KUE MANGKOK TAPE SINGKONG

Kue Mangkok Menggugah SeleraKue Mangkok Menggugah Selera

Kue Mangkok Tape Singkong

Kue Mangkok Tape Singkong

Bahan:
350 gr tepung beras
60 gr tepung terigu
200 gr tape singkong, buang seratnya, haluskan
250 ml air kelapa
400 gr gula pasir/gula jawa utk kue mangkok gula jawa
2 sdt baking powder
400 ml air hangat
pewarna merah mudah dan hijau muda

Cara membuatnya:

Taruh tepung beras, tepung terigu dan tape singkong dalam mangkuk. Tuangi air kelapa, uleni hingga adonan halus (30 menitan). Sambil diuleni, masukkan gula pasir sedikit demi sedikit. Tepuk2 adonan dg tangan sampai gula hancur dan adonan licin dan mengkilat.
Larutkan baking powder dg air hangat, tuangkan sedikit demi sedikit kedalam adonan tepung, aduk hingga rata. Tutup adonan dg plastik, simpan ditempat hangat selama 30 menit.
Jika menggunakan pewarna, bagi adonan menjadi 2, beri pewarna merah dan hijau.
Panaskan cetakan kue mangkuk dalam dandang yg berisikan air mendidih. Isi cetakan dg adonan sampai penuh. Balut tutup dandang dg serbet, tutup serapat mungkin.
kukus selama 30 menit

Tips membuat Kue Mangkok Tape Singkong yakni :
– menggunakan tape yg baru jadi/belum disimpan dikulkas
– jangan mengisi dandang dg terlalu banyak cetakan
– masukkan adonan kedalam cetakan yg telah dipanaskan terlebih dahulu, dan isi sampai penuh
– jangan membuka tutup dandang sebelum waktunya

Kue ini cocok sekali dihidangkan pada acara keluarga, oleh oleh buat kekasih hati, orangtua pacar atau buat anda sendiri sambil membaca buku komik atau majalah.

Silakan Mencoba ya (^_^) …… he hee


Red : Kue ini tambah enak apalagi membuatnya berdua dengan kekasih hati anda.

Sumber :   http://vilimo.multiply.com/

Kue Mangkok Gula Merah

Kue Mangkok Gula Merah

Iklan

Tuan Guru Syech Syarwani Abdan Al Banjari

Tuang Guru Syech Syarwani Abdan Al Banjari

Tuan Guru Syech Syarwani Abdan Al Banjari

PRAKATA

Tuan Guru Syech Syarwani Abdan Al Banjari adalah seorang ulama kharismatik yang memiliki kedudukan yang agung dan keilmuan yang tinggi disisi Allah SWT. Sejak beliau kecil sudah terbina iman tauhid dan hati yang bersih untuk bermunazat kepada Dzat Yang Maha Agung dan Suci. Siapa yang tidak mengenal ketawadhuan dan kearifan Beliau dalam menegakkan Dakwah Islam dan menyejukkan jutaan hati Hamba Allah agar selalu MengingatNYa. Sungguh Orang yang berjalan untuk mencari ilmu dan mendatangi Majelis Ilmu yang beliau pimpin mendapatkan karunia dariNya.

Riwayat Singkat Tuan Guru Syech Sarwani Abdan Al Banjari

Syech Allah Yarham Al Mukarramah Al Alimul Allamah Al Fadil Syarwani Abdan atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Guru Bangil adalah cicit buyut dari ulama terkenal diseantero Asia dan Saudi Arabia, pada usia sekolah beliau menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam (madrasah darussalam) Martapura yang saat itu dipimpin oleh paman beliau sendiri yaitu Al Alimul Allamah Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar bin H. Ismail. Beliau juga belajar dengan para Alim Ulama terkenal lainnya di Kota Martapura.

Setelah beberapa lama di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Tuan Guru Syarwani Abdan berkeinginan untuk menuntut ilmu dan mendapati Kota Bangil sebagai tujuan memperdalam ilmu dengan Alim Ulama lainnya. Beliau akhirnya memutuskan untuk bermukim di Kota Bangil dan belajar kepada Ulama Terkenal di Bangil dan Pasuruan diantaranya KH. Muhdar Gondang Bangil, KH. Abu Hasan Wetan Angun Bangil, KH. Bajuri Bangil dan KH. Ahmad Jufri Pasuruan.

Menginjak usia 16 tahun, Tuan Guru Syech Syarwani Abdan Al Banjari dengan dasar keilmuan yang tinggi berangkat ke Tanah Suci Mekkah Al Mukarramah untuk menuntut ilmu bersama saudara sepupu beliau yakni Al Alimul Allamah Tuan Guru Anang Sya’rani Arif dibawah bimbingan paman beliau sendiri yakni Al Allimul Allamah Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar. Selama berada di Mekkah, Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari sempat belajar dan berguru dengan para ulama diantaranya, Syech Sayyid Muhammad Amin Alkutbi, Syech Sayyid Ali Al Maliki, Syech Umar Hamdan, Syech Muhammad Alwi, Syech Hasan Masysyat, Syech Abdullah Albukhari, Syech Saifullah Addakistan, Syech Syafi’i Keddah dan Syech Sulaiman Ambon serta Syech Ahyat Bogor.

Dengan berkat, taufik dan hidayah dari Allah SWT, hanya dalam beberapa tahun Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari dan Al Alimul Allamah Tuan Guru Anang Sya’rani Arif mulai dikenal diantara teman-teman dan para Alim Ulama karena kepandaian dan kedalaman ilmu keduanya, sehingga mereka dijuluki Mutiara dari Banjar, bahkan Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan mendapat kepercayaan untuk mengajar di Masjidil Haram Mekkah. Setelah berjalannya waktu hingga 10 tahun lamanya menimba ilmu di Tanah Suci Mekkah, Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari dan Al Alimul Allamah Tuan Guru Anang Sya’rani Arif Al Banjari pulang ke Indonesia. Setelah berada di tanah air beliau menggelar pengajian majelis ta’lim di rumah dan mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Beliau juga pernah ditawi untuk menduduki jabatan Qadhi Martapura, namun beliau tolak dan beliau lebih senang mandiri dan berkhidmat dalam dunia pendidikan agama. Lebih kurang dalam tahun 1946, Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari memutuskan hijrah ke Bangil beserta seluruh keluarga hingga akhir hayatnya.

Sewaktu di Kota Bangil Al Mukarram Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari tidak mau membuka pengajian dikarenakan begitu tawadhunya beliau dan menyadari bahwa Bangil bukan wilayah Beliau. Namun para Alim Ulama di Jawa Timur menyadari dan mengetahui ketinggian ilmu dan Wara nya Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari sehingga bagaimanapun beliau menyembunyikan ilmu dan amal beliau namun diketahui jua oleh Alim Ulama Jawa Timur.


Mendirikan Pondok Pesantren Datu Kelampaian di Bangil

Setelah beberapa tahun menetap di Kota Bangil, maka lebih kurang dalam Tahun 1970 an barulah Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari membuka Pondok Pesantren DATU KELAMPAIAN yang santrinya kebanyakan berasal dari Kota Serambi Mekkah Martapura Kalimantan Selatan, diantara santri yang pertama kali belajar belajar di Pondok Pesantren ini adalah Muhammad As’ad bin Alimul Fadhil Qadhi H. Muahmmad Arfan Dalam Pagar Martapura.

Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari menulis Kitab diantaranya adalah :
1. Kitab Addakhiratussaminah Li Ahli Istiqomah (Simpanan berharga bagi orang yang istiqomah).

Tuan Guru Syarwani Abdan Al Banjari pada hari senin Jam 19.00 WIB pada tanggal 11 September 1989 dipanggil kepangkuan Allah SWT dalam usia 76 tahun dan dimakamkan di Kota Bangil.
Semoga Guru Bangil yang kita cintai ditinggikan derajatnya disisi Allah SWT. Amien

(red : memohon maaf yang sebesar-besar, minta ridho dan minta halal apabila dalam penulisan ini terdapat kekeliruan/kesalahan dikarenakan kurangnya pengetahuan dalam diri penulis, terima kasih)

Mutiara Ilmu : Makmun Masbuk

islamic041

Soal Jawab: Makmum Masbuk
Kategori: Fiqh dan Muamalah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ustadz, ana ingin bertanya beberapa hal tentang makmum masbuk yg ana blm paham:
Jika telah tertinggal satu rakaat atau lebih, pada saat imam tahiyat akhir, kita kan juga ikut baca tahiyat, nah duduknya itu mesti ikut imam (tawarruk) atau duduk iftirasy?
Kapan harus bangun untuk menyempurnakan rakaat yg tertinggal, apakah begitu imam selesai salam yg pertama atau haruskah menunggu imam menyelesaikan salamnya yg kedua?
Kita masuk jama’ah sedang mendapati imam sedang berdiri (pada saat imam membaca sirr) , apakah masih disunnahkan kita baca doa iftitah & ta’awudz atau sebaiknya langsung baca Al Fatihah?

Demikian pertanyaan ana, Jazakallah khairan katsiraa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban Ustadz:

Dilihat dari jumlah rakaatnya, maka bisa dibagi dua:
Jumlah rakaat yang sholatnya adalah dua rakaat, seperti sholat subuh, jum’at dll. Maka cara duduk tasyahud dalam sholat seperti ini adalah iftirasy. Ada dua hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini yaitu hadits dari Abdullah bin Zubair yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanad yang hasan dan hadits dari Wail bin Hukr yang diriwayatkan oleh Nasai no. 1158 dengan sanad yang shahih.
Sholat yang jumlah rakaatnya lebih dari 2 rakaat. Maka untuk sholat jenis ini pada tasyahud awal duduk iftirasy dan pada tasyahud akhir dengan tawarruk. Dalilnya adalah hadits dari Abu Humaid As-Sa’idi, beliau menceritakan tata cara yang Nabi lakukan di hadapan sepuluh orang sahabat dan mereka semua membenarkannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari n0. 794. Rincian seperti di atas merupakan pendapat Imam Ahmad.

Adapun Untuk makmum yang masbuk maka dirinci sebagai berikut:
Masbuk pada sholat dua rakaat maka duduknya hanya iftirasy.
Masbuk dalam sholat yang lebih dari dua rakaat dan imam sudah duduk tasyahud akhir, maka ada dua kemungkinan:
– Makmum tertinggal dua rakaat atau lebih. Maka dalam kondisi ini makmum iftirasy dan tidak mengikuti imam, mengingat bahwa Nabi saat sholat dua rakaat duduk dengan iftirasy.
– Makmum tertinggal satu rakaat maka posisi duduknya adalah tawarruk sama dengan imamnya sebagaimana cara Nabi dalam sholat yang lebih dari dua rakaat.

Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rohimahulloh mengatakan, “Ada sebagian orang berpendapat kalau seorang masbuk dua rakaat dan mendapati imam duduk terakhir maka makmum duduk tawarruk seperti posisi duduk imam dengan dalil hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Imam itu diangkat hanya untuk diikuti”, tapi yang tampak bagiku masbuk tersebut tetap duduk iftirasy.” (Diringkas dari Majalah An-Nashihah vol. 01 th I/1422 H hal 2-5).

Dalam Syarah Al Mumthi’ 2/312-313, Syaikh Al Utsaimin menyatakan bahwa tidak ada kewajiban mengikuti dalam gerakan sholat yang tidak menyebabkan makmum mendahului atau terlambat dari imam.

***

Hal ini terkait dengan hukum salam kedua, wajib ataukah mustahab. Tentang hadits yang menunjukkan bahwa Nabi pernah hanya mengucapkan sekali salam dalam sholat beliau, Syaikh Albani mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Adh Dhiya dalam Al-Mukhtarat dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam As-Sunan 1/243 dengan sanad yang shahih.” (Sifat Sholat Nabi hal. 188), Jika demikian, hukum salam kedua adalah mustahab, jadi makmum masbuk bisa berdiri untuk menyempurnakan sholat sesudah salam pertama imam, meski tak diragukan lagi bahwa berdiri sesudah salam imam yang kedua merupakan tindakan mengikuti imam yang lebih sempurna.

***

Di antara kesalahan dalam sholat yang disebutkan oleh Syaikh Masyur As-Salman adalah “Menyibukkan diri untuk membaca doa iftitah dengan perlahan, membaca ta’awudz dan basmalah yang mana hal tersebut baru selesai setelah imam ruku’ atau hampir ruku.”

Ibnul Jauzi mengatakan, “Di antara orang yang terkena penyakit was-was ada yang baru bisa bertakbir dengan benar sesudah imam hampir ruku, orang tersebut lantas membaca doa iftitah dan ta’awudz dan sesudah imam ruku’. Hal ini merupakan tipuan iblis. Ta’awudz dan doa iftitah yang dilakukannya hukumnya adalah sunnah sedangkan bacaan Al Fatihah yang ditinggalkannya adalah wajib. Makmum pun wajib membacanya menurut sebagian ulama, karena itu tidak sepantasnya dikalahkan dengan hal yang hukumnya sunnah. Dulu ketika aku masih kecil, aku sholat bermakmum di belakang guru kami seorang pakar ilmu fikih, Abu Bakar Ad-Dainuri. Beliau mengetahui aku berbuat seperti itu, beliau lantas mengatakan, “Wahai anakku, sesungguhnya para ulama telah berselisih pendapat tentang makmum, apakah wajib membaca Al Fatihah ataukah tidak, akan tetapi mereka tidak berselisih pendapat kalau doa iftitah itu sunnah, oleh karena itu sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunnah.” (Talbis Iblis hal. 139. Lihat Al-Qoulul Mubin fi Akhtai’ Al-Mushallin hal. 267).

***

Penanya : Zaini
Dijawab Oleh : Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Sumber : http://muslim.or.id/soaljawab/fiqh-dan-muamalah/soal-jawab-makmum-masbuk.html