Sheikh Nawawi Al-Bantani (Ahlul Bait)


Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Syekhasal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan NU.


Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai lama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila SYEKHHasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali SYEKHHasyim Asyari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.


Hidup Syekh Nawawi

Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.


Ayahnya bernama Syekh Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.


Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri. Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana.


Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan SyekhAbdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Salah satu Guru utamanya pun berasal dari Mesir seperti SyekhYusuf Sumbulawini dan SyekhAhmad Nahrawi.


Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai Ulama di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis Syarh selain karena permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.


Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria. Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini, nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A ‘yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.


Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada Syekhagar proses pembelajaran dengan Syekhtidak mengalami kesulitan.

Bidang Teologi

Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang penulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara konprehenshif-utuh.

Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.


Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya, karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah. Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.


Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.

Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk hal ini dalam konteks Indonesia sebenamya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah.

Sayangnya sebagian sejarawan modem terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme. Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah. Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”.Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.


Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh Safinat a/-Naja, Syarh Sullam a/-Taufiq, Nihayat a/-Zain fi Irsyad a/-Mubtadi’in dan Tasyrih a/a Fathul Qarib,sehingga Syekh Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna Dan, atas dedikasi Syekh Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas alAzhar Mesir pemah mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundangnya karena nama Syekh Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.


Sufi Brilian

Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi. Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam, Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin alGazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat.


Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya (pamannya sendiri) Syekh Abdul Karim, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, Namun atas pilihan karir dan pengembangan spesialisasi ilmu penegatahuan yg ditekuni serta tuntutan masyarakat beliau tidak mengembangkan metoda tarbiyah tasawuf seperti guru2nya. Ketasawufan beliau dapat dilihat dari pandangannya terhadap keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah basil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.


Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dibedakan dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.


Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’alum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melului proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.


Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan tejerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).

Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan. bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.

Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang.. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Syekh Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.

Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-Iembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.


Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : K.H Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama), K.H Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, K.H Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri Syekh Nawawi, Nyi Maryam, K.H Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan Syekh Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, K.H Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, K.H Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, K.H Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, K.H Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta, KH. Jahari Ceger Cibitung Bekasi Jawa Barat. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.


Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan wama jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Karim Tanara, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.


Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sarna sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir a/-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik ia tidak mall mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Syekh Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.


Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sarana lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Syekhpara pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para Syekhdidikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.

Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain mejadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karnya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat alGazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.

sumber: http://rohimuddin.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=14

Kepimpinan Yang Benar


Bagaimana Seorang Pemimpin Seharusnya Menguruskan Dirinya? Kisah Kehidupan Presiden Iran…

Fox News TV (Amerika Syarikat) di dalam temuramahnya bertanya kepada Presiden Iran, Dr Mahmoud Ahmadinejad”Apabila anda melihat ke cermin setiap pagi, apa yang anda perkatakan kepada diri sendiri ?”
Beliau menjawab : Saya melihat kepada insan yang berada dalam cermin tersebut dan berkata kepadanya, “Ingatlah, anda adalah tidak lebih daripada seorang hamba yang lemah, menanti di hadapan anda hari ini adalah sebuah tanggungjawab yang amat berat dan ianya adalah berkhidmat kepada negara dan rakyat Iran.

Ahmadinejad, Presiden Iran yang mengejutkan ramai sewaktu mula-mula tiba di pejabat Presiden apabila beliau mendermakan segala permaidani Iran yang berharga kepada sebuah masjid di Tehran dan menggantikannya dengan permaidani murah yang biasa.

Beliau mendapati bahawa terdapat sebuah bilik istirahat yang besar lagi mewah yang berfungsi untuk menerima dan menyambut kehadiran tetamu VIP, lalu beliau telah mengarahkan agar bilik itu ditutup dan meminta pejabat protokol untuk menyediakan sebuah bilik lain yang sederhana serta hanya dilengkapi dengan kerusi-kerusi kayu.

Beliau juga telah banyak kali turut bersama-sama dengan pekerja-pekerja majlis perbandaran untuk membersihkan jalan-jalan yang berada di sekitar kawasan rumah serta pejabatnya.
Di bawah pentadbirannya, setiap kali beliau melantik mana-mana individu untuk memegang jawatan menteri, beliau akan mengarahkan individu tersebut untuk menandatangani sebuah dokumen yang menggariskan pelbagai syarat-syarat yang perlu dipatuhi, terutamanya yang menekankan bahawa individu tersebut harus sentiasa kekal dalam kesederhanaan dan akaun-akaun persendirian serta milik ahli keluarganya akan sentiasa diperhatikan dan perlu meninggalkan pejabatnya kelak dalam keadaan yang bermaruah. Oleh itu, adalah satu kesalahan yang besar untuk individu tersebut dan ahli keluarganya mengambil kesempatan ke atas jawatan yang dipegangnya itu.

Perkara pertama yang beliau isytiharkan selepas memegang jawatan Presiden adalah pemilikan hartanya yang ‘Besar’ iaitu sebuah kereta Peugeot 504 model tahun 1977, sebuah rumah lama yang kecil yang diwarisi daripada bapanya 40 tahun yang lalu di salah sebuah kawasan yang termiskin di Tehran, akaun simpanannya yang tidak berbaki dan sumber kewangan yang masuk ke dalam akaunnya hanyalah daripada gaji yang diterimanya sebagai seorang pensyarah di Universiti yang berjumlah hanya 250 Dolar Amerika sebulan.

Beliau masih lagi tinggal di rumahnya yang lama itu. Itulah sahaja harta yang dimilikinya. Beginilah kehidupan seorang Presiden kepada salah sebuah negara yang terpenting di dunia ini, dari sudut lokasinya yang strategik, ekonomi, politik serta pemilikan sumber minyak dan sistem pertahanannya.

Beliau malah langsung tidak mengusik gaji Presidennya dengan sebuah hujjah bahawa segala kekayaan adalah menjadi hak milik negaranya dan beliau mempunyai amanah untuk memeliharanya.
Salah satu perkara yang amat menakjubkan buat kakitangan-kakitangan di pejabatnya adalah sebuah beg yang sentiasa dibawa setiap hari. Di dalamnya mengandungi makanan sarapan paginya, sedikit roti sandwic atau roti biasa dengan minyak zaitun dan keju yang disediakan oleh isterinya. Beliau menikmati makanan-makanan tersebut dengan begitu ceria sekali.
Perubahan lain yang dilakukannya adalah menukar jet peribadinya sebagai seorang Presiden menjadi kapal terbang kargo untuk menjimatkan perbelanjaan daripada hasil wang rakyat dan beliau menegaskan bahawa beliau akan terbang menggunakan pesawat awam biasa pada kelas ekonomi.
Beliau kerap mengadakan mesyuarat dengan semua para menteri untuk mengetahui segala aktiviti mereka dan keberkesanan pelaksanaannya.
Di samping itu, beliau juga telah menutup pejabat pengurus Presiden demi untuk memudahkan para menteri untuk berjumpa dengannya tanpa perlu meminta keizinan terlebih dahulu.
Beliau telah membubarkan beberapa acara seperti majlis karpet merah untuk menyambut tetamu, sesi fotografi serta segala bentuk pengiklanan atau promosi peribadi sewaktu mengadakan lawatan ke pelbagai tempat di dalam negaranya.
Setiap kali beliau perlu untuk menginap di hotel, beliau akan memastikan bahawa beliau hanya akan diberikan bilik tanpa katil yang besar kerana tidak gemar untuk tidur di atas katil sebaliknya lebih suka untuk tidur di atas lantai dengan sebuah tilam sederhana dan sehelai kain selimut.

Dalam salah sebuah gambar berikut menunjukkan beliau sedang tidur di dalam bilik tetamu di rumahnya tanpa ditemani oleh para pengawal peribadinya yang sentiasa bersama dengannya ke mana sahaja beliau pergi. Gambar tersebut telah diambil oleh adiknya, menurut laporan akhbar Wifaq yang kemudian menyiarkannya di dalam ruangan akhbar mereka. Pada keesokan harinya, gambar tersebut telah disiarkan di dalam kebanyakan akhbar-akhbar di seluruh dunia termasuklah di Amerika Syarikat.

Sewaktu ingin menunaikan solat, anda boleh lihat yang beliau tidak duduk di barisan pertama. Gambar yang lain pula menunjukkan beliau sedang menikmati hidangan makanannya yang amat sederhana.

Hidup Kebenaran!

ABAH FALAK BOGOR DAN ABAH GURU SEKUMPUL

Berturut-turut untuk mengenang dan haul Tuan Guru Al-‘Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari atau Guru Sekumpul, saya telah mempublikasikan 2 tulisan tentang beliau, yakni: “MENGENANG 1 TAHUN WAFATNYA GURU SEKUMPUL” dan “MEMBACA KEILMUAN, KEULAMAAN, DAN KETELADANAN GURU SEKUMPUL”. Berikut apresiasi saya memperingati haul tahun ke-3 wafatnya Guru Sekumpul, bertepatan dengan 5 Rajab 1429 H 8 Juli 2008 M.
Dalam buku berjudul ‘Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Tuan Haji Besar)’, dinyatakan bahwa Guru Sekumpul telah mendapatkan sanad berbagai bidang ilmu dan tarekat dari berbagai orang guru, salah seorang di antaranya adalah dari K.H. Falak Bogor. Bahkan dikatakan pula bahwa K. H. Falak Bogor adalah “Guru Khusus dan guru pertama secara rohani” dari Guru Sekumpul: “Guru pertama secara rohani Guru sekumpul adalah Al-‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul ‘allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw (Abu Daudi, 1996: 145-146).
Siapakah K.H. Falak Bogor? Tulisan singkat ini mencoba membutiri kembali informasi tentang sosok K.H. Falak Bogor.
Semasa hidupnya, K.H. Falak Bogor atau populer dengan sebutan Abah Falak dikenal sebagai seorang ulama yang dermawan. Banyak orang yang datang kepada beliau untuk meminta tolong dan beliau selalu memberikan pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Abah Falak juga dikenal sebagai seorang ulama besar yang kharismatik dan memilki kedalaman ilmu serta pengaruh yang sangat luas. Beliau tidak hanya ahli zikir dan Ilmu Tarekat, akan tetapi juga ahli dalam Ilmu Kasyaf dan Falak. Itulah sebabnya, berkat kepintaran dalam cabang Ilmu Kasyaf dan Falak, oleh Syekh Sayyid Afandi Turqi di Mekkah, beliau diberikan gelar ‘falak’, hingga kemudian gelar itu populer dan melekat pada nama beliau.
Nama sebenarnya dari Abah Falak yang dilahirkan di Pandeglang Banten pada tahun 1842 M – 1258 H ini adalah Tubagus Muhammad. Ayahnya bernama K.H. Tubagus Abas dikenal sebagai seorang ulama besar di Banten dan pendiri Pondok Pesantren Tabi. Sedangkan ibunya bernama Ratu Kuraisin. Berdasarkan garis silsilah dari ayahnya, Abah Falak berasal dari keturunan keluarga besar kesultanan di Banten. Itulah sebabnya kenapa di depan namanya memakai gelar kebangsawanan Banten, ‘Tubagus’ sebagaimana pula nama ayahnya. Bahkan merujuk kepada silsilah keluarganya, Abah Falak masih  keturunan dari salah seorang walisongo, yakni Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati).
Sejak kecil, Abah Falak dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai ilmu dan gigih dalam belajar. Dia mulai mendapat pendidikan agama yang ketat dari ayahnya dalam bidang bidang baca tulis Alquran dan akidah Islam. Pelajaran agamanya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Oleh ayahnya ia juga diajarkan ilmu tarekat. Dalam usia yang masih muda, Abah Falak sempat mengembara selama 15 tahun untuk menggali dan menuntut ilmu ke beberapa ulama besar yang ada di daerah Banten dan Cirebon.
Pada tahun 1857, ketika berusia 15 tahun, oleh ayahnya, Abah Falak diberangkatkan ke Mekkah untuk belajar dan memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar ketika itu. Di antaranya, sanad Ilmu Hadits diterima dari Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi. Syekh Nawawi adalah ulama besar Indonesia yang mukim dan mengajarkan ilmu di Mekkah. Karena itu, kebanyakan ulama besar Indonesia pada masa itu pernah berguru dan menuntut ilmu kepada beliau. Salah seorang ulama besar yang juga menjadi murid beliau dari Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari (mufti Kerajaan Indragiri Riau) yang merupakan cicit (keturunan keempat atau kelima) dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dengan demikian, Syekh Abdurrahman Siddiq pernah berguru (seguru) dengan Abah Falak. Kemudian, sanad Ilmu Khasyaf dan Falak diterima dari Syekh Sayyid Afandi. Abah Falak juga sempat berguru kepada Syekh Abdul Karim dan beberapa ulama besar lainnya yang ada di Jazirah Arab.
Selama menuntut ilmu di Mekkah, Abah Falak tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dan dari Syekh Abdul Karim ini beliau mendapatkan kedalaman Ilmu Tarekat dan Tasawuf. Bahkan kemudian, oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekkah ketika itu, Abah Falak dibai’at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Setelah mukim kurang lebih 21 tahun di Mekkah dan menuntut berbagai cabang ilmu agama dari banyak ulama, pada tahun 1878, Abah Falak kembali ke tanah air. Sebelum mendirikan Pesantren Al-Falak Pagentongan, selama beberapa pekan K.H. Falak tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan untuk memimpin pesantren ayahnya. Kemudian, setelah dikawinkan dengan Hj. Fatimah (putri K.H Romli) yang berasal dari Pagentongan, Abah Falak kemudian pindah ke Pagentongan. Di sinilah beliau kemudian mendirikan masjid dan pondok pesantren ‘Al-Falak‘ desa Pagentongan pada tahun 1901.
Setelah mengabdikan ilmunya kepada masyarakat luas, memperjuangkan dakwah, dan mendidik umat, Abah Falak wafat pada tahun 1972, dalam dalam usia kurang lebih 130 tahun. Beliau dimakamkan di areal komplek pemakaman Pondok Pesantren Al-Falak yang berlokasi tidak jauh dari masjid Al-Falak, desa Pagentongan, Bogor Barat. Beliau meninggal karena sakit ringan. Ketika wafat, banyak ulama dan Habaib dari berbagai daerah yang datang bertakziah, menshalatkan, dan ikut mengantarkan beliau ke kubur.
Pengabdian dan jerih payah Abah Falak sebagai seorang pendidik, telah banyak melahirkan santri-santrinya menjadi ulama yang kemudian meneruskan jejaknya dengan mendirikan majelis-majelis taklim, pondok pesantren, madrasah-madrasah dan berbagai lembaga ilmu pengetahuan Islam, tersebar tidak hanya di daerah Jawa Barat, tetapi juga diberbagai wilayah lainnya di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Ketinggian ilmu, kelembutan bahasa, dan kebaikan budi pekerti Abah Falak membuat beliau dikagumi oleh semua orang. Wajar jika banyak tuan guru dan ulama yang menyauk ilmu kepada beliau.
Sesudah anda berziarah ke Sekumpul Martapura dan kemudian mengikuti wisata religius ke daerah Banten, Cirebon, Bandung, Bogor, dan sekitarnya, saya sarankan agar tidak lupa untuk berziarah pula ke Pondok Pesantren Al-Falak dan makam Abah Falak, yang terletak di desa Pagentongan Bogor Barat, berjarak lebih kurang 5 Km dari pusat Kota Bogor. (Teriring Salam takzhim untuk Guru H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)

Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani Asy-Syafi’I

Kiai Nawawi Banten(1230-1314 H/1813-1897 M) alias Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani Asy-Syafi’I adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib MInangkabau, dan Kiai Mahfudz Termas (wafat 1919-20 M).

Namanya yang lengkap ialah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/ 1813 M. Ayahnya seorang tokoh yang agama yang sangat disegani. Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Istrinya yang pertama bernama Nasimah, juga lahir di Tanara. Darinya, Kiai Nawawi dikaruniai tiga putri, Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Istrinya yang kedua, Hamdanah, memberinya satu putri: Zuhrah. Konon, Hamdanah yang baru berusia berlasan tahun dinikahi sang kiai pada saat usianya kian mendekati seabad. Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Makkah, karena saat itu Indonesia –yang namanya masih Hindia Belanda- dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat. Iapun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana. Banyak sumber menyatakan Kiai Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada 1314 H/ 1897 M, namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, ia wafat pada 1316 H/ 1898 M.

PENGGERAK MILITANSI MUSLIM
Meski pandangannya terhadap perempuan masih terlalu ortodoks dan sebagaimana lazimnya permikiran tradisional Islam, masih menganggapnya sebagai objek, jejak Kiai Nawawi, baik melalui murid dan pengikutnya maupun melalui kitabnya, yang masih berpengaruh dan dipakai di pesantren hingga kini, benar-benar pantas menempatkannya sebagai nenek moyang gerakan intelektual Islam di Nusantara. Bahkan, sangat boleh jadi, ia merupakan bibit penggerak (King Maker) militansi muslim terhadap Belanda penjajah.

Pada masanya, saat perjalanan haji mulai berfungsi sebagai pemersatu Nusantara dan perangsang antikolonialisme, ketiga ulama tersebut sebagai bagain dari masyarakat “Jawah mukim” punya peran penting sebagai perantara antara orang Nusantara dan gerakan agama serta politik di bagian dunia Islam yang lain. Ketiganya mengilhami gerakan agama di Indonesia dan mendidik banyak ulama yang kemudian berperan penting di tanah air.

Sebagai pengarang yang paling produktif, Kiai Nawawai Banten punya pengaruh besar di dikalangan sesama orang Nusantara dan generasi berikutnya melalui pengikut dan tulisannya. Tak kurang dari orientalis Dr. C. Snouck Hurgronje memujinya sebagai orang Indonesia yang paling alim dan rendah hati. Ia menerbitkan lebih dari 38 karya. Ada sumber yang mengatakan ia menulis lebih dari 100 kitab.

PENULIS MULTI DIMENSI

Kitab tafsirnya, Al-Tafsir Al-Munir li Ma’alim al-Tanzil sangat terkenal. Ia menulis kitab dalam hampir setiap disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren. Berbeda dari pengarang Indonesia sebelumnya, ia menulis dalam bahasa Arab. Beberapa karyanya merupakan syarah (komentar) atas kitab yang telah digunakan di pesantren serta menjelaskan, melengkapi, dan terkadang mengkoreksi matan (kitab asli) yang dikomentari.

Sejumlah syarah-nya benar-benar menggantikan matan asli dalam kurikulum pesantren. Tidak kurang dari 22 karyanya (ia menulis paling sedikit dua kali jumlah itu) masih beredar dan 11 kitabnya yang paling banyak digunakan di pesantren. Kiai Nawawi Banten berdiri pada titik peralihan antara dua periode dalam tradisi pesantren. Ia memperkenalkan dan menafsirkan kembali warisan intelektualnya dan memperkayanya dengan menulis karya baru berdasarkan kitab yang belum dikenal di Indonesia pada zamannya. Semua kyai zaman sekarang menganggapnya sebagai nenek moyang intelektual mereka.

Bahkan, Ahmad Khatib Minangkabau, bapak reormasi Islam Indonesia, pun termasuk siswanya. Muridnya yang lain antara lain, K.H. Hasyim Asy-ari, K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Raden Asnawi, dan K.H. Tubagus Asnawi.

DARI AKIDAH HINGGA RIWAYAT HADITS
Kitabnya, Qathr al-Ghaits, merupakan syarah dari kitab akidah terkenal, Ushul 6 Bis, karya Abu Laits al-Samarqandi, yag di Jawa lebih dikenla sebagai Asmaraqandi. Bersama karya Ahmad Subki Pekalongan, Fath al-Mughits, yang merupakan terjemahan Jawa Ushul 6 Bis, Qathr al-Ghaits banyak dipakai dan menjadikan Ushul 6 Bis lebih terkenal.

Ushul 6 Bis ialah karya tentang ushuluddin yang terdiri atas enam bab yang masing-masing dibuka dengan kata bismillah. Pada abad ke-19, Ushul 6 Bis merupakan kitab akidah pertama yang dipelajari di pesantren tingkat rendah Indonesia. Dua kitab lain yang diajarkan di tingkat yang sama ialah kitab fiqh at-Taqrib fi al-Fiqh karya Abu Syuja’ al-Isfahani dan Bidayah al-Hidayah, ringkasan Ihya karya al-Ghazali.

Kitab Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani, Madarij al-Su’ud Ila Ikhtisah al-Burud, yang berbahasa Arab dalam berbagai terbitan merupakan adaptasi Indonesia kitab karya Ja’far bin Hasan al-Barzinji tentang Maulid an-Nabi (‘Iqd al-Jawahir).

Karya acuan yang paling penting ialah Minhaj at-Thalibin karya Nawawi dan komentarnya atas karya Khatib Syarbini, Mughni al-Muhtaj. Minhaj yang menjadi dasar utama semua teks juga dianggap sebagai sumber riil otoritas.

Teks dasar dalam bidang akidah ialah Umm Al-Barahin (disebut juga Al-Durrah) karya Abu’Abdullah M. bin Yusuf al-Sanusi (wafat 895 H/ 1490 M). Syarah yang lebih mendalam, yang dikenal sebagai as-Sanusi, ditulis oleh pengarangnya sendiri. Karya lain yang sebagain didasarkan atas As-Sanusi ialah Kifayah al-‘Awwam karya Muhammad bin Muhammadal-Fadhdhali (wafat 1236 H/ 1821 M) yang sangat popular di Indonesia. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dalam Mac Donald1903, halaman 315-351.

Murid Fadhali, Ibrahim Bajuri (wafat 1277 H/1861 M) menulis syarah-nya, Taqiq al-Maqam ‘Ala Kifayah al’Awwam, yang dicetak bersama Kifayah dalam edisi Indonesia. Syarah ini di-hasyiyah-kan oleh nawawi banten dalam karya yang banyak dibaca orang, Tijan ad-Durari.

DARI ANAK MUDA HINGGA ADAB
Kitab singkat berbentuk sajak bagi mereka yang berusia belia dan baru mengerti bahasa Arab, ‘Aqidah al-Awwam, ditulis oleh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki yang giat kira-kira 1864. Nawawi Banten menulis syarah yang terkenal atasnya, Nur Azh-Zhalam.

Nasha’ih al-‘Ibad juga merupakan karya lain Nawawi Banten. Kitab ini merupakan syarah atas karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, an-Nabahah ‘ala Isti’dad. Kitab ini memusatkan pembahasan atas adab berperilaku dan seiring dijadikan karya pengantar mengenal akhlak bagi santri yang lebih muda.

Nawawi juga menulis syarah berbahasa Arab atas Bidayah al-Hidayah karya Abu Hamid al-Ghazali dengan judul Maraqi al-‘Ubudiyah yang lebih popular, jika dinilai dari jumlah edisinya yang berbeda-beda yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. ‘Uqd al-Lujain fi Huquqf az-Zaujain ialah karya Nawawi tentang hak dan kewajiban istri. Ini adalah materi pelajaran wajib bagi santri putri di banyak pesantren. Dua terjemahan dan syarah-nya dalam bahasa Jawa beredar, Hidayah al-‘Arisin oleh Abu Muhammad Hasanuddin dari Pekalongan dan Su’ud al-Kaumain oleh Sibt al-Utsmani Ahdari al-Jangalani al-Qudusi.

TOKOH SUFI QADIRIYAH

Kiai Nawawi juga dicatat sebagai tokoh sufi yang beraliran Qadiriyah, yang didasarkan pada ajaran Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (wafat 561 H/ 1166M). sayang, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis belum mendapatkan bahan rujukan yang memuaskan tentang Kiai Nawawi Banten sebagai pengikut tarekat Qadiriyah ataukah tarekat gabungan Qadiriyah wa Naqshabandiyah.

Padahal, pembacaan sejak lama kitab Manaqib Abdul Qadir pada kesempatan tertentu merupakan indikasi kuatnya tarekat ini di Banten. Bahkan, Hikayah Syeh, terjemahan salah satu versi Manaqib, Khulashah al-Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karangan ‘Afifuddin al-Yafi’I (wafat 1367M), sangat boleh jadi dikerjakan di Banten pada abad ke-17, mengingat gaya bahasanya yang sangat kuno. Lebih dari itu, pada pertengahan abad ke-18, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, dalam segel resminya menggelari diri al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin dari Kalimantan di Makkah, Ahmad Khatib Sambas (wafat 1878), mengajarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan dengan Naqshabandiyah. Kedudukannya sebagai pemimpin tarekat digantikan oleh Syaikh Abdul Karim Banten yang juga bermukim di Makkah. Di tangannya, tarekat gabungan ini berkembang pesat di Banten dan mempengaruhi meletusnya Geger Cilegon pada 1888 dan amalannya melahirkan debus.

Begitulah, Syeikh Nawawi bin ‘Umar al-Bantani yang hidup kira-kira satu abