kepada orang yang lebih fakir darinya, ketika ia ditegur oleh sahabat-sahabatnya tentang hal itu, maka ia manjawab dengan membacakan QS Ali Imraan ayat 92 [1].

Pernah pada suatu hari ada orang yang memujinya akan ketaqwaannya, maka jawabnya: “Jangan tertipu dengan bentuk lahiriah seseorang, sebab manusia hanya bisa menilai lahiriahnya saja, dan ingatlah bahwa setiap kita akan dinilai amal kita, dan penilainya adalah Yang Maha Teliti dan yang paling teliti.”

Ia selalu berkata:
“Penyakit badan itu adalah obat bagi penyakit kenikmatan, istighfar adalah obat bagi penyakit dosa-dosa dan cara pengobatannya adalah kamu berhenti dari maksiat dan tidak mengulanginya.”

Banyak kata-kata mutiara yang diucapkannya, diantaranya: “MA QUTILA HUNA, FA KUTIBA WA QURI’A HUNAK…” (Apa-apa yang kamu ucapkan di sini/dunia, maka akan dituliskan dan dibacakan semuanya nanti/di akhirat…) Dalam waktu lain ia berkata: “Ingat bahwa maut itu ghaib, dan sesuatu yang ghaib dan lama tidak menampakkan diri, maka ia akan menimbulkan keraguan tentang keberadaannya, padahal ia akan datang dengan dahsyatnya pada kalian, bacalah oleh kalian jika kalian mau QS al-Fajr ayat 22 [2].”

Ketika itu lalu terdengarlah panggilan adzan, maka Rabi’ memungkas ucapannya dengan berkata: “HAYYA ‘ALA DA’IYALLAH… (Marilah pada penyeru-penyeru ALLAH…) Walaupun harus merangkak…”

Rabi’ paling takut jika membaca QS al-Jaatsiyyah ayat 22 [3].
Ayat itu selalu diingatnya, dan jika ia membaca ayat tersebut maka ia akan menangis terus sampai fajar, sehingga basah janggut dan gamisnya.

Suatu hari ia sebagaimana salafus-shalih yang lainnya berjalan-jalan untuk menyaksikan ayat-ayat ALLAH SWT (tafakkur-alam). Dan ia melihat seorang pandai besi yang sedang membakar kapur yang besar, maka ia teringat akan neraka sehingga ia berkata: INTAHAYNA YA RABB… INTAHAYNA… (Aku benar-benar akan berhenti wahai RABB…Aku benar-benar akan berhenti…)” Maksud Rabi’ adalah berhenti dari maksiat. Lalu ia jatuh pingsan… Dan beberapa waktu kemudian orang menemukannya telah wafat…

Selamat berpisah wahai orang yang sangat takut kepada ALLAH, Jannah ALLAH tempat kembali yang sesuai dengan ketaqwaanmu…

Catatan Kaki:
[1] “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran [3]: 92)

[2] “…dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (QS. al-Fajr [89]: 22)

[3] “Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. al-Jaatsiyyah [45]: 22)

Iyas bin Mu’awiyyah Al-Muzanni

Pada suatu hari khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak dapat tidur, karena memikirkan siapa qadhi al-qudhat (hakim tertinggi) untuk kota Bashrah. Akhirnya pilihannya jatuh kepada seorang ‘ALIM ADZ-DZAKIY (‘alim yang jenius) yang bernama Iyas bin Mu’awiyyah al-Muzanni.Iyas lahir di Nejd (daerah utara Saudi Arabia) tahun 46-H, lalu ia pindah dan dibesarkan di Bashrah dan kemudian belajar pada para tokoh sahabat dan tabi’in terkemuka di kota itu. Iyas dari kecil dikaruniai akal yang brillian dan cerdas, sehingga sering mengalahkan para guru-gurunya.

