Surat Mahmud Ahmadinejad kepada George W. Bush (4 s/d 6)

Presiden Mahmud Ahmadinejad

Presiden Mahmud Ahmadinejad

Bagian Keempat

Tuan Presiden,

Anda mengetahui bahwa saya hidup bersama rakyat dan selalu berhubungan dengan mereka. Banyak masyarakat Timur Tengah yang menghubungi saya dengan berbagai cara. Mereka melihat kebijakan ganda ini tidak sesuai dengan logika apapun.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat di kawasan Timur Tengah, dari hari ke hari semakin marah dengan kebijakan yang telah dilakukan.

Saya tidak bermaksud untuk menyampaikan banyak pertanyaan, namun saya ingin menunjukkan beberapa poin lain.
Mengapa setiap kemajuan ilmu dan teknologi di kawasan Timur Tengah selalu dianggap dan dipropagandakan sebagai ancaman terhadap rezim Israel?
Apakah usaha ilmiah dan penelitian bukan merupakan hak-hak dasar masyarakat?

Anda mungkin memiliki pengetahuan tentang sejarah. Selain abad pertengahan pada bagian mana dari sejarah dan dimanakah, kemajuan ilmu dan teknologi dianggap sebagai sebuah kejahatan? Apakah dengan mengandaikan kemungkinan dipakainya ilmu dan teknologi untuk maksud-maksud militer dapat menjadi alasan untuk menentang ilmu dan teknologi? Bila kesimpulan yang demikian adalah benar, maka seluruh ilmu harus ditentang bahkan fisika, kimia, matematika, kedokteran, arsitektur dan lain-lain.

Dalam masalah Irak telah terjadi kebohongan. Hasilnya apa? Saya tidak ragu bahwa semua manusia meyakini bahwa kebohongan adalah hal yang tidak terpuji. Anda sendiri tidak akan senang bila orang lain berdusta terhadap Anda.

Bagian Kelima

Tuan Presiden,
Apakah masyarakat di Amerika Latin memiliki hak untuk mempertanyakan mengapa selalu ada usaha untuk tidak menyetujui pemerintahan terpilih dari rakyat dan pada saat yang sama adanya pembelaan bagi mereka yang ingin melakukan kudeta terhadap pemerintahan terpilih. Mengapa ancaman selalu diarahkan kepada mereka?

Masyarakat Afrika adalah masyarakat yang punya etos kerja, kreatif dan memiliki potensi. Mereka dapat berperan penting dalam menjamin kebutuhan dan kemajuan materi dan maknawi masyarakat dunia. Namun, kemiskinan dan kepapaan di sebagian besar Afrika menjadi kendala terbesar untuk dapat memainkan peran penting tersebut.

Apakah mereka berhak untuk mempertanyakan, mengapa kekayaan luar biasa dan barang tambang mereka dijarah padahal mereka lebih membutuhkan dari orang lain? Apakah aksi-aksi semacam ini sesuai dengan ajaran Nabi Isa AS dan hak-hak asasi manusia?

Masyarakat Iran yang berani dan beriman juga memiliki banyak pertanyaan. Salah satunya adalah Kudeta 28 Murdad tahun 1953 terhadap pemerintahan waktu itu, menentang revolusi Islam pada 52 tahun yang lalu, menjadikan kedutaan Amerika menjadi markas penentang Republik Islam, memiliki ribuan dokumen rahasia, melindungi Saddam Hussein dalam perang terhadap Iran, penembakan pesawat penumpang Iran, menyandera harta masyarakat Iran, ancaman-ancaman yang semakin meningkat dengan menunjukkan ketidaksetujuan serta kemarahan atas kemajuan ilmu dan teknologi serta nuklir masyarakat Iran. Padahal semua orang Iran gembira dengan kemajuan negara mereka dan mengadakan pesta untuk keberhasilan mereka. Masih banyak lagi pertanyaan semacam ini yang di surat ini tidak saya cantumkan.

Bagian Keenam

Tuan Presiden

Peristiwa 11 September benar-benar merupakan peristiwa yang mengerikan. Pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di bagian mana saja dari dunia ini selalu menyakitkan dan sangat disayangkan. Pemerintah kami pada waktu itu mengumumkan rasa kebencian terhadap pelaku kejadian dan sekaligus mengucapkan belasungkawa kepada mereka yang ditinggalkan. Semua negara memiliki kewajiban untuk melindungi jiwa, harta dan kehormatan rakyatnya.

Seperti yang disebut-sebut, negara Anda memiliki sistem keamanan, penjagaan dan informasi yang luas dan canggih. Bahkan para penentang yang berada di luar negeri pun diburu. Operasi 11 September bukan operasi yang mudah.
Apakah konsep dan pelaksanaan operasi tersebut dapat terwujud tanpa kerja sama dengan sistem informasi, keamanan atau adanya pengaruh yang kuat?
Tentunya ini adalah sebuah pengandaian yang logis. Mengapa sisi-sisi lain dari kejadian ini tetap misterius? Mengapa tidak ada penjelasan resmi tentang siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian ini? Dan mengapa para pelaku dan mereka yang lalai tidak diumumkan dan dihukum?

Surat Mahmud Ahmadinejad kepada George W. Bush (3)

Kebenaran harus ditegakkan

Kebenaran harus ditegakkan

Bagian Ketiga

Tuan Presiden,
Anda pasti telah mengetahui bagaimana Israel terbentuk dan akibat yang ditimbulkannya:

  • Dengan terbantainya ribuan jiwa.
  • Dengan mengungsikan jutaan jiwa penduduk asli kawasan.
  • Dengan penghancuran ratusan ribu hektar sawah, kebun zaitun dan penghancuran kota-kota dan tanah-tanah subur.
  • Tragedi ini tidak hanya terbatas pada masa pembentukan saja.

Sangat disayangkan selama enam puluh tahun hal ini terus berlanjut.

Rezim yang dibentuk ini bahkan tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap anak-anak. Rumah-rumah dihancurkan, rencana teror tokoh-tokoh Palestina diumumkan dan ribuan orang-orang Palestina dipenjarakan. Fenomena ini pada abad-abad terakhir bila tidak dikatakan sulit dicari tandingannya maka tentunya tidak ada bandingannya.

Pertanyaan besar lainnya dari masyarakat umum adalah: Mengapa rezim yang seperti ini masih harus dibela?
Apakah pembelaan terhadap rezim ini sesuai dengan ajaran Nabi Isa AS atau Nabi Musa AS atau nilai-nilai Liberalisme?
Apakah memberikan hak untuk menentukan nasib sendiri di tanah Palestina kepada pemilik asli baik mereka yang tinggal di Palestina maupun di luar, baik mereka itu Islam, Yahudi dan atau Kristen, bertentangan dengan demokrasi, hak-hak asasi manusia dan ajaran-ajaran para Nabi?

Bila tidak bertentangan, mengapa usulan referendum tidak pernah disetujui?
Akhir-akhir ini, dengan pilihan rakyat Palestina, telah terbentuk sebuah pemerintahan. Semua pengawas yang netral telah mengukuhkan bahwa pemerintah tersebut dipilih oleh rakyat. Dengan rasa tidak percaya, pemerintahan terpilih ditekan sedemikian rupa agar mengakui sebuah negara bernama Israel dan tidak lagi meneruskan perjuangan serta melanjutkan program pemerintahan sebelumnya.

Seandainya pemerintahan terpilih ini sejak awal mengumumkan kebijakannya seperti yang diinginkan penekan, apakah masyarakat Palestina akan memilih mereka? Apakah sikap semacam ini di hadapan pemerintahan Palestina sesuai dengan nilai-nilai di atas?

Demikian pula, masyarakat selalu bertanya-tanya mengapa resolusi PBB yang telah diputuskan di dewan keamanan PBB terhadap Israel selalu diveto?

Surat Mahmud Ahmadinejad kepada George W. Bush (2)

Jangan Takut untuk Menegakkan Kebenaran

Jangan Takut untuk Menegakkan Kebenaran

Bagian Kedua

Tuan Presiden,
Mungkin Anda tahu bahwa saya adalah seorang dosen. Mahasiswa saya sering menanyakan bagaimana menyesuaikan aksi-aksi ini dengan nilai-nilai yang telah saya sebut di awal surat tentang komitmen terhadap ajaran Nabi Isa AS, Nabi penyeru perdamaian dan kasih sayang?
Para tertuduh dipenjarakan di Guantanamo tanpa proses peradilan, mereka tidak bisa memiliki pengacara, keluarga tidak bisa menjenguk, mereka diisolir di negeri yang jauh dari negaranya dan sama sekali tidak ada pengawasan internasional untuk mereka. Tidak jelas apakah mereka adalah tahanan, tawanan perang, tertuduh ataukah orang-orang yang telah dijatuhi hukuman.

Para pengawas Uni Eropa mengakui adanya penjara-penjara misterius di Eropa. Saya tidak dapat menyelaraskan penculikan dan penahanan orang-orang dalam penjara-penjara misterius itu dengan satu pun sistem peradilan yang berlaku di dunia. Dan saya tidak pernah mengerti bagaimana aksi-aksi yang telah dilakukan sesuai dengan nilai-nilai yang telah saya sebutkan di atas, misalnya dengan ajaran-ajaran Nabi Isa AS ataukah hak-hak asasi manusia ataukah dengan nilai-nilai Liberalisme?

Para pemuda, mahasiswa dan masyarakat banyak mempertanyakan tentang fenomena bernama Israel. Pasti sebagian dari pertanyaan-pertanyaan itu telah Anda dengar. Dalam sejarah tercatat banyak negara yang telah dijajah. Namun salah satu fenomena kontemporer masa kita adalah pembentukan sebuah negara baru dengan masyarakat yang baru pula.

Para mahasiswa berkata, 60 tahun yang lalu tidak ada negara dengan nama ini. Mereka menunjukkan dokumen-dokumen dan peta geografi dunia kuno sambil berkata, kami telah berusaha sedemikian rupa mencarinya namun kami tidak menemukan sebuah negara yang bernama Israel.
Saya terpaksa menuntun mereka agar mempelajari lagi tentang perang dunia pertama dan kedua.

Sekali waktu seorang mahasiswa berkata, pada perang dunia kedua, puluhan juta manusia tewas. Berita-berita perang dengan cepat disebarkan oleh kedua belah pihak yang berperang. Masing-masing memberitakan kemenangannya dan kekalahan lawan. Setelah perang dunia kedua selesai diklaim bahwa enam juta orang Yahudi telah tewas. Enam juta orang yang sedikitnya berasal dari dua juta keluarga.

Kita andaikan saja bahwa berita ini benar. Apakah kesimpulan logisnya adalah pembentukan sebuah negara Israel di kawasan Timur Tengah dan atau membela mereka habis-habisan?

Bagaimana menganalisa dan menginterpretasikan fenomena ini?

Surat Mahmud Ahmadinejad kepada George W. Bush (1)

Presiden Ahmadinejad VS Presiden Bush

Presiden Ahmadinejad VS Presiden Bush

Bagian Pertama

Tuan George W. Bush
Presiden Amerika Serikat

Dalam beberapa waktu saya sempat berpikir, bagaimana mungkin dapat dibenarkan keberadaan berbagai kontradiksi yang terjadi di dunia internasional, kontradiksi yang tidak dapat diingkari dan selalu menjadi pembahasan masyarakat khususnya di kalangan politik dan mahasiswa. Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab tentang hal ini. Karena itu saya memutuskan untuk menanyakan sebagian kontradiksi dan pertanyaan itu. Semoga akan ada kesempatan untuk menjawab masalah tersebut.

Bagaimana mungkin, pengikut Nabi Isa AS yang mengaku berpegang teguh kepada hak-hak asasi manusia (HAM), menjadikan Liberalisme sebagai model peradaban, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap perluasan senjata nuklir dan pembunuhan massal, menjadikan peperangan melawan terorisme sebagai slogannya dan berusaha membentuk masyarakat yang satu dan universal—masyarakat yang akan diperintah oleh Nabi Isa AS dan orang-orang yang saleh di muka bumi.

Namun pada saat yang sama, berbagai negara diserang. Jiwa, kehormatan dan keberadaan insan dihancurkan. Sebagai contoh, hanya karena diduga pelaku kriminal berada di sebuah desa, kota atau dalam sebuah kafilah, seluruh desa, kota atau kafilah itu dihancurkan dan dibabat habis. Atau karena diduga sebuah negara memiliki senjata pemusnah massal, lalu negeri itu dikuasai. Ratusan ribu masyarakat negara itu tewas, sumber-sumber air, pertanian dan industri rusak dan sekitar 180.000 pasukan militer ditempatkan di sana.

Kehormatan rumah-rumah penduduk telah dihancurkan. Mungkin negara itu menjadi terbelakang hingga 50 tahun lebih. Dengan anggaran belanja berapa? Dengan menghabiskan miliaran dolar dari harta kekayaan sebuah negara dan beberapa negara lainnya. Dengan mengirimkan puluhan ribu pemuda sebagai pasukan penyerang, menempatkan mereka di arena pembunuhan, menjauhkan mereka dari keluarganya dan mengotori tangan mereka dengan darah orang lain. Tekanan demikian berat menimpa jiwa mereka sehingga setiap hari, sebagian mereka melakukan tindakan bunuh diri. Ketika mereka kembali ke negaranya, mereka tersiksa, tertekan dan bahkan menderita berbagai penyakit. Sebagian mereka terbunuh dan jenazah mereka dikembalikan kepada keluarga mereka.

Dengan alasan keberadaan senjata pemusnah massal, telah terjadi sebuah tragedi besar untuk negara dan penduduk yang diinvasi. Kemudian baru terungkap bahwa senjata pemusnah massal yang dimaksudkan tidak pernah ada.

Memang Saddam Hussein adalah seorang diktator dan pembunuh. Namun tujuan perang yang dilakukan bukan untuk menumbangkannya tapi untuk menemukan senjata pemusnah massal yang sudah diumumkan sebelumnya. Saddam akhirnya tumbang dan masyarakat merasa senang akan hal ini. Saya tambahkan pula bahwa dalam peperangan dengan Iran, Saddam telah dibantu dan dibela oleh Barat.

Tuhfatur Raghibin


Mesjid Biru Turki

Mesjid Biru Turki

Karya Syaikh Arsyad yang banyak dikenal adalah Sabilul Muhtadin. Ternyata, masih ada yang diterbitkan perdana di Turki

Pengantar

Karangannya Syech Muhammad Arsyad Al Banjari yang sempat dicatat adalah seperti berikut di bawah ini:

  1. Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu’minin wa ma Yufsiduhu Riddah ar-Murtaddin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M
  2. Luqtah al-’Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H/1778 M.
  3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diseselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H/1780 M
  4. Risalah Qaul al-Mukhtashar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiulawal 1196 H/1781 M.
  5. Kitab Bab an-Nikah.
  6. Bidayah al-Mubtadi wa `Umdah al-Auladi
  7. Kanzu al-Ma’rifah
  8. Ushul ad-Din
  9. Kitab al-Faraid
  10. Hasyiyah Fat-h al-Wahhab
  11. Mushhaf al-Quran al-Karim
  12. Fat-h ar-Rahman
  13. Arkanu Ta’lim as-Shibyan
  14. Bulugh al-Maram
  15. Fi Bayani Qadha’ wa al-Qadar wa al-Waba’
  16. Tuhfah al-Ahbab
  17. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna. Kitab ini dikumpulkan semula oleh keturunannya, Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura, tanpa dinyatakan tarikh cetak.

Ada pun karyanya yang pertama, iaitu Tuhfah ar-Raghibin, kitab ini sudah jelas atau pasti karya Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari, dasar saya adalah bukti-bukti sebagai yang berikut:

  1. Tulisan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, “Maka disebut oleh yang empunya karangan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imanil Mu’minin bagi `Alim al-Fadhil al-’Allamah Syeikh Muhammad Arsyad.”
  2. Tulisan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah, “Maka mengarang Maulana (maksudnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, pen:) itu beberapa kitab dengan bahasa Melayu dengan isyarat sultan yang tersebut, seperti Tuhfatur Raghibin …” Pada halaman lain, “Maka Sultan Tahmidullah Tsani ini, ialah yang disebut oleh orang Penembahan Batu. Dan ialah yang minta karangkan Sabilul Muhtadin lil Mutafaqqihi fi Amrid Din dan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imani Mu’minin wa Riddatil Murtaddin dan lainnya kepada jaddi (Maksudnya: datukku, pen ) al-’Alim al-’Allamah al-’Arif Billah asy-Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari.”
  3. Pada cetakan Istanbul, yang kemudian dicetak kembali oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura tahun 1347 H, iaitu cetakan kedua dinyatakan, “Tuhfatur Raghibin … ta’lif al-’Alim al-’Allamah asy-Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.” Di bawahnya tertulis, “Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, iaitu `Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad `Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri …”. Di bawahnya lagi tertulis, “Ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi”.
  4. Terakhir sekali Mahmud bin Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari mencetak kitab Tuhfah ar-Raghibin itu disebutnya cetakan yang ketiga, nama Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari tetap dikekalkan sebagai pengarangnya.

Daripada bukti-bukti di atas, terutama yang bersumber daripada Syeikh Daud bin `Abdullah al-Fathani dan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq adalah cukup kuat untuk dipegang kerana kedua-duanya ada hubungan dekat dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari itu. Syeikh Daud bin `Abdullah al-Fathani adalah sahabat Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari sedangkan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq pula adalah keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari. Mengenai karya-karya Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari yang tersebut dalam senarai, insya-Allah akan dibicarakan pada kesempatan yang lain.

Masih banyak lagi tulisan dan catatan syaikh yang disimpan kalangan muridnya yang kemudian diterbitkan di Istambul (Turki), Mesir, Arab Saudi, Mumbai (Bombai), Singapura, dan kemudian Jakarta Surabaya, dan Cirebon. Di samping itu beliau menulis satu naskah al Quranul Karim tulisan tentang beliau sedikit, yang sampai sekarang masih terpelihara dengan baik.

Keturunan

Zurriyaat (anak dan cucu) beliau banyak sekali yang menjadi ulama besar, pemimpin-pemimpin, yang semuanya teguh menganut Madzhab Syafi’i sebagai yang di wariskan oleh Syeikh Muhammad Arsyad Banjar.
Diantara zurriyat beliau yang kemudian menjadi ulama besar turun temurun adalah :

l . H. Jamaluddin, Mufti, anak kandung, penulis kitab “perukunan Jamaluddin”.
2. H. Yusein, anak kandung, penulis kitab “Hidayatul Mutafakkiriin”.
3. H. Fathimah binti Arsyad, anak kandung, penulis kitab “Perukunan Besar”, tetapi namanya tidak ditulis dalam kitab itu.
4. H. Abu Sa’ud, Qadhi.
5. H. Abu Naim, Qadhi.
6. H. Ahmad, Mufti.
7. H. Syahabuddin, Mufti.
8. H.M. Thaib, Qadhi.
9. H. As’ad, Mufti.
10. H. Jamaluddin II., Mufti.
11. H. Abdurrahman Sidiq, Mufti Kerajaan Indragiri Sapat (Riau), pengarang kitab “Risalah amal Ma’rifat”, “Asranus Salah”, “Syair Qiyamat”, “Sejarah Arsyadiyah” dan lain lain.
12. H.M. Thaib bin Mas’ud bin H. Abu Saud, ulama Kedah, Malaysia, pengarang kitab “Miftahul jannah”.
13. H. Thohah Qadhi-Qudhat, penbina Madrasah “Sulamul ‘ulum’, Dalam Pagar Martapura.
14. H.M. Ali Junaedi, Qadhi.
15. Gunr H. Zainal Ilmi.
16. H. Ahmad Zainal Aqli, Imam Tentara.
17. H.M. Nawawi, Mufti.
18. Dan lain-lain banyak lagi.

Semuanya yang tersebut di atas adalah zurriyat-zurrivat Syeikh Arsyad yang menjadi ulama dan sudah berpulang ke rahmatullah.
Sebagai kami katakan di atas, Syeikh Mubammad Arsyad bin Al Banjari dan sesudah beliau, zurriyat-zariyat beliau adalah penegak-penegak Madzhab Syafi’i dan faham Ahlussunna,h wal Jama’ah, khususnya di Kalimantan.

Syaikh Arsyad wafat pada 6 Syawal 1227 H atau 3 Oktober 1812 M. Beliau meninggal dunia pada usia 105 tahun dengan meninggalkan sumbangan yang besar terhadap masyarakat islam di Nusantara.

Makamnya dianggap keramat dan hingga kini masih diziarahi orang. Haulnya pada Syawwal lalu dihadiri Menteri Agama RI H. Muhamamd Maftuch Basyuni bersama ribuan masyarakat, termasuk dari Malaysia, Sumatera, dan Jawa.

Mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat kepada keluarga mereka dan kita semuanya.

Amin-amin Ya Rabbal Alamien.
Pemaparan Pokok

Karya Tufatur Raghibin memang tidak sepopular Sabilعl Muhtadin. Tapi, karya itu sangat penting karena membahas akidah Islam ahlussunnah wal jemaah yang langka. Tuhfah menjadi sangat penting unuk mengukuhkan sosok Syaikh Arsyad sebagai ulama besar ang sangat penting di masanya. Karya yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu atau Jawi ini ditulis Syaikh Arsyad pada tahun 1188 Hijriyah atau tahun 1774 Masehi.

Karya ini tentu sudah sangat lama.Sekitar 232 tahun lalu ditulis Syaikh Arsyad. Karya ini menjelaskan panjang lebar tentang 73 firqah atau golongan. Judul lengkap kitab ini adalah Tuhfah ar-Raghibin fi Bayan Haqiqatil Imanil Mu’minin wa ma Yufsiduhu min Riddatil Murtaddin. Selanjutnya disingkat dengan Tuhfatur Raghibin.

Sekurang-kurangnya ada tiga kitab dalam aksara Arab-Melayu atau Jawi yang memiliki judul yang sama. Sebuah adalah Tuhfatur Raghibin karya Syeikh Daud bin ‘Abdullah Al-Fathani dan yang terakhir ialah Tuhfatur Raghibin karya Syeikh Husein bin Sulaiman Al-Funtiani (Pontianak).

Memang, pernah ada yang menyatakan bahwa Tuhfatur Raghibin –yang kita bahas ini– adalah karya Syeikh ‘Abdus Shamad Al-Falimbani, namun hal itu tidak benar, karena tidak ada data pendukung. Kitab ini justru semakin menguatkan sebagai karya Syeikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al-Banjari.

Ada beberapa manuskrip salinan kitab tersebut. Salinan yang tertua dijumpai pada tahun 1209H/1794M. Artinya, penyalin hidup sezaman dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari yang meninggal dunia pada tahun 1227 H atau 1812 M. Mungkin penyalin kitab itu adalah sahabat Syaikh Arsyad sendiri atau muridnya.

Salinan lain dilakukan Mustafa bin Abdul Ghafur Al-Banjari pada Rabu, 3 Zulhijah 1237 atau 21 Agustus 1812. Salinan satu lagi dilakukan oleh Muhammad Nuruddin ibnu Haji Abdul Ghafur Al-Fathani pada 12 Rabiulakhir 1293 atau 5 Juni 1876. Disalin semula oleh Ahmad ibnu al-Marhum Raman pada 8 Rabiulakhir 1299 atau 27 Maret 1882.

Pada Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia tersimpan beberapa manuskrip Tuhfatur Raghibin, antaranya MS 5, salinan Haji Muhammad bin Abdullah, yang disalin atau dicetak pada Sabtu 11 Zulhijah 1292/8 Januari 1876 di Kampung Parnu, Melaka. Tuhfatur Raghibin dalam edisi cetakan terawal dilakukan di Istanbul, Turki. Penerbitan ini hasil upaya Syeikh Ahmad Al-Fathani (Thailand Selatan) dan dicetak Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi. Pada edisi cetakan kedua ini tertera pembuktian bahwa pengarangnya adalah Syeikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al-Banjari atas usaha salah seorang keturunan beliau, Syeikh Abdur Rahman Shiddiq Al-Banjari, Mufti Kerajaan Inderagiri.

Cetakan yang menyebutkan pengarangnya adalah Syeikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al-Banjari diterbitkan Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura, 1347 H, sekitar 80 tahun yang lalu. Dinyatakan dalam pengantar kitab itu: “Tuhfatur Raghibin. Ta’lif Al-’Alim Al-’Allamah Asy-Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.” Di bawahnya tertulis: “Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, iaitu ‘Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri …” Di bawahnya lagi tertulis, “Ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi.”

Di antara kandungan terpenting Tuhfatur Raghibin ialah membicarakan firqah (golongan) pemikiran akidah dalam Islam. Tentang hal ini, Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari mengutip hadis yang diterjemahkannya sebagai berikut: “Bahawasanya, adalah kaum Bani Israil bercerai-cerai mereka itu kemudian daripada Nabi Musa tujuh puluh tiga kaum, sekaliannya di dalam neraka, melainkan satu kaum yang masuk surga. Dan bercerai mereka itu kemudian daripada Nabi Isa, tujuh puluh dua kaum, sekaliannya di dalam neraka, melainkan satu kaum yang masuk surga. Dan lagi akan bercerai-cerai umatku kemudian daripadaku tujuh puluh tiga kaum, sekaliannya itu isi neraka melainkan satu kaum jua yang masuk surga.” Maka sembah segala sahabat, “Siapa yang satu kaum itu, ya Rasulullah?” Maka Rasulullah SAW menjawab: “Iaitu yang aku di dalamnya dan segala sahabatku.”

Golongan Tasawuf

Menyentuh golongan tasawuf, ada golongan sufi yang dikecam keras oleh Syeikh Muhammad Arsyad Banjari. Sebaliknya ada pula sufi yang dibelanya habis-habisan. Sebagai contoh Syeikh Muhammad Arsyad Banjari menyebut bahwa golongan wujudiyah terbagi dua: wujudiyah mulhid dan wujudiyah muwahhid.

Pengertian mulhid, ia uraikan pada beberapa tempat, di antaranya kata beliau: “… mulhid dan dinamakan akan dia zindiq.” Pada halaman lain Syeikh Muhammad Arsyad menulis: “Maka kunyatakan pula akan iktikad kaum mulhid yang bersufi-sufi diri seperti yang telah dinyatakan zindiq oleh Imam Ghazali, dan Syeikh Abun Najid Syahruardi, dan Imam Najamuddin Umar An-Nasafi, dan lainnya … Syahdan adalah kaum yang bersufi- sufi diri itu amat sesatlah mereka itu, tiada patut dinamai akan dia sufi. Hanya terutama dinamai akan dia kafir atau fasik…” Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari menegaskan, “Iktikad mulhid lagi zindiq sepatutnya dibunuh akan dia, jika ia enggan daripada taubat.”

Ketegasan itu dikemukakan Syeikh Muhammad Arsyad disebabkan golongan mulhid mengiktikadkan bahwa bagi mereka tidak perlu lagi menjalankan syariat karena mereka hanya untuk orang awam. Mereka melakukan ritual secara batin.

Mengenai istilah wujudiyah muwahhid katanya: “… iaitu segala ahli sufi yang sebenarnya. Dan dinamai akan mereka itu wujudiyah karena adalah bahas, dan perkataan, dan iktikad mereka itu pada wuju Haq Taala.”

Ini sekedar cuplijan karya Syaikh Arsyad, karya wairisan kita semua yang menginspirasi bangkitnya kembali penulisan Arab-Melayu atau Jawi.

PRESIDEN IRAN MAHMUD AHMADINEJAD

PEJUANG ISLAM

ditulis langsung oleh Presiden Iran

Autobiography 2006/08/08

In the Name of God, the Most Merciful, the Most Compassionate

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Oh Almighty God, please, we beg you to send us our Guardian- who You have promised us- soon and appoint us as His close companions.

During the era that nobility was a prestige and living in a city was perfection, I was born in a poor family in a remote village of Garmsar-approximately 90 kilometer east of Tehran. I was born fifteen years after Iran was invaded by foreign forces- in August of 1940- and the time that another puppet, named mohammad Reza – the son of Reza Mirpange- was set as a monarch in Iran. Since the extinct shah -Mohammad Reza- was supposed to take and enter Iran into western civilization slavishly, so many schemes were implemented that Iran becomes another market for the western ceremonial goods without any progress in the scientific field. Our Islamic culture would not allow such an infestation, and this was an impediment in front of shah and his foreign masters’ way. Thus, they decided to make this noble and tenacious culture weak gradually that Iran be attached strongly to the west as far as its economy, politics, and culture was concern. After the implementation of this policy and the unreal and outward of upswing, the villagers began to rush to the cities. Upon the enforcement of the land reform, the status of the villages became worst than the past and villagers for earning some breadcrumbs, they were deceived by the dazzling look and the misleading features of the cities and became suburban and lived in ghettos.

My family was also suffered in the village as others. After my birth -the fourth one in the family- my family was under more pressures. My father had finished 6 grade of elementary school. He was a hard-bitten toiler blacksmith, a pious man who regularly participated in different religious programs. Even though never the dazzling look of the world was appealing to him, but the pressure of the life caused that he decided to migrate to Tehran when I was one year old. We chose to live in south central part of Tehran where is called Pamenar.

* * *

My father used to buy newspaper all the time. I remember one day, when I was in first grade, by looking through a newspaper – with the help of the adults in our house- I read the news of the capitulation passage by the shah’s so called “parliament.” Even though I did not understand the meaning of that issue at that time, but due to the protests and the objections of the religious schools of thoughts with the leadership of Imam Khomeini -Almighty God bless his soul- and the relentless reaction of the extinct shah, I realized that Mohammad Reza attempted to add another page to his vicious case history which was the humiliation and indignity of the Iranian people versus Americans. That was the year that the extinct shah slaughtered many followers of Imam Khomeini.

Imam Khomeini was released from prison. I never forget Imam Khomeini’s speeches during those years which was very persuasive and appealing. You would hear the strong faith to Almighty God in his orations. He invited the people to pure Islam. His message was invitation to the belief of monotheism- Unity and Oneness of God- and also justice, elimination of oppression, injustice and sedition in the world. He was courageous and had a valiant heart. He spoke firmly and securely. His orations were simple and honest. The people accepted his guidance sincerely. Due to these characteristics, he was a beloved leader for every individuals-young or elderly. Of course he was a disgrace for shah’s regime and his Americans masters. Notably, even among his enemies, he was respected with a special honor.

* * *

Eventually, the existence of Imam Khomeini was unbearable for the extinct shah and he could not tolerate him any more. Since they knew if they kill him-as they did a great number of his followers- the bloody uprising can not be controlled. Consequently they decided to exile him in order to separate the leader from his followers and to restrain the revolution which was occurring. They send him into exile overnight and his exile lasted 14 years.

While Imam Khomeini was in exile, I became more familiar with his ideas, thoughts and philosophy through his companions and disciples in different classes and meetings. The more I became familiar with his thoughts and philosophy, the more affection I had for that divine leader and his separation and absence was intolerable for me. Although the enemies of the Iranian Muslims separated their leader from them, but always he was in people’s hearts and was more close to them than ever.

* * *

When I used to go to high school, shah celebrated the 2500 years of monarchy of Iran. Those years, poverty among the oppressed people of Iran was escalated and doubled. The imposition of the cost and the expenditure of these festivals and ceremonies and also the crapulence of shah’s debauched clan and their foreign companies, broke the people’s back. All necessary materials and supplies of these illegitimate functions were brought to Iran from Europe by the exclusive and specific airplanes. Probably one can claim that the disgraceful festivals of the 2500 years of kingdom in Iran -which was arranged by the traitorous shah- were the most expensive festivals in the history of the civilized human.

Anyway, in this situation, my father’s sledgehammer and anvil could not cover my family’s necessary expenses. Thus, I had to start working in a shop- that made certain parts for cooling system of buildings- to make some money to cover a portion of my family’s expenses and also my educational costs. Even though I was very playful those days, but was aware of my school & education. I was a distinguished student. From that time, I was interested and attached to teaching. I used to teach my friends and others in their houses. The last year of my high school, I prepared myself for university admission test-conquer. And later on that year, I took the test. Although I had nose bleeding during the test, but I became 132nd student among over 400 thousand participants. I was admitted for civil engineering major in one of the technical universities in Tehran. That was three years before the revolution. Even though the revolution was taking place and I was involved in certain activities against the illegitimate regime of the monarch in Iran-the mercenary & puppet of U.S. & Britain- but I was aware of my education and did not give it up.

* * *

In order to stop the university students from joining the revolution, the traitorous shah and his clan tried to abolish Islamic belief and revolutionary motives among students, by propagating immorality, promiscuity, and perversion in universities in Iran. Although a small number of students fell into their traps, but in general, university converted to a base for demonstration against shah’s regime. The people’s faith and devotion to Islam was the main reason that they became ready to face bloodthirsty shah with his brutal and savage torture and encounter his death squad.

* * *

Imam Khomeini after being in exile in Iraq and elsewhere- came back to Iran. The manner is which Imam Khomeini was warmly welcomed on his return after fifteen years of exile by Iranian nation will always be remembered in the records of history. Whole Iran poured out in the streets to welcome Imam. The eyes of those watching Iran from the outside world were dazzled to see this great event and they were helpless to understand and come up with an explanation for what they saw.

The Islamic Revolution of the nation of Iran achieved victory after several years of severe hardships, brave perseverance and sacrifices of thousands of martyrs to the unbelievable astonishment of political analysts of East and West and right in front of the watchful eyes of Intelligence apparatuses of the great World powers at that time. Our Revolution was unique in its own kind. The whole Iranian nation with empty hands and only relying on the divine weapon of faith and under the leadership of an 80 years old man, was able to give a crushing defeat to the mercenary of USA, the Shah (King) of Iran and disclose the real disgraceful face of his powerful supporters to the countries of the region and the whole world.

* * *

Although, right at the beginning of the movement of Imam Khomeini, the type of Government Imam was seeking to establish was known to everybody, however, Imam repeatedly laid great emphasis that everyone’s opinion should be taken into consideration (by holding a referendum)  for the establishment of the type of new government in Iran. This he did so as to show right at the outset that it is with the wishes of the nation as well as in accordance with the principles of Islam, that an Islamic Government is established.  Although, there was absolutely no need of a referendum, but Imam with his wise foresight, proved his point of view to everyone and left no place for those who wished to seek alternatives. This action of Imam and vehement participation and positive reply to the establishment of Islamic Republic by the Iranian nation, caused disappointment of some of the political groups that were affiliated to great world powers. These terrorist groups with the support and directions from arrogant powers, the leader of them being USA at that time, started massacring innocent people as well as the leading figures of the Islamic Revolution. They, like their supporting masters, thought that they can undermine and collapse the new government right in its beginning.  But, the nation of Iran was not ready to give this precious and great Revolution from their hands so easily. They stood firmly and with great difficulties, remained loyal to Revolution and protected it at all costs. They were ultimately able to force these terrorist groups out of their own country.  Although these terrorist groups are still under the protection and shameful support of Great Satan USA, however, the slap that these groups have received from the brave nation of Iran will never be forgotten by them.

The global arrogance had determined to defeat the Islamic Revolution of Iran at all costs. The reason was that they were afraid that this revolution will become a model and ideal path for other nations in the region and in the world. On the other they also wished to get back their lost prestige. Thus, they, in addition to supporting daily terrorist activities inside Iran, they also supported regime of Saddam to attack Iran and start the imposed war. The analysis of corrupt politicians at that time was that Iranian revolution was in its beginning and the government was not fully established and was not powerful enough to survive. The security apparatus of state, they thought, was not fully functional and was weak and didn’t have enough weaponry and experience. And, on the other side was Saddam, whatever he wanted, they provided him, and they thought that he will win the war on Iran. Saddam, intoxicated with power and while receiving all the economic, military and intelligence support that USA and other Western countries provided him, proudly announced that he will capture Tehran within 3 days. The war that was imposed on Iran, continued for more than 8 years instead of 3 days and ultimately in the end, not even an inch of Iranian land reach the hands of Saddam and his supporters.

During these 8 years, Saddam fought with us and also with his own people. He bombarded our cities with chemical weapons provided by the Western powers and also Iraqi villages and towns. During the whole period of war, while Saddam was bombarding our cities, Islamic Republic of Iran, obeying the laws of Islam and humanitarian principles, never attacked cities and limited the war with the army of Iraq in the battlefield. It is sad, that even this humane attitude of Islamic Republic didn’t impress those who at world stage watched the war at that time.

* * *

At the beginning of war, I was 25 years of age. My mother and wife and all the mothers and wives of the Iranian nation, whose youths and their wives participated in war and defended their country, patiently trained and educated the next generation, which is brave, resisting and faithful. Today’s brave and strong youths are the fruits of hardships and untiring efforts of the days of past.

The sacred defense in the universities was related to teaching human values. Side by side, the experience of life and death during war made this life like a heaven on earth and hereafter, such that what was said and heard about it and carried out at that time, was truly godly.

Brotherhood, faithfulness, seriousness and loving hard work, spirituality and worship, eagerness and happiness to do good, sacrifice and bravery, all these values have proved to us time and again that this world and hereafter are not opposite to each other, rather they both are completely in harmony with each other. At that time, martyrdom was the only wish of our defending fighters.

In the year 1988, one year before the demise of Imam Khomeini, may peace of God be upon him, the United Nations Security Council passed the resolution to stop the war and Imam unwillingly accepted it and announced that this acceptance on his part is like drinking poison. The war ended and in a situation when all the international organizations strived very hard to distort and hide the facts that Saddam was the aggressor and that the arrogant powers had fully supported him. For those who were not aware of the close working of these international organizations and arrogant powers of the world, this indifference to and distortion and hiding of the facts was a very shocking experience.

* * *

I will continue this topic later on as it took long in the beginning. From now onwards, I will try to make it shorter and simpler.

With hope in God, I intend to wholeheartedly complete my talk in future with allotted fifteen minutes

Syekh H. Muhammad Zaini Abd. Ghani

Nama kecilnya adalah Qusyairi, sejak kecil beliau termasuk dari salah seorang yang “mahfuzh”, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT.

Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat sifat dan pembawaan yang lain daripada yang lainnya, diantaranya adalah bahwa beliau tidak pernah ihtilam.

‘Alimul ‘allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd Ghani sejak kecil selalu berada disamping kedua orang tua dan nenek beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga dimasa kanak kanak beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca AI Quran dengan nenek beliau, dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.

Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi sangat lemah, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka membaca Al Quran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada Guru yang mengajar AI Quran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di madrasah Darussalam Martapura.

Guru guru’Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani :

1. Ditingkat Ibtida adalah: Guru Abd Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abd. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’I, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf

2. Ditingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.

3. Guru dibidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil At Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.

4. Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muh. Amin Kutby.

Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat diterima dari:
Kyai Falak (Bogor), ‘Alimul’allamah Asy Syekh Muh Yasin Padang (Mekkah). ‘Alimul’allamah As Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy Syekh Abd. Qadir Al Baar.

5. Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan.

Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kiayi Falak dan seterusnya Kiayi Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muh. Amin Kutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah saw.

Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farlisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian diantara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut diatas.
Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa apa yang ada didalam atau yang terdinding.

Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan minta ampun serta memohon minta dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang selama itu ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.

Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga, di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu tersebut tertidur.

Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya. Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulamg kali di tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan harapan Tuhan mengampuni dosa dosanya.

Pernah rumput rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dan segalanya, begitu pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau perhatikan dan hal hal yang demikian itu beliau anggap hanya merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.
Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah swt atau futuh, tatkala membaca Tafsir: Wakanallahu syamiiul bashiir.

‘Alimul’allamah Al-’Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani, yang sejak kecilnya hidup ditengah keluarga yang shalih, maka sifat sifat sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur dijiwa beliau; sehingga apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya.

Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau selalu menunggu tempat tempat yang biasanya ‘Alimul Fadhil H. Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke Banjarmasin semata mata hanya untuk bersalaman dan mencium tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.

Dimasa remaja ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini Abd Ghani pernah bertemu dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina Husin yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal ‘Abidin.

Setelah dewasa. maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib yang tua tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.

‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat, dan beliau seorang yang Hafazh AI Quran beserta hafazh Tafsirnya, yaitu Tafsir Al Quran Al ‘Azhim Lil-Imamain Al Jalalain. Beliau seorang ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta Thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis tali’m maupun majelis ‘amaliyahnya adalah seperti majelis Syekh Abd. Kadir al-Jilani.

Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar dan pemurah sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sababat dan anak murid.

Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun tidak peniah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan tidak mengetahuu serta tidak mau bertanya.

Tamu tamu yang datang kerumah beliau, pada umumnya selalu beliau berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3000 an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.

Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang benar benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Al Quran, misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya da’wah Islamivah, atau membesarkan dan memuliakan syi’ar agama Islam. Sebelum beliau pergi ketempat tersebut lebih dulu beliau turut menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru beliau dating. Jadi benar benar beliau berjihad dengan harta lebih dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau benar benar meamalkan kandungan Al Quran yang berbunyi: Wajaahiduu bi’amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.

‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani, adalah satu satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang mendapat izin untuk mengijazahkan (baiat) Thariqat Sammaniyah, karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil bai’at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau Jawa dan daerah lainnya.

‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani dalam mengajar dan membimbing umat baik laki-laki maupun perempuan tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat beliau masih tetap mengajar.

Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu waktu tertentu beliau datangkan doktcr dokter spesialis untuk memberiikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai. Seperti dokter spesialls jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dari kesehatan lingkungan tempat pengajian.

Karomah- Karomahnya
Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton, biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah.

Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketaui oleh yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata ditangan beliau terdapat sebuah buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.

Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguh jamuan oleh shahibulbait maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, ternyata, makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan akan tidak dimakan oleh beliau
Pada suatu musim kemarau yang panjang, dimana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa secara turun.

Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada didekat rumah beliau itu, maka beliau goyang goyangkan lah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan derasnya.

Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad yang ke 189 di Dalam pagar Martapuram, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy Syeikh H. M. Zaini Abd. Ghani menuju ketempat pelaksanaan haul tersebut, hal ini sempat mencemaskan panitia pelaksanaan haul tersebut, dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari.

Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, orang yang sedang hamil dan bayinya jungkir serta meninggal dalam kandungan ibunya, sernuanya ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun keluarga mereka pergi minta do’a dan pertolongan. ‘Allimul’allamah ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.

Demlklanlah diantara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihiNya.