Habib Abdul Qadir bin Bilfaqih Al-Alawi, Hafal Ribuan Hadis


Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawi dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”

Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.

Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.

Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.

Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”

Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.

Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.

Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.

Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.

Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.

Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.

Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

Diringkas dari manaqib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Syeikh Abdul Qodir Jaelani

<                                       >Sering kita mendengar tentang nama seorang sufi besar dan ulama besar bernama Syekh Abdul Qodir Jaelani, atau ada yang menyebut Jiilani. Siapakah sebenarnya beliau? Apa yang menjadi pandangan beliau yang jelas tentu tetap berpegang pada junjungan kita Nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW…berikut informasi dikumpulkan dari berbagai macam sumber…

Syeikh Abdul Qodir Jaelani (bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani) lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M, sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliydan.(Biaografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali). Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali.

Masa Muda

Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau, sehingga sekolah itu tidak muat menampungnya.

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syeikh Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

Perkataan ulama tentang beliau : Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir, beliau menjawab, ” kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin NubalaXX/442). Beliau adalah seorang ‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantaranya dapat diketahui dari perkataan Imam Ibnu Rajab, ”

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik ‘ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh ( dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas. (Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya.) semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi (Nama lengkapnya ialah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’i. Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.). Imam Ibnu Rajab juga berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.”

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, ” Dia (Allah ) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.” Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata ” Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ ( Allah berada diatas ‘arsyNya ) tanpa takwil ( menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah diatas arsy.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515). Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, ” Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (kekasih ) yang tidak berada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, ” Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”( At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516).

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf.

Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah,Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun. Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah ( perantara ) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. I

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeikh Abdul Qadir Jaelani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah.

Awal Kemasyhuran Al-Jaba’I berkata bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani juga berkata kepadanya, “tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat, dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dan memakai lilin dan obor dan memenuhi tempat tersebut. Kemudian aku dibawa keluar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat disekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali RadhiAllahu anhum.

Kemudian Syaikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasululloh SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, ’anakku, mengapa engkau tidak berbicara ?’. ’Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?’. Beliau berkata, ’buka mulutmu’, lalu beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu aku shalat dzuhur dan duduk dan mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, ’buka mulutmu’. Beliau lalau meniup 6 kali kedalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasululloh SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada RasuluLloh SAW. Kemudian akku berkata, ’Pikiran, sang penyelam, mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat’”. Beliau kemudian menyitir :

Idan untuk wanita seperti Laila seorang pria dapat membunuh dirinya, dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis

Dalam beberapa manuskrip saya mendapatkan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, ‘kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang’. Akupun masuk Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka’. ‘sesungguhnya’ kata suara tersebut ,’mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu’.

‘Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku / keyakinanku’ tanyaku.

‘Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu’ jawab suara itu.

Akupun menbuat 70 perjanjian dengan Allah. Diantaranya adalah tidak ada seorangpun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah. Suatu ketika saat aku berceramah , aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. ‘Apa ini dan ada apa?’tanyaku. ‘Rasululloh SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat’ jawab sebuah suara. Sinar tersebut makin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu aku melihat RasuLulloh SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, ’wahai Abdul Qadir’. Begitu gembiranya aku dengan kedatangan RasuluLloh SAW , aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Beliau meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. ’mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan RasuluLloh SAW?’ tanyaku kepadanya. ‘sebagai rasa hormatku kepada Rasulullah SAW‘ jawab beliau.

RasuluLlah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. ‘apa ini ?’ tanyaku. ‘ini’ jawab Rasulullah, ’adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian’. Setelah itu , akupun tercerahkan dan mulai berceramah.

Saat Khidir as. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan di katakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku ’Engkau tidak akan sabar kepadaku’, maka aku akan berkata kepadamu ‘Engkau tidak akan sabar kepadaku’. Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, maka inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini Ar-Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.” Al-Khattab pelayan Syaikh Abdul QAdir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir as lewat, maka akupun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.

Guru dan teladan kita Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli berkata,” seorang Syaikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya yaitu :

Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang Sattar (menutup aib) dan Ghaffar (Maha pemaaf).

Dua karakter dari RasuluLlah SAW yaitu penyayang dan lembut

Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.

Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar

Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.

Dua karakter dari Ali yaitu aalim (cerdas/intelek) dan pemberani.

Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan :

Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syaikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.

Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah

Syaikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syaikh Al-Junaid mengajarkan standar Al-Qur’an dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang Syaikh. Apabila ia tidak hapal Al-Qur’an, tidak menulis dan menghapal Hadits, maka dia tidak pantas untuk diikuti.

Menurut saya (penulis buku) yang harus dimiliki seorang Syaikh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Allah, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan Riyadhah. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemah lembutan dalam mendidik anakknya. Oleh karena itu dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang muuriid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Allah baru sang syaikh memberikan yang lebih berat kepadanya. Sesungguhnya bai’at bersumber dari hadits RasuluLlah SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.

Kemudian dia harus mentalqin si murid dengan zikir lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. Bertanya kepada RasuluLloh SAW, ‘Yaa Rasulullah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi Nya. RasuluLlah berkata,’Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam khalwat (kontemplasinya)’. Kemudian Ali ra. Kembali berkata , ‘Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir’. RasuluLlah berkata,’Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan “Allah” “Allah”. ‘Bagai mana aku berzikir?’. Tanya Ali. RasuluLlah bersabda, ’dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula’. Lalu RasuluLlah berkata, “Laa ilaaha illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara kjeras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama RasuluLlah lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa ilaaha Illallah. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut”.

Syaikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pasda seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada RasulluLlah oleh Mursyidnya saat menghadapi sakaratil maut”.

Karena itulah Syaikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi : Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).

dikumpulkan dari berbagai macam sumber

SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU

SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU (1860-1916), GURU KAUM PEMBARU GENERASI AWAL


Buya Hamka menyebut Syekh Ahmad Khatib bintang Masjidil Haram. Mertuanya sendiri, Saleh Kurdi, tergolong kaya dan sering membantu Syarif manakala penguasa Mekkah itu kesulitan finansial. Beliau guru Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Mengapa penganut mazhab Syafi’i ini mengizinkan murid-muridnya membaca karangan-karangan Abduh?

AHMAD KHATIB sering disebut-sebut pelopor gerakan pembaruan Islam pada awal abad ke-20 di Indonesia. Sekurang-kurangnya guru bagi kaum modernis generasi awal Dia memang guru kaum muda angkatan pertama semisal Ahmad Dahlan, Haji Abdul Karim Amrullah, ayah Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka, Muhammad Jamil Jambek dan Haji Abdullah Ahmad. Tapi jangan lupa, Syekh Khatib juga guru Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi yang dicap kolot itu. Paling kurang tradisional, sebagai lawan modernis yang dilekatkan pada Muhammadiyah yang didirikan Kiai Dahlan

Syahdan, generasi pertama kaum muda itu punya minat yang besar dalam perkara yang berkaitan dengan ilmu hisab. Semangat ilmiah yang satu ini sampai sekarang diwarisi oleh para pemimpin Muhammadiyah, terutama dalam perkara penentuan hari lebaran. Ahmad Dahlan dikirim ke Mekkah untuk belajar, sesudah terjadi heboh dengan penetapan kiblat dalam Masjid Agung di Yogyakarta. Ilmu bumi dan ilmu alam merupakan mata pelajaran kegemaran Dahlan muda. Maka, bukan kebetulan di Mekkah beliau berguru kepada Ahmad Khatib, yang juga mementingkan ilmu yang berhubungan dengan menghitung. Syekh Khatib yang dikenal penentang gigih tarekat dan adat Minangkabau dalam perkara hokum waris ini memang punya reputasi sebagai ahli ilmu hitung dan hisab. Beliau mengarang Raudah al-Hussab fi ‘Ilm al-Hisab, membahas ilmu berhitung dan ilmu ukur, terutama sebagai ilmu bantu untuk hukum Islam, dan Al Jawahir al Naqiyyah fi’l A’mal al Jaibiyyah, berupa pedoman untuk pengetahuan tentang tanggal dan kronologi. Kedua kitab ini diterbitkan di Kairo, masing-masing tahun 1310/1892 dan tahun 1309/1891.

Kita tambahkan, beliau antara lain juga mengarang Kitab Riyadu’l Wardiyah fi-Usulit-Tauhid w’l Furi’il Fiqh”, yang bisa dianggap sebagai pedoman praktis untuk ilmu aqidah dan syari’ah. Dari karangan-karangannya itu, ditambah kitab-kitabnya yang lain, Ahmad Khatib tampaknya tidak mencapai derajat kesarjanaan yang dimiliki oleh Nawawi Banten. Dia mengarang karangan yang lebih sederhana, tetapi karangan yang lebih dekat dengan diskusi sehari-hari, sehingga cukup banyak karangannya yang boleh dianggap sangat relevan. Apalagi sebagian besar karangannya ditulis dalam bahasa Melayu, sehingga merupakan sumbangan dalam mendirikan Khazanah Islam dalam bahasa Indonesia.

Meskipun kaum muda itu memperoleh pengajaran dari Syekh Khatib, bukan sendirinya harus mengikuti paham guru mereka. Sebetulnya tidak aneh: bukankah Washil ibn ‘Atha memisahkan diri dari gurunya, Abul Hasan Asy’ari? Ahmad Khatib tidak bisa membebaskan dirinya dari tradisi keagamaan bermazhab. Beliau tetap berpegang alias bertaqlid kepada mazhab Syafi’i. Dia memang menyuruh murid-muridnya membaca karangan Muhammad Abduh, tokoh pembaru dari Mesir yang pemikirannya amat berpengaruh pada Dahlan itu. Tetapi hal ini tidak berarti Ahmad Khatib setuju dengan pemikiran-pemikiran Abduh. Rupanya beliau membolehkan murid-muridnya membaca karangan-karangan Abduh, supaya pemikiran-pemikiran pembaharu dari Mesir itu ditolak.

ANAK GOLONGAN ULAMA DAN ADAT
Ahmad Khatib boleh dibilang berasal dari keluarga terkemuka dan dinamis. Dia lahir di Bukittinggi pada tahun 1855. Ayahnya Jaksa Kepala di Padang. Ibunya anak Tuanku nan Renceh, ulama terkemuka dari golongan Paderi. Tidak syak lagi, darah yang mengalir di tubuh Ahmad Khatib berasal dari golongan ulama dan kaum adat. Unsur ulamalah yang kemudian memainkan peranan lebih penting dalam hidupnya, dan kelak bahkan dia menantang beberapa unsur dan kedudukan golongan adat. Ibunya adalah adik ibu Syekh Taher Jalaluddin (1869-1956). Dia juga punya seorang keponakan yang kelak menjadi orang besar di Republik. Namanya Haji Agus Salim.
Pada usia yang masih muda sekali, Ahmad Khatib dibawa ayahnya ke Mekkah dan kemudian bermukim di sana. Perkembangan karirnya di Mekkah digambarkan oleh Hamka sebagai berikut:
“… pada tahun 1296, yaitu setelah 10 tahun dia di Mekkah, karena baik budi dan luas ilmunya dan disayangi orang, beliau disayangi oleh seorang hartawan Mekkah, bernam Syekh Saleh Kurdi, saudagar dan penjual kitab-kitab agama. Syekh Saleh berasal dari keturunan Kurdi dan mazhab orang Kurdi adalah Syafi’i… Oleh karena Syekh Sleh seorang hartawan dan baik hubungannya dengan pihak kerajaan syarif-syarif di Mekkah, maka Ahamd Khatib dikenal oleh istana dan ulama-ulama lain; dan memang sikap budi bahasanya dan keteguhan pribadinya menunjukkan pula bahwa dia seorang yang berdarah dan berbudi bangsawan. Bintangnya cepat naik. Menurut keterangan puteranya Abdul Hamid Al-Khatib, dalam satu jamuan makan berbuka puasa di istana Syarif, ketika Syarif menjadi imam maghrib di sana, ada bacaan yang salah, pemuda Ahmad Khatib yang menjadi makmum dengan serta merta menegur kesalahanitu, sehingga sehabis shalat, Syarif bertanya kepada Syekh Saleh Kurdi, siapa pemuda ini. Setelah diterangkan bahwa itu adalah menantunya, Syarif memuji Syekh Saleh mendapat menantu pemuda yang begitu tampan, manis, alim, dan berani. Inilah yang kelaknya menjadi pintu dia akan diangkat menjadi imam dari golongan Syafi’i di Masjidil Haram dan kemudian ditambah lagi menjadi khatib, merangkap pula menjadi Guru Besar, ulam yang diberi hak mengajar agama di Masjidil Haram.

Menurut Snouck Hurgronje, tugas seorang Imam di Masjidil Haram cukup terbatas: dia adalah hanya anggota dari suatu kelompok orang yang secara bergiliran memimpin salat menurut Mazhab Syafi’i. Memamg jarang sekali seorang yang bukan Arab atau orang yang bukna berasal dari Mekkah diangkat menjadi anggota tim ini.

Waktu Snouck Hurgronje bermukim di Mekkah (1884/5), Syekh Ahmad Khatib belum begitu terkenal. Orientalis yang menyamar dengan nama Abdul Ghaffar itu tidak menyebut namanya dalam buku tentang Mekah. Satu dasawarsa kemudian, 1894, dan seterusnya barulah Snouck menulis laporan tentang Syekh Khatib. Bahkan pada tahun 1904 Ahmad Khatib disebut sebagai: “Seorang yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji, mengunjungi dia”.

Menurut Haji Agus Salim dalam kuliahya di Universitas Cornell pada tahun 1953, Syekh Ahmad Khatib tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Snouck Hurgronje waktu dia mengunjungi Mekkah. Memang dalam buku Snouck Hurgronje banyak tokoh yang menerima gambaran yang lengkap tetapi Ahmad Khatib tidak, barangkali karena dia masih terlalu muda pada waktu itu. Pada tahun 1905 Snouck Hurgronje dimintai pendapatnya tentang kemungkinan Agus Salim diangkat sebagai pegawai Kedutaan di Jeddah dan Residen Riau pada waktu itu mengemukakan keberatan: “Mungkin Agus Salim akan dipengaruhi oleh pamannya di Mekakh yang begitu fanatik antiadat. Pada waktu itu Snouck Hurgronje tidak melihat bahaya dalam posisi Agus Salim di Jeddah.

Boleh jadi Snouck tidak begitu menyukai Syekh Khatib. Bahkan orang yang pernah menikahi mojang priangan ini, dan punya anak pula tapi dia tidak mengakui perkawinan dan otomatis anaknya itu di depan hukum Belanda, punya pandangan yang miring terhadap mertua Syekh Khatib. Menurutnya Saleh Kurdi seorang woekeraar, alias rentenir, yaitu orang yang meminjamkan uang dengan bunga yang terlalu tinggi. Lantaran kaya sekali dia pernah menolong Syarif yang sedang kesulitan uang. Dengan begitu dia pun menjadi cukup akrab dengan penguasa Mekkah itu, dan bisa mendapatkan kedudukan terhormat untuk menantunya. Memang pandangan Snouck Hurgronje tentang Ahmad Khatib ini penuh dengan kritik tajam dan fitnah. Kritik ini mungkin didalangi oleh Sayid Usman yang berpolemik dengan dia. Yang pasti, Saleh Kurdi juga aktif di bidang penjualan buku dan penerbitan. Pada tahun 1926 Hamka pernah bekerja di perusahaan percetakannya itu.

AHMAD KHATIB DAN NASIONALISME

Seperti diungkapkan Karel Steenbrink (1984), sesudah Sarekat Islam didirikan pada 1912, Sayid Usman, pegawai pemerintah Hindia Belanda yang bertugas melancarkan pekerjaan Snouck Hurgronje, dan sudah begitu tua waktu itu, masih bersedia mengarang brosur yang menentang organisasi ini. Judulnya Menghentikan Rakyat Biasa dari Bergabung dengan Sarekat Islam. Dalam tulisannya, ulama Betawi ini menuduh Sarekat Islam sebagai kelompok yang tidak Islam sama sekali. Dia juga mencap bahwa Haji Umar Said Cokroaminoto (HOS Tjokroaminoto), pemimpin organisasi ini, “tidaklah hidup sesuai dengan norma-norma Islam” Brosur ini dikirimkan oleh pemerintah kolonial kepada guru-guru agama di Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Indonesia. Dan Ahmad Khatib menolak keras pendapat musuh lamanya itu. Kita ketahui, kelak keponakannya, Haji Agus Salim, bergabung dengan Sarekat Islam dan menjadi orang penting di sini. Salah satu peran terbesar Haji Agus Salim adalah membersihkan organisasi dari anasir komunisme.
Ahmad Khatib memang tidak sekali-dua menyerang Belanda. Dalam berbagai tulisannnya, Ahmad Khatib menyamakan Belanda dengan orang kafir yang mengguncangkan agama islam di hati penganutnya. Dalam bukunya, Dhau as-Siraj pada menyatakan Isra’ dan Mi’raj, yang diterbitkan tahun 1894, ia antara lain menulis:

“Ketahuilah olehmu, bahwasanya hamba, tatkala mendengar daripada ihwal saudara-saudara kita daripada orang Melayu yang telah bernama dengan orang Islam, yang telah bercampur mereka itu dengan orang kafir, sebelum mengetahui ia daripada agamanya lain daripada syahadat saja, dan menyatakanlah orang putih itu padanya syubhat-syubhat pada agama Islam yang ada setengah dari pada syubhat itu mi’raj Nabi kita kepada langit dan menerima pula orang jahil akan demikian syubhat dan memungkiri pulalah ia akan mi’raj Nabi kita, karena mengingat kata gurunya orang kafir itu karena jahilnya dengan hakekat agamanya dan karena buta-butanya daripada ilmu dan karena itu adalah ia kepada barang mana ditariknya oleh orang putih, niscaya tertariklah ia sertanya dan tiada mengetahui ia akan bodohnya. Maka kasihlah hati hamba kepada mereka itu mendengar hal mereka itu, karena telah jadi mereka itu dengan demikian itu murtad, keluar daripada agama Islam dan tiadalah harus bahwa disembahyangkan mereka itu kemudian daripada mati…”

Ahmad Khatib wafat pada tahun 1916 dalam usia sekitar 60 tahun. Pada waktu itu diskusi antara “kaum tua” dan “kaum muda” baru mulai, dan belum jelas juga siapa yang akhirnya akan masuk salah satu golongan. Oleh karena itu tidak mustahil bila dia masih berubah pendapatnya andaikata dikaruniai usia yang lebih panjang

Muhammad Nafis Al-Banjari, Penyebar Islam di Pedalaman Kalimantan

Pengantar

Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi alias yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?

Kalimantan tidak hanya melahirkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan karyanya “Sabilul Muhtadin” yang masyhur itu. Dari pulau yang dilintasi garis khatulistiwa ini juga mengorbit sebuah bintang yang kini menempati gugusan ulama terkemuka Nusantara. Dialah Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari yang salah satu karyanya, “Durr Al-Nafis”, masih dibaca sampai sekarang.

Setelah Arsyad Al-Banjari, Muhammad Nafis adalah ulama paling berpengaruh di Kalimantan. Muhammad Arsyad lebih masyhur sebagai ulama fiqh lewat karyanya yang monumental tadi, sedangkan Muhammad Nafis lebih terkenal sebagai ahli tasawuf, melalui karyanya yang juga beredar luas di Nusantara.

Muhammad Nafis bin Idris bin Husain Al-Banjari berasal dari kluarga bangsawan. Beliau dilahirkan di Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1148 Hijri atau tahun 1735 Masehi. Nafis hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Syekh Arsyad, yang lahir pada 1122/1710. Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di desa Kelua, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin. Nafis melanjutkan pelajarannya ke Makkah, setelah belajar dasar-dasar keislaman di daerah kelahirannya. Mungkin dia belajar bersama Al-Falimbani dan Muhammad Arsyad dan para pelajar lainnya di Nusantara. Mereka memang punya guru-guru yang sama seperti As-Samani, Muhammad Al-Jauhari, Muhammad Siddiq. Dia juga belajar pada Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi, yang dua tahun lebih muda, Syaikh Al-Azhar, dan juga guru Dawud Al-Fatani. Al-Syarqawi merupakan ulama hadis terkemuka, yang menjadi isnad (sandaran) Muhammad At-Tirmasi, ulama hadis terkemuka kita, yang asal Tremas, Jawa Timur, yang tinggal dan meninggal di Makkah.

Muhammad Nafis mengikuti mazhab Syafi’i dan menganut ajaran kalam Asy’ari. Dia juga bergabung dengan beberapa tarekat seperti Qadiriyah, Syathariyyah, Naqshabadiyah dan Khalwatiyah. Nafis, seperti terungkap dalam “Durr An-Nafis” menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan, dan menolak faham determinisme fatalistik Jabariyyah yang berlawanan dengan kehendak bebas (Qadariyyah). Dia berpendapat bahwa kaum muslimin musti berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik dengan cara melakukan amal shalih (perbuatan baik) dan menghindari kejahatan (nahy ‘anil munkar). Penekanannya yang kuat akan aktivisme muslim ini menyebabkan bukunya kena pemberedelan Belanda. Pemerintah kolonial khawatir kitabnya itu akan mendorong kaum muslimin melancarkan jihad.

Tidak diketahui kapan persisnya Muhammad Nafis Al-Banjari balik ke Nusantara. Mungkin dia langsung pulang ke Kalimantan, tidak mampir-mampir dulu di tempat lain, sebagaimana, misalnya, Syekh Arsyad yang sempat ngendon dua bulan di Betawi seraya membetulkan arah qiblah sejumlah masjid di sini. Syekh memang diminta temannya, Abdurrahman Al-Batawi, agar tidak buru-buru pulang kampong. Tapi Syekh menggunakan waktunya yang relatif singkat itu untuk da’wah di kalangan muslim Betawi. Kembali ke tokoh kita. Bebeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebarluasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.

Islamisasi di Kalimantan

Sebelum Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, boleh dibilang tidak ada upaya-upaya Islamisasi yang serius di Kalimantan. Tidak ada upaya yang serius yang dilakukan oleh para penguasa untuk memajukan kehidupan Islam. Usaha-usaha yang dilakukan para da’i keliling, juga tidak memperoleh kemajuan yang berarti.

Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatra Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak dating ke banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Surian Syah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab.

Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara. Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.

Daya Spiritual dan Kewajiban Syari’at

Nama kitab “Durr Al-Nafis” sesungguhnya amatlah panjang. Lengkapnya, kitab yang ditulis di Makkah pada 1200/1785 ini: “Durr Al-Nafis fi Bayan Wahdat Al-Af’al Al-Asma’ wa Al-Shifat wa Al-Dzat Al-Taqdis”. Kitab ini berkali-kali dicetak di Kairo oleh Dar Al-Thaba’ah (1347/1928) dan oleh Musthafa Al-Halabi (1362/1943), di Makkah oleh Mathba’at Al-Karim Al-Islamiyah (1323/1905), dan di berbagai tempat di Nusantara. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi, sehingga dapat dibaca oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab.

Seperti diungkapkan Doktor Azyumardi Azra, sejarawan dari Universitas Islam Negeri Jakarta, dalam kitabnya itu, Muhammad Nafis dengan sadar berusaha mendamaikan tradisi Al-Ghazali dan tradisi Ibn ‘Arabi. Dalam karyanya ini, di samping menggunakan ajaran-ajaran lisan dari para gurunya, Nafis merujuk pada karya-karya “Futuhat Al-Makkiyah” dan “Fusushl-Hikam” dari Ibn ‘Arabi, “Hikam” (Ibn Atha’illah), “Insan Al-Kamil” (Al-Jilli), “Ihya’ ‘Ulumiddin” dan “Minhaj Al-‘Abidin (Al-Ghazali), “Risalat Al-Qusyairiyyah” (Al-Qusyairi), “Jawahir wa Al-Durar” (Al-Sya’rani), “Mukhtashar Al-Tuhfat al-Mursalah” (‘Abdullah bin Ibrahim Al-Murghani), dan “Manhat Al-Muhaammadiyah” karya Al-Sammani.

Tauhid atau keesaan Tuhan, menurut Muhammad Nafis, terdiri atas empat tahap. Yakni tauhid al-af’al yaitu keesaan perbuatan Tuhan, tauhid al-shifat (keesaan sifat-sifat Tuhan), tauhid al-asma’ (tahid keesaan nama-nama Tuhan), dan tauhid adz-dzat (keesaan esensi Tuhan). Pada tahap tertinggi yaitu tauhid adz-dzat, si pencari kebenaran (salik) akan mengalami fana’, dan selama itu dia akan mencapai musyahadah (penyaksian dan penglihatan) esensi Tuhan. Muhammad Nafis menegaskan, bahwa Dzat Tuhan tidak dapat diketahui melalui indra yang lima dan akal, melainkan hanya dengan kasyf atau intuisi langsung. Untuk mencapai kasyf, Nafis menekankan pentingnya kepatuhan akan syariat baik lahir maupun batin. Kata dia, mustahil seseorang mencapai kasyf tanpa menguatkan daya spiritual dengan cara menjalankan ibadah-ibadah dan kewajiban lain yang ditetapkan syariat.

Ulama Banjar

Ulama Banjar adalah ulama yang berasal dari Tanah Banjar maupun berketurunan suku Banjar. Diantaranya :

  • Ulama yang sudah wafat :
  1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari/Datu Kalampaian, mufti Kesultanan Banjar,Kalsel
  2. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari/Datu Nafis, pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis
  3. Syekh Abdurrahman Siddiq/Datu Sapat, mufti Kerajaan Indragiri, Riau.
  4. Datu Sanggul
  5. Datu Ambulung
  6. Datu Nuraya
  7. Guru Sekumpul
  8. Dato Ishak Baharom, mantan mufti negeri Selangor.
  9. Syekh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti negeri Kedah

Di Kalimantan Selatan, istilah Datu untuk ulama yang sudah wafat artinya sama dengan sebutan Sunan kalau di Jawa.

  • Ulama Banjar masih hidup :
  1. Guru Danau
  2. Ustadz Muhammad Arifin Ilham
  3. Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria, mufti negeri Perak, Malaysia
  4. Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah AlBanjary AlMakky,salah satu ulama kontemporer madzhab syafi’ie di Nusantara, pengarang dan pentahqiq puluhan buku berbahasa Arab

Sultan Saladin Panglima Perang Salib

Islam is not the Enemy Dunia Islam

Dia dikenal sebagai raja, panglima perang yang jago strategi, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat “Saladin Sang Raja Mesir” (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, namun tanpa menindas kaum Kristiani.

Sultan Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin)
Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah tahun 1160. Ia sukses dengan misinya yang membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama.
izier in 1169. There, he inherited a difficult role defending Egypt against the incursions of the Latin Kings of Jerusalem, especially Amalric I. His position was tenuous at first; no one expected him to last long in Egypt where there had been many changes of government in previous years due to a long line of child caliphs fought over by competing viziers. As the leader of a foreign army from Syria, he also had no control over the Shi’ite Egyptian army, which was led in the name of the now otherwise powerless caliph. When the caliph died, in September 1171, Saladin had the imams pronounce the name of the Abassid caliph in Baghdad at Friday prayers, and the weight of authority simply deposed the old line. Now Saladin ruled Egypt, but officially as the representative of Nur ad-Din, who himself conventionally recognized the Abassid caliph.
Saladin memperbaiki perekonomian Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militernya, dan mengikuti anjuran ayahnya untuk tidak memasuki area konflik dengan Nur ad Din. Sepeninggal Nur ad Din, barulah ia mulai serius memerangi kelompok Muslim sempalan dan pembrontak Kristen. Dia bergelar Sultan di Mesir dan menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.
Terlibat dalam Perang Salib
Dalam dua kesempatan, tahun 1171 dan 1173, Saladin diinvasi Kerajaan Kristen Jerusalem. Nur ad Din saat ini berniat membalas serangan. Namun Saladin mereka kuat terlebih dulu.
Sepeninggal Nur ad Din, Saladin menjadi penguasa Damaskus. Ia menikahi janda Nur ad Din dan menaklukkan dua kota penting Aleppo dan Mosul yang dulu selalu gagal ditaklukkan Nuraddin. Namun ia menjadi penguasa yang bersahaja. Sedapatnya, ia selalu menghindari pertumpahan darah, apalagi darah warga sipil. Saat menaklukkan Aleppo, 22 Mei 1176, nyawanya nyaris melayang karena usaha pembunuhan.
Ia melakukan konsolidasi di Suriah sambil sebisa mungkin menjaga agar jangan sampai tumpah perang dengan pasukan salib sebesar apapun provokasi dari pasukan salib. Misalnya, ia masih belum bereaksi saat Raynald of Chatillon mengusik aktivitas perdagangan dan perjalanan ibadah haji di Laut Merah, wilayah yang menurut Saladin harus selalu menjadi wilayah bebas. Puncaknya adalah saat penyerangan terhadap rombongan karavan jamaah haji tahun 1185. Saladin meradang.
Juli 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin. Ia berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan.
Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa. Berbagai medan pertempuran dilaluinya, dengan satu pesan yang sama kepada pasukannya; minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak.
Perang Salib III menelan biaya yang tak sedikit dari kubu Kristen. Inggris mengucurkan dana bantuan yang dikenal dengan istilah ‘Saladin Tithe’ (Zakat melawan Saladin).
Dalam satu pertempuran, ia berhadap-hadapan dengan King Richard I dari Inggris di medan perang Arsuf tahun 1191. Di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan King Richard I saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain. Bahkan saat tahu pimpinan pasukan musuhnya itu sakit, Saladin menawarkan bantuan seorang dokter terbaik yang dimiliki Damaskus. Begitu juga saat tahu Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor sebagai gantinya. Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.
Tak lama setelah kepergian Richard, Saladin wafat pada tahun 1193 di Damaskus. Saat kotak penyimpanan harta Saladin dibuka, ahli warisnya tidak menemukan cukup uang untuk membiayai pemakamanannya: ia selalu mendermakan hartanya kepada kaum yang membutuhkan. Kini makamnya menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Suriah.
Nama Saladin harum di seantero dunia hingga kini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non-Muslim juga sangat menghormatinya. Satu yang dicatat dalam buku-buku sejarah: ketika pasukan Salib menyembelih semua Muslimin yang ditemui saat mereka menaklukkan Jerusalem, Saladin memberikan amnesti dan kebebasan bagi kaum Katolik Roma begitu ia menaklukkan Jerusalem.
Sultan Saladin
1138: Lahir di Tikrit, Irak, sebagai putra dari pimpinan kaum Kurdi, Ayub.
1152: Mulai pekerja sebagai pelayan pimpinan Suriah, Nureddin.
1164: Mulai menunjukkan pekiawaiannya dalam bidang strategi militer dan dalam perang melawan pasukan Salib di Palestina.
1169: Saladin menjadi orang kedua dalam kepemimpinan militer Suriah setelah pamannya, Shirkuh. Shirkuh menjadi wakil di Mesir namun meninggal 2 bulan kemudian. Ia menggantikannya. Namun karena kurang ada respons dan dukungan dari penguasa, ia kembali ke Kairo yang menjadi puas kekuatan Dinasti Ayyub.
1171: Saladin menekan penguasa Fatimi dan menjadi pemimpin Mesir dengan dukungan kekhalifahan Abbasiah. Namun tidak seperti Nureddin yang ingin sesegera menggempur pasukan Kristen, ia cenderung lebih menahan diri. Inilah yang membuat hubungan antar keduanya merenggang.
1174: Nureddin meninggal. Saladin menyususn kekuatan.
1175: The Syrian Assassin leader Rashideddin’s men made two attempts on the life of Saladin, the leader of the Ayyubids. The second time, the Assassin came so close that wounds were infliceted upon Saladin.
1176: Saladin besieges the fortress of Masyaf, the stronghold of Rashideddin. After some weeks, Saladin suddenly withdraws, and leaves the Assassins in peace for the rest of his life. It is believed that he was exposed to a threat of having his entire family murdered.
1183: Penaklukan kota di utara Suriah, Aleppo.
1186: Penaklukan Mosul di utara Irak.
1187: Dengan kekuatan baru, menyerang Kerajaan Latin Jerusalem dengan pertempuran sengit selama 3 bulan.
1189: Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerusalem di bawah kontrol Saladin. (Lihat Film Versi Hollywood : Kingdom of Heaven)
1192: Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim.
4 Maret 1193: Meninggal di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit.

Akidah Ulama Nusantara (Al-Fanshuri)



AlhamduliLlah sempena hari Jum’at, penghulu segala hari, hari yang merupakan hari raya bagi kaum Muslimin sebagaimana yang telah disabdakan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم, maksudnya:

Daripada Ibnu Abbas رضي الله عنهما katanya: Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda [maksudnya]: Sesungguhnya hari Jum’at ini adalah hari raya yang telah dijadikan oleh Allah untuk kaum muslimin ……. [Hadits riwayat Ibn Majah dengan sanad yang hasan]

Dalam sabdaan baginda RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم yang lain [maksudnya]: Sesungguhnya hati Jum’at adalah penghulu segala hari, hari yang paling agung disisi Allah berbanding dengan hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Padanya 5 perkara: Padanya dijadikan Sayyidina Adam عليه السلام, padanya dia [Sayyiduna Adam] diturunkan (dari Syurga), padanya dia wafat, padanya terdapat satu ketika dimana Allah memenuhi permintaan hambaNYA kecuali pada perkara haram dan padanya hari Qiamat terjadi. Tidak ada malaikat yang hampir kepada Allah, begitu juga langit, bumi, angin, gunung-ganang dan lautan, melainkan mereka itu kesemuanya sengat mengambil berat dengan kebaikan hari Jum’at. [Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Majah dan al-Baihaqi. Al-Hafidz al-Munziri berkata: Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan lafadz yang sama. Dalam sanad kedua-duanya terdapat Abdullah bin Muhammad bin ‘Uqail yang dijadikan Ahmad dan lain-lainnya sebagai hujjah. Ahmad dan al-Bazzar juga telah meriwayatkan melalui jalan Abdullah juga daripada hadits Sa’ad bin Ubadah. Perawi lainnya adalah tsiqah dan terkenal.]

Oleh itu marilah kita merayakan penghulu segala hari ini dengan memperbanyakkan sholawat kepada penghulu sekelian Nabi dan Rasul, junjungan kita Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم

Maka Jum’at ini, ingin aku berkongsi sedikit ma’lumat mengenai aqidah pegangan umat Islam di alam Melayu. Sebagaimana yang kita ma’lum bahwa sejak dari zaman berzaman, di dalam bidang aqidah, majoriti umat Islam seluruh dunia berpegang kepada mazhab Asya’irah dan Maturidiyah. Gololongan inilah yang terbesar sekali. Oleh kerana itulah Sayyid Murtadha az-Zabidi menyebut didalam kitab Ithaf as-Sa’adah al-Muttaqin (Syarah bagi kitab Ihya’ Ulumiddin):

إذا اطلق أهل السنة فالمراد به الأشاعرة والماتريدية

Apabila disebut ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, maka yang dimaksudkan dengannya ialah golongan Asya’irah dan Maaturidiyah.

Tidak sedikit ulama-ulama besar yang berpegang kepada Asya’irah atau Maturidiah antaranya:

  • Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani
  • Syaikhul Ulama Ahl as-Sunnah, al-Imam an-Nawaawi
  • Syaikhul Mufassirin al-Imam al-Qurthubi
  • Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami
  • Syaikhul Fiqh wal Hadits al-Imam al-Hujjah wa ats-Tsabat Zakaaria al-Anshari
  • Al-Imam Abu Bakar al-Baaqilani
  • Al-Imam al-Qashthalani
  • Al-Imam an-Nasafi
  • Al-Imam asy-Syarbini
  • Abu Hayyan an-Nahwi
  • Al-Imam Ibn Juza
  • Al-Imam as-Sayuthi
  • Al-Imam al-Habib Abdullah al-Haddad
  • Dan lain-lain lagi, kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang beraqidah ‘Asya’irah ataupun Maturidiyah.

Di Alam Melayu kita, boleh dikatakan kesemua umat Islamnya adalah bermazhab Asya’irah. [Bahkan satu yang unik dirantau ini dimana umatnya bersatu dibidang aqidah dengan berpegang kepada aliran ‘Asya’irah dan didalam fiqih berpegang kepada mazhab Syafie] Oleh itu tidak hairanlah sejak zaman berzaman tidak kering tinta ulama kita daripada menulis kitab untuk diwariskan kepada generasi selepasnya demi untuk menjaga serta menyelamatkan aqidah umat Islam di Alam Melayu daripada dicemari oleh aqidah-aqidah yang sesat …. menyeleweng ….

Antara kitab-kitab mengenai aqidah yang ditulis oleh ulama Melayu adalah:


  • Ilmu Tauhid oleh Ahmad bin Aminuddin Qadhi Kedah (1032H/1622M)
  • Durarul Faraid bi Syarhil ‘Aqaid oleh Syaikh Nuruddin al-Raniri (1045H/1635M)
  • Syarhu ‘Aqidatil Iman oleh Syaikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Acheh (1170H/1757M)
  • Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid oleh Syaikh Abdusshomad al-Falimbani (1178H/1764M)
  • Ad-Durrus Tsamin oleh Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathoni (1232H/1816M)
  • Warduz Zawahir oleh Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathoni (1245H/1829M)
  • Jumanatut Tauhid oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni (1293H/1876M)
  • Miftahul Jannah oleh Syaikh Muhammad Thayyib ibn Mas’ud al-Banjari (1247H)
  • ‘Athiyatur Rahman fi Bayani Qawaidil Iman oleh Syaikh Muhammad Azhari bin Abdullah al-Falimbani (1259H/1843M)
  • Munjiyatul ‘Awam li Manhajil Huda minaz Zhalam oleh Syaikh ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni (1293H/1876M)
  • Fathul Majid fi Syarhid Duraril Farid fi ‘Ilmit Tauhid oleh Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani (1297H)
  • Tijanud Darari fi Syarhi Risalatil Bajuri oleh oleh Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani (1297H)
  • Zari’atul Yaqin fi Syarhi Ummil Barahin / Ad-Durrutun Nadhra ‘alal ‘Aqidatis Shugra oleh Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani (1302H)
  • Kitab Shifat 20 oleh Sayyid Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya al-‘Alawi al-Husaini (1304H/1887M)
  • Al-Muqaddimatul Kubra allati Tafarra’at minhan Nuskhatus Shugra oleh Syaikh Ismail bin Abdullah al-Minankabawi al-Kholidi (selesai disalin pada 1305H)
  • Muqaddimatul Athfal fi Shifatillahi zil Jalal oleh Tok Kelaba (1305H/1887M)
  • Sabilus Salam fi Syarhi Hidayatil ‘Awam oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni (1306H/1888M)
  • ‘Iqdul Juman fi ‘Aqidatil Iman oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad zain al-Fathoni (1306H/1888M)
  • Irsyadul Muhtadi ila Syarh Kifayatil Mubtadi oleh Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad bin ‘Abdul Qadir al-Khatib Kudus (1306H)
  • ‘Aqidatun Najin fi Ushuliddin oleh Syaikh Zainal ‘Abidin bin Muhammad al-Fathoni 1308H/1891m)
  • ‘Aqaidul Iman oleh Syaikh Muhammad Azhari bin Abdullah al-Falimbani (1309H)
  • Zahratul Murid fi ‘Aqidatit Tauhid oleh Syaikh ‘ali bin Abdur Rahman bin Abdul Ghafur Kutan al-Kelantani (1310H)
  • Hidayatus Sail fi Bayanil Masail oleh Tok Kelaba (1312H/1894M)
  • Nuruz Zhalam fi Ma’rifatillahi wa Rusulihil Kiram oleh Syaikh Abdur Rahman bin Muhammad ‘Ali al-Fathoni (1312H/1894M)
  • Majmu ul Irfan fi Ma’rifatil ‘Aqaidil Iman oleh Haji Nik Wan ‘Abdurrahman bin wan Sulaiman al-Kelantani (1312H)
  • Faridatul Faraid oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni (1313H/1895M)
  • Sirajul Huda oleh Syaikh Muhammad Zainuddin as-Sumbawi
  • ‘Umdatul Murid fi Ilmit Tauhid oleh Syaikh Daud bin Ismail al-Fathoni (1317H)
  • Tamrinush Shibyan fi Bayani Arkanil Islam wal Iman oleh Tuan Hussin Kedah (1318H/1900M)
  • Hidayatur Rahman oleh Haji Abdul Lathif bin Haji Muhammad Nuruddin (Haji Tambi) Melaka (1318H/1900M)
  • Irsyadul Anam fi Bayani Qawa’idil Iman wal Islam oleh Hussin bin Muhammad Amin al-Falimbani (1320H)
  • Fathur Rahman fi ‘Aqaidil Iman oleh Syaikh ‘Abdul Qadir bin Shabir Mandahiling (1320H)
  • Ushuluddin I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah oleh Syaikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi (1323H)
  • ‘Aqidatul Munjiyati fi Bayani ‘Aqidatil Mu’minina wal Mu’minat oleh Syaikh Muhammad ‘alwi bin Abdullah Khatib Endur al-Kampari (1324H/1906M)
  • Isnadul Ghulam fi Bayanil Imani wal Islam oleh Andul Aziz bin Muhammad Nur al-Funtiani (1325H)
  • Kifayatul ‘Awwam oleh Haji Muhammad bin Haji Muhammad Sholih al-Haddad (1326H)
  • Ushuluddin fi Sabilil I’tiqad oleh Haji Muhammad Qasim bin Haji Ahmad Pontianak, Kalimantan (1328H)
  • Syarh Bakuratil Amani oleh Syaikh Wan Ismail bin Wan Abdul Qadir al-Fathoni (1335H/1916M)
  • Bidayatut Tauhid fi ‘Ilmit Tauhid oleh Syaikh Muhammad Basiyuni ‘Imran, Maharaja Imam Sambas (1336H/1918M)
  • As-Sa’adah al-Abadiyah fid Daiyanah al-Muhammadiyah oleh Syaikh Sulaiman ibnu Abdul Jalil Tembusai (1336H)
  • Hidayatul Mutafakkirin fi Tahqiqi Ma’ritati Rabbil ‘Alamin oleh Tuan Hussin Kedah (1337H)
  • Najatul ikhwan fima Yahshulu bihil Islam wal Iman oleh Haji Abdul Mubin bin Muhammad Thayyib Jabbar Syah al-Jarimi al-Fathoni (1337H/1919M)
  • Matnul Jauharah at-Tauhid Gantung Makna oleh Ahmad Abdul Qadir bin Abdurrahman al-Filfulani (1331H)
  • Al-Mudaqqimatut Tauhidiyyah oleh Haji Muhammad Syarif bin ‘Abdurrahman (1338H/1919M)
  • Aqaidul Iman oleh Mufti Haji Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afifi al-Banjari (1338H)
  • Al-‘Iqdul Farid fi ‘Ilmit Tauhid oleh Qadhi Haji Wan Ismail bin Syaikh Wan Ahmad al-Fathoni (1341H)
  • Fathul Majid fi ‘Ilmit Tauhid oleh Haji ‘Abdul Mubin bin Muhammad Thayyib Jabbar Syah al-Jarimi al-Fathoni (1342H/1923M)
  • Fawaiduz Zain fi ‘Ilmil ‘Aqaid Ushuliddin (1342H) dan Miftahus Shibyan fi ‘Aqaidil Iman (1366H) oleh Haji Muhammad Zain Nuruddin bin Tuan Imam Syaikh Haji ‘Abbas ibn Haji Muhammad Lashub bin Haji Abdul Karim bin Tuan Faqih Negeri, Negeri Batu Bahara Pesisir Dahari (1342H)
  • Dilalatul ‘Awam oleh Haji Ahmad Suraji bin Ismail ibn Muhammad al-Kelantani (1342H)
  • Bidayatut Tholibin ila Ma’rifati Rabbil ‘Alamin oleh Tuan Hussin Kedah (1344H)
  • Ushulut Tauhid fi Ma’rifati Thuruqil Iman lir Rabbil Majid oleh Tuan Hussin Kedah (1346H)
  • Pegangan Yang Terutaman Pada Sedikit Daripada Pangkal Ugama oleh Tengku Mahmud Zuhdi bin Tengku Abdurrahman bin Tuanku Nur bin Raja Belat ibn Raja Datu al-Fathoni al-Jawi (1352H)
  • Tazkiratut Thufuliyah fi Tauhidi Rabbil Bariyah oleh Haji Hasan bin Umar al-Jakani al-Fathoni (1368H)
  • Fathul Jalil wa Syifaul Ghalil oleh Haji Wan Ibrahim bin Abdul Qadir bin Musthofa al-Fathoni (1386H)

[Tahun di dalam kurungan adalah tahun dimana yang paling awal dihasilkan]

Begitulah senarai panjang sebahagian daripada kitab-kitab didalam bidang ilmu ‘aqidah yang ditulis oleh ulama kita di Alam Melayu. Entahkan berapa banyak lagi khazanah tulisan mereka yang tidak sampai ketangan kita. Ini menunjukkan keperihatinan mereka terhadap aqidah yang kita pegang. Dan sebilangan besar daripada mereka adalah ulama yang bertaraf al-‘Alim al-‘Allamah yang pernah mengajar di sekitar Masjidil Haram, yang mengarang puluhan bahkan ratusan buah kitab, yang terkenal dengan kewarakkan, kezuhudan dan sebagainya. Ada dikalangan mereka mengaji puluhan tahun di Mekah di Madinah. Mereka adalah ulama-ulama yang mu’tabar. Tetapi sungguh pelik akhir-akhir ini apabila ada kanak-kanak hingusan yang baru punya BA, MA atau PhD yang ilmunya terlalu dhoif, memperlekehkan ulama-ulama ini. …… Allahu Allah …..

Wahai Saudara-saudaraku yang dikasihi, marilah kita berpegang kepada pesanan baginda RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم iaitu …..hendaklah kamu mengikuti sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam)” (Hadits riwayat al-Hakim daripada jalan ad-Dhiya’ al-Maqdisi) – iaitulah golongan Asya’irah dan Maturidiyah yang merupakan golongan terbesar dalam bidang ‘aqidah sejak zaman berzaman. Jauhilah golongan yang beraqidah tajsim … aqidah yang menyeleweng … aqidah yang sesat. Mereka menuduh kita dengan tuduhan bid’ah, sesat bahkan dengan tuduhan kafir tetapi pada hakikatnya merekalah yang begitu. Pedulikan mereka. Biarkan mereka menyalak. Biarkan mereka terjun dengan labu-labu mereka. Marilah kita bersatu sebagaimana generasi terdahulu, dengan berpegang kepada Asya’irah didalam aqidah dan mazhab Syafie didalam ilmu fiqih. Sekian dari hamba yang faqir lagi haqir – abu zahrah –

[Senarai kitab-kitab diatas diambil dari kertas kerja yang bertajuk Ahli Sunnah wal Jamaah Sebagai Teras Kesatuan Umat Islam di Malaysia yang disediakan oleh al-Marhum Tuan Guru Haji Wan Muhammad Shaghir bin Haji Wan ‘Abdullah bertarikh 4 November 2001. – dengan kebenaran dari Ustaz Wan Muhammad Autad bin Haji Wan Muhammad Shaghir]

Keterangan foto-foto ulama diatas:
Foto 1 [paling atas] – Tengku Mahmud Zuhdi – menjadi Syaikhul Islam di Selangor pada tahun 1935 – 1952
Foto 2 – Tuan Guru Haji Wan Ismail bin Wan Abdul Qadir al-Fathani al-Makki (Pak Da El)
Foto 3 – Tuan Guru Syaikh Muhammad Nur al-Fathani
Foto 4 – Tuan Guru Haji Abdurrahman Shiddiq al-Banjari
Foto 5 – Tuan Guru Haji Hussin Nasir al-Qedahi (Tuan Hussin Kedah)

Tulisan berkaitan: Hakikat Asya’irah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani dan berpegang kepada sawadul a’dzhom.

Sheikh Nawawi Al-Bantani (Ahlul Bait)


Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Syekhasal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan NU.


Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai lama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila SYEKHHasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali SYEKHHasyim Asyari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.


Hidup Syekh Nawawi

Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.


Ayahnya bernama Syekh Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.


Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri. Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana.


Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan SyekhAbdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Salah satu Guru utamanya pun berasal dari Mesir seperti SyekhYusuf Sumbulawini dan SyekhAhmad Nahrawi.


Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai Ulama di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis Syarh selain karena permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.


Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria. Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini, nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A ‘yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.


Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada Syekhagar proses pembelajaran dengan Syekhtidak mengalami kesulitan.

Bidang Teologi

Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang penulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara konprehenshif-utuh.

Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.


Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya, karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah. Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.


Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.

Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk hal ini dalam konteks Indonesia sebenamya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah.

Sayangnya sebagian sejarawan modem terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme. Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah. Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”.Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.


Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh Safinat a/-Naja, Syarh Sullam a/-Taufiq, Nihayat a/-Zain fi Irsyad a/-Mubtadi’in dan Tasyrih a/a Fathul Qarib,sehingga Syekh Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna Dan, atas dedikasi Syekh Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas alAzhar Mesir pemah mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundangnya karena nama Syekh Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.


Sufi Brilian

Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi. Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam, Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin alGazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat.


Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya (pamannya sendiri) Syekh Abdul Karim, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, Namun atas pilihan karir dan pengembangan spesialisasi ilmu penegatahuan yg ditekuni serta tuntutan masyarakat beliau tidak mengembangkan metoda tarbiyah tasawuf seperti guru2nya. Ketasawufan beliau dapat dilihat dari pandangannya terhadap keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah basil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.


Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dibedakan dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.


Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’alum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melului proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.


Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan tejerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).

Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan. bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.

Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang.. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Syekh Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.

Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-Iembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.


Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : K.H Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama), K.H Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, K.H Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri Syekh Nawawi, Nyi Maryam, K.H Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan Syekh Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, K.H Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, K.H Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, K.H Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, K.H Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta, KH. Jahari Ceger Cibitung Bekasi Jawa Barat. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.


Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan wama jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Karim Tanara, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.


Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sarna sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir a/-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik ia tidak mall mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Syekh Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.


Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sarana lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Syekhpara pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para Syekhdidikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.

Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain mejadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karnya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat alGazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.

sumber: http://rohimuddin.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=14

Kepimpinan Yang Benar


Bagaimana Seorang Pemimpin Seharusnya Menguruskan Dirinya? Kisah Kehidupan Presiden Iran…

Fox News TV (Amerika Syarikat) di dalam temuramahnya bertanya kepada Presiden Iran, Dr Mahmoud Ahmadinejad”Apabila anda melihat ke cermin setiap pagi, apa yang anda perkatakan kepada diri sendiri ?”
Beliau menjawab : Saya melihat kepada insan yang berada dalam cermin tersebut dan berkata kepadanya, “Ingatlah, anda adalah tidak lebih daripada seorang hamba yang lemah, menanti di hadapan anda hari ini adalah sebuah tanggungjawab yang amat berat dan ianya adalah berkhidmat kepada negara dan rakyat Iran.

Ahmadinejad, Presiden Iran yang mengejutkan ramai sewaktu mula-mula tiba di pejabat Presiden apabila beliau mendermakan segala permaidani Iran yang berharga kepada sebuah masjid di Tehran dan menggantikannya dengan permaidani murah yang biasa.

Beliau mendapati bahawa terdapat sebuah bilik istirahat yang besar lagi mewah yang berfungsi untuk menerima dan menyambut kehadiran tetamu VIP, lalu beliau telah mengarahkan agar bilik itu ditutup dan meminta pejabat protokol untuk menyediakan sebuah bilik lain yang sederhana serta hanya dilengkapi dengan kerusi-kerusi kayu.

Beliau juga telah banyak kali turut bersama-sama dengan pekerja-pekerja majlis perbandaran untuk membersihkan jalan-jalan yang berada di sekitar kawasan rumah serta pejabatnya.
Di bawah pentadbirannya, setiap kali beliau melantik mana-mana individu untuk memegang jawatan menteri, beliau akan mengarahkan individu tersebut untuk menandatangani sebuah dokumen yang menggariskan pelbagai syarat-syarat yang perlu dipatuhi, terutamanya yang menekankan bahawa individu tersebut harus sentiasa kekal dalam kesederhanaan dan akaun-akaun persendirian serta milik ahli keluarganya akan sentiasa diperhatikan dan perlu meninggalkan pejabatnya kelak dalam keadaan yang bermaruah. Oleh itu, adalah satu kesalahan yang besar untuk individu tersebut dan ahli keluarganya mengambil kesempatan ke atas jawatan yang dipegangnya itu.

Perkara pertama yang beliau isytiharkan selepas memegang jawatan Presiden adalah pemilikan hartanya yang ‘Besar’ iaitu sebuah kereta Peugeot 504 model tahun 1977, sebuah rumah lama yang kecil yang diwarisi daripada bapanya 40 tahun yang lalu di salah sebuah kawasan yang termiskin di Tehran, akaun simpanannya yang tidak berbaki dan sumber kewangan yang masuk ke dalam akaunnya hanyalah daripada gaji yang diterimanya sebagai seorang pensyarah di Universiti yang berjumlah hanya 250 Dolar Amerika sebulan.

Beliau masih lagi tinggal di rumahnya yang lama itu. Itulah sahaja harta yang dimilikinya. Beginilah kehidupan seorang Presiden kepada salah sebuah negara yang terpenting di dunia ini, dari sudut lokasinya yang strategik, ekonomi, politik serta pemilikan sumber minyak dan sistem pertahanannya.

Beliau malah langsung tidak mengusik gaji Presidennya dengan sebuah hujjah bahawa segala kekayaan adalah menjadi hak milik negaranya dan beliau mempunyai amanah untuk memeliharanya.
Salah satu perkara yang amat menakjubkan buat kakitangan-kakitangan di pejabatnya adalah sebuah beg yang sentiasa dibawa setiap hari. Di dalamnya mengandungi makanan sarapan paginya, sedikit roti sandwic atau roti biasa dengan minyak zaitun dan keju yang disediakan oleh isterinya. Beliau menikmati makanan-makanan tersebut dengan begitu ceria sekali.
Perubahan lain yang dilakukannya adalah menukar jet peribadinya sebagai seorang Presiden menjadi kapal terbang kargo untuk menjimatkan perbelanjaan daripada hasil wang rakyat dan beliau menegaskan bahawa beliau akan terbang menggunakan pesawat awam biasa pada kelas ekonomi.
Beliau kerap mengadakan mesyuarat dengan semua para menteri untuk mengetahui segala aktiviti mereka dan keberkesanan pelaksanaannya.
Di samping itu, beliau juga telah menutup pejabat pengurus Presiden demi untuk memudahkan para menteri untuk berjumpa dengannya tanpa perlu meminta keizinan terlebih dahulu.
Beliau telah membubarkan beberapa acara seperti majlis karpet merah untuk menyambut tetamu, sesi fotografi serta segala bentuk pengiklanan atau promosi peribadi sewaktu mengadakan lawatan ke pelbagai tempat di dalam negaranya.
Setiap kali beliau perlu untuk menginap di hotel, beliau akan memastikan bahawa beliau hanya akan diberikan bilik tanpa katil yang besar kerana tidak gemar untuk tidur di atas katil sebaliknya lebih suka untuk tidur di atas lantai dengan sebuah tilam sederhana dan sehelai kain selimut.

Dalam salah sebuah gambar berikut menunjukkan beliau sedang tidur di dalam bilik tetamu di rumahnya tanpa ditemani oleh para pengawal peribadinya yang sentiasa bersama dengannya ke mana sahaja beliau pergi. Gambar tersebut telah diambil oleh adiknya, menurut laporan akhbar Wifaq yang kemudian menyiarkannya di dalam ruangan akhbar mereka. Pada keesokan harinya, gambar tersebut telah disiarkan di dalam kebanyakan akhbar-akhbar di seluruh dunia termasuklah di Amerika Syarikat.

Sewaktu ingin menunaikan solat, anda boleh lihat yang beliau tidak duduk di barisan pertama. Gambar yang lain pula menunjukkan beliau sedang menikmati hidangan makanannya yang amat sederhana.

Hidup Kebenaran!

ABAH FALAK BOGOR DAN ABAH GURU SEKUMPUL

Berturut-turut untuk mengenang dan haul Tuan Guru Al-‘Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari atau Guru Sekumpul, saya telah mempublikasikan 2 tulisan tentang beliau, yakni: “MENGENANG 1 TAHUN WAFATNYA GURU SEKUMPUL” dan “MEMBACA KEILMUAN, KEULAMAAN, DAN KETELADANAN GURU SEKUMPUL”. Berikut apresiasi saya memperingati haul tahun ke-3 wafatnya Guru Sekumpul, bertepatan dengan 5 Rajab 1429 H 8 Juli 2008 M.
Dalam buku berjudul ‘Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Tuan Haji Besar)’, dinyatakan bahwa Guru Sekumpul telah mendapatkan sanad berbagai bidang ilmu dan tarekat dari berbagai orang guru, salah seorang di antaranya adalah dari K.H. Falak Bogor. Bahkan dikatakan pula bahwa K. H. Falak Bogor adalah “Guru Khusus dan guru pertama secara rohani” dari Guru Sekumpul: “Guru pertama secara rohani Guru sekumpul adalah Al-‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul ‘allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw (Abu Daudi, 1996: 145-146).
Siapakah K.H. Falak Bogor? Tulisan singkat ini mencoba membutiri kembali informasi tentang sosok K.H. Falak Bogor.
Semasa hidupnya, K.H. Falak Bogor atau populer dengan sebutan Abah Falak dikenal sebagai seorang ulama yang dermawan. Banyak orang yang datang kepada beliau untuk meminta tolong dan beliau selalu memberikan pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Abah Falak juga dikenal sebagai seorang ulama besar yang kharismatik dan memilki kedalaman ilmu serta pengaruh yang sangat luas. Beliau tidak hanya ahli zikir dan Ilmu Tarekat, akan tetapi juga ahli dalam Ilmu Kasyaf dan Falak. Itulah sebabnya, berkat kepintaran dalam cabang Ilmu Kasyaf dan Falak, oleh Syekh Sayyid Afandi Turqi di Mekkah, beliau diberikan gelar ‘falak’, hingga kemudian gelar itu populer dan melekat pada nama beliau.
Nama sebenarnya dari Abah Falak yang dilahirkan di Pandeglang Banten pada tahun 1842 M – 1258 H ini adalah Tubagus Muhammad. Ayahnya bernama K.H. Tubagus Abas dikenal sebagai seorang ulama besar di Banten dan pendiri Pondok Pesantren Tabi. Sedangkan ibunya bernama Ratu Kuraisin. Berdasarkan garis silsilah dari ayahnya, Abah Falak berasal dari keturunan keluarga besar kesultanan di Banten. Itulah sebabnya kenapa di depan namanya memakai gelar kebangsawanan Banten, ‘Tubagus’ sebagaimana pula nama ayahnya. Bahkan merujuk kepada silsilah keluarganya, Abah Falak masih  keturunan dari salah seorang walisongo, yakni Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati).
Sejak kecil, Abah Falak dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai ilmu dan gigih dalam belajar. Dia mulai mendapat pendidikan agama yang ketat dari ayahnya dalam bidang bidang baca tulis Alquran dan akidah Islam. Pelajaran agamanya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Oleh ayahnya ia juga diajarkan ilmu tarekat. Dalam usia yang masih muda, Abah Falak sempat mengembara selama 15 tahun untuk menggali dan menuntut ilmu ke beberapa ulama besar yang ada di daerah Banten dan Cirebon.
Pada tahun 1857, ketika berusia 15 tahun, oleh ayahnya, Abah Falak diberangkatkan ke Mekkah untuk belajar dan memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar ketika itu. Di antaranya, sanad Ilmu Hadits diterima dari Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi. Syekh Nawawi adalah ulama besar Indonesia yang mukim dan mengajarkan ilmu di Mekkah. Karena itu, kebanyakan ulama besar Indonesia pada masa itu pernah berguru dan menuntut ilmu kepada beliau. Salah seorang ulama besar yang juga menjadi murid beliau dari Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari (mufti Kerajaan Indragiri Riau) yang merupakan cicit (keturunan keempat atau kelima) dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dengan demikian, Syekh Abdurrahman Siddiq pernah berguru (seguru) dengan Abah Falak. Kemudian, sanad Ilmu Khasyaf dan Falak diterima dari Syekh Sayyid Afandi. Abah Falak juga sempat berguru kepada Syekh Abdul Karim dan beberapa ulama besar lainnya yang ada di Jazirah Arab.
Selama menuntut ilmu di Mekkah, Abah Falak tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dan dari Syekh Abdul Karim ini beliau mendapatkan kedalaman Ilmu Tarekat dan Tasawuf. Bahkan kemudian, oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekkah ketika itu, Abah Falak dibai’at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Setelah mukim kurang lebih 21 tahun di Mekkah dan menuntut berbagai cabang ilmu agama dari banyak ulama, pada tahun 1878, Abah Falak kembali ke tanah air. Sebelum mendirikan Pesantren Al-Falak Pagentongan, selama beberapa pekan K.H. Falak tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan untuk memimpin pesantren ayahnya. Kemudian, setelah dikawinkan dengan Hj. Fatimah (putri K.H Romli) yang berasal dari Pagentongan, Abah Falak kemudian pindah ke Pagentongan. Di sinilah beliau kemudian mendirikan masjid dan pondok pesantren ‘Al-Falak‘ desa Pagentongan pada tahun 1901.
Setelah mengabdikan ilmunya kepada masyarakat luas, memperjuangkan dakwah, dan mendidik umat, Abah Falak wafat pada tahun 1972, dalam dalam usia kurang lebih 130 tahun. Beliau dimakamkan di areal komplek pemakaman Pondok Pesantren Al-Falak yang berlokasi tidak jauh dari masjid Al-Falak, desa Pagentongan, Bogor Barat. Beliau meninggal karena sakit ringan. Ketika wafat, banyak ulama dan Habaib dari berbagai daerah yang datang bertakziah, menshalatkan, dan ikut mengantarkan beliau ke kubur.
Pengabdian dan jerih payah Abah Falak sebagai seorang pendidik, telah banyak melahirkan santri-santrinya menjadi ulama yang kemudian meneruskan jejaknya dengan mendirikan majelis-majelis taklim, pondok pesantren, madrasah-madrasah dan berbagai lembaga ilmu pengetahuan Islam, tersebar tidak hanya di daerah Jawa Barat, tetapi juga diberbagai wilayah lainnya di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Ketinggian ilmu, kelembutan bahasa, dan kebaikan budi pekerti Abah Falak membuat beliau dikagumi oleh semua orang. Wajar jika banyak tuan guru dan ulama yang menyauk ilmu kepada beliau.
Sesudah anda berziarah ke Sekumpul Martapura dan kemudian mengikuti wisata religius ke daerah Banten, Cirebon, Bandung, Bogor, dan sekitarnya, saya sarankan agar tidak lupa untuk berziarah pula ke Pondok Pesantren Al-Falak dan makam Abah Falak, yang terletak di desa Pagentongan Bogor Barat, berjarak lebih kurang 5 Km dari pusat Kota Bogor. (Teriring Salam takzhim untuk Guru H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)

Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani Asy-Syafi’I

Kiai Nawawi Banten(1230-1314 H/1813-1897 M) alias Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani Asy-Syafi’I adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib MInangkabau, dan Kiai Mahfudz Termas (wafat 1919-20 M).

Namanya yang lengkap ialah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/ 1813 M. Ayahnya seorang tokoh yang agama yang sangat disegani. Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Istrinya yang pertama bernama Nasimah, juga lahir di Tanara. Darinya, Kiai Nawawi dikaruniai tiga putri, Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Istrinya yang kedua, Hamdanah, memberinya satu putri: Zuhrah. Konon, Hamdanah yang baru berusia berlasan tahun dinikahi sang kiai pada saat usianya kian mendekati seabad. Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Makkah, karena saat itu Indonesia –yang namanya masih Hindia Belanda- dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat. Iapun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana. Banyak sumber menyatakan Kiai Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada 1314 H/ 1897 M, namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, ia wafat pada 1316 H/ 1898 M.

PENGGERAK MILITANSI MUSLIM
Meski pandangannya terhadap perempuan masih terlalu ortodoks dan sebagaimana lazimnya permikiran tradisional Islam, masih menganggapnya sebagai objek, jejak Kiai Nawawi, baik melalui murid dan pengikutnya maupun melalui kitabnya, yang masih berpengaruh dan dipakai di pesantren hingga kini, benar-benar pantas menempatkannya sebagai nenek moyang gerakan intelektual Islam di Nusantara. Bahkan, sangat boleh jadi, ia merupakan bibit penggerak (King Maker) militansi muslim terhadap Belanda penjajah.

Pada masanya, saat perjalanan haji mulai berfungsi sebagai pemersatu Nusantara dan perangsang antikolonialisme, ketiga ulama tersebut sebagai bagain dari masyarakat “Jawah mukim” punya peran penting sebagai perantara antara orang Nusantara dan gerakan agama serta politik di bagian dunia Islam yang lain. Ketiganya mengilhami gerakan agama di Indonesia dan mendidik banyak ulama yang kemudian berperan penting di tanah air.

Sebagai pengarang yang paling produktif, Kiai Nawawai Banten punya pengaruh besar di dikalangan sesama orang Nusantara dan generasi berikutnya melalui pengikut dan tulisannya. Tak kurang dari orientalis Dr. C. Snouck Hurgronje memujinya sebagai orang Indonesia yang paling alim dan rendah hati. Ia menerbitkan lebih dari 38 karya. Ada sumber yang mengatakan ia menulis lebih dari 100 kitab.

PENULIS MULTI DIMENSI

Kitab tafsirnya, Al-Tafsir Al-Munir li Ma’alim al-Tanzil sangat terkenal. Ia menulis kitab dalam hampir setiap disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren. Berbeda dari pengarang Indonesia sebelumnya, ia menulis dalam bahasa Arab. Beberapa karyanya merupakan syarah (komentar) atas kitab yang telah digunakan di pesantren serta menjelaskan, melengkapi, dan terkadang mengkoreksi matan (kitab asli) yang dikomentari.

Sejumlah syarah-nya benar-benar menggantikan matan asli dalam kurikulum pesantren. Tidak kurang dari 22 karyanya (ia menulis paling sedikit dua kali jumlah itu) masih beredar dan 11 kitabnya yang paling banyak digunakan di pesantren. Kiai Nawawi Banten berdiri pada titik peralihan antara dua periode dalam tradisi pesantren. Ia memperkenalkan dan menafsirkan kembali warisan intelektualnya dan memperkayanya dengan menulis karya baru berdasarkan kitab yang belum dikenal di Indonesia pada zamannya. Semua kyai zaman sekarang menganggapnya sebagai nenek moyang intelektual mereka.

Bahkan, Ahmad Khatib Minangkabau, bapak reormasi Islam Indonesia, pun termasuk siswanya. Muridnya yang lain antara lain, K.H. Hasyim Asy-ari, K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Raden Asnawi, dan K.H. Tubagus Asnawi.

DARI AKIDAH HINGGA RIWAYAT HADITS
Kitabnya, Qathr al-Ghaits, merupakan syarah dari kitab akidah terkenal, Ushul 6 Bis, karya Abu Laits al-Samarqandi, yag di Jawa lebih dikenla sebagai Asmaraqandi. Bersama karya Ahmad Subki Pekalongan, Fath al-Mughits, yang merupakan terjemahan Jawa Ushul 6 Bis, Qathr al-Ghaits banyak dipakai dan menjadikan Ushul 6 Bis lebih terkenal.

Ushul 6 Bis ialah karya tentang ushuluddin yang terdiri atas enam bab yang masing-masing dibuka dengan kata bismillah. Pada abad ke-19, Ushul 6 Bis merupakan kitab akidah pertama yang dipelajari di pesantren tingkat rendah Indonesia. Dua kitab lain yang diajarkan di tingkat yang sama ialah kitab fiqh at-Taqrib fi al-Fiqh karya Abu Syuja’ al-Isfahani dan Bidayah al-Hidayah, ringkasan Ihya karya al-Ghazali.

Kitab Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani, Madarij al-Su’ud Ila Ikhtisah al-Burud, yang berbahasa Arab dalam berbagai terbitan merupakan adaptasi Indonesia kitab karya Ja’far bin Hasan al-Barzinji tentang Maulid an-Nabi (‘Iqd al-Jawahir).

Karya acuan yang paling penting ialah Minhaj at-Thalibin karya Nawawi dan komentarnya atas karya Khatib Syarbini, Mughni al-Muhtaj. Minhaj yang menjadi dasar utama semua teks juga dianggap sebagai sumber riil otoritas.

Teks dasar dalam bidang akidah ialah Umm Al-Barahin (disebut juga Al-Durrah) karya Abu’Abdullah M. bin Yusuf al-Sanusi (wafat 895 H/ 1490 M). Syarah yang lebih mendalam, yang dikenal sebagai as-Sanusi, ditulis oleh pengarangnya sendiri. Karya lain yang sebagain didasarkan atas As-Sanusi ialah Kifayah al-‘Awwam karya Muhammad bin Muhammadal-Fadhdhali (wafat 1236 H/ 1821 M) yang sangat popular di Indonesia. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dalam Mac Donald1903, halaman 315-351.

Murid Fadhali, Ibrahim Bajuri (wafat 1277 H/1861 M) menulis syarah-nya, Taqiq al-Maqam ‘Ala Kifayah al’Awwam, yang dicetak bersama Kifayah dalam edisi Indonesia. Syarah ini di-hasyiyah-kan oleh nawawi banten dalam karya yang banyak dibaca orang, Tijan ad-Durari.

DARI ANAK MUDA HINGGA ADAB
Kitab singkat berbentuk sajak bagi mereka yang berusia belia dan baru mengerti bahasa Arab, ‘Aqidah al-Awwam, ditulis oleh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki yang giat kira-kira 1864. Nawawi Banten menulis syarah yang terkenal atasnya, Nur Azh-Zhalam.

Nasha’ih al-‘Ibad juga merupakan karya lain Nawawi Banten. Kitab ini merupakan syarah atas karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, an-Nabahah ‘ala Isti’dad. Kitab ini memusatkan pembahasan atas adab berperilaku dan seiring dijadikan karya pengantar mengenal akhlak bagi santri yang lebih muda.

Nawawi juga menulis syarah berbahasa Arab atas Bidayah al-Hidayah karya Abu Hamid al-Ghazali dengan judul Maraqi al-‘Ubudiyah yang lebih popular, jika dinilai dari jumlah edisinya yang berbeda-beda yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. ‘Uqd al-Lujain fi Huquqf az-Zaujain ialah karya Nawawi tentang hak dan kewajiban istri. Ini adalah materi pelajaran wajib bagi santri putri di banyak pesantren. Dua terjemahan dan syarah-nya dalam bahasa Jawa beredar, Hidayah al-‘Arisin oleh Abu Muhammad Hasanuddin dari Pekalongan dan Su’ud al-Kaumain oleh Sibt al-Utsmani Ahdari al-Jangalani al-Qudusi.

TOKOH SUFI QADIRIYAH

Kiai Nawawi juga dicatat sebagai tokoh sufi yang beraliran Qadiriyah, yang didasarkan pada ajaran Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (wafat 561 H/ 1166M). sayang, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis belum mendapatkan bahan rujukan yang memuaskan tentang Kiai Nawawi Banten sebagai pengikut tarekat Qadiriyah ataukah tarekat gabungan Qadiriyah wa Naqshabandiyah.

Padahal, pembacaan sejak lama kitab Manaqib Abdul Qadir pada kesempatan tertentu merupakan indikasi kuatnya tarekat ini di Banten. Bahkan, Hikayah Syeh, terjemahan salah satu versi Manaqib, Khulashah al-Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karangan ‘Afifuddin al-Yafi’I (wafat 1367M), sangat boleh jadi dikerjakan di Banten pada abad ke-17, mengingat gaya bahasanya yang sangat kuno. Lebih dari itu, pada pertengahan abad ke-18, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, dalam segel resminya menggelari diri al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin dari Kalimantan di Makkah, Ahmad Khatib Sambas (wafat 1878), mengajarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan dengan Naqshabandiyah. Kedudukannya sebagai pemimpin tarekat digantikan oleh Syaikh Abdul Karim Banten yang juga bermukim di Makkah. Di tangannya, tarekat gabungan ini berkembang pesat di Banten dan mempengaruhi meletusnya Geger Cilegon pada 1888 dan amalannya melahirkan debus.

Begitulah, Syeikh Nawawi bin ‘Umar al-Bantani yang hidup kira-kira satu abad setelah ‘Abd as-Samad al-Falimbani disebut dalam isnad kitab tasawuf yang diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning Syekh Yasin Padang (Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa al-Fadani) sebagai mata rantai setelah ‘Abd as-Samad.

Kiai Nawawi yang sangat produktif itu juga menulis kitab syarah, Salalim al-Fudhala’, atas teks pelajaran tasawuf praktis Hidayah al-Adzkiya’ (Ila Thariq al-Auliya’) karya Zain ad-Din al-Malibari yang ditulis dalam untaian sajak pada 914 H/ 1508-09 M. kitab ini popular di Jawa, misalnya disebutkan dalam Serat Centhini. Salalim dicetak di tepi Kifayah al-Ashfiya’ karya Sayyid Bakri bin M. Syaththa’ ad-Dimyati.

PENYUMBANG BESAR ILMU FIQH
Kiai Nawawi termasuk ulama tradisional besar yang telah memberikan sumbangan sangat penting bagi perkembangan ilmu fiqh di Indonesia. Mereka memperkenalkan dan menjelaskan , melalui syarah yang mereka tulis, berbagai karya fiqh penting dan mereka mendidik generasi ulama yang menguasai dan memberikan perhatian kepada fiqh.

Ia menulis kitab fiqh yang digunakan secara luas, Nihayat al-Zain. Kitab ini merupakan syarah kitab Qurrat al-‘Ain, yang ditulis oleh ulama India Selatan abad ke-16, Zain ad-Din al-Malibari (w. 975 M). ulama India ini adalah murid Ibnu Hajar al-haitami (wafat 973 M), penulis Tuhfah al-Muhtaj, tetapi Qurrat dan syarah yag belakangan ditulis al-Malibari sendiri tidak didasarkan pada Tuhfah.

Qurrat al-‘Ain belakangan dikomentari dan ditulis kembali oleh pengarangnya sendiri menjadi Fath al-Muin. Dua orang yang sezaman dengan Kiai Nawawi Banten di Makkah tapi lebih muda usianya menulis hasyiyah (catatan) atas Fath al-Mu’in. Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha al-Dimyathi menulis empat jilid I’aanah at-Thalibbin yang berisikan catatan pengarang dan sejumlah fatwa mufti Syafi’I di Makkah saat itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. Inilah kitab yang popular sebagai rujukan utama.

Kiai Nawawi Banten juga menulis dalam bahasa Arab Kasyifah as-Saja’, syarah atas dua karya lain yang juga penting dalam ilmu fiqh. Yang satu teks pengantar Sultan at-Taufiq yang ditulis oleh ‘Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (wafat 1272 H/ 1855 M). yang lain ialah Safinah an-Najah ditulis oleh Salim bin Abdullah bin Samir, ulama Hadrami yang tinggal di Batavia (kini: Jakarta) pada pertengahan abad ke-19.

Kitab daras (text book) ar-Riyadh alBadi’ah fi Ushul ad-Din wa Ba’dh Furu’ asy-Syari’ah yang membahas butir pilihan ajaran dan kewajiban agama diperkenalkan oleh Kyai Nawawi Banten pada kaum muslimin Indonesia. Tak banyak diketahui tentang pengarangnya, Muhammad Hasbullah. Barangkali ia sezaman dengan atau sedikit lebih tua dari Kiai Nawawi banten. Ia terutama dikenal karena syarah Nawawi, Tsamar al-Yani’ah. Karyanya hanya dicetak di pinggirnya.

Sullam al-Munajat merupakan syarah Nawawi atas pedoman ibadah Safinah ash-Shalah karangan Abdullah bin ‘Umar al-Hadrami, sedangkan Tausyih Ibn Qasim merupakan komentarnya atas Fath al-Qarib. Walau bagaimanapun, masih banyak yang belum kita ketahui tentang Kiai Nawawi Banten.

Artikle ini pernah dimuat di Banten Raya Post
Selasa 9 Oktober 2007

REFERENSI:

1. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat –Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, penerbit Mizan, Bandung, cetakan kedua, Mei 1995.

2. Mimi Jamilah, Imam Nawawi Ulama Besar dari Banten, dalam rubric Khazanah Majalah Mimbar Ulama No. 31/XXV.

3. C. Snouck Hurgronje, Mekka, Bd. II: Aus dem Heutigen Leben, Martinus Nijhoff, Den Haag, 1889.

4. L.W.C. van den Berg, Het Mohammedaansche Godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de Daarbij Gebruikte Arabixche Boeken, dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 31, 1886.

5. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Mutiara, Jakarta, cetakan keuda. 1979.

6. Al-Fadani, al-‘Iqd al-Farid min Jawahir al-Asamid, Dar as-Saqqaf, Surabaya, 1401 H