Suatu hari ia belajar ilmu matematika kepada seorang Yahudi ahlu-dzimmah (orang-orang kafir yang takluk pada pemerintahan Islam), segera dapat dikuasainya ilmu tersebut. Suatu saat Yahudi itu bertanya kepada remaja Iyas ini (untuk menguji dan meremehkan agamanya), katanya : “Orang Islam itu menganggap bahwa mereka akan masuk Jannah dan makan minum sepuasnya disana, tapi kata mereka tidak akan buang air besar dan kecil, apakah itu masuk akal?” Lalu Iyas balik bertanya : “Apakah semua makanan yang dimakan dan diminum itu harus dikeluarkan semuanya melalui anus?” Jawab Yahudi itu : “Tentu saja tidak.” Tanya Iyas lagi : “Lalu kemana perginya?” Jawab Yahudi itu : “Ada yang membentuk badan, ada yang berupa keringat, dll.” Lalu kata Iyas : “Lalu apa herannya jika ALLAH SWT mengeluarkan semuanya tidak melalui anus, bukankah sudah diberi contohnya di dunia pada manusia (dalam bentuk keringat, dll itu)?” Jawab Yahudi itu : “Mampuslah kau!”

Kecerdasan remaja Iyas ini memang luarbiasa, pernah suatu ketika ia melihat empat orang qurra’ (ahli membaca al-Qur’an) yang berjanggut lebat dengan jubah hijau sedang berjalan, maka Iyas ingin menguji ilmu keagamaan mereka, maka ia berjalan didepan keempatnya. Ternyata keempat orang itu marah besar dan menghardiknya : “Kurang ajar kau! Berapa umurmu?!” Maka jawab Iyas tenang : “Umurku?! Sama dengan umur Usamah bin Zaid ra (17 tahun) ketika diangkat menjadi panglima perang oleh RasuluLLAH SAW membawahi para tokoh-tokoh sahabat senior seperti Abubakar ra dan Umar ra.” Maka muka keempat orang itu berubah menjadi merah karena malu.

Pernah sahabat Anas bin Malik ra suatu ketika di awal Ramadhan berkumpul dengan kaum muslimin untuk melihat adanya hilal (bulan baru) untuk menentukan tanggal 1 Ramadhan. Semua tokoh senior (para syaikh) berdiri di dekat Anas ra, dan tiba-tiba Anas ra berkata : “Aku melihat ada hilal yang sangat tipis di langit.” Maka seluruh kaum muslimin yang hadir memicingkan dan menajamkan matanya ke arah pandangan mata Anas ra, untuk melihat di ufuk, tapi tidak seorangpun yang melihat hilal, tapi Anas ra bersikeras bahwa ia melihat hilal tersebut. Ketika kaum muslimin semua kembali menatap ke ufuk dan berusaha keras melihat apa yang dikatakan Anas ra, Iyas memandangi wajah tua Anas ra lekat-lekat, dilihatnya semua rambut, alis dan janggutnya telah memutih. Maka Iyas mendekati muka Anas dan berkata : “Afwan wahai sahabat rasuluLLAH…” sambil memindahkan sebuah bulu-mata Anas yang panjang dan berwarna putih dari matanya. Lalu Iyas berkata lagi : “Apakah syaikh masih melihat hilal itu?” Maka jawab Anas ra : “Tidak.”

Kecerdasan pemuda ini memang luar biasa, ia sering merenungkan tentang berbagai hal dan ilmu pengetahuan. Pada suatu hari ia ditanya oleh seseorang : “Mengapa khamr itu haram? Padahal ia dibuat dari kurma dan air yang kesemuanya adalah halal dan lalu dimasak.” Jawab Iyas : “Kalau kulempar badanmu dengan air apakah kau sakit?” Jawab orang itu : “Tidak.” Kata Iyas : “Kalau kulempar badanmu dengan tanah sakit tidak?” Jawab orang itu : “Tidak.” Kata Iyas lagi : “Jika kulempar badanmu dengan pasir?” Kata orang itu lagi : “Tidak sakit.” Maka kata Iyas lagi : “Jika kuramu ketiganya lalu setelah jadi (batu-bata) lalu kulemparkan ke badanmu bagaimana?” Jawab orang itu lagi : “Bahkan bisa membunuhku!” Maka kata Iyas : “Demikianlah.”

Dalam kesempatan yang lain, ketika ia menjadi qadhi’ terdapat seorang yang terkenal wara’ (sangat berhati-hati pada hal-hal yang haram), sehingga orang-orang sering menitipkan barang atau uang atau wasiat orang yang meninggal dan bepergian padanya. Ternyata suatu waktu orang tersebut berkhianat sehingga dilaporkan kepada Iyas. Maka kata Iyas kepada pelapornya : “Besok anda kesini.” Lalu Iyas mendatangi rumah sang pengkhianat itu dan berkata : “Lusa engkau ke rumahku ya, aku akan menitipkan sesuatu yang berharga kepadamu.” Lalu keesokan harinya, ketika orang yang ditipu itu datang pada Iyas, kata Iyas : “Datanglah pada penipu itu dan bilang padanya, kalau dia tetap bilang tidak tahu, maka ia akan dilaporkan pada Iyas.” Karena penipu tersebut takut dilaporkan pada Iyas, sedangkan ia diminta datang pada Iyas keesokan harinya untuk menerima titipannya, maka ia mengembalikan harta titipan orang yang ditipunya, sambil berkata : “Jangan kau katakan pada qadhi (Iyas).” Maka keesokan harinya Iyas menemuinya dan berkata : “Aku menitipkan kepadamu sesuatu yang sangat berharga yaitu (QS Al-Anfaal:27).” Maka orang itu gemetar dan mengakui perbuatannya, maka ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lalu iapun dihukum.

Iyas pernah tersalah kepada seseorang, yaitu ketika ia bertanya kepada seorang pemilik kebun untuk mengujinya, kata Iyas : “Berapa banyak pohon di kebunmu ini?” Maka jawab orang itu : “Aku tidak tahu.” Maka kata Iyas : “Lalu bagaimana mungkin kamu memiliki kebunmu ini padahal kamu sudah sekian lama memilikinya?” Maka jawab orang itu : “Kalau demikian maka berapa jumlah atap di ruang sidang qadhi?” Jawab Iyas : “Tidak tahu.” Maka kata orang itu : “Lalu bagaimana saya percaya anda sebagai qadhi, tapi anda tidak tahu jumlah atap di ruang kerja anda setelah bekerja sekian lama.” Maka Iyas membenarkan perkataan orang itu.

Pada usianya yang ke-76 tahun, malamnya Iyas bermimpi berkuda bersama-sama ayahnya dan berjalan seiring (tidak saling mendahului) dan ayahnya wafat pada usia 76 tahun. Lalu Iyas berkata pada keluarganya : “Tepat malam ini ayahku menyempurnakan usianya yang ke-76 th.” Jawab keluarganya : “Ya, benar.” Keesokan harinya keluarganya menemukan Iyas telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan senyum di bibirnya…

‘Atha’ bin Abi Rabah

Berkata Imam al-Haramain : “Tidak kutemui orang yang paling alim diantara orang yang alim, kecuali 3 orang : ‘Atha, Thawus dan Mujahid..”

Kalau kita menerawang jauh ke empat belas abad yang lampau, maka akan nampak oleh kita sebuah majlis ta’lim di Makkah yang selalu dihadiri oleh ribuan orang, diantara mereka ada para sahabat-sahabat nabi SAW dan juga para tabi’in, sang penceramah adalah seorang tua yang sederhana namun kharismatik, dialah AbduLLAH bin Abbas ra (Ibnu Abbas) salah seorang diantara para tokoh ulama sahabat, dan dia pula yang didoakan oleh RasuluLLAH SAW dengan doanya yang khusus: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FIDDIN WA ‘ALLIMHU TA’WIL” (Ya ALLAH dalamkanlah pengetahuannya dalam agama dan ajarilah ia ta’wil Qur’an…)

Ibnu Abbas ra memiliki seorang budak hitam yang kurus, demikian hitamnya kulit budak ini sehingga jika ia berdiri bagaikan seekor burung gagak hitam (ghurabil-aswad) yang menakutkan. Namun hitamnya kulit tidak membuatnya merasa rendah, karena Islam telah membebaskan manusia dari perbudakan manusia atas manusia menjadi perbudakan manusia hanya oleh dan untuk ALLAH SWT saja. Hanya Islam sajalah peradaban yang mampu menempatkan seorang budak hitam Afrika bernama Bilal al Habasyi, budak bangsa Persia Salman al Farisi, dan budak dari Rumawi Shuhaib bin Sinan ar Rumi sederajat dan bahkan lebih tinggi dari para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb.

Selama hidupnya ‘Atha membagi waktunya untuk 2 hal : Pertama, khusus untuk Tuhannya dengan melakukan ibadah yang terbaik, terikhlas dan semurni-murninya; sehingga setiap malam ia sedikit sekali tidur karena melakukan qiyam, zikir dan doa. Kedua, untuk menuntut ilmu kepada para ulama, tercatat diantara nama guru-gurunya yaitu para shahabat besar seperti Ibnu Abbas ra, Ibnu Umar ra, Abu Hurairah ra, Ibnu Zubair ra, dll. Ia selalu berkata : “Orang sebelum kalian membenci omong-kosong, yaitu segala sesuatu selain al-Qur’an yang dibaca dan dipelajari, atau Hadits yang diriwayatkan dan diamalkan, atau amar ma’ruf dan nahi munkar, atau ilmu untuk mendekatkan diri kepada ALLAH, atau bekerja mencari nafkahmu. Bacalah oleh kalian kalau mau : Dan orang-orang yang menjauhi perkataan yang tidak bermanfaat (QS al-Mu’minun, 23:3).”

Dibandingkan dengan manusia lainnya, ‘Atha adalah termasuk manusia pilihan yang sangat jarang orang yang mampu berdisiplin sepertinya. Ia mendisiplin dirinya sehingga selama hidupnya tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak bermanfaat sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kebanyakan, dan selama hidupnya ia tidak pernah ngobrol dan bercanda. Pernah dalam suatu perjalanan ia melihat sebuah kota yang telah ditinggalkan penghuninya, lalu ia berfikir : Kapan kota ini didirikan? Kemudian ia menyesali diri karena memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan karenanya ia menghukum dirinya untuk berpuasa selang-sehari selama setahun penuh. Waktunya seumur hidupnya selalu dihabiskan untuk belajar, berfikir dan beribadah, ia sangat serius dalam hidupnya dan agar ia tidak terganggu maka selama 20 tahun ia hanya tinggal di dalam masjidil Haram.

Pernah suatu hari ia ditegur oleh orang-orang tentang keseriusannya yang dianggap berlebihan oleh mereka, maka ia menjawab : “Aku bersaksi bahwa aku sangat percaya pada adanya malaikat yang mulia lagi mencatat seluruh amalku, lalu tidak malukah jika nanti diumumkan di depan orang-orang di hari Kiamat nanti lalu banyak ditemukan hal-hal yang bukan ibadah kepada-NYA?!” Karena disiplin dan keseriusannya yang luar biasa dalam belajar inilah ia mencapai derajat tertinggi dikalangan para ulama, sehingga banyak orang yang mengambil manfaat dari keluasan ilmunya. Salah satu contohnya, Imam Abu Hanifah suatu kali pernah bercerita : “Aku pernah salah dalam 5 fiqh Manasik (Hajji) dan aku diingatkan oleh seorang tukang cukur! Yaitu ketika aku duduk untuk tahallul (bercukur setelah selesai hajji) aku bertanya pada tukang cukur itu berapa ongkos cukurnya? Maka ia menjawab bagi orang yang hajji tidak ditetapkan ongkos, maka aku merasa sangat malu dan berfikir siapa tukang cukur ini, lalu aku duduk, maka kata tukang cukur itu : Hendaklah anda menghadap qiblat, maka aku menjadi semakin malu, lalu aku langsung berikan kepalaku untuk dicukur, lalu ia berkata lagi : Hendaknya yang kanan dulu, lalu kuberikan yang sebelah kanan sambil terus berfikir, lalu ia berkata lagi : Perbanyaklah takbir! Maka akupun bertakbir lalu ketika selesai segera kusodorkan uang dan ingin terus berlalu, lau ia berkata lagi : Jangan lupa shalat 2 raka’at. Maka dengan penasaran kutanya darimana dia tahu tentang semua hukum fiqh tersebut? Maka jawabnya : Dulu aku pernah mencukur ‘Atha bin Abi Ribah dan kupelajari semua yang diperbuatnya ketika itu dan kuamalkan.”

Dan selama hidupnya tidak ada orang yang berani berfatwa di masjidil Haram karena hormat akan kedalaman dan keluasan ilmu agama yang dimilikinya, sehingga ia dijuluki SAYYIDUL FUQAHA AL HIJAZ (Pemimpin para ahli Fiqh di Makkah dan Madinah…) Semua orang sangat hormat pada dirinya bahkan ia lebih dihormati dari Khalifah sendiri, kendatipun demikian ‘Atha adalah seorang yang sangat tawadhu’ (rendah hati) dan ia sangat membenci kesombongan dan orang yang sombong, selama hidupnya ia hanya memakai pakaian yang termurah (5 dirham saja). Pernah suatu hari Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang dan melakukan hajji dan ketika Thawaf di Baitul Haram orang-orang berusaha minggir menghormatinya, maka ‘Atha marah dan berkata : DA’HU YATA’ALLAMA BI MAWQIF ALLADZI TAQTULU KIBRIYA’UHU! (Biarkan ia disakiti dengan kondisi yang dapat membunuh kesombongannya…)

Maka setelah itu khalifah memanggilnya untuk bertanya tentang beberapa hukum agama, maka ia berkata kepada utusan khalifah tersebut : AL ‘ILMU YU’TA ‘ALAIHI WALAM YA’TI! (Ilmu itu didatangi dan bukan mendatangi…), maka khalifahpun datang kepadanya dan meminta nasihat, maka kata ‘Atha : “Takutlah pada ALLAH wahai Amirul Mu’minin, ingatlah bahwa engkau diciptakan sendiri, dilahirkan sendiri, dimatikan sendiri, dibangkitkan sendiri dan akan dihisab sendiri pula, maka tak ada yang dapat membantumu untuk dunia dan akhiratmu kecuali ALLAH SWT.” Maka khalifah menangis mendengar taushiyyah (nasihat) tersebut dan memberinya hadiah dari emas dan perak, tapi ditolak dengan halus oleh ‘Atha sambil berkata : “Katakanlah : Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terimakasih, karena sesungguhnya kami takut akan suatu hari dimana manusia saat itu gelap wajah-wajahnya (ayat)..”

Ketika wafatnya, ribuan orang menshalatkan sampai-sampai di masjidil Haram dilaksanakan shalat janazah berkali-kali karena banyaknya yang ingin menshalatkan. Dan ketika mereka mengangkat jenazahnya, maka mereka semua terheran-heran karena mayatnya sangat ringan seperti bulu, sebab tidak sedikitpun membawa keduniaan serta dipenuhi oleh berbagai bekal untuk akhirat yang banyak

Amir Bin Abdullah At-Tamimi

Berkata Alqamah bin Muriid (ulama Nejd): “Zuhud berakhir pada 8 orang, yang paling utama diantara mereka adalah Amir bin AbduLLAH…”Ia dilahirkan pada masa khalifah Umar ra di kota Bashrah, yaitu kota yang menjadi pos penyerangan kaum muslimin terhadap orang-orang Persia, untuk menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di bumi.

Amir bin Abdullah at Tamimi al Anbari rahimahuLLAH adalah seorang yang berbadan tegap, panjang janggutnya, wajahnya bercahaya (karena amat sangat banyak beribadah), suci akhlaqnya dan dibesarkan dari sejak kecil dalam ketaqwaan kepada ALLAH SWT.

Ketika ia berangkat dewasa, ia senantiasa ikut dalam peperangan yang dilakukan oleh para sahabat ra, kendatipun demikian ia tidak pernah bernafsu terhadap ghanimah (harta rampasan perang) berupa emas dan permata yang didapatkannya, ia sangat zuhud terhadap dunia dan berjihad semata-mata mengharap ridha ALLAH dan ia sangat memimpikan dapat terbunuh sebagai syahid.

Pemimpin Bashrah saat itu adalah seorang sahabat yang terkenal, Abu Musa al-Asy’ariy ra yang selalu memimpin langsung pertempuran-pertempuran kaum muslimin, maka Amir selalu mengikuti Abu Musa dan tak pernah jauh dari beliau. Setiap hari ia membagi waktunya menjadi 3 bagian: Mengajar Islam di mesjid Bashrah, berkhalwat (menyendiri) di malam hari untuk bersujud dan berjihad fi sabiliLLAH dengan pedangnya. Sehingga ia digelari: ‘Abidil Bashrah wa zaahidihaa… (Ahli Ibadah dan Ahli Zuhud dari Bashrah).

Pada setiap malam dalam peperangannya, saat para pasukan telah terlelap, ia selalu menyendiri shalat lalu dengan berlinangan airmata ia merintih: “ILAHI ENGKAU telah menciptakanku dengan ketentuan-MU… Dan telah KAU tempatkan aku dalam cobaan dunia ini… Lalu KAU katakan dalam firman-MU: Bersabarlah! Maka bagaimana aku dapat bersabar dari kelembutan-MU… ILAHI ENGKAU Maha Mengetahui, jika seluruh dunia ini ada yang memintanya dariku niscaya akan kuberikan seluruhnya… Duhai betapa aku cinta kepada-MU, maka mudahkanlah aku dari musibah yang menimpaku ini, relakan aku atas qadha’-MU, sungguh aku tak peduli dengan yang lain wahai Kekasih, selain cinta-MU pada-KU…”

Lalu ia terus shalat dan berdoa sampai Shubuh, lalu ketika hampir Shubuh ia berdoa lagi: “ILAHI, shubuh telah tiba, dan orang-orang telah mulai bangun untuk mencari rizqi-MU, dan tiap mereka berhajat kepada-MU… Adapun hajat Amir kepada-MU hanyalah ampunan-MU… Ya ALLAH, kabulkanlah hajatku dan hajat mereka… ILAHI hanya satu hajatku yang KAU tolak, yaitu agar KAU lepaskan rasa kantuk dariku siang dan malam selamanya, agar aku dapat beribadah kepada-MU sebagaimana cintaku kepada-MU…”

Ia adalah benar-benar bagaikan ‘Ubbadun bil Lail wa Fursanun bin Nahar… (Ahli Ibadah di malam hari karena banyaknya beribadah dan menangis dan penunggang kuda di siang hari sebab selalu terdepan di medan jihad). Ia selalu berpesan pada teman-temannya di medan jihad: “Aku minta pada kalian 3 permintaan dan jangan kalian tolak, pertama aku ingin menjadi pelayan kalian yang menyediakan semua kebutuhan kalian, kedua aku ingin terus menjadi mu’azzin kalian setiap waktu shalat, dan ketiga aku ingin menafkahi semua kebutuhan kalian dengan uangku semampuku.”

Ketika kaum muslimin berhasil mengalahkan kerajaan Persia maka berlimpahlah berbagai harta yang tak ternilai seperti mahkota-mahkota dan perhiasan dari emas dan berlian yang sangat indah dan mahal ke tangan kaum muslimin yang sangat miskin saat itu. Amir bin AbduLLAH adalah orang pertama yang berhasil membuka gudang penyimpanan harta Maharaja Persia, lalu dibawanya semua itu kepada panglimanya Qa’qa bin Amru sambil berkata: “Inilah semua simpanan kekayaan raja-raja Persia yang terbaik.” Maka Qa’qa memandangnya seakan tak percaya, maka kata Amir : “Demi ALLAH, semuanya ini tak berharga bagiku walaupun seujung kukuku ini.”

Walaupun ia adalah seorang mujahid yang selalu bertempur melawan berbagai pasukan kuffar, tetapi ia sangat pengasih dan penyantun. Pernah suatu ketika ia melihat seorang Ahlu Dzimmah (orang kafir yang tunduk pada peraturan negara Islam) yang dianiaya, maka ditamparnya orang yang menganiaya itu, sehingga iapun dikeroyok beramai-ramai dan dicekik lehernya, sambil terengah-engah menahan mereka ia berkata: “WALLAHI! Jangan sekali-kali berani mengusik Dzimmah ar-Rasul selama aku masih hidup…”

Sebagai seorang yang sangat zuhud ia senantiasa berpesan agar jangan sekali-kali mendekati pintu para penguasa, karena hal itu ia difitnah oleh para penjilat penguasa sehingga mengakibatkannya diusir oleh khalifah agar ia pindah ke Syam (sekarang Suriah dan Yordania). Sekalipun demikian ia tidak pernah marah, bahkan ia selalu berdoa: “ALLAHumma, siapapun yang telah mendustakan aku dan menyebabkan keluarnya aku dari kota ini dan memisahkanku dari sahabat-sahabatku telah kumaafkan. Maka berilah mereka ‘afiah (keselamatan) di dunia dan akhirat mereka, dan matikanlah kami dalam ampunan, rahmat dan ‘afwah-MU…”

Ia sering menangis tiba-tiba, sambil mengulang kata-katanya: “Aku takut akan menyesal, pada hari dimana tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada ALLAH dengan hati yang selamat…”

Amir bin AbduLLAH at-Tamimi wafat di bumi kiblat pertama kaum muslimin Palestina. Ketika akan wafat ia berkata sambil berlinangan airmata: “Alangkah panjangnya jalan dan alangkah sedikitnya bekal…” Semoga ALLAH SWT merahmatinya, amiin…
Disarikan dari kitab : SUAR MIN HAYATI TABI’IN (DR AbduRRAHMAN Rif’at Basya)

MISSION IMPOSIBLE IN KONSTANTIN

”Janganlah kamu berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang negara, atau kamu pergunakan lebih dari sewajarnya. Sebab semua itu merupakan penyebab utama kehancuran.” (Sultan Muhammad Al Fatih)

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]. “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium.

Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga putra Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani.

Sultan Muhamad II dikenal sebagai el-Fatih “sang Penakluk”, Dia mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Seorang pemimpin muda legendaris yang dikenal jauh lebih hebat dari Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain Jalut melawan tentara Mongol).

Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah meneliti dan meninjau usaha ayahnya melawan Costantinopel.

Bahkan Fatih muda terus mengkaji tentang usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan tekad yang kuat untuk meneruskan cita-cita ke arah itu. Ketika naik tahta pada tahun 855H / 1451M, beliau telah mula berfikir dan menyusun strategi agar tidak menemui kegagalan seperti pendahulunya.Ketika itu Konstantinopel berada dalam penguasaan sebuah kerajaan yang sangat tangguh dan hampir mustahil bagi kekuatan manapun untuk dapat menaklukan mereka, bahkan dapat dikatakan sebuah mission imposible.

Sultan Muhammad sadar betul akan hal itu sehingga tidak ada senjata yang lebih ampuh selain ketaqwaan untuk mengalahkan Romawi. Maka terlebih dahulu Sultan Muhammad membekali tentaranya dengan bekal taqwa, sebelum memberinya pedang, panah, meriam, dan yang lainnya. Ketika memimpin 265 ribu tentaranya Sultan Muhammad sendiri yang berada di garda terdepan lalu diikuti oleh para ulama, sesepuh dan para pemuka negara. Di bawah hujan api dan panah, berkat pertolongan Allah, dengan mantap pasukan Turki Usmani bergerak maju dan akhirnya berhasil membobol pagar Konstantinopel. Sejak itu sultan Muhammad II digelari dengan Al-Fatih (Sang Penakluk).

Gelar ini menjadi sangat terkenal dan mengalahkan nama aslinya di kemudian hari.

Sejak itu Konstantinopel menjadi ibu kota negara Turki Usmani dan oleh Sultan Muhammad II diubah namanya menjadi Islam Pol (Kota Islam), kemudian mengalami pergeseran ucapan sehingga menjadi Istambul. Sultan Muhmmad Al-Fatih menampakkan toleransi yang sangat tinggi kepada penduduk kota itu. Dia memberikan kemerdekaan kepada umat Nasrani dan menyuruh orang-orang Yunani yang lari saat pengepungan untuk kembali.

Sultan Muhammad II terkenal sebagai penguasa yang rendah hati. Selama menduduki satu kawasan, utamanya di Konstantinopel, misalnya, dia menjalankan praktik yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat saat menaklukkan wilayah musuh.

Sesuai ajaran Rasul, Dia pun memperlakukan orang-orang taklukan dengan baik. Tidak ada perlakuan semena-mena. Sejarah pun mencatat, Sultan Muhammad II adalah sultan pertama yang mengkodifikasikan hukum kriminal dan konstitusi jauh sebelum Sultan Sulaiman. Di samping itu, dia pula yang mengembangkan citra klasik kesultanan Usmaniyah yang otokrasi (padishah). Setelah kejatuhan Konstantinopel, dia mendirikan sejumlah universitas dan perguruan tinggi, yang beberapa di antaranya masih berdiri sampai sekarang.

Menjelang wafatnya pemimpin agung tersebut berpesan pada penerusnya, “Janganlah kamu berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang negara, atau mempergunakan lebih dari sewajarnya. Sebab semua itu pangkal utama kehancuran.”. “”Wahai penggantiku, tak lama lagi aku akan menghadap Allah. Namun aku sama sekali tidak khawatir, karena aku meninggalkan pengganti seperti kamu.

Jadilah engkau seorang pemimpin yang adil, shaleh, dan penebar kasih sayang. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyat, tanpa membeda-bedakan. Giatlah untuk menyebarkan Islam, mengingat menyebarkan Islam adalah kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepetingan agama atas kepentingan apa pun selainnya. Jangan pernah lemah dan lalai dalam menegakkan agama. Jangan pernah mengangkat orang-orang yang tidak mempedulikan agama sebagai pembantu-pembantumu.

Juga, jangan pula mengangkat orang-orang yang bergelimang dosa dan maksiat sebagai menteri-menterimu.

Hindari bid”ah-bid”ah yang merusak.
Pertahankan negeri melalui jalan jihad. Jagalah harta di Baitul Mal, jangan dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali mengambil harta rakyatmu kecuali sesuai dengan aturan Islam.

Himpunlah orang-orang yang lemah dan fakir. Berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak. Lalu, di ujung usianya, pahlawan legendaris itu berpesan: “”Pelajaran ini dariku aku datang ke negeri ini laksana semut kecil tapi Allah karuniakan nikmat kepadaku yang sedemikian besar. Berjalanlah seperti yang aku lakukan. Janganlah kamu berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang negara, atau kamu pergunakan lebih dari sewajarnya. Sebab semua itu merupakan penyebab utama kehancuran.””