Habib Husein Alkadrie

1. Riwayat Hidup

Habib Husein Alkadrie lahir di Tarim Ar-Ridha Hadralmaut, Yaman Selatan, pada tahun 1120 H/1708 M. Nama lengkapnya adalah As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad Alkadrie, atau disebut juga dengan nama Jamalul Lail dan Ba ‘Alawi, yang konon nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Nama besarnya adalah Tuan Besar Mempawah.

Habib Husein dididik dengan ajaran-ajaran Islam oleh orang tuanya hingga berumur 18 tahun. Setelah itu ia tidak hanya belajar Islam, namun juga belajar ilmu pengetahuan umum. Ia pernah mengembara ke negeri Kulaindi dan tinggal di sana selama empat tahun. Di salah satu kota besar di Yaman Selatan ini, ia belajar tentang ilmu agama dan juga ilmu pengetahuan umum kepada Sayyed Muhammad Hamid. Akhirnya ia menguasai disiplin ilmu pengetahuan agama dan umum serta memiliki wawasan luar negeri yang mendalam. Bahkan, ia juga belajar ilmu pelayaran dan perdagangan, dan bergabung dengan usaha pelayaran dagang di sekitar Teluk Persia sampai ke Kalkuta dan di pantai barat Afrika. Di Kalkuta ini ia juga sempat belajar banyak hal.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang amat memadai ini, Habib Husein terdorong untuk menambah pengalamannya dengan berlayar lebih jauh lagi ke negeri Timur, yang banyak terdapat kerajaan-kerajaan Islam. Motivasinya tidak hanya untuk berdagang, namun juga untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia termasuk dalam kelompok “empat sahabat” yang pergi ke wilayah Timur (Indonesia). Tiga ulama lain yang turut beserta dengan dirinya adalah: Saiyid Abu Bakar al-‘Aidrus (dengan gelar Tuan Besar Aceh) yang menetap dan wafat di Aceh, Saiyid Umar as-Sagaf (Tuan Besar Siak) yang menetap, mengajar, dan wafat di Siak, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi (Datuk Marang), yang menetap dan mengajar di Terengganu.

Habib Husein kemudian melanjutkan pengembaraan ke Aceh. Ia menetap di sana selama satu tahun dengan tujuan menyebarkan Islam dan mengajarkan kitab. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Siak, Betawi (tinggal selama tujuh bulan), dan Semarang (menetap selama dua tahun). Ketika menetap di Semarang, ia berteman baik dengan Syeikh Salim bin Hambal. Keduanya kemudian pergi berlayar ke negeri Matan. Sesampainya di sana mereka kemudian menemui Saiyid Hasyim al-Yahya dengan gelar Tuan Janggut Merah, seorang ulama yang hebat, gagah, dan berani.

Setelah menetap beberapa hari di Matan, Habib Husein dan Syekh Salim kemudian dijamu oleh Sultan Matan. Pada saat jamuan makan dengan sultan digelar, ada suatu kisah menarik yang mencerminkan kecerdikan ilmu Habib Husein ketika menyikapi kejadian yang berkenaan dengan tempat sirih adat istiadat kesultanan yang dikeluarkan di hadapan sultan dan para punggawa kesultanan. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat suatu benda besi buatan Bali dengan ukiran kepala ular yang ada di dalam tempat siri tersebut. Di hadapan Sultan Matan dan para pembesar kesultanan, Sayid Hasyim mematah-matah dan menumbuk-numbuk benda tersebut dengan tongkatnya. Kontan saja, Sultan marah terhadap sikap Saiyid Hasyim. Habib Husein mengambil benda yang telah tercerai-berai tersebut, yang kemudian diusap-usap dengan air liurnya. Atas izin Allah SWT, benda tersebut tiba-tiba kembali utuh seperti sedia kala.

Sultan Matan mengagumi kesaktian yang dimiliki Habib Husein. Beberapa hari setelah acara jamuan makan tersebut, Sultan Matan menunjuk Habib Husein sebagai guru di negeri Matan. Di samping itu, Sultan Matan juga mencarikan istri untuk Habib Husein, yaitu Utin Candramidi (Nyai Tua). Perkawinan mereka dikaruniai empat putra-putri, yaitu: Khadijah, Syarif Abdurrahman, Syarifah Mariyah, dan Syarif Alwi Alkadrie. Syarief Abdurrahman Alkadrie dikenal sebagai tokoh yang pernah mendirikan Kesultanan Kadriah (Pontianak) di Kalimantan Barat.

Setelah menetap di Matan selama dua hingga tiga tahun, Habib Husein didatangi seseorang yang merupakan utusan Raja Mempawah (Upu Daeng Menambon dengan gelar Pangeran Tua) dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu. Surat yang dibawa isinya tiada lain adalah bujukan raja terhadap Habib Husein agar ia bersedia pindah ke Mempawai. Habib Husein tidak langsung menerima tawaran tersebut karena dirinya masih betah tinggal di Matan. Utusan raja tersebut kemudian kembali ke Mempawai dengan tangan kosong. Kesediaan Habib Husein untuk menetap di Mempawah terwujud setelah dirinya merasa adanya ketidakcocokan dengan sikap dan pendirian Sultan Matan.

Habib Husein pindah ke Mempawah pada 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M, dan menetap di Kampung Galah Hirang. Kedatangannya di tempat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di Mempawah. Banyak orang dari pelbagai penjuru yang datang ke Mempawah. Ada pengunjung yang tujuannya untuk berniaga, namun tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri untuk berguru kepada Habib Husein. Ia merupakan mufti pertama di Mempawah. Ketika mengajar, yang diutamakan olehnya adalah pelajaran lughah ‘Arabiyah (bahasa Arab). Dalam tempo yang singkat, Kampung Galah Hirang berkembang sangat pesat, bahkan lebih ramai dari pusat Kesultanan Mempawah sendiri. Setelah Upu Daeng Menambon (Sultan Mempawah) wafat, puteranya yang bernama Gusti Jamiril kemudian menjadi anak angkat Husein Al-Qadri. Gusti Jamiril diasuh oleh Habib Husein di Kampung Galah Hirang. Pada tahun 1166 H/1752 M, Gusti Jamiril dinobatkan sebagai Sultan Mempawah menggantikan ayahnya dengan gelar Penembahan Adiwijaya Kesuma.

Kebesaran nama Habib Husein (Tuan Besar Mempawah) tersebar luas hingga ke Asia Tenggara. Ia merupakan penganut madzhab Syafii. Ia juga suka dengan ilmu tasawuf. Amalan tasawuf yang sering dilakukannya adalah Ratib al-Haddad dan Tarekat Qadiriyah. Ketika menjadi mufti Mempawah, yang diajarkannya kepada masyarakat umum lebih berupa amalan dan bercorak memberi keterangan (syarah).

Habib Husein wafat pada pukul 02.00 petang, tepatnya pada tahun 1184 H/ 1771 M, di Sebukit Rama Mempawah, dalam usia 64 tahun. Ia pernah berwasiat bahwa yang layak menggantikan dirinya sebagai mufti Mempawah adalah Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, ulama asal Patani, Thailand Selatan. Untuk melaksanakan wasiat tersebut, pihak pemerintah Kesultanan Mempawah kemudian melantik Syeikh al-Fathani sebagai mufti di kesultanan ini dengan gelar Maharaja Imam Mempawah.

2. Pemikiran

(Dalam proses pengumpulan data)

3. Karya

(Dalam proses pengumpulan data)

4. Penghargaan

Habib Husein pernah menjabat sebagai mufti di Kesultanan Matan. Pada saat yang bersamaan ia juga ditunjuk sebagai patih di kesultanan ini. Ia juga pernah menjabat sebagai mufti di Kesultanan Mempawah, mufti pertama di kesultanan ini. Ia berperan sangat besar terhadap dakwah dan perkembangan ajaran Islam di Kalimantan Barat pada saat itu.

Sumber :
Wan Mohd. Shaghir Abdullah, “Husein al-Qadri: Penyebar Islam Kalimantan Barat”, dalam http://ulama-nusantara.blogspot.com.
http://www.borneo-tribune.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s