Mesjid Raya Bandung

Prakata

Mesjid Raya Bandung merupakan mesjid kebanggaan masyarakat Kota Bandung dimana terletak di Jalan bersejarah bagi Negara ini yakni Jalan Asia Afrika, apabila kita memasuki area  pusat kota maka dari kejauhan sudah melihat 2 menara kembar mesjid seakan akan menyambut kedatangan kita kaum muslimin. Mesjid ini tak lepas dari even bersejarah konferensi Asia Afrika dan juga digunakan oleh Pemerintah setempat untuk menegakkan syiar Islam.

Sejarah singkat

Masjid Raya Bandung yang saat ini berdiri megah di sebelah barat alun-alun Bandung sejak pembangunannya pada tahun 1810 sudah mengalami sedikitnya tujuh kali perombakkan.

Pada awal berdirinya, masjid yang diberi nama Masjid Agung Bandung hanyalah masjid tradisional biasa berbentuk bangunan panggung yang terbuat dari bilik bambu dan atapnya dari rumbia dengan kolam tempat mengambil wudhu yang cukup luas dihalaman depannya. Perlu diketahui juga, ternyata kolam besar tersebut pernah berperan penting saat terjadi kebakaran yang melanda kawasan alun-alun yang airnya digunakan warga untuk memadamkan api waktu itu.

Awal perombakkan masjid ini dilakukan pada tahun 1826 dengan mengganti bilik bambu pada dindingnya serta atapnya dengan bahan dari kayu. Seiring pembangunan Jl Groote Postweg, sekarang bernama Jl Asia Afrika, masjid kecil tersebut pun ikut mengalami perombakkan dan perluasan pada tahun 1850. Waktu itu atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata.

Kemegahan masjid bandung waktu itu sampai-sampai terabadikan dalam gambar oleh seorang pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari gambar tersebut, terlihat atap yang tinggi dan besar dibuat tiga tingkat berbentuk prisma dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan adanya tambahan pondasi, serta pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Seiring perkembangan jaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).

Kemudian pada tahun 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001. Proses pembangunan berlangsung sangat lama hingga memakan waktu dua tahun lebih hingga akhirnya diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat R Nuryana pada tahun 2003 dengan nama baru, Masjid Raya Bandung. Seperti yang kita lihat sekarang terdapat dua menara kembar di sisi kiri dan kanan masjid setinggi 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Atap masjid diganti dari atap joglo menjadi satu kubah besar pada atap tengah dan yang lebih kecil pada atap kiri-kanan masjid serta dinding masjid terbuat dari batu alam kualitas tinggi. Kini luas tanah keseluruhan masjid adalah 23.448 m² dengan luas bangunan 8.575 m² dan dapat menampung sekitar 12.000 jamaah.

Sumber Penulisan :  http://www.beritabandoeng.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s