Indonesia dan Diplomasi


Politik luar negeri merupakan kepanjangan dari kepentingan nasional suatu negara. Dengan demikian, maka sejatinya politik luar negeri yang dijalankan, adalah semata-mata demi mendukung dan mewujudkan kepentingan nasional bangsa. Jika keluar dari frame tersebut, maka politik luar negeri tak akan banyak artinya. Kepentingan nasional bangsa Indonesia tertuang dalam pembukaan (Undang-Undang Dasar) UUD 1945, yaitu menjamin kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Itu baru tujuan ideal dari kepentingan nasional. Sementara secara operasional, tujuan nasional sangat tergantung dari tantangan zaman masing-masing rejim. Di era pemerintahan Orde Lama, prioritas kepentingan dititikberatkan pada isu pengakuan internasional atas kemerdekaan Indonesia dan penguatan persatuan nasional. Oleh karenanya, politik luar negeri yang diusung semaksimal mungkin ditujukan dalam rangka menjawab problem tersebut. Begitu pun dengan politik luar negeri yang berorientasi pembangunan dan stabilitas gaya Orde Baru. Namun, sejak krisis ekonomi menghantam Indonesia sembilan tahun lalu, politik luar negeri kita juga ikut “turun panggung”. Tak ada lagi peran aktif Indonesia seperti peran aktif dalam penyelesaian konflik di Filipinan Selatan maupun Bosnia. Dunia internasional tak lagi menganggap Indonesia sebagai negara penting. Apalagi dengan demokratisasi dan transparansi yang digulirkan, membuat masyarakat internasional—dengan mata telanjang sekalipun—mengetahui berbagai borok rejim negeri ini yang di masa lalu ditutup rapat. Kasus korupsi, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) hingga kekerasan seakan akrab dengan image Indonesia dari pada peran sebagai peace maker maupun solidarity maker.


Namun awan gelap diplomasi internasional itu mulai berarak pergi. Tiga tahun terakhir, berbagai kemajuan dicapai pemerintah Indonesia dalam diplomasi internasional, sehingga secara tidak langsung, mengubah persepsi masyarakat dunia terhadap kita. Gejalan ini sepenuhnya disadari oleh pemerintah. Sebagaimana disampaikan Menlu Hassan Wirajuda, bahwa performence politik luar negeri Indonesia pasca reformasi dapat dikatakan sangat leluasa sepanjang sejarah diplomasi kita. Ada dua indikator yang dapat digunakan untuk menyimpulkan membaiknya tampilan Indonesia di dunia internasional tersebut. Pertama, kemajuan dan prestasi Indonesia mendapat apreasiasi dari masyarakat dunia. Kedua, terjadinya perubahan-perubahan setelah berakhirnya pengkotak-kotakan dunia atas dua blok, Barat dan Timur, dan sejalan dengan itu menguatnya multilateralisme. Salah satu faktor yang penting, kata Menlu, adalah terpilihnya Indonesaia pada sembilan organ-organ penting di PBB dan organisasi internasional lainnya. Pada organ-organ penting itu Indonesia terpilih dengan rata-rata angka dukungan sangat tinggi, sekitar 165 dari 192 anggota PBB. Bahkan Indonesia juga dipercaya masuk ke dalam Dewan HAM PBB dan Dewam Keamanan. Sesuatu yang di masa lalu sangat mustahil, mengingat track record kita yang dianggap sebagai negara pelanggar HAM. Bahkan pada November 2007 nanti, Indonesia akan menjadi Ketua Sidang DK PBB, menggantikan Prancis. Besarnya dukungan masyarakat internasional itu merupakan penegasan kembalinya Indonesia ke “orbit” negara-negara strategis di dunia. Sebuah ungkapan yang eksplisit dikatakan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa Indonesia saat ini merupakan negara paling dinamis dan penting di Asia Pasifik.

Kepentingan Nasional Kini

Jika kita bedah, definisi kepentingan nasional pada potret Indonesia kini terletak pada isu-isu antara lain, keutuhan NKRI, pembangunan ekonomi, revitalisasi militer dan pelestarian lingkungan. Pada isu yang pertama, kita telah melewati masa-masa sulit dalam penyelesaian separatisme di Aceh, hingga akhirnya menemukan solusi melalui jalan damai. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinski, Agustus 2005 bukan hanya bermanfaat bagi rakyat Aceh dan Indonesia, tetapi juga menjadi model penting bagi resolusi konflik di dunia. Pembangunan ekonomi kini juga tengah digalakkan dan tidak berhenti pada jargon. Melainkan melalui pemberian berbagai insentif, diantaranya pemotongan pajak dan menekan biaya siluman. Dengan cara ini diharapkan masyarakat internasional merespon keseriusan Indonesia untuk bengkit dari krisis. Sementara itu, revitalisasi militer sangat mendesak sebagai konsekuensi dari luasnya wilayah Indonesia. Dengan jumlah pulau yang sebanyak 17.500, tak ada jalan lain kecuali memperkuat kemampuan militer guna melindungi kepentingan nasional di seluruh wilayah kedaulatan kita. Pengalaman buruk embargo oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di masa lalu, kini coba dipecahkan melalui kerja sama strategis dengan partner baru dari Timur. Rusia dipilih sebagai partner strategis Indonesia ke depan karena negara ini memiliki kemampuan yang tak kalah dengan AS dan negara-negara Barat dalam teknologi militer.


Khusus menyangkut pelestarian lingkungan, Indonesia dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi sorotan dunia. Hal itu berkaitan dengan dilangsungkannya Konferensi tentang Perubahan Iklim dan Pemanasan Global (Climate Change & Global Warming), di Bali akhir tahun ini. Forum yang akan dihadiri oleh para pemimpin dari 180 negara di dunia nantinya diperkirakan akan mengeluarkan resolusi penting, pasca Protokol Kyoto, 1997. Pasalnya, masyarakat internasional kini mulai menemukan satu suara untuk mencegah kehancuran bumi. Rentetan bencana di Indonesia, India, Pakistan hingga Amerika dan Eropa lebih dari cukup untuk mengatakan tidak pada praktek perusakan bumi. Presiden SBY sendiri dalam sambutannya di depan forum Tingkat Tinggi PBB mengenai Climate Change baru-baru ini bersikap pragmatis mengenai perlunya menghentikan global warming. Menurut Presiden, Indonesia tak perlu penjelasan lebih panjang lagi soal dampak global warming dan climate change, karena Indonesia sudah mengalami, menjadi korban dan menderita kerugian. Untuk itu, SBY mengajak PBB agar menjadikan konferensi Bali nanti sebagai awal paradigma baru pembangunan dunia.

Agar posisi tawar Indonesia dan negara-negara yang memiliki hutan (Tropical Rainforest Countries) diperhitungkan, SBY menggagas sebuah inisiatif berupa Forestry Eight (F-8). Terbukti, dukungan terus mengalir atas inisiatif ini. Tiga negara lainnya melengkap F-8 menjadi 11 negara. Dari semua negara yang bergabung, yang paling menggembirakan adalah kehadiran Brasil. Bukan saja selama ini Brasil enggan ikut dalam forum serupa, melainkan terutama mengingat posisi Brasil sebagai pemilik hujtan hujan tropis terbesar di dunia. Selain Brasil dan Indonesia, F-8 terdiri dari Kamerun, Kolombia, Kongo, Kostarika, Gabon, Malaysia, Papua Nugini, dan Peru. Tuntutan Indonesia, mewakili F-8 yang disampaikan pada acara High-Level Meeting on Climate Change, adalah perlunya negara maju melakukan transfer teknologi dan memberi insentif kepada negara-negara berkembang pemilik hutan hujan tropis. Saat ini, apresiasi negara maju terhadap upaya negara pemilik hutan hujan tropis menyelamatkan dunia dari perubahan iklim global masih kurang memadai. Memang ada skema pemberian insentif melalui Clean Development Mecanism, tapi itu semua dirasa tidak cukup.

Era kebangkitan diplomasi Indonesia telah nyata terwujud. Namun tugas berikut tak kalah berat. Yaitu pemerintah dituntut untuk mentransfer kesuksesan di forum internasional ke dalam negeri. Ukurannya sederhana, dimana jumlah rakyat miskin berkurang, harga-harga bahan pokok terkendali, pengangguran menurun dan keamanan terjamin. Tanpa hasil nyata itu, diplomasi yang kinclong hanya akan menjadi momenumen tanpa arti.

2 thoughts on “Indonesia dan Diplomasi

  1. Kenapa dulu waktu indonesia berdiplomasi dengan bangsa asning seperti belanda dan jepang, akhirnya mendapat hasil yang merugikan indonesia sendiri dan dilanggar oleh kedua negara tersebut ?
    jawab ya…

  2. Kenapa dulu waktu indonesia berdiplomasi dengan bangsa belanda dan jepang, untuk mempertaankan republik kita. selalu bersedia mendapat hasil yang merugikan indonesia sendiri dan dilanggar oleh negara belanda ?
    jawab ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s