Tuan Guru Syech Abdurrachman Siddiq Al Banjari

Tuan Guru Abdurrahman Siddig Al Banjari (Guru Sapat)

Tuan Guru Abdurrahman Siddig Al Banjari (Guru Sapat)

1. Biografi Tokoh

Syekh Abdurrachman Siddiq lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1864 M (1287 H). Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Khadhi H. Mahmud dan ibunya bernama Shafura. Ketika berusia satu tahun, ibunya meninggal dunia karena dibunuh. Almarhum Syekh Abdurrachman Siddiq wafat pada tahun 1939 M. Syekh Abdurrachman Siddiq adalah keturunan ulama besar. Kalau dirunut ke atas, Syekh Abdurrachman Siddiq merupakan keturunan Ulama terkenal dari Banjarmasin, Syekh Arsyad al-Banjari.

Syekh Abdurrachman Siddiq adalah seorang mufti, guru agama dan ulama yang banyak mempunyai sahabat. Santrinya ada yang berasal dari Singapura dan Malaysia. Selama 17 tahun, ia menjadi mufti di kerajaan Indragiri. Di samping sebagai mufti, ia juga banyak mengarang buku-buku mengenai agama Islam. Peninggalan lain Syekh Abdurrachman Siddiq adalah sebuah masjid yang dibangun sekitar tahun 1927 M di Parit Hidayat, Sapat, Indragiri Hilir, Riau, Indonesia, berjarak lebih kurang 200 meter dari makam. Masjid ini memiliki ciri khas pada atapnya. Selain itu, terdapat peninggalan lain berupa sebuah rumah tunggu yang didiami oleh anak cucu almarhum secara bergiliran sebagai tempat melayani tamu. Terkadang, rumah tunggu ini juga dimanfaatkan oleh para tamu untuk menginap, jika tidak memungkinkan untuk pulang, atau memang berhajat untuk bermalam disana.

2. Lokasi

Makam Syekh Abdurrachman Siddiq terletak di Parit Hidayat, Kecamatan Kuala Indragiri. Sekitar 30 menit menggunakan speed boat dari Tembilahan, ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Indonesia.

3. Deskripsi Makam

Dalam proses pengumpulan data.

4. Fungsi sosial

Dalam kehidupan sehari-hari, makam ini sering dikunjungi oleh warga masyarakat. Sebagian di antara mereka ada yang berasal dari Kalimantan, Singapura dan Malaysia. Ini menunjukkan bahwa makam ini merupakan salah satu pusat ritual ziarah.

Basyuni Imran Maharaja Imam Sambas

1. Riwayat Hidup

Syekh Muhammad Basyuni bin Muhammad Imran bin Muhammad Arif bin Imam Nuruddin bin Imam Mushthafa as-Sambasi, lebih dikenal dengan nama Basyuni Imran Maharaja Imam, dilahirkan pada tanggal 23 Zulhijjah 1300 H/25 Oktober 1883 M di Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Ia adalah pewaris terakhir gelar Maharaja Imam (gelar tertinggi pejabat urusan agama) di Kesultanan Melayu Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Ia wafat pada tanggal 29 Rajab 1396 H/26 Juli 1976 M.

Sejak kecil, Basyuni Imran belajar ilmu agama Islam (baca al-Qur‘an dan bahasa Arab) kepada ayahnya Muhamamd Imran dan belajar pengetahuan umum di Sekolah Rakyat (volksschool) di tanah kelahirannya. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Mekah dari tahun 1320 H/1902 M hingga tahun 1325 H/akhir tahun 1907 M. Di Mekah, ia belajar nahwu (tata bahasa Arab) dan fiqh (islamic jurisprudence) kepada beberapa guru Melayu, seperti Umar al-Sumbawi, Usman al-Funtiani, Syeikh Ahmad Khathib al-Minankabawi, dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Selain itu, ia juga belajar usul al-fiqh, hadis, tafsir dan tauhid kepada Ulama Arab, ‘Syekh Ali al-Maliki‘. Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, selama dua tahun (dari 1327 H/1909 M hingga 1329 H/1911 M). Setahun kemudian (1330 H/1912 M), ia pindah ke Madrasah Darud Da‘wah wal Irsyad, balai pendidikan yang didirikan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha, di Kairo, Mesir.

Pada tahun 1913, Basyuni Imran dipanggil keluarganya pulang ke Sambas, Kalimantan Barat, karena ayahnya menderita sakit keras. Selang beberapa bulan kemudian, ia dinobatkan sebagai penyandang gelar Maharaja Imam menggantikan ayahnya, Muhammad Imran, yang bertugas menangani urusan agama sekaligus menjadi qadi dan mufti Kesultanan Sambas. Selain menjalankan fungsinya sebagai qadi dan mufti, ia juga aktif mengajar pada beberapa madrasah di kampungnya. Di samping itu, ia juga mengadakan ceramah umum seminggu sekali di masjid Kesultanan Melayu Sambas dengan menggunakan artikel tafsir dan tauhid karya Rasyid Ridha sebagai rujukan utamanya. Tahun 1916, ia mendirikan madrasah modern ‘Madrasah Sultaniyyah‘ yang dibiayai sepenuhnya oleh Sultan Sambas. Madrasah ini tampak berbeda dengan kebanyakan madrasah di Indonesia saat itu, karena pengaja­rannya menggunakan bahasa Arab dan semua mata pelajarannya tentang agama. Selain itu, ia juga pernah terlibat aktif dalam kepengurusan Masyumi, namun kiprahnya di partai tersebut tidak dikenal secara luas.

2. Pemikiran

Selama bertugas menjadi qadi dan mufti, serta aktif mengajar di madrasah Sultaniyyah, Basyuni Imran tidak pernah memiliki kesempatan untuk kembali lagi ke Mesir. Namun, kenyataan ini tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengikuti perkembangan pemikiran dari jurnal Al-Manar (jurnal yang dikenalnya ketika belajar di Mesir). Bahkan, ia tetap berkorespondensi dengan Rasyid Ridha (salah satu editor Al-Manar) untuk bertanya tentang berbagai macam wacana. Salah satu pertanyaannya kepada jurnal tersebut adalah mengapa umat Islam terbelakang sementara umat lain maju? Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Syakib Arsalan dalam bukunya “Li-madza Ta‘akhkhara al-Muslimun wa Li-madza Taqaddama Ghaeruhum”, yang diterbitkan di Mesir beberapa bulan setelah itu. Terlihat di sini bahwa pemikiran kritis dan reformis Basyuni mulai tumbuh karena pengaruh tulisan-tulisan Rasyid Ridha yang banyak dibacanya.

Selain itu, Basyuni juga telah menterjemahkan dua karya Rasyid Ridha ke dalam bahasa Melayu, menulis tujuh buku berbahasa Melayu, dan dua buku berbahasa Arab. Buku-bukunya merupakan karya sederhana, tetapi semuanya merefleksikan sikap reformisnya. Misalnya, pada pendahuluan bukunya yang berjudul “Nur al-Siraj fi Qissa al-Isra‘ wa al-Mi‘raj, ia mengemukakan bahwa penulisan buku ini bertujuan untuk mengevaluasi ceramah-ceramah yang disampaikan pada acara peringatan Isra dan Mi‘raj yang telah berlaku di kampungnya. Ia mengusulkan agar cerita-cerita yang disampaikan pada acara tersebut didasarkan pada hadis sahih. Dalam karya lain “Al-nusus wa al-Barahin”, ia bicara tentang topik-topik yang berkaitan dengan isu-isu lokal. Karya tersebut menceritakan adanya beberapa masjid di Sambas yang tidak digunakan untuk salat jum‘at karena jama‘ahnya kurang dari empat puluh orang (syarat minimal sahnya salat jum‘at menurut madzhab Imam Syafi‘i). Sementara, menurut Basyuni, yang mendasarkan pandangannya pada hadis dan fiqh kontemporer, masjid-masjid tersebut hendaknya tetap dipergunakan salat jum‘at meskipun jama‘ahnya kurang dari empat puluh orang. Sebab, lanjutnya, salat jum‘at tetap dianggap sah meskipun hanya diikuti oleh sedikit orang.

Kedua karya di atas, menunjukkan bahwa pemikiran Basyuni tergolong dalam pemikiran pembaharu Islam. Sebab, ia tampak serius memikirkan dan menyikapi fenomena kehidupan masyakarat Islam di sekitar Sambas, agar mereka terbebas dari belenggu sistem yang stagnan menuju kemajuan (modern) dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam hakiki. Jalan yang ditempuh untuk membebaskan dan memajukan masyarakatnya tergolong akomodatif dan terkadang radikal. Namun demikian, munculnya pemikiran dan pembaharuan seperti yang dilakukannya adalah bentuk riil dari hasil interaksi intensif antara pengetahuan Islam yang dimiliki dan persoalan kemasyarakatan yang dihadapi.

Pemikiran pembaharuan Basyuni tersebut, tentunya tidak terlepas dari pengaruh gerakan-gerakan pembaruan pemikiran keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Timur Tengah yang muncul di awal abad 19. Di samping itu, ketika belajar di Kairo, Mesir, ia pernah berinteraksi langsung dengan salah satu tokoh pembaharu Islam, Rasyid Ridha, dan terus berkorespondensi selama ia tinggal di Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Tampak di sini bahwa pembaharuan yang diusungnya tersebut bertujuan untuk menyegarkan kembali pemahaman ajaran Islam yang dipandang tidak relevan lagi dengan semangat modernitas. Hal ini dapat dilihat dari gerakan-gerakan pembaharuannya yang berkisar pada beberapa tema penting keagamaan, baik dalam lapangan akidah (tauhid/ilmu kalam) maupun dalam lapangan ibadah (fiqh).

Kini, sayangnya, gerakan pembaharuan yang telah dilakukan Basyuni tidak ada yang meneruskannya, karena tak seorang pun dari muridnya yang dapat menggali pemikirannya secara utuh, sehingga Sambas kembali menjadi wilayah yang jauh dari gerakan pemikiran Islam.

3. Karya

Sebagai seorang ulama, Basyuni Imran telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:
Bidayatut Tauhid fi ‘Ilmit Tauhid, kutipan dari buku Al-Jawahir al-Kalamiyah karya Syeikh Thahir al-Jazairi, Kalimah at-Tauhid karya Syeikh Husein Wali al-Mashri, dan Kifayah al-‘Awam. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1344 H.
Cahaya Suluh Pada Menyatakan Juma‘at Kurang Daripada Empat Puluh. Singapura: Mathba‘ah Al-Ikhwan, 1340 H.
Tazkir Sabilin Najah fi Tarkis Shalah (Jalan Kelepasan Pada Mengingati Orang Yang Meninggalkan Sembahyang). Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1349 H.
Khulashatus Siratil Muhammadiyah (Haqiqat Seruan Islam). Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1351 H/1932 M.
Husnul Jawab ‘an Itsbatil Ahillati bil Hisab. Diberi Kata Pengantar oleh Syeikh Tahir Jalaluddin al-Minankabawi. Penang, Malaysia: Maktabah az-Zainiyah, 1938.
Irsyadul Ghilman ila Adabi Tilawatil Quran. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, 1352 H/1934 M.
Durusut Tauhid As-Saiyid Muhammad Rasyid. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, tanpa tahun.
Nurus Siraj fi Qishshatil Isra‘ wal Mi‘raj. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, tanpa tahun.
Kumpulan Khutbah Juma‘at, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan Gerhana. Singapura: Mathba‘ah Al-Ahmadiah, tanpa tahun.

4. Penghargaan

Sebagai ulama besar, Basyuni Imran mendapat gelar kehormatan ‘Maharaja Imam‘ dari Kesultanan Melayu Sambas pada tahun 1913.

Sumber :

http://let.uu.nl

http://www.nla.gov

http://ulama-nusantara.blogspot.com

Habib Husein Alkadrie

1. Riwayat Hidup

Habib Husein Alkadrie lahir di Tarim Ar-Ridha Hadralmaut, Yaman Selatan, pada tahun 1120 H/1708 M. Nama lengkapnya adalah As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad Alkadrie, atau disebut juga dengan nama Jamalul Lail dan Ba ‘Alawi, yang konon nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Nama besarnya adalah Tuan Besar Mempawah.

Habib Husein dididik dengan ajaran-ajaran Islam oleh orang tuanya hingga berumur 18 tahun. Setelah itu ia tidak hanya belajar Islam, namun juga belajar ilmu pengetahuan umum. Ia pernah mengembara ke negeri Kulaindi dan tinggal di sana selama empat tahun. Di salah satu kota besar di Yaman Selatan ini, ia belajar tentang ilmu agama dan juga ilmu pengetahuan umum kepada Sayyed Muhammad Hamid. Akhirnya ia menguasai disiplin ilmu pengetahuan agama dan umum serta memiliki wawasan luar negeri yang mendalam. Bahkan, ia juga belajar ilmu pelayaran dan perdagangan, dan bergabung dengan usaha pelayaran dagang di sekitar Teluk Persia sampai ke Kalkuta dan di pantai barat Afrika. Di Kalkuta ini ia juga sempat belajar banyak hal.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang amat memadai ini, Habib Husein terdorong untuk menambah pengalamannya dengan berlayar lebih jauh lagi ke negeri Timur, yang banyak terdapat kerajaan-kerajaan Islam. Motivasinya tidak hanya untuk berdagang, namun juga untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia termasuk dalam kelompok “empat sahabat” yang pergi ke wilayah Timur (Indonesia). Tiga ulama lain yang turut beserta dengan dirinya adalah: Saiyid Abu Bakar al-‘Aidrus (dengan gelar Tuan Besar Aceh) yang menetap dan wafat di Aceh, Saiyid Umar as-Sagaf (Tuan Besar Siak) yang menetap, mengajar, dan wafat di Siak, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi (Datuk Marang), yang menetap dan mengajar di Terengganu.

Habib Husein kemudian melanjutkan pengembaraan ke Aceh. Ia menetap di sana selama satu tahun dengan tujuan menyebarkan Islam dan mengajarkan kitab. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Siak, Betawi (tinggal selama tujuh bulan), dan Semarang (menetap selama dua tahun). Ketika menetap di Semarang, ia berteman baik dengan Syeikh Salim bin Hambal. Keduanya kemudian pergi berlayar ke negeri Matan. Sesampainya di sana mereka kemudian menemui Saiyid Hasyim al-Yahya dengan gelar Tuan Janggut Merah, seorang ulama yang hebat, gagah, dan berani.

Setelah menetap beberapa hari di Matan, Habib Husein dan Syekh Salim kemudian dijamu oleh Sultan Matan. Pada saat jamuan makan dengan sultan digelar, ada suatu kisah menarik yang mencerminkan kecerdikan ilmu Habib Husein ketika menyikapi kejadian yang berkenaan dengan tempat sirih adat istiadat kesultanan yang dikeluarkan di hadapan sultan dan para punggawa kesultanan. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat suatu benda besi buatan Bali dengan ukiran kepala ular yang ada di dalam tempat siri tersebut. Di hadapan Sultan Matan dan para pembesar kesultanan, Sayid Hasyim mematah-matah dan menumbuk-numbuk benda tersebut dengan tongkatnya. Kontan saja, Sultan marah terhadap sikap Saiyid Hasyim. Habib Husein mengambil benda yang telah tercerai-berai tersebut, yang kemudian diusap-usap dengan air liurnya. Atas izin Allah SWT, benda tersebut tiba-tiba kembali utuh seperti sedia kala.

Sultan Matan mengagumi kesaktian yang dimiliki Habib Husein. Beberapa hari setelah acara jamuan makan tersebut, Sultan Matan menunjuk Habib Husein sebagai guru di negeri Matan. Di samping itu, Sultan Matan juga mencarikan istri untuk Habib Husein, yaitu Utin Candramidi (Nyai Tua). Perkawinan mereka dikaruniai empat putra-putri, yaitu: Khadijah, Syarif Abdurrahman, Syarifah Mariyah, dan Syarif Alwi Alkadrie. Syarief Abdurrahman Alkadrie dikenal sebagai tokoh yang pernah mendirikan Kesultanan Kadriah (Pontianak) di Kalimantan Barat.

Setelah menetap di Matan selama dua hingga tiga tahun, Habib Husein didatangi seseorang yang merupakan utusan Raja Mempawah (Upu Daeng Menambon dengan gelar Pangeran Tua) dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu. Surat yang dibawa isinya tiada lain adalah bujukan raja terhadap Habib Husein agar ia bersedia pindah ke Mempawai. Habib Husein tidak langsung menerima tawaran tersebut karena dirinya masih betah tinggal di Matan. Utusan raja tersebut kemudian kembali ke Mempawai dengan tangan kosong. Kesediaan Habib Husein untuk menetap di Mempawah terwujud setelah dirinya merasa adanya ketidakcocokan dengan sikap dan pendirian Sultan Matan.

Habib Husein pindah ke Mempawah pada 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M, dan menetap di Kampung Galah Hirang. Kedatangannya di tempat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di Mempawah. Banyak orang dari pelbagai penjuru yang datang ke Mempawah. Ada pengunjung yang tujuannya untuk berniaga, namun tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri untuk berguru kepada Habib Husein. Ia merupakan mufti pertama di Mempawah. Ketika mengajar, yang diutamakan olehnya adalah pelajaran lughah ‘Arabiyah (bahasa Arab). Dalam tempo yang singkat, Kampung Galah Hirang berkembang sangat pesat, bahkan lebih ramai dari pusat Kesultanan Mempawah sendiri. Setelah Upu Daeng Menambon (Sultan Mempawah) wafat, puteranya yang bernama Gusti Jamiril kemudian menjadi anak angkat Husein Al-Qadri. Gusti Jamiril diasuh oleh Habib Husein di Kampung Galah Hirang. Pada tahun 1166 H/1752 M, Gusti Jamiril dinobatkan sebagai Sultan Mempawah menggantikan ayahnya dengan gelar Penembahan Adiwijaya Kesuma.

Kebesaran nama Habib Husein (Tuan Besar Mempawah) tersebar luas hingga ke Asia Tenggara. Ia merupakan penganut madzhab Syafii. Ia juga suka dengan ilmu tasawuf. Amalan tasawuf yang sering dilakukannya adalah Ratib al-Haddad dan Tarekat Qadiriyah. Ketika menjadi mufti Mempawah, yang diajarkannya kepada masyarakat umum lebih berupa amalan dan bercorak memberi keterangan (syarah).

Habib Husein wafat pada pukul 02.00 petang, tepatnya pada tahun 1184 H/ 1771 M, di Sebukit Rama Mempawah, dalam usia 64 tahun. Ia pernah berwasiat bahwa yang layak menggantikan dirinya sebagai mufti Mempawah adalah Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, ulama asal Patani, Thailand Selatan. Untuk melaksanakan wasiat tersebut, pihak pemerintah Kesultanan Mempawah kemudian melantik Syeikh al-Fathani sebagai mufti di kesultanan ini dengan gelar Maharaja Imam Mempawah.

2. Pemikiran

(Dalam proses pengumpulan data)

3. Karya

(Dalam proses pengumpulan data)

4. Penghargaan

Habib Husein pernah menjabat sebagai mufti di Kesultanan Matan. Pada saat yang bersamaan ia juga ditunjuk sebagai patih di kesultanan ini. Ia juga pernah menjabat sebagai mufti di Kesultanan Mempawah, mufti pertama di kesultanan ini. Ia berperan sangat besar terhadap dakwah dan perkembangan ajaran Islam di Kalimantan Barat pada saat itu.

Sumber :
Wan Mohd. Shaghir Abdullah, “Husein al-Qadri: Penyebar Islam Kalimantan Barat”, dalam http://ulama-nusantara.blogspot.com.
http://www.borneo-tribune.com.

Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi

1. Riwayat Hidup

Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang agama dan adat yang kuat pada tanggal 26 Juni 1860 M/6 Dzulhijjah 1276 H di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya adalah seorang hakim dari kaum Paderi yang sangat menentang keberadaan kolonialisme di Minangkabau, Sumatera Barat.

Masa kecil Ahmad Khatib dihabiskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Pada tahun 1870, ia masuk sekolah pemerintah Belanda di Minangkabau, Sumatera Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidi­kannya ke sekolah guru (kweekschool) di Bukittinggi. Sebagaimana anak-anak dari kaum Paderi lainnya, selain belajar di sekolah formal, ia juga belajar ilmu agama kepada orang tua dan guru ngajinya di Surau.

Pada tahun 1881, Ahmad Khatib pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di kota ini, ia belajar kepada ulama Mekah, seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Di kota ini pula, ia kemudian mendapatkan wawasan baru tentang keislaman dan kondisi dunia Islam yang sedang terjajah, yang pada gilirannya menyadarkan dirinya akan pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan umat Islam untuk melepaskan diri dari penjajahan. Kesadaran ini, ia tanamkan kepada murid-muridnya, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdullah Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, dan Kyai Ahmad Dahlan, yang di kemudian hari menjadi pelopor gerakan pembaharuan agama sekaligus sebagai tokoh-tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi merupakan ulama yang memiliki pendirian kuat dan menguasai berbagai displin ilmu. Dalam bidang fiqh dan akidah, ia masih tetap berpegang teguh pada madzhab Syafi‘i dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Kedua hal inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram dan berhak menyandang gelar syekh. Ia wafat pada tanggal 9 Jumada al-Awal 1334 H/13 Maret 1916 M di Mekah, Saudi Arabia.

2. Pemikiran

Menurut riwayat, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi merupakan salah seorang tokoh intelektual abad ke-19 yang membawa gerakan pembaharuan (modernisme) Islam di Indonesia, khususnya daerah Minangkabau, meskipun setelah menunaikan ibadah haji (1882) hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah kembali lagi ke tanah kelahirannya. Namun demikian, ia tetap menjalin hubungan intensif dengan orang-orang Indonesia, baik melalui mereka yang menunaikan ibadah haji maupun melalui para muridnya yang memperdalam ilmu agama di Mekah. Jabatannya sebagai imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram membuka peluang yang luas baginya untuk mentransformasikan pemikiran-pemikiran reformatif kepada para jama‘ah haji dan murid-muridnya.

Pada dasarnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi pemikiran Syekh Ahmad Khatib, pertama, ia hidup pada masa kemunculan gerakan Islamic Revivalism yang bermarkas di Mekah; kedua, ia menyaksikan perkembangan gerakan antikolonialisme di dunia Islam yang semakin mendunia. Dengan demikian, setidaknya ada dua bidang yang menjadi fokus pemikirannya, yaitu bidang akidah dan bidang politik.

a. Bidang Akidah

Syekh Ahmad Khatib banyak menentang praktek-praktek adat dan tingkah laku yang bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya tentang praktek tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyyah di Minangka­bau, Sumatera Barat. Di samping itu, ia juga menolak hukum waris adat Minangkabau yang menganut sistem matrilinieal (adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu), yang kemudian menjadi bahan perdebatan dengan kaum adat tanpa berkesudahan.

Pada tahun 1906, ia menulis buku yang berjudul “Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin” yang merupakan tulisan sanggahan terhadap tarekat Naqsyabandiyyah al-Khalidiyah di Minangkabau. Kitab tersebut mengundang kemarahan seluruh penganut tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah dan penganut-penganut tarekat lainnya. Syekh Muhammad Sa‘ad Mungka (salah seorang ulama dari ‘kaum tua‘ yang menganut tarekat Naqsyabandiyyah) menanggapi karya tersebut dengan bukunya yang berjudul “Irghamu Unufi Muta‘annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin.”

Dengan terbitnya karya Mungka tersebut, Syekh Ahmad Khathib al-Minankabawi kemudian menjawabnya kembali dengan bukunya yang berjudul “Al-Ayatul Baiyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafati Ba‘dhil Muta‘ashshibin.” Karya ini juga kembali disanggah oleh Syekh Muhammad Sa‘ad Mungka dengan karyanya yang berjudul “Tanbihul ‘Awam ‘ala Taqrirati Ba‘dhil Anam.” Publikasi perdebatan-perdebatan ini kemudian membangkitkan semangat para pembaharu Islam di Minangkabau, yang kemudian menjalar ke Pulau Jawa seperti gerakan pembaharuan agama ala Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan. Setelah karya ini, tidak terdapat sanggahan kembali dari Syekh Ahmad Khathib al-Minankabawi.

b. Bidang Politik

Menurut Haji Agus Salim, dalam suatu seminar di Cornel University (4 Maret 1953), Syekh Ahmad Khatib adalah ulama yang anti Belanda. Perasaan itu selalu ia gelorakan kepada murid-muridnya di Mekah. Ia berpendapat bahwa berperang melawan penjajah adalah jihad di jalan Allah. Kebenciannya terhadap kolonialis dapat dilihat dari hubungannya yang kurang baik dengan Snouck Hurgronje, ilmuwan dan orienttalis asal Belanda, ketika mengunjunginya di Mekah pada tahun 1885.

3. Karya

Sebagai ulama besar Melayu yang bermukim di Mekah, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi telah menulis beberapa karya, baik berbahasa Melayu maupun berbahasa Arab, di antaranya:
Al-Jauharun Naqiyah fil A‘mali Jaibiyah (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al- Maimuniyah, 1309 H.
Hasyiyatun Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah Darul Kutub al-‘Arabiyah al-Kubra, 1332 H.
Raudhatul Hussab fi A‘mali ‘Ilmil Hisab (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1310 H.
Ad-Da‘il Masmu‘ fir Raddi ‘ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma‘a Wujudil Ushl wal Furu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
Al-Manhajul Masyru‘ Tarjamah Kitab Ad-Da‘il Masmu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
‘Alamul Hussab fi ‘Ilmil Hisab (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-‘Amirah al-Miriyah, 1313 H.
An-Nukhbatun Nahiyah Tarjamah Khulashatil Jawahirin Naqiyah fil A‘malil Jabiyah (bahasa Melayu).
Dhau-us Siraj (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, 1325 H.
Shulhul Jama‘atain bi Jawazi Ta‘addudil Jum‘atain (bahasa Arab). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1312 H.

4. Penghargaan

Atas penguasan dan pengetahuannya tentang madzhab imam Syafi‘i, Syekh Ahmad Khatib telah diangkat sebagai “Imam Khatib dan Mufti Besar Madzhab Syafi‘i” di Masjid al-Haram, Mekah, sehingga ia berhak mengajarkan madzhab Syafi‘i dan menyandang gelar ‘syekh‘. Menurut riwayat, ia adalah satu-satunya ulama Indonesia yang mencapai penghargaan setinggi itu.

(TN/tkh/9/9-07)

Sumber :

http://ulama-nusantara.bolgspot.com

http://www.kotasantri.com
http://www.republika.co.id
Majalah Percikan Iman, No. 5, Tahun I, November

Mufti Jamaluddin Al-Banjari

1. Riwayat Hidup

Nama lengkap Mufti Jamaluddin al-Banjari adalah Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ia lahir pada tahun 1780 di Banjar (kini Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia. Ayahnya bernama Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, merupakan tokoh ulama terkenal asal Kalimantan Selatan. Jamaluddin al-Banjari memperoleh pendidikan agama dari ayahnya sendiri. Ibunya bernama Go Hwat Nio atau dikenal dengan sebutan Tuan Guat, yang merupakan keturunan China namun kemudian memeluk Islam melalui bimbingan dari Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Jamaluddin al-Banjari mempunyai lima orang saudara, dua di antaranya laki-laki (al-‘Alim al-‘Allamah Khalifah Hasanuddin dan al-‘Alim al-‘Allamah Khalifah Zainuddin), dan tiga lainnya perempuan (Aisyah, Raihanah, dan Hafsah).

Keluarga dekat Jamaluddin al-Banjari banyak yang menjadi mufti. Tercatat ada sekitar sepuluh orang yang menjadi mufti, yaitu 1). Jamaluddin al-Banjari (dirinya sendiri); 2). Ahmad bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 3). Muhammad As‘ad bin Utsman; 4). Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As‘ad; 5). Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 6). Muhammad Khalid bin ‘Allamah Hasanuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 7). Muhammad Nur bin al-‘Alim al-‘Allamah Qadi Haji Mahmud; 8). Muhammad Husein bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; 9). Jamaluddin bin Haji Abdul Hamid; 10). Syeikh Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad ‘Afif bin ‘Alimul ‘Allamah Qadi Abu Na‘im bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Jamaluddin al-Banjari sendiri pernah menjadi mufti di Martapura, sebuah wilayah di Kesultanan Banjar. Ia memiliki pengaruh yang sangat besar pada masa pemerintahan Sultan Adam (1825 M – 1857 M). Mufti Jamaluddin al-Banjari berkontribusi sangat penting dalam perumusan Undang-Undang Sultan Adam (1251 H /1835 M). Ia kemudian dikenal sebagai ahli undang-undang Kesultanan Banjar. Pendapat dan pandangannya banyak mempengaruhi dalam setiap proses perumusan undang-undang kesultanan. Pada pasal 31, misalnya, namanya disebutkan dalam teks undang-undang. Padahal, sangat jarang terjadi ada suatu fatwa dari seorang mufti yang dimasukkan ke dalam sebuah pasal dalam undang-undang kesultanan.

Mufti Jamaluddin al-Banjari pernah mendamaikan perselisihan antara keluarga Diraja Banjar dan pemegang “Surat Wasiat Sultan Adam”. Pada bulan Desember 1855, Sultan Adam pernah menulis surat wasiat yang isinya bahwa pengganti Sultan Adam adalah Pangeran Hidayatullah. Dalam surat tersebut juga dinyatakan bahwa bila anaknya Pangeran Prabu Anom dan cucunya Pangeran Tamjidillah menghalangi surat wasiat tersebut, maka diancam dengan hukuman mati. Sebagai penengah, Mufti Jamaluddin al-Banjari memegang surat wasiat itu dan mencari jalan keluar yang damai antar keduanya.

Pada abad ke-18, Mufti Jamaluddin al-Banjari berperan besar dalam mengembangkan sufisme di Marabahan, yang kini termasuk daerah di Kalimantan Selatan. Aliran sufisme ini secara khusus mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah dengan suluk-nya dan tarekat Syadziliyah. Sebagai puncaknya, aliran sufisme ini dikembangkan oleh puteranya, Abdusshamad, yang merupakan hasil perkawinan Mufti Jamaluddin al-Banjari dengan penduduk lokal bernama Samayah binti Sumandi. Abdusshamad kelak menjadi wali besar di tanah Dayak, sehingga bergelar Datu‘Abdusshamad Bakumpai.

Belum ditemukan data tentang kapan Mufti Jamaluddin al-Banjari wafat. Data yang ada hanya menyebutkan bahwa ia wafat di Sungai Jingah (Ku‘bah), Banjar (kini Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia.

2. Pemikiran

(Dalam proses pengumpula data)

3. Karya

Karya Mufti Jamaluddin Al-Banjari yang sangat berpengaruh dalam literatur Melayu adalah “Perukunan Jamaluddin”. Dalam berbagai versi, karya ini ditulis degan nama: “Perukunan”, “Perukunan Besar”, dan “Perukunan Melayu”. Karya ini diterbitkan oleh Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekkah, pada tahun 1315 H/1897 M. Dalam berbagai versi, ada yang menyebutkan bahwa karya ini sesungguhnya milik saudara perempuannya yang bernama Syarifah binti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Martin van Bruinessen berpendapat bahwa karya tersebut adalah milik anak saudaranya yang bernama Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis. Meski meyakini fakta yang demikian, namun Martin van Bruinessen belum mengetahui alasan mengapa karya tersebut menggunakan nama Mufti Jamaluddin al-Banjari, sehingga menjadi “Perkumpulan Jamaluddin”. Wan Mohd. Shaghir Abdullah berbeda pandangan dengan Martin van Bruinessen bahwa karya tersebut memang benar-benar milik Mufti Jamaluddin Al-Banjari. Dalam tulisannya, Wan Mohd. Shaghir juga mengakui bahwa siapa pemilik sesungguhnya karya tersebut memang masih dalam perdebatan.

Sebenarnya ada banyak karya Mufti Jamaluddin al-Banjari yang lain, namun kurang begitu terkenal. Salah satu yang berhasil diidentifikasi adalah karyanya yang berjudul “Bulugh al-Maram fi Takhalluf al-Muafiq fi al-Qiyam” (1247 H/1831 M). Sementara itu data tentang karya-karyanya yang lain masih dalam proses pengumpulan data.

4. Penghargaan

(Dalam proses pengumpulan data)

(HS/tkh/28/11-07)

Sumber :

Ahmad Syadzali, “Perjumpaan Islam Tradisi dan Dayak Bakumpai”, http://www.ditpertais.net.

Martin van Bruinessen, “Kitab Kuning dan Perempuan, Perempuan dan Kitab Kuning”, http://www.igitur-archive.library.uu.nl.

Wan Mohd. Shaghir Abdullah, “Mufti Jamaluddin Al-Banjari: Ahli Undang-undang Kerajaan Banjar”, http://www.ulama-nusantara-baru.blogspot.com.

Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf

Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Palembang. Banyak ulama dari berbagai penjuru Nusantara mengaji kepada beliau.

Ada pendapat, Palembang bisa di ibaratkan sebagai Hadramaut (markas para Habib dan Ulama besar). Sebab di Palembang memang banyak Habib dan Ulama besar, demikian pula makam-makam mereka. Salah seorang diantaranya adalah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf, yang juga dikenal sebagai wali masthur. Yaitu wali yang karamah-karamahnya tersembunyi. Padahal karamahnya cukup banyak.

Salah satu karamahnya ialah ketika beliau menziarahi orang tua beliau (Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah AL-Jufri) di kampung yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan lebat dan deras. Untuk bebrapa saat beliau mengibaskan tangan beliau ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujanpun reda.

Nama beliau adalah Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai di akhir hayat beliau tinggal di jalan K.H. hasyim Asy’ari No. 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil beliau diasuh oleh Habib Ahmad bin AbduLlah bin Thalib Al-Attas.

Uniknya, hampir setiap pagi buta Habib Ahmad Alatas menjemput muridnya ke rumahnya untuk shalat subuh berjama’ah karena sangat menyaynginya. Saking akrabnya, ketika bermain-main di waktu kecil, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff sering berlindung di bawah jubah Habib Ahmad Alatas. Ketika usia 7 tahun saat anak-anak lain duduk di kelas satu madrasah Ibtidaiyyah, Habib Ahmad belajar ke Tarim Hadramaut Yaman bersama sepupunya Habib Abdullah-yang akrab dipanggil Endung.

Di sana mereka berguru kepada Habib Ali Al-Habsyi. Ada sekitar 10 tahun beliau mengaji kepada sejumlah ulama besar di Tarim. Salah seorang guru beliau adalah Habib Ali Al-Habsyi, ulama besar penulis Maulid Simtuth Durar. Selama mengaji kepada Habib Ali Al-Habsyi , beliau mendapat pendidikan disiplin yang sangat keras. Misalnya sering hanya mendapatkan sarapan 3 butir kurma. Selain kepada Habib Ali , beliau juga belajar tasawuf kepada Habib Alwi bin AbduLlah Shahab . sedangkan sepupu beliau Habib Endung belajar fiqih dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf dan balaghah. Sepulang dari Hadramaut pada usia 17 tahun . Habib Ahmad Al-Kaff menikah dengan Syarifah Aminah Binti Salim Al-Kaff . meski usianya belum genap 20 tahun namun beliau sudah mulai dikenal sebagai ulama yag menjalani kehidupan zuhud dan mubaligh yang membuka majlis ta’lim. Dua diantara murid beliau yakni Habib alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan Al-gathmir belakangan dikenal pula sebagai ulama dan mubaligh.

Selain di Palembang, Habib Ahmad juga berdakwah dan mengajar di beberapa daerah di tanah air, misalnya madrasah Al-Khairiyah Surabaya. Salah seorang murid beliau yang kemudian dikenal sebagai ulama adalah habib Salim bin ahmad bin Jindan ulama terkemuka di Jakarta, yang wafat pada tahun 1969.

Empat Pertanyaan

Ketinggian ilmu dan kewalian Habib Ahmad al-Kaff diakui oleh Habib Alwi bin Muhammad al Haddad ulama besar dan wali yang bermukim di Bogor. Diceritakan pada suatu hari seorang Habib dari Palembang (Habib Ahmad bi Zen bin Syihab) dan rekan-rekannya menjenguk Habib Alwi, mengharap berkah dan hikmahnya.

Mengetahui bahwa tamu-tamunya dari Palembang, dengan spontan Habib Alwi berkata, “Bukankah kalian mengenal Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff ?. Buat apa kalian jauh-jauh datang ke sini, sedangkan di kota kalian ada wali yang maqam kewaliannya tidak berbeda denganku ? saya pernah bertemu dia di dalam mimpi”. Tentu saja rombongan dari Palembang tersebut kaget. Maka Habib Alwi menceritakan perihal mimpinya. Suatu hari Habib Alwi berpikir keras bagaimana cara hijrah dari bogor untuk menghindari teror dari aparat penjajah belanda. Beliau kemudian bertawasul kepada RasuluLlah SAW, dan malam harinya beliau bermimpi bertemu RasuluLlah SAW memohon jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Yang menarik, di sebelah Rasul duduk seorang laki-laki yang wajahnya bercahaya.

Maka RasuluLlah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya semua jalan keluar dari masalahmu ada di tangan cucuku di sebelahku ini”. Dialah Habib Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff. Maka Habib Alwi pun menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada Habib Ahmad al-Kaff- yang segera mengemukakan pemecahan/jalan keluarnya. Sejak itulah Habib Alwi membanggakan Habib Ahmad al-Kaff.

Sebagaimana para waliyullah yang lain, Habib Ahmad al-Kaff juga selalu mengamalkan ibada khusus. Setiap hari misalnya, Mursyid Tariqah Alawiyah tersebut membaca shalawat lebih dari 100.000 kali. Selain itu beliau juga menulis sebuah kitab tentang tatacara menziarahi guru beliau Habib ahmad Alatas. Beliau juga mewariskakn pesan spiritual yang disebut Pesan Pertanyaan yang empat, yaitu empat pertanyaan mengenai ke mana tujuan manusia setelah meninggal.

Lahirnya empat pertanyaan tersebut bermula ketika Habib Ahmad al-Kaff diajak oleh salah seorang anggota keluarga untuk menikmati gambus. Seketika itu beliau berkata, “Aku belum hendak bersenang-senang sebelum aku tahu apakah aku akan mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatku. Apakah aku akan selamat dari siksa kubur, apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku, apakah aku akan selamat dari jembatan shiratal mustaqim”. Itulah yang dimaksud denganempat pertanyaan” yang dipesankannya kepada para murid, keluarga dan keturunannya.

Habib Ahmad al-Kaff wafat di Palembang pada 25 Jumadil akhir 1275 H/1955 Masehi. Jenasah beliau dimakamkan di komplek pemakaman Telaga 60, 14 Hulu Palembang. Beliau meninggalkan lima anak : Habib Hamid, Habib AbduLlah, Habib

Burhan, Habib Ali, dan Syarifah Khadijah.

Habib Abdul Qadir bin Bilfaqih Al-Alawi, Hafal Ribuan Hadis


Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawi dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”

Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.

Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.

Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.

Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”

Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.

Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.

Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.

Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.

Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.

Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.

Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

Diringkas dari manaqib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur