SYEIKH AHMAD KHATIB SAMBAS

SYEIKH AHMAD KHATIB SAMBAS
Guru para Pahlawan Bangsa 

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Perkumpulan thariqah ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua thariqat sufi besar. yakni Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.  

Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Sebagai sebuah daerah yang dibangun oleh Raja Tengah, keturunan dari raja Brunei Darussalam, pada tahun 1620 M. dan menobatkan diri sebagai sebuah kerajaan sepuluh tahun kemudian. Maka wilayah Sambas adalah daerah yang telah memiliki ciri-ciri kemusliman khusus sejak Raden Sulaiman yang bergelar Muhammad Tsafiuddin dinobatkan sebagai Sultan Sambas pertama.

Pada waktu itu, rakyat Sambas hidup dari garis agraris dan nelayan. Hingga ditandatanganinya perjanjian antara Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin (1815-1828) dengan pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1819 M. Perjanjian ini membentuk sebuah pola baru bagi masyarakat Sambas yakni, perdagangan maritim.  

Dalam suasana demikianlah, Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah.  Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-guru dan Murid
Di antara guru Ahmad Khatib Sambas semasa menuntut ilmu di tanah suci adalah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani, seorang Syeikh terkenal yang berdomisili di Makkah, dan Syeikh Abdus Shomad al-Palimbani. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami, Ahmad al-Marzuqi al-Makki al-Maliki.

Sedangkan mengingat masa meninggalnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Oktober 1812 M. setelah mengabdi di tanah air selama empat puluh tahun, dan Beliau berangkat ke tanah suci pada tahun 1820 M. maka tidak mengherankan jika Beliau pun diduga sebagai salah satu guru Ahmad Khatib Sambas. Dalam hemat penulis, sangat mungkin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah guru Beliau sewaktu belum berangkat ke tanah suci.

Pendapat ini setidaknya mematahkan penolakan bahwa Ahmad Katib Sambas tidaklah mungkin pernah bertemu dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Mengingat tradisi nomaden dan situasi politik era perdagangan maritim yang telah dijelaskan sebelumnya, maka sebenarnya sangat mungkin bagi Ahmad Katib Sambas untuk bertemu dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, terutama bersama dengan bimbingan pamannya yang juga adalah seorang ulama.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan dan Karya
Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karya Fathul Arifin yang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.  

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa’id al-’Amudi dan Ahmad Ali.

Umar Abdul Jabbar, menyebut bulan Safar 1217 H (kira-kira bersamaan 1802 M.) sebagai tanggal lahirnya demikian pun Muhammad Sa’id al-Mahmudi. Namun mengenai tahun wafatnya di Mekah, terdapat perbedaan. Abdullah Mirdad Abul Khair menyebut bahwa Syeikh Ahmad Khatib wafat tahun 1280 H. (kira-kira bersamaan 1863 M.), tetapi menurut Umar Abdul Jabbar, pada tahun 1289 H. (kira-kira bersamaan 1872 M.).

Tahun wafat 1280 H. yang disebut oleh Abdullah Mirdad Abul Khair sudah pasti ditolak, karena berdasarkan sebuah manuskrip Fathul Arifin salinan Haji Muhammad Sa’id bin Hasanuddin, Imam Singapura, menyebutkan bahwa Muhammad Sa’ad bin Muhammad Thasin al-Banjari mengambil tariqat (berbaiat) dari gurunya, Syeikh Ahmad Khatib sedang berada di Makkah menjalani khalwat. Manuskrip ini menyebutkan bahwa baiat ini terjadi pada hari Rabu ketujuh bulan Dzulhijjah, tahun 1286 H. Jadi berarti pada tanggal 7 Dzulhijah 1286 H. Syeikh Ahmad Khathib Sambas masih hidup. Oleh tanggal wafat Syeikh Ahmad Khatib Sambas,  yang wafat tahun 1289 H. yang disebut oleh Umar Abdul Jabbar lebih mendekati kebenaran. Wallahu A’lam Bisshowab

KH MUHAMMAD THOHA MA’RUF

 

KH MUHAMMAD THOHA MA'RUF

KH MUHAMMAD THOHA MA

 

 

KH MUHAMMAD THOHA MA’RUF
Ulama Minang Putera Banjar Kelahiran Manado 

 

Mungkin masyarakat NU selama ini kurang akrab dengan nama KH. Muhammad Thoha Ma’ruf, terutama bagi mereka yang selalu tinggal di Jawa. Atau barangkali banyak sekali masyarakat Jakarta yang sering akrab dengan nama KH Muhammad Thoha Ma’ruf, namun tidak mengetahui bahwa Beliau adalah salah seorang tokoh besar NU terutama di tanah Sumatera, wabil khusus di ranah Minangkabau.

Beliau adalah seorang ulama Nahdliyyin kharismatis dari negeri kaum paderi, meski sebenarnya Beliau bukan putera minang asli. KH Thoha Ma’ruf adalah keturunan ke-7 dari ulama Besar Nusantara asal Banjar Kalimantan, yakni Syeikh Arsyad al-Banjari. Mengingat silsilahnya maka jelas sekali beliau dilahirkan dan dididik di tengah-tengah keluarga religius. Ayahnya bernama KH Mansur adalah seorang guru agama yang membangun sebuah keluarga di Kampung Banjer Manado, hingga di sanalah bayi Thaha Ma’ruf lahir tepat pada tanggal 25 Desember 1920.

Di Banjer Manado pula Thoha Ma’ruf menghabiskan masa kecilnya. Hingga ketika ia mendekati usia dua puluh tahun, ia mulai melangkahkan kakinya untuk meniti sebuah pengembaraan hidup. Tanah Minanglah tujuannya. Di sanalah ia mengembangkan ilmunya untuk menjadi seorang ulama yang berpengaruh di kemudian hari.

Pada usia 22 tahun ia telah menamatkan Madrasah Muallimin di Bukit Tinggi (1942) setelah satu tahun sebelumnya ia juga menamatkan institute Islamic College di Padang. Dari sinilah kemuadian Beliau mulai menapakkan dirinya di jalan dakwah. Di Padang, bumi pertiwi para intelektual ini pula ia membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya terhadap dunia dengan mempelajari pula bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Bahkan bahasa Jepang inilah yang sempat menyelamatkannya dari hukuman tentara Pendudukan Jepang ketika ia ditangkap karena dianggap menentang penjajah.  

Sejak merantau ke Minang inilah Thaha Ma’ruf menunjukkan bhakti yang begitu kuat terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa. Terutama dari sisi pendidikan. karena itulah ia terlibat dalam banyak sekali gerakan pendidikan sejak semasa mudanya. bahkan sebenarnya sejak sebelum ia berangkat ke negeri rantau, ia telah pula mengajar sebagai guru agama di tanah kelahirannya, Manado. Dan bukan hanya di Padang saja, melainkan juga ke wilayah-wilayah Sumatera Tengah lainnya, yakni di Riau, Jambi dan Medan.

Di Minang Thaha Ma’ruf menikah dengan seorang gadis belia asli Minang yang kelak mendampinginya hingga akhir hayat. Hj Sariani binti H Muhammad Yasin. begitulah gadis itu biasa dipanggil. Sejak kecil Sariani telah dipanggil Hajjah, kerena sejak berusia lima tahun beliau telah diajak berangkat ke tanah suci Makkah-Madinah untuk pertama kalinya, beberapa kali ia pulang pergi ke Haramain sebelum akhirnya dinikahkan dengan pemuda Thaha Ma’ruf, seorang guru agama militan asal Banjar yang telah diterima sebagai bagian dari penduduk Minang. Keluarga Istrinya ini adalah sebuah keluarga saudagar kaya raya yang memiliki keseharian hidup agamis. Hj. Sariani pun seorang da’iyah handal sejak awal, sekaligus juga adalah pengatur keuangan keluarga yang terbukti sangat ulet.

Kehandalan Hj Sariani ini menjadi penting ketika terjadi peristiwasanering (pemotongan nilai uang rupiah menjadi setengahnya), di mana setiap nominal mata uang di atas lima rupiah harus dipotong setengahnya. Kondisi ini cukup membuat orang-orang kaya kalang kabut, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cadangan uang recehan. Nah, Hj Sariani inilah yang rupa-rupanya menyimpan cukup banyak cadangan uang recehan, sehingga keuangan keluarga cukup tertolong karena nilai mata uang dibawah lima rupiah tidak mengalami penyusutan.

Terbukti kemudian pasangan muda ini kedua-duanya aktif sebagai kader pejuang unggul yang mampu mensinergikan antara perjuangan bangsa dan dakwah keagamaan dalam satu tarikan nafas bahtera rumah tangga mereka. Thaha Ma’ruf, selain menjadi wartawan di Harian Penerangan, juga aktif sebagai guru di berbagai sekolah dan majlis taklim, sehingga ia mampu menanamkan rasa kecintaan masyarakat dan seluruh anak didiknya terhadap perjuangan bangsa dan agama sekaligus.

Hal ini senyatanya menjadi sebuah fakta ketika pada tahun 1953, dalam usia 33 tahun, Beliau menjadi pelopor sekaligus deklarator berdirinya Partai NU di wilayah Sumatera Tengah, wilayah yang sekarang menjadi tiga propinsi, Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Pendirian partai NU di Sumatera Tengah ini dilaksanakan setelah selama enam tahun Thaha Ma’ruf bergulat dalam perjuangannya sebagai Sekretaris Jenderal PERTI yang berpusat di Bukittinggi.

Tiga tahun setelah mendirikan partai NU di Sumatera Tengah, Beliau hijrah ke Jakarta sebagai anggota Pengurus Besar NU (PBNU) dan aktif dalam perjuangan Nahdlatul Ulama di level Pusat.

Di Jakarta, Thaha Ma’ruf sekeluarga sempat beberapa kali pindah alamat, dari Kebun Nanas, Matraman hingga Cipinang. Dalam menjalani kehidupannya sebagai aktifis Nahdlatul Ulama di Jakarta ini Beliau selalu didampingi oleh sang istri yang juga seorang aktivis Fatayat-Muslimat NU.

Meski Jakarta adalah tempat yang baru baginya, namun Thaha Ma’ruf tatap dapat selalu mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat sekitar. hal ini terbukti ketika pada tahun 1965 terjadi kemelut yang mendebarkan seputar pemberontakan PKI, kediaman Thaha Ma’ruf di Matraman selalu dijaga oleh laskar Ansor setempat atas inisiatif mereka sendiri, bukan permintaan dari shohibul bait ataupun atas instruksi atau komando dari atas.

Selama menjalani kegiatannya sebagai politikus, Thaha Ma’ruf dan istri juga selalu aktif mengisi dakwah-dakwah di tingkat masyarakat bawah. Bahkan meskipun ia telah menjadi unsur pimpinan pusat di “Majlis Ulama” dan da’i tetap di pengajian Masjid Istiqlal.

Bahkan meski berpindah-pindah tempat tinggal, keluarga Thaha ma’ruf tidak pernah meninggalkan sebuah majlis taklim pun di komunitas lamanya.

Thaha Ma’ruf tercatat sebagai anggota DPRGR/MPRS tahun 1960-1970 setelah berdinas di ketentaraan sejak tahun 1946 sebagai Kepala Penerangan yang berkedudukan di Bukittinggi dengan pangkat Mayor. Dari latarbelakang militernya inilah Thaha Ma’ruf senantiasa tegas dalam sikap-sikap politiknya. Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah jika dinilainya kurang tepat.

Salah satu gagasan penting yang dicetuskannya dengan sukses adalah kembalinya Indonesia ke pangkuan PBB pada tahun 1966. Dari sinilah kemudian Thaha Ma’ruf dipercaya untuk menjalani berbagai kunjungan kenegaraan ke berbagai wilayah di luar negeri. Termasuk untuk menghadiri Kongres Perdamaian di Moskow tahun 1962 dan mempersiapkan pendirian Konsulat RI. di Seoul, Korea Selatan pada tahun 1968.

Ketika terjadi banyak kemelut antara pemerintah pusat dengan beberapa wilayah termasuk dengan PRRI di Sumatera Barat, Thaha Ma’ruf mengambil sikap pro pemerintah pusat, karena baginya, keutuhan NKRI lebih penting daripada perpecahan antar bangsa. karenanya, hal ini juga menjadikannya berada dalam garis depan untuk menolak setiap bentuk perlawanan terhadap kedaulatan NKRI, termasuk ketika terjadi peristiwa pemberontakan PKI 1965.

Dukungannya yang begitu kuat untuk keutuhan NKRI juga tercermin dari pendirian dan deklarasi NU wilayah Sumatera Tengah, yang diawali oleh argumentasi bahwa semestinya umat Islam di Indonesia memang memiliki sebuah wadah keagamaan yang mencakup dan menjangkau ke seluruh wilayah NKRI, sehingga tidak menimbulkan friksi antar daerah. 

KH. Thaha Ma’ruf adalah seorang tokoh yang hidup dalam suasana kesederhanaan dan memiliki keteladanan yang patut diikuti oleh masyarakat muslim. Salah satu kegemaran positif semasa hidupnya adalah bersilaturrahim. Menurut penuturan KH Fadhli Ma’ruf, putera ke-7, semasa hidupnya KH Thaha Ma’ruf sangat gemar bersilaturahim ke Ulama-ulama yang juga adalah teman-teman dan kerabatnya. Selain itu beliau juga sangat gemar berziarah ke makam para Aulia di Jakarta dan sekitarnya, seperti ke Luar Batang, makam KH. Mas Mansur di Tanah Abang dan lain-lain.

Dermawan adalah salah satu sifat positif beliau yang senantiasa dijalankan sepanjang hidupnya. Diceritakan, beliau selalu membawa uang recehan untuk dibagikan kepada siapapun yang memerlukannya di sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Konon beliau tidak pernah menolak seorang pun yang datang untuk meminta pertolongan.

Kedekatan dengan para Habaib dan Ulama selalu dijaganya untuk kepentingan dakwah Islamiyah. beberapa teman-teman dekatnya adalah KH Abdullah Syafe’i, KH. Wahid Hasyim dan Habib Ali Kwitang. Beliau juga selalu aktif di Majlis Ta’lim Kwitang, baik sebagai peserta maupun pembicara.

Hingga masa-masa tuanya, Beliau juga masih sangat aktif menulis, terutama artikel-artikel yang berkenaan dengan dakwah islamiyah. Hingga tujuh Jam sebelum beliau menghadap sang Khaliq (Malam Rabu, 6 April 1976 jam 22.00 WIB), KH. Thaha Ma’ruf masih sempat menulis sebuah karangan (artikel dakwah) yang akan diajarkan pada Majlis Ta’lim Masjid Istiqlal. Karangan terakhir ini belum selesai dan ditemukan masih terpasang di atas meja kerjanya. 

KH. Thaha Ma’ruf bin Mansur meninggal pada 7 April 1976 dalam usia 56 tahun dengan berstatus sebagai Pengurus Pusat Majlis Ulama Indonesia dengan meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Beberapa di antara putera puteri beliau ada yang aktif menjadi pengurus teras PBNU dan banom-banomnya, sementara yang lainnya ada yang mengurus kelanjutan dakwah Islamiyah yang telah dirintis oleh beliau.

Karena Hj Sariani berprinsip bahwa wafatnya suami bukanlah berarti terhentinya perjuangan dalam menegakkan agama Islam, maka pada tahun 1976 pula sang istri dengan dibantu oleh putera-puterinya mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ma’ruf di Cibubur. Yayasan ini bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah Islam yang sekarang telah berkembang dan memiliki jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga SMU.

Pada mulanya yayasan ini adalah sebuah Musholla kecil, namun masyarakat memintanya dikembangkan sebagai sebuah lembaga pendidikan yang dapat diandalkan. Menurut permintaan masyarakat, hal ini dikarenakan di wilayah tersebut (saat itu masih pinggiran Jakarta), sudah terdapat beberapa musholla, namun justru digunakan untuk main “gaple” karena tidak ada kader-kader yang berkompeten memakmurkannya. Karena itulah, membuat sebuah wadah untuk mencetak kader dakwah menjadi sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi.

Ketika Hj Sariani wafat dan dikebumikan di Cibubur, Komplek Yayasan Pendidikan Islam al-Ma’ruf, jasad KH Thaha Ma’ruf juga dipindahkan ke Cibubur untuk bersanding dengan makam isterinya di belakang Masjid. Setelah sebelumnya jasad beliau disemayamkan di pemakaman umum Kebon Nanas.

Semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikan dan perjuangan beliau serta mengampuni segala kesahalan dan dosa-dosanya.

Banjar : Negeri Tuan Guru

 

Prakata

Banjar memanglah pantas disebut dengan Negeri Tuan Guru, karena dari sinipulalah lahir sosok Ulama yang Zuhud, Wara, Istiqomah, Tawadhu, Qonaah dan Alim yang mensyiarkan Islam diseantero dunia yakni Syech Muhammad Arsyad Al Banjari dan zuriat beliau yang membuat masyarakat muslim Banjar khususnya dan masyarakat muslim pada umumnya terkesan dan mendalam dalam memahami Aqidah islam yang diajarkan oleh Beliau.  Syech Muhammad Arsyad Al Banjari walaupun memiliki kelebihan 2 yang diberikan oleh Allah, beliau adalah pribadi yang santun, arif, ramah, dan selalu rendah hati dengan tidak menyombong diri padahal Beliau pakar dalam Ilmu Agama dan Ahli Ibadah. Sungguh kemulian Beliau dapat dari Allah SWT dan selalu merasa lemah dihadapan Allah SWT. Hal Ini lah yang membuat Masyarakat banjar sangat kagum dan menyayangi beliau hingga sekarang dan Allah menjadikan zuriat/keturunan beliau mengikuti jejak langkah Syech Muhammad Arsyad Al Banjari untuk menegakkan Kalimat Illahi dan Melaksanakan Syiar Islam dimanapun berada.

Ulama Banjar adalah ulama yang berasal dari Tanah Banjar maupun berketurunan suku Banjar.

Di antaranya:

  • Ulama yang sudah wafat :
  1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari/Datu Kalampaian, mufti Kesultanan BanjarKalsel
  2. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari/Datu Nafis, pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis
  3. Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari/Datu Sapat, mufti Kerajaan IndragiriRiau.
  4. Datu Sanggul
  5. Datu Ambulung
  6. Datu Nuraya
  7. Guru Sekumpul Al Alimul Allamah Al Arif Billah Syech Muhammad Zaini Ghani
  8. Dato Ishak Baharom, mantan mufti negeri Selangor.
  9. Syeikh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti negeri Kedah
  10. Sabran bin Haji Asmawi, mantan ADUN Gunung Semanggol, Negeri Perak

Di Kalimantan Selatan, istilah Datu untuk ulama yang sudah wafat atau sama dengan sebutan Sunan kalau di Jawa.

  • Ulama Banjar masih hidup :
  1. Guru Danau
  2. Ustadz Muhammad Arifin Ilham
  3. Dato Seri Dr Harussani bin Haji Zakaria, mufti negeri Perak, Malaysia
  4. Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah AlBanjary AlMakky, salah satu ulama kontemporari Mazhab Syafi’i di nusantara, pengarang dan pentahqiq puluhan buku berbahasa arab

SYEKH MUHAMMAD NAFIS IBNU IDRIS ALBANJARI

Prakata

Sekitar pertengahan tahun 1772 M / 1180 H Syekh Muhammad Arsyad Albanjari akan mengakhiri masa belajarnya setelah menuntut berbagai cabang ilmu pengetahuan selama kurang lebih 25 tahun di Makah Almukarramah dan 5 tahun terakhir di Madinah Almunawarah (1742 – 1772) selanjutnya kembali ke Makah Almukarramah sebagai persiapan untuk kembali ke Tanah air. ( Yang pada waktu itu disebut Tanah Jawi ).
Pada suatu hari jum’at pertengahan tahun tersebut, Syeh Muhammad Arsyad Albanjari bertemu dengan salah seorang keluarga bernama Muhammad Nafis ( Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari )didalam Masjidil haram yang sejak 30 tahun yang lalu telah terpisah. Beliau langsung saja menanyakan tentang sejak kapan saja Syekh Muhammad Nafis berada di Makah Almukarramah, beliau menjawab, sejak kurang lebih satu jam yang, Syekh Muhammad Arsyad Albanjari bertanya lagi tentang dengan sarana Kapal apa saja dari Jawi ke Mekah Almukarramah ini, yang pada waktu itu satu – satunya sarana angkutan dari Jawi ke tanah Suci hanya dengan Kapal layar yang memerlukan waktu pelayaran antara 3 s/d 5 bulan. Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari hanya menjawabnya dengan isyarat yang pengertiannya tidak dengan angkutan Kapal Layar. Kemudian ditanyakan lagi kapan saja kembali ke Jawi, itupun tidak dijawabnya dengan lisan, akan tetapi dijawabnya dengan isyarat yang pengertiannya Insyallah satu jam kemudian. Bagi Syekh Muhammad Arsyad Albanjari sebagai Ulama besar dan sangat A’rif cukup mengerti, bahwa hal-hal demikian sebagai suatu keajaiban yang perlu dilakukan penelitian lebih jauh. Pada hari jum’at berikutnya beliau bertemu lagi dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Albanjari didalam Mesjid Harum, namun tidak sempat berkata apa-apa beliau sudah menghilang tanpa diketahui kemana arahnya. Kemudian pada hari jum’at berikutnya lagi ( jum’at ketiga ) Syekh Muhammad Arsyad Albanjari pada saat akan keluar dari Mesjidil Haram melalai pintu menuju ke Syamiah langsung bertemu dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari yang sekaligus dirangkulnya dengan erat seraya berkata, saya juga tahun ini akan kembali ke Tanah Jawi setelah kurang lebih tiga puluh tahun bermukim di Tanah Suci, nanti di Martapura Insya Allah kita akan bertemu kembali serta ada hal-hal yang perlu kita bicarakan lebih luas, rangkulan terhadap Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris dilepaskan dan pada saat bersalaman sebagai tanda perpisahan langsung saja Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari berkata, diharap agar jangan sampai menemui saya setelah berada di Martapura kemudian langsung menghilang tanpa diketahui kemana arahnya.
Setelah musim Haji tahun 1772 M = 1186 H Syekh Muhammad Arsyad Albanjari setelah mendapat restudari Guru-guru beliau, baik di Mekah maupun di Madinah, beliau segera akan kembali ke Tanah Air ( Jawai ) bersama-sama dengan teman beliau, yaitu Syekh Abdussamad Alpalimban, Syekh Abdul Wahab Bugis serta Syekh Abdurrahman Masri asal Betawi. Beliau istirahat di Jakarta beberapa hari bersama teman-teman beliau dan sempat memberikan petunjuk membetulkan arah Qiblat Mesjid Jembatan Lima Jakarta tanggal 7 Mei 1172 M. Mereka berpisah di Jakarta dan kembali ke Daerah asal mereka masing-masing. Setelah berada kembali beberapa bulan di Martapura, beliau menanyakan keadaan Syekh Nafis Ibnu Idris Albanjari yang pada waktu itu hanya dikenal sebagai Muhammad Nafis. Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari adalah pengarang Kitab “ ADDRUNNAFIS “ SEBAGAI Kitab ilmu Tashauf yang terkenal berbobot berat dan terlarang bagi orang a’wam mempelajarinya karena dikhawatirkan akan menimbulkan kesalahan pemahamannya yang dapat menimbulkan kesesatan dibidang akidah ahlussunah waljama’ah. Beliau adalah kelahiran serta bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Banjar di Martapura dan masih satu rumpun keluarga dengan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari, dari segi usiapun kemungkinan besar tidak jauh perbedaannya. Sampai saat ini belum diketemukan petunjuk-petunjuk tentang : 1. Tanggal/bulan dan tempat kelahirannya. 2. Perkawinan serta keturunannya. 3. Guru – guru serta tempat belajarnya. 4. Cabang – cabang ilmu pengetahuan apa saja yang dikuasainya selain ilmu Kalam dan ilmu Tasauf. 5. Dimana saja beliau menyusun Naskah Kitab ADDARUNAFIS serta Naskah aslinya kepada siapa saja beliau menyerahkannya. Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari meninggal dunia di Anak Desa Sampit, Desa Bahungin ( sekarang desa Binturu ) Kecamatan Kelua. Pada masa hangat-hangatnya perlawanan rakyat dibawah pimpinan Penghulu Rasyid terhadap Serdadu Belanda di wilayah Tabalong dan sekitarnya, maka rakyat pendukung perjuangan Peghulu Rasyid mengadakan pemukiman baru di anak desa yang dinamakan “ SAMPIT “ artinya kecil, ( lokasi anak Desanya tidak terlalu luas ) mereka setiap saat siap bertempur melawan serangan Serdadu Belanda disamping mereka juga membuka areal persawahan dan perkebunan dalam anak Desa tersebut.
Peserta pemukiman baru di Anak Desa SAMPIT tersebut antara lain : – Orang tua keluarga Gst. Musa. – Orang tua keluarga Gst. Bakri. – Orang tua keluarga Gst. Muhammad. – Orang tua keluarga Gst. Irawan. – Orang tua keluarga Gst. Iwih. – Orang tua keluarga Gst. Haji Darmawi. – Orang tua keluarga Gst. Yusuf. – Orang tua keluarga Marjuni. – Orang tua keluarga Haji Sulaiman.
Setelah selesai perang Banjar kemudian terbukanya Jalan Desa Bahungin, maka pemukiman anak Desa Sampit tersebut secara berangsur-angsur pindah tempat tinggal ke Desa Bahungin dan sekitarnya. Keluarga yang paling akhir meninggalkan anak Desa Sampit ke Desa Bahungin adalah Saudara Marjuni dan Saudara H. Sulaiman yang meriwayatkan secara singkat Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari yang dikumpulkannya dari tahun 1945 – 1960 sebagai tahun terakhir pemukimannya di Anak Desa Sampit. Kedua keluarga tersebut termasuk keluarga yang berada serta dihormati oleh penduduk dan bahkan mendapat simpatik tersendiri dari para tamu/penziarah asal Martapura, Banjarmasin Marabahan, Muara Tewi, Rantau, Pelaihari, Kota Baru, Kandangan Barabai, Amuntai dan tidak jarang dari luar Daerah Kalimantan Selatan yang menziarahi Makam Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari yang dimakamkan di Komplek Kuburan Muslim Sampit ( Desa Bahungin / Desa Binturu istilah baru ).
Dari para penziarah tersebut yang sepanjang bisa diingat-ingatkan sejak tahun 1945-1960 mengenai riwayat singkat Syekh Muhammad Nafis Albanjari dimaksud, kemudian diceritakannya kembali pada kami hari Kamis tanggal 18 April 1991 dirumah kediamannya di Desa Binturu kecamatan Kelua.
Riwayat singkat dimaksud dibagi menjadi 2 ( dua ) fase : – Fase pertama ialah riwayat pertemuan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari di dalam Masjid Makkah Almukarramah sekitar pertengahan tahun 1772 M sebanyak 3 kali pertemuan . – Fase kedua ialah riwayat singkat Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari melarikan diri atau menghindarkan diri dari pertemuannya kembali dengan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari yang tadinya dia sudah menolak atas usulan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari pada saat pertemuannya yang ketiga di masjidil Haram.
Isi Riwayat fase kedua : Syekh Muhammad Arsyad Albanjari tetap memandang perlu menemui Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari untuk mendiskusikan atau bertukar pendapat mengenai hal-hal berkenaan dengan masalah keagamaan. Didapat informasi bahwa Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari pada waktu itu berada di Desa Astambul, Syekh Muhammad Arsyad Albanjari ditemani oleh dua orang pembantu , tidak diceritakan, beliau ke Astambul itu naik perahu atau berjalan kaki. Sesampainya di Astambul, ternyata Syekh Muhammad Nafis satu hari sebelumnya sudah berangkat menuju Rantau ( Tapin ). Perjalanan Syekh Muhammad Arsyad diteruskan menuju Rantau, ternyata Syekh Muhammad Nafis sudah berangkat menuju Tatakan dan bermalam. Kemudian perjalanan diteruskan dan sesampainya di Kandangan, ternyata Syekh Muhammad Nafis sudah berangkat menuju Pantai Hambawang, perjalanan dilanjutkan dan sesampainya di Pantai Hambawang ternyata Syekh Muhammad Nafis sudah berangkat menuju Amuntai, sesampainya di Amuntai ternyata beliau sudah berangkat menuju Kelua.
Perjalanan tetap dilanjutkan dan sesampainya di Kelua ternyata Syekh Muhammad Nafis baru saja berangkat ke Desa SAMPIT. Sementara Syekh Muhammad Nafis berada di Kelua hanya beberapa jam, masyarakat sudah melakukan kontak dengan tokoh-tokoh anak Desa SAMPIT antara lain dengan Gst. Musa dll. Karena rencana akhir dari Syekh Muhammad Nafis akan istirahat di Anak Desa SAMPIT, maka masyarakat disana menyambutnya dengan penuh anyusias. Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari langsung saja istirahat dirumah Gst. Musa serta duduk di atas kasur, kurang lebih 15 menit. Kemudian datanglah rombongan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dan langsung juga menuju dan mau istirahat dirumah Gst. Musa, hal ini atas petunjuk dari tokoh-tokoh masyarakat Kelua. Begitu Syekh Muhammad Arsyad Albanjari memasuki rumah Gst. Musa dan setelah beradu pandang dengan Syekh Muhammad Nafis, pada saat itu Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari berpulang kerahmatullah tanpa ada kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati antara Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari. Hal ini barangkali sesuai dengan isyarat pada saat perpisahan pada pertemuan yang ketiga di Masjiddil Haram. Sampai saat ini belum ada petunjuk mengenai perjalanan Syekh Muhammad Idris Albanjari ke Wilayah Hulu Sungai sampai ke Anak Desa SAMPIT Kecamatan Kelua, apakah dengan berjalan kaki atau naik perahu atau bertunggangan, demikian juga mengenai hari dan tanggal serta tahun berapa persisnya kejadian itu. Demikian Riwayat pada fase kedua Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari sebagai Ulama Besar dan ahli di bidang Ilmu Tashauf dengan Kitabnya bernama “ ADDARUNNAFIS “. BUKTI-BUKTI SEJARAH :
Sebuah Komplek Kuburan Muslim dengan areal kurang lebih 6 berongan, disana banyak Kuburan yang telah berusia tua dan bahkan Nissannya sebagian besarnya dalam bentuk sebelum abad kita ini. Lokasi Kuburan Muslim tersebut di Anak Desa SAMPIT Desa Bahungin Kecamatan Kelua.
Diantaranya terdapat sebuah Kubah Kuburan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari yang senantiasa diziarahi oleh masyarakat dan bahkan Ulama-Ulama di Kalimantan Selatan sejak dulu jauh sebelum Indonesia Merdeka. Kubah tersebut dibangun oleh H. YUSRAN, salah seorang Ulama Kubah tersebut berukuran : – Panjang 2 meter – Lebar 1,95 meter – Tinggi 1,60 meter – Teras 70 cm. – Atap dari sirap.
Terdapat satu buah pesanggrahan tempat istirahat para penziarah yang dibangun oleh Camat Darwin, BA pada beberapa tahun yang lalu. Sekarang bangunan tersebut nampaknya kurang terawatt dengan baik. Pesanggrahan tersebut dibangun dari Kayu berukuran : – Panjang 4 meter – Lebar 3 meter – Atap dari seng – Dinding/Lantai dari papan.
Satu buah kitab yang dikarang oleh beliau bernama ADDARUNNAFIS dalam bahasa Melayusebanyak 38 halaman. Catatan : a. Pertemuan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dengan Syekh Muhammad nafis Ibnu Idris Albanjari di Makkah Almukkarramah pada pertengahan tahun 1772 = 1186 H. b. Penyusutan Naskah Kitab ADDARUNNAFIS sebagaimana tercantum dalam halaman pertama Kitab tersebut ialah dalam tahun 1200 H. c. Kemungkinan meninggalnya Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari sekitar dalam tahun 1201 H.

Tuan Guru Syech Abdurrachman Siddiq Al Banjari

Tuan Guru Abdurrahman Siddig Al Banjari (Guru Sapat)

Tuan Guru Abdurrahman Siddig Al Banjari (Guru Sapat)

1. Biografi Tokoh

Syekh Abdurrachman Siddiq lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1864 M (1287 H). Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Khadhi H. Mahmud dan ibunya bernama Shafura. Ketika berusia satu tahun, ibunya meninggal dunia karena dibunuh. Almarhum Syekh Abdurrachman Siddiq wafat pada tahun 1939 M. Syekh Abdurrachman Siddiq adalah keturunan ulama besar. Kalau dirunut ke atas, Syekh Abdurrachman Siddiq merupakan keturunan Ulama terkenal dari Banjarmasin, Syekh Arsyad al-Banjari.

Syekh Abdurrachman Siddiq adalah seorang mufti, guru agama dan ulama yang banyak mempunyai sahabat. Santrinya ada yang berasal dari Singapura dan Malaysia. Selama 17 tahun, ia menjadi mufti di kerajaan Indragiri. Di samping sebagai mufti, ia juga banyak mengarang buku-buku mengenai agama Islam. Peninggalan lain Syekh Abdurrachman Siddiq adalah sebuah masjid yang dibangun sekitar tahun 1927 M di Parit Hidayat, Sapat, Indragiri Hilir, Riau, Indonesia, berjarak lebih kurang 200 meter dari makam. Masjid ini memiliki ciri khas pada atapnya. Selain itu, terdapat peninggalan lain berupa sebuah rumah tunggu yang didiami oleh anak cucu almarhum secara bergiliran sebagai tempat melayani tamu. Terkadang, rumah tunggu ini juga dimanfaatkan oleh para tamu untuk menginap, jika tidak memungkinkan untuk pulang, atau memang berhajat untuk bermalam disana.

2. Lokasi

Makam Syekh Abdurrachman Siddiq terletak di Parit Hidayat, Kecamatan Kuala Indragiri. Sekitar 30 menit menggunakan speed boat dari Tembilahan, ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Indonesia.

3. Deskripsi Makam

Dalam proses pengumpulan data.

4. Fungsi sosial

Dalam kehidupan sehari-hari, makam ini sering dikunjungi oleh warga masyarakat. Sebagian di antara mereka ada yang berasal dari Kalimantan, Singapura dan Malaysia. Ini menunjukkan bahwa makam ini merupakan salah satu pusat ritual ziarah.

Basyuni Imran Maharaja Imam Sambas

1. Riwayat Hidup

Syekh Muhammad Basyuni bin Muhammad Imran bin Muhammad Arif bin Imam Nuruddin bin Imam Mushthafa as-Sambasi, lebih dikenal dengan nama Basyuni Imran Maharaja Imam, dilahirkan pada tanggal 23 Zulhijjah 1300 H/25 Oktober 1883 M di Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Ia adalah pewaris terakhir gelar Maharaja Imam (gelar tertinggi pejabat urusan agama) di Kesultanan Melayu Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Ia wafat pada tanggal 29 Rajab 1396 H/26 Juli 1976 M.

Sejak kecil, Basyuni Imran belajar ilmu agama Islam (baca al-Qur‘an dan bahasa Arab) kepada ayahnya Muhamamd Imran dan belajar pengetahuan umum di Sekolah Rakyat (volksschool) di tanah kelahirannya. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Mekah dari tahun 1320 H/1902 M hingga tahun 1325 H/akhir tahun 1907 M. Di Mekah, ia belajar nahwu (tata bahasa Arab) dan fiqh (islamic jurisprudence) kepada beberapa guru Melayu, seperti Umar al-Sumbawi, Usman al-Funtiani, Syeikh Ahmad Khathib al-Minankabawi, dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Selain itu, ia juga belajar usul al-fiqh, hadis, tafsir dan tauhid kepada Ulama Arab, ‘Syekh Ali al-Maliki‘. Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, selama dua tahun (dari 1327 H/1909 M hingga 1329 H/1911 M). Setahun kemudian (1330 H/1912 M), ia pindah ke Madrasah Darud Da‘wah wal Irsyad, balai pendidikan yang didirikan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha, di Kairo, Mesir.

Pada tahun 1913, Basyuni Imran dipanggil keluarganya pulang ke Sambas, Kalimantan Barat, karena ayahnya menderita sakit keras. Selang beberapa bulan kemudian, ia dinobatkan sebagai penyandang gelar Maharaja Imam menggantikan ayahnya, Muhammad Imran, yang bertugas menangani urusan agama sekaligus menjadi qadi dan mufti Kesultanan Sambas. Selain menjalankan fungsinya sebagai qadi dan mufti, ia juga aktif mengajar pada beberapa madrasah di kampungnya. Di samping itu, ia juga mengadakan ceramah umum seminggu sekali di masjid Kesultanan Melayu Sambas dengan menggunakan artikel tafsir dan tauhid karya Rasyid Ridha sebagai rujukan utamanya. Tahun 1916, ia mendirikan madrasah modern ‘Madrasah Sultaniyyah‘ yang dibiayai sepenuhnya oleh Sultan Sambas. Madrasah ini tampak berbeda dengan kebanyakan madrasah di Indonesia saat itu, karena pengaja­rannya menggunakan bahasa Arab dan semua mata pelajarannya tentang agama. Selain itu, ia juga pernah terlibat aktif dalam kepengurusan Masyumi, namun kiprahnya di partai tersebut tidak dikenal secara luas.

2. Pemikiran

Selama bertugas menjadi qadi dan mufti, serta aktif mengajar di madrasah Sultaniyyah, Basyuni Imran tidak pernah memiliki kesempatan untuk kembali lagi ke Mesir. Namun, kenyataan ini tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengikuti perkembangan pemikiran dari jurnal Al-Manar (jurnal yang dikenalnya ketika belajar di Mesir). Bahkan, ia tetap berkorespondensi dengan Rasyid Ridha (salah satu editor Al-Manar) untuk bertanya tentang berbagai macam wacana. Salah satu pertanyaannya kepada jurnal tersebut adalah mengapa umat Islam terbelakang sementara umat lain maju? Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Syakib Arsalan dalam bukunya “Li-madza Ta‘akhkhara al-Muslimun wa Li-madza Taqaddama Ghaeruhum”, yang diterbitkan di Mesir beberapa bulan setelah itu. Terlihat di sini bahwa pemikiran kritis dan reformis Basyuni mulai tumbuh karena pengaruh tulisan-tulisan Rasyid Ridha yang banyak dibacanya.

Selain itu, Basyuni juga telah menterjemahkan dua karya Rasyid Ridha ke dalam bahasa Melayu, menulis tujuh buku berbahasa Melayu, dan dua buku berbahasa Arab. Buku-bukunya merupakan karya sederhana, tetapi semuanya merefleksikan sikap reformisnya. Misalnya, pada pendahuluan bukunya yang berjudul “Nur al-Siraj fi Qissa al-Isra‘ wa al-Mi‘raj, ia mengemukakan bahwa penulisan buku ini bertujuan untuk mengevaluasi ceramah-ceramah yang disampaikan pada acara peringatan Isra dan Mi‘raj yang telah berlaku di kampungnya. Ia mengusulkan agar cerita-cerita yang disampaikan pada acara tersebut didasarkan pada hadis sahih. Dalam karya lain “Al-nusus wa al-Barahin”, ia bicara tentang topik-topik yang berkaitan dengan isu-isu lokal. Karya tersebut menceritakan adanya beberapa masjid di Sambas yang tidak digunakan untuk salat jum‘at karena jama‘ahnya kurang dari empat puluh orang (syarat minimal sahnya salat jum‘at menurut madzhab Imam Syafi‘i). Sementara, menurut Basyuni, yang mendasarkan pandangannya pada hadis dan fiqh kontemporer, masjid-masjid tersebut hendaknya tetap dipergunakan salat jum‘at meskipun jama‘ahnya kurang dari empat puluh orang. Sebab, lanjutnya, salat jum‘at tetap dianggap sah meskipun hanya diikuti oleh sedikit orang.

Kedua karya di atas, menunjukkan bahwa pemikiran Basyuni tergolong dalam pemikiran pembaharu Islam. Sebab, ia tampak serius memikirkan dan menyikapi fenomena kehidupan masyakarat Islam di sekitar Sambas, agar mereka terbebas dari belenggu sistem yang stagnan menuju kemajuan (modern) dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam hakiki. Jalan yang ditempuh untuk membebaskan dan memajukan masyarakatnya tergolong akomodatif dan terkadang radikal. Namun demikian, munculnya pemikiran dan pembaharuan seperti yang dilakukannya adalah bentuk riil dari hasil interaksi intensif antara pengetahuan Islam yang dimiliki dan persoalan kemasyarakatan yang dihadapi.

Pemikiran pembaharuan Basyuni tersebut, tentunya tidak terlepas dari pengaruh gerakan-gerakan pembaruan pemikiran keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Timur Tengah yang muncul di awal abad 19. Di samping itu, ketika belajar di Kairo, Mesir, ia pernah berinteraksi langsung dengan salah satu tokoh pembaharu Islam, Rasyid Ridha, dan terus berkorespondensi selama ia tinggal di Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Tampak di sini bahwa pembaharuan yang diusungnya tersebut bertujuan untuk menyegarkan kembali pemahaman ajaran Islam yang dipandang tidak relevan lagi dengan semangat modernitas. Hal ini dapat dilihat dari gerakan-gerakan pembaharuannya yang berkisar pada beberapa tema penting keagamaan, baik dalam lapangan akidah (tauhid/ilmu kalam) maupun dalam lapangan ibadah (fiqh).

Kini, sayangnya, gerakan pembaharuan yang telah dilakukan Basyuni tidak ada yang meneruskannya, karena tak seorang pun dari muridnya yang dapat menggali pemikirannya secara utuh, sehingga Sambas kembali menjadi wilayah yang jauh dari gerakan pemikiran Islam.

3. Karya

Sebagai seorang ulama, Basyuni Imran telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:
Bidayatut Tauhid fi ‘Ilmit Tauhid, kutipan dari buku Al-Jawahir al-Kalamiyah karya Syeikh Thahir al-Jazairi, Kalimah at-Tauhid karya Syeikh Husein Wali al-Mashri, dan Kifayah al-‘Awam. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1344 H.
Cahaya Suluh Pada Menyatakan Juma‘at Kurang Daripada Empat Puluh. Singapura: Mathba‘ah Al-Ikhwan, 1340 H.
Tazkir Sabilin Najah fi Tarkis Shalah (Jalan Kelepasan Pada Mengingati Orang Yang Meninggalkan Sembahyang). Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1349 H.
Khulashatus Siratil Muhammadiyah (Haqiqat Seruan Islam). Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1351 H/1932 M.
Husnul Jawab ‘an Itsbatil Ahillati bil Hisab. Diberi Kata Pengantar oleh Syeikh Tahir Jalaluddin al-Minankabawi. Penang, Malaysia: Maktabah az-Zainiyah, 1938.
Irsyadul Ghilman ila Adabi Tilawatil Quran. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1352 H/1934 M.
Durusut Tauhid As-Saiyid Muhammad Rasyid. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, tanpa tahun.
Nurus Siraj fi Qishshatil Isra‘ wal Mi‘raj. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, tanpa tahun.
Kumpulan Khutbah Juma‘at, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan Gerhana. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, tanpa tahun.

4. Penghargaan

Sebagai ulama besar, Basyuni Imran mendapat gelar kehormatan ‘Maharaja Imam‘ dari Kesultanan Melayu Sambas pada tahun 1913.

Sumber :

http://let.uu.nl

http://www.nla.gov

http://ulama-nusantara.blogspot.com

Habib Husein Alkadrie

1. Riwayat Hidup

Habib Husein Alkadrie lahir di Tarim Ar-Ridha Hadralmaut, Yaman Selatan, pada tahun 1120 H/1708 M. Nama lengkapnya adalah As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad Alkadrie, atau disebut juga dengan nama Jamalul Lail dan Ba ‘Alawi, yang konon nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Nama besarnya adalah Tuan Besar Mempawah.

Habib Husein dididik dengan ajaran-ajaran Islam oleh orang tuanya hingga berumur 18 tahun. Setelah itu ia tidak hanya belajar Islam, namun juga belajar ilmu pengetahuan umum. Ia pernah mengembara ke negeri Kulaindi dan tinggal di sana selama empat tahun. Di salah satu kota besar di Yaman Selatan ini, ia belajar tentang ilmu agama dan juga ilmu pengetahuan umum kepada Sayyed Muhammad Hamid. Akhirnya ia menguasai disiplin ilmu pengetahuan agama dan umum serta memiliki wawasan luar negeri yang mendalam. Bahkan, ia juga belajar ilmu pelayaran dan perdagangan, dan bergabung dengan usaha pelayaran dagang di sekitar Teluk Persia sampai ke Kalkuta dan di pantai barat Afrika. Di Kalkuta ini ia juga sempat belajar banyak hal.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang amat memadai ini, Habib Husein terdorong untuk menambah pengalamannya dengan berlayar lebih jauh lagi ke negeri Timur, yang banyak terdapat kerajaan-kerajaan Islam. Motivasinya tidak hanya untuk berdagang, namun juga untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia termasuk dalam kelompok “empat sahabat” yang pergi ke wilayah Timur (Indonesia). Tiga ulama lain yang turut beserta dengan dirinya adalah: Saiyid Abu Bakar al-‘Aidrus (dengan gelar Tuan Besar Aceh) yang menetap dan wafat di Aceh, Saiyid Umar as-Sagaf (Tuan Besar Siak) yang menetap, mengajar, dan wafat di Siak, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi (Datuk Marang), yang menetap dan mengajar di Terengganu.

Habib Husein kemudian melanjutkan pengembaraan ke Aceh. Ia menetap di sana selama satu tahun dengan tujuan menyebarkan Islam dan mengajarkan kitab. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Siak, Betawi (tinggal selama tujuh bulan), dan Semarang (menetap selama dua tahun). Ketika menetap di Semarang, ia berteman baik dengan Syeikh Salim bin Hambal. Keduanya kemudian pergi berlayar ke negeri Matan. Sesampainya di sana mereka kemudian menemui Saiyid Hasyim al-Yahya dengan gelar Tuan Janggut Merah, seorang ulama yang hebat, gagah, dan berani.

Setelah menetap beberapa hari di Matan, Habib Husein dan Syekh Salim kemudian dijamu oleh Sultan Matan. Pada saat jamuan makan dengan sultan digelar, ada suatu kisah menarik yang mencerminkan kecerdikan ilmu Habib Husein ketika menyikapi kejadian yang berkenaan dengan tempat sirih adat istiadat kesultanan yang dikeluarkan di hadapan sultan dan para punggawa kesultanan. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat suatu benda besi buatan Bali dengan ukiran kepala ular yang ada di dalam tempat siri tersebut. Di hadapan Sultan Matan dan para pembesar kesultanan, Sayid Hasyim mematah-matah dan menumbuk-numbuk benda tersebut dengan tongkatnya. Kontan saja, Sultan marah terhadap sikap Saiyid Hasyim. Habib Husein mengambil benda yang telah tercerai-berai tersebut, yang kemudian diusap-usap dengan air liurnya. Atas izin Allah SWT, benda tersebut tiba-tiba kembali utuh seperti sedia kala.

Sultan Matan mengagumi kesaktian yang dimiliki Habib Husein. Beberapa hari setelah acara jamuan makan tersebut, Sultan Matan menunjuk Habib Husein sebagai guru di negeri Matan. Di samping itu, Sultan Matan juga mencarikan istri untuk Habib Husein, yaitu Utin Candramidi (Nyai Tua). Perkawinan mereka dikaruniai empat putra-putri, yaitu: Khadijah, Syarif Abdurrahman, Syarifah Mariyah, dan Syarif Alwi Alkadrie. Syarief Abdurrahman Alkadrie dikenal sebagai tokoh yang pernah mendirikan Kesultanan Kadriah (Pontianak) di Kalimantan Barat.

Setelah menetap di Matan selama dua hingga tiga tahun, Habib Husein didatangi seseorang yang merupakan utusan Raja Mempawah (Upu Daeng Menambon dengan gelar Pangeran Tua) dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu. Surat yang dibawa isinya tiada lain adalah bujukan raja terhadap Habib Husein agar ia bersedia pindah ke Mempawai. Habib Husein tidak langsung menerima tawaran tersebut karena dirinya masih betah tinggal di Matan. Utusan raja tersebut kemudian kembali ke Mempawai dengan tangan kosong. Kesediaan Habib Husein untuk menetap di Mempawah terwujud setelah dirinya merasa adanya ketidakcocokan dengan sikap dan pendirian Sultan Matan.

Habib Husein pindah ke Mempawah pada 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M, dan menetap di Kampung Galah Hirang. Kedatangannya di tempat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di Mempawah. Banyak orang dari pelbagai penjuru yang datang ke Mempawah. Ada pengunjung yang tujuannya untuk berniaga, namun tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri untuk berguru kepada Habib Husein. Ia merupakan mufti pertama di Mempawah. Ketika mengajar, yang diutamakan olehnya adalah pelajaran lughah ‘Arabiyah (bahasa Arab). Dalam tempo yang singkat, Kampung Galah Hirang berkembang sangat pesat, bahkan lebih ramai dari pusat Kesultanan Mempawah sendiri. Setelah Upu Daeng Menambon (Sultan Mempawah) wafat, puteranya yang bernama Gusti Jamiril kemudian menjadi anak angkat Husein Al-Qadri. Gusti Jamiril diasuh oleh Habib Husein di Kampung Galah Hirang. Pada tahun 1166 H/1752 M, Gusti Jamiril dinobatkan sebagai Sultan Mempawah menggantikan ayahnya dengan gelar Penembahan Adiwijaya Kesuma.

Kebesaran nama Habib Husein (Tuan Besar Mempawah) tersebar luas hingga ke Asia Tenggara. Ia merupakan penganut madzhab Syafii. Ia juga suka dengan ilmu tasawuf. Amalan tasawuf yang sering dilakukannya adalah Ratib al-Haddad dan Tarekat Qadiriyah. Ketika menjadi mufti Mempawah, yang diajarkannya kepada masyarakat umum lebih berupa amalan dan bercorak memberi keterangan (syarah).

Habib Husein wafat pada pukul 02.00 petang, tepatnya pada tahun 1184 H/ 1771 M, di Sebukit Rama Mempawah, dalam usia 64 tahun. Ia pernah berwasiat bahwa yang layak menggantikan dirinya sebagai mufti Mempawah adalah Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, ulama asal Patani, Thailand Selatan. Untuk melaksanakan wasiat tersebut, pihak pemerintah Kesultanan Mempawah kemudian melantik Syeikh al-Fathani sebagai mufti di kesultanan ini dengan gelar Maharaja Imam Mempawah.

2. Pemikiran

(Dalam proses pengumpulan data)

3. Karya

(Dalam proses pengumpulan data)

4. Penghargaan

Habib Husein pernah menjabat sebagai mufti di Kesultanan Matan. Pada saat yang bersamaan ia juga ditunjuk sebagai patih di kesultanan ini. Ia juga pernah menjabat sebagai mufti di Kesultanan Mempawah, mufti pertama di kesultanan ini. Ia berperan sangat besar terhadap dakwah dan perkembangan ajaran Islam di Kalimantan Barat pada saat itu.

Sumber :
Wan Mohd. Shaghir Abdullah, “Husein al-Qadri: Penyebar Islam Kalimantan Barat”, dalam http://ulama-nusantara.blogspot.com.
http://www.borneo-tribune.com.

Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi

1. Riwayat Hidup

Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang agama dan adat yang kuat pada tanggal 26 Juni 1860 M/6 Dzulhijjah 1276 H di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya adalah seorang hakim dari kaum Paderi yang sangat menentang keberadaan kolonialisme di Minangkabau, Sumatera Barat.

Masa kecil Ahmad Khatib dihabiskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Pada tahun 1870, ia masuk sekolah pemerintah Belanda di Minangkabau, Sumatera Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidi­kannya ke sekolah guru (kweekschool) di Bukittinggi. Sebagaimana anak-anak dari kaum Paderi lainnya, selain belajar di sekolah formal, ia juga belajar ilmu agama kepada orang tua dan guru ngajinya di Surau.

Pada tahun 1881, Ahmad Khatib pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di kota ini, ia belajar kepada ulama Mekah, seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Di kota ini pula, ia kemudian mendapatkan wawasan baru tentang keislaman dan kondisi dunia Islam yang sedang terjajah, yang pada gilirannya menyadarkan dirinya akan pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan umat Islam untuk melepaskan diri dari penjajahan. Kesadaran ini, ia tanamkan kepada murid-muridnya, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdullah Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, dan Kyai Ahmad Dahlan, yang di kemudian hari menjadi pelopor gerakan pembaharuan agama sekaligus sebagai tokoh-tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi merupakan ulama yang memiliki pendirian kuat dan menguasai berbagai displin ilmu. Dalam bidang fiqh dan akidah, ia masih tetap berpegang teguh pada madzhab Syafi‘i dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Kedua hal inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram dan berhak menyandang gelar syekh. Ia wafat pada tanggal 9 Jumada al-Awal 1334 H/13 Maret 1916 M di Mekah, Saudi Arabia.

2. Pemikiran

Menurut riwayat, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi merupakan salah seorang tokoh intelektual abad ke-19 yang membawa gerakan pembaharuan (modernisme) Islam di Indonesia, khususnya daerah Minangkabau, meskipun setelah menunaikan ibadah haji (1882) hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah kembali lagi ke tanah kelahirannya. Namun demikian, ia tetap menjalin hubungan intensif dengan orang-orang Indonesia, baik melalui mereka yang menunaikan ibadah haji maupun melalui para muridnya yang memperdalam ilmu agama di Mekah. Jabatannya sebagai imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram membuka peluang yang luas baginya untuk mentransformasikan pemikiran-pemikiran reformatif kepada para jama‘ah haji dan murid-muridnya.

Pada dasarnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi pemikiran Syekh Ahmad Khatib, pertama, ia hidup pada masa kemunculan gerakan Islamic Revivalism yang bermarkas di Mekah; kedua, ia menyaksikan perkembangan gerakan antikolonialisme di dunia Islam yang semakin mendunia. Dengan demikian, setidaknya ada dua bidang yang menjadi fokus pemikirannya, yaitu bidang akidah dan bidang politik.

a. Bidang Akidah

Syekh Ahmad Khatib banyak menentang praktek-praktek adat dan tingkah laku yang bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya tentang praktek tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyyah di Minangka­bau, Sumatera Barat. Di samping itu, ia juga menolak hukum waris adat Minangkabau yang menganut sistem matrilinieal (adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu), yang kemudian menjadi bahan perdebatan dengan kaum adat tanpa berkesudahan.

Pada tahun 1906, ia menulis buku yang berjudul “Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin” yang merupakan tulisan sanggahan terhadap tarekat Naqsyabandiyyah al-Khalidiyah di Minangkabau. Kitab tersebut mengundang kemarahan seluruh penganut tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah dan penganut-penganut tarekat lainnya. Syekh Muhammad Sa‘ad Mungka (salah seorang ulama dari ‘kaum tua‘ yang menganut tarekat Naqsyabandiyyah) menanggapi karya tersebut dengan bukunya yang berjudul “Irghamu Unufi Muta‘annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin.”

Dengan terbitnya karya Mungka tersebut, Syekh Ahmad Khathib al-Minankabawi kemudian menjawabnya kembali dengan bukunya yang berjudul “Al-Ayatul Baiyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafati Ba‘dhil Muta‘ashshibin.” Karya ini juga kembali disanggah oleh Syekh Muhammad Sa‘ad Mungka dengan karyanya yang berjudul “Tanbihul ‘Awam ‘ala Taqrirati Ba‘dhil Anam.” Publikasi perdebatan-perdebatan ini kemudian membangkitkan semangat para pembaharu Islam di Minangkabau, yang kemudian menjalar ke Pulau Jawa seperti gerakan pembaharuan agama ala Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan. Setelah karya ini, tidak terdapat sanggahan kembali dari Syekh Ahmad Khathib al-Minankabawi.

b. Bidang Politik

Menurut Haji Agus Salim, dalam suatu seminar di Cornel University (4 Maret 1953), Syekh Ahmad Khatib adalah ulama yang anti Belanda. Perasaan itu selalu ia gelorakan kepada murid-muridnya di Mekah. Ia berpendapat bahwa berperang melawan penjajah adalah jihad di jalan Allah. Kebenciannya terhadap kolonialis dapat dilihat dari hubungannya yang kurang baik dengan Snouck Hurgronje, ilmuwan dan orienttalis asal Belanda, ketika mengunjunginya di Mekah pada tahun 1885.

3. Karya

Sebagai ulama besar Melayu yang bermukim di Mekah, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi telah menulis beberapa karya, baik berbahasa Melayu maupun berbahasa Arab, di antaranya:
Al-Jauharun Naqiyah fil A‘mali Jaibiyah (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al- Maimuniyah, 1309 H.
Hasyiyatun Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah Darul Kutub al-‘Arabiyah al-Kubra, 1332 H.
Raudhatul Hussab fi A‘mali ‘Ilmil Hisab (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1310 H.
Ad-Da‘il Masmu‘ fir Raddi ‘ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma‘a Wujudil Ushl wal Furu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
Al-Manhajul Masyru‘ Tarjamah Kitab Ad-Da‘il Masmu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
‘Alamul Hussab fi ‘Ilmil Hisab (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-‘Amirah al-Miriyah, 1313 H.
An-Nukhbatun Nahiyah Tarjamah Khulashatil Jawahirin Naqiyah fil A‘malil Jabiyah (bahasa Melayu).
Dhau-us Siraj (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, 1325 H.
Shulhul Jama‘atain bi Jawazi Ta‘addudil Jum‘atain (bahasa Arab). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1312 H.

4. Penghargaan

Atas penguasan dan pengetahuannya tentang madzhab imam Syafi‘i, Syekh Ahmad Khatib telah diangkat sebagai “Imam Khatib dan Mufti Besar Madzhab Syafi‘i” di Masjid al-Haram, Mekah, sehingga ia berhak mengajarkan madzhab Syafi‘i dan menyandang gelar ‘syekh‘. Menurut riwayat, ia adalah satu-satunya ulama Indonesia yang mencapai penghargaan setinggi itu.

(TN/tkh/9/9-07)

Sumber :

http://ulama-nusantara.bolgspot.com

http://www.kotasantri.com
http://www.republika.co.id
Majalah Percikan Iman, No. 5, Tahun I, November

Mufti Jamaluddin Al-Banjari

1. Riwayat Hidup

Nama lengkap Mufti Jamaluddin al-Banjari adalah Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ia lahir pada tahun 1780 di Banjar (kini Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia. Ayahnya bernama Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, merupakan tokoh ulama terkenal asal Kalimantan Selatan. Jamaluddin al-Banjari memperoleh pendidikan agama dari ayahnya sendiri. Ibunya bernama Go Hwat Nio atau dikenal dengan sebutan Tuan Guat, yang merupakan keturunan China namun kemudian memeluk Islam melalui bimbingan dari Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Jamaluddin al-Banjari mempunyai lima orang saudara, dua di antaranya laki-laki (al-‘Alim al-‘Allamah Khalifah Hasanuddin dan al-‘Alim al-‘Allamah Khalifah Zainuddin), dan tiga lainnya perempuan (Aisyah, Raihanah, dan Hafsah).

Keluarga dekat Jamaluddin al-Banjari banyak yang menjadi mufti. Tercatat ada sekitar sepuluh orang yang menjadi mufti, yaitu 1). Jamaluddin al-Banjari (dirinya sendiri); 2). Ahmad bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 3). Muhammad As‘ad bin Utsman; 4). Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As‘ad; 5). Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 6). Muhammad Khalid bin ‘Allamah Hasanuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 7). Muhammad Nur bin al-‘Alim al-‘Allamah Qadi Haji Mahmud; 8). Muhammad Husein bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 9). Jamaluddin bin Haji Abdul Hamid; 10). Syeikh Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad ‘Afif bin ‘Alimul ‘Allamah Qadi Abu Na‘im bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Jamaluddin al-Banjari sendiri pernah menjadi mufti di Martapura, sebuah wilayah di Kesultanan Banjar. Ia memiliki pengaruh yang sangat besar pada masa pemerintahan Sultan Adam (1825 M – 1857 M). Mufti Jamaluddin al-Banjari berkontribusi sangat penting dalam perumusan Undang-Undang Sultan Adam (1251 H /1835 M). Ia kemudian dikenal sebagai ahli undang-undang Kesultanan Banjar. Pendapat dan pandangannya banyak mempengaruhi dalam setiap proses perumusan undang-undang kesultanan. Pada pasal 31, misalnya, namanya disebutkan dalam teks undang-undang. Padahal, sangat jarang terjadi ada suatu fatwa dari seorang mufti yang dimasukkan ke dalam sebuah pasal dalam undang-undang kesultanan.

Mufti Jamaluddin al-Banjari pernah mendamaikan perselisihan antara keluarga Diraja Banjar dan pemegang “Surat Wasiat Sultan Adam”. Pada bulan Desember 1855, Sultan Adam pernah menulis surat wasiat yang isinya bahwa pengganti Sultan Adam adalah Pangeran Hidayatullah. Dalam surat tersebut juga dinyatakan bahwa bila anaknya Pangeran Prabu Anom dan cucunya Pangeran Tamjidillah menghalangi surat wasiat tersebut, maka diancam dengan hukuman mati. Sebagai penengah, Mufti Jamaluddin al-Banjari memegang surat wasiat itu dan mencari jalan keluar yang damai antar keduanya.

Pada abad ke-18, Mufti Jamaluddin al-Banjari berperan besar dalam mengembangkan sufisme di Marabahan, yang kini termasuk daerah di Kalimantan Selatan. Aliran sufisme ini secara khusus mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah dengan suluk-nya dan tarekat Syadziliyah. Sebagai puncaknya, aliran sufisme ini dikembangkan oleh puteranya, Abdusshamad, yang merupakan hasil perkawinan Mufti Jamaluddin al-Banjari dengan penduduk lokal bernama Samayah binti Sumandi. Abdusshamad kelak menjadi wali besar di tanah Dayak, sehingga bergelar Datu‘Abdusshamad Bakumpai.

Belum ditemukan data tentang kapan Mufti Jamaluddin al-Banjari wafat. Data yang ada hanya menyebutkan bahwa ia wafat di Sungai Jingah (Ku‘bah), Banjar (kini Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia.

2. Pemikiran

(Dalam proses pengumpula data)

3. Karya

Karya Mufti Jamaluddin Al-Banjari yang sangat berpengaruh dalam literatur Melayu adalah “Perukunan Jamaluddin”. Dalam berbagai versi, karya ini ditulis degan nama: “Perukunan”, “Perukunan Besar”, dan “Perukunan Melayu”. Karya ini diterbitkan oleh Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekkah, pada tahun 1315 H/1897 M. Dalam berbagai versi, ada yang menyebutkan bahwa karya ini sesungguhnya milik saudara perempuannya yang bernama Syarifah binti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Martin van Bruinessen berpendapat bahwa karya tersebut adalah milik anak saudaranya yang bernama Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis. Meski meyakini fakta yang demikian, namun Martin van Bruinessen belum mengetahui alasan mengapa karya tersebut menggunakan nama Mufti Jamaluddin al-Banjari, sehingga menjadi “Perkumpulan Jamaluddin”. Wan Mohd. Shaghir Abdullah berbeda pandangan dengan Martin van Bruinessen bahwa karya tersebut memang benar-benar milik Mufti Jamaluddin Al-Banjari. Dalam tulisannya, Wan Mohd. Shaghir juga mengakui bahwa siapa pemilik sesungguhnya karya tersebut memang masih dalam perdebatan.

Sebenarnya ada banyak karya Mufti Jamaluddin al-Banjari yang lain, namun kurang begitu terkenal. Salah satu yang berhasil diidentifikasi adalah karyanya yang berjudul “Bulugh al-Maram fi Takhalluf al-Muafiq fi al-Qiyam” (1247 H/1831 M). Sementara itu data tentang karya-karyanya yang lain masih dalam proses pengumpulan data.

4. Penghargaan

(Dalam proses pengumpulan data)

(HS/tkh/28/11-07)

Sumber :

Ahmad Syadzali, “Perjumpaan Islam Tradisi dan Dayak Bakumpai”, http://www.ditpertais.net.

Martin van Bruinessen, “Kitab Kuning dan Perempuan, Perempuan dan Kitab Kuning”, http://www.igitur-archive.library.uu.nl.

Wan Mohd. Shaghir Abdullah, “Mufti Jamaluddin Al-Banjari: Ahli Undang-undang Kerajaan Banjar”, http://www.ulama-nusantara-baru.blogspot.com.

Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf

Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Palembang. Banyak ulama dari berbagai penjuru Nusantara mengaji kepada beliau.

Ada pendapat, Palembang bisa di ibaratkan sebagai Hadramaut (markas para Habib dan Ulama besar). Sebab di Palembang memang banyak Habib dan Ulama besar, demikian pula makam-makam mereka. Salah seorang diantaranya adalah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf, yang juga dikenal sebagai wali masthur. Yaitu wali yang karamah-karamahnya tersembunyi. Padahal karamahnya cukup banyak.

Salah satu karamahnya ialah ketika beliau menziarahi orang tua beliau (Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah AL-Jufri) di kampung yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan lebat dan deras. Untuk bebrapa saat beliau mengibaskan tangan beliau ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujanpun reda.

Nama beliau adalah Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai di akhir hayat beliau tinggal di jalan K.H. hasyim Asy’ari No. 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil beliau diasuh oleh Habib Ahmad bin AbduLlah bin Thalib Al-Attas.

Uniknya, hampir setiap pagi buta Habib Ahmad Alatas menjemput muridnya ke rumahnya untuk shalat subuh berjama’ah karena sangat menyaynginya. Saking akrabnya, ketika bermain-main di waktu kecil, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff sering berlindung di bawah jubah Habib Ahmad Alatas. Ketika usia 7 tahun saat anak-anak lain duduk di kelas satu madrasah Ibtidaiyyah, Habib Ahmad belajar ke Tarim Hadramaut Yaman bersama sepupunya Habib Abdullah-yang akrab dipanggil Endung.

Di sana mereka berguru kepada Habib Ali Al-Habsyi. Ada sekitar 10 tahun beliau mengaji kepada sejumlah ulama besar di Tarim. Salah seorang guru beliau adalah Habib Ali Al-Habsyi, ulama besar penulis Maulid Simtuth Durar. Selama mengaji kepada Habib Ali Al-Habsyi , beliau mendapat pendidikan disiplin yang sangat keras. Misalnya sering hanya mendapatkan sarapan 3 butir kurma. Selain kepada Habib Ali , beliau juga belajar tasawuf kepada Habib Alwi bin AbduLlah Shahab . sedangkan sepupu beliau Habib Endung belajar fiqih dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf dan balaghah. Sepulang dari Hadramaut pada usia 17 tahun . Habib Ahmad Al-Kaff menikah dengan Syarifah Aminah Binti Salim Al-Kaff . meski usianya belum genap 20 tahun namun beliau sudah mulai dikenal sebagai ulama yag menjalani kehidupan zuhud dan mubaligh yang membuka majlis ta’lim. Dua diantara murid beliau yakni Habib alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan Al-gathmir belakangan dikenal pula sebagai ulama dan mubaligh.

Selain di Palembang, Habib Ahmad juga berdakwah dan mengajar di beberapa daerah di tanah air, misalnya madrasah Al-Khairiyah Surabaya. Salah seorang murid beliau yang kemudian dikenal sebagai ulama adalah habib Salim bin ahmad bin Jindan ulama terkemuka di Jakarta, yang wafat pada tahun 1969.

Empat Pertanyaan

Ketinggian ilmu dan kewalian Habib Ahmad al-Kaff diakui oleh Habib Alwi bin Muhammad al Haddad ulama besar dan wali yang bermukim di Bogor. Diceritakan pada suatu hari seorang Habib dari Palembang (Habib Ahmad bi Zen bin Syihab) dan rekan-rekannya menjenguk Habib Alwi, mengharap berkah dan hikmahnya.

Mengetahui bahwa tamu-tamunya dari Palembang, dengan spontan Habib Alwi berkata, “Bukankah kalian mengenal Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff ?. Buat apa kalian jauh-jauh datang ke sini, sedangkan di kota kalian ada wali yang maqam kewaliannya tidak berbeda denganku ? saya pernah bertemu dia di dalam mimpi”. Tentu saja rombongan dari Palembang tersebut kaget. Maka Habib Alwi menceritakan perihal mimpinya. Suatu hari Habib Alwi berpikir keras bagaimana cara hijrah dari bogor untuk menghindari teror dari aparat penjajah belanda. Beliau kemudian bertawasul kepada RasuluLlah SAW, dan malam harinya beliau bermimpi bertemu RasuluLlah SAW memohon jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Yang menarik, di sebelah Rasul duduk seorang laki-laki yang wajahnya bercahaya.

Maka RasuluLlah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya semua jalan keluar dari masalahmu ada di tangan cucuku di sebelahku ini”. Dialah Habib Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff. Maka Habib Alwi pun menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada Habib Ahmad al-Kaff- yang segera mengemukakan pemecahan/jalan keluarnya. Sejak itulah Habib Alwi membanggakan Habib Ahmad al-Kaff.

Sebagaimana para waliyullah yang lain, Habib Ahmad al-Kaff juga selalu mengamalkan ibada khusus. Setiap hari misalnya, Mursyid Tariqah Alawiyah tersebut membaca shalawat lebih dari 100.000 kali. Selain itu beliau juga menulis sebuah kitab tentang tatacara menziarahi guru beliau Habib ahmad Alatas. Beliau juga mewariskakn pesan spiritual yang disebut Pesan Pertanyaan yang empat, yaitu empat pertanyaan mengenai ke mana tujuan manusia setelah meninggal.

Lahirnya empat pertanyaan tersebut bermula ketika Habib Ahmad al-Kaff diajak oleh salah seorang anggota keluarga untuk menikmati gambus. Seketika itu beliau berkata, “Aku belum hendak bersenang-senang sebelum aku tahu apakah aku akan mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatku. Apakah aku akan selamat dari siksa kubur, apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku, apakah aku akan selamat dari jembatan shiratal mustaqim”. Itulah yang dimaksud denganempat pertanyaan” yang dipesankannya kepada para murid, keluarga dan keturunannya.

Habib Ahmad al-Kaff wafat di Palembang pada 25 Jumadil akhir 1275 H/1955 Masehi. Jenasah beliau dimakamkan di komplek pemakaman Telaga 60, 14 Hulu Palembang. Beliau meninggalkan lima anak : Habib Hamid, Habib AbduLlah, Habib

Burhan, Habib Ali, dan Syarifah Khadijah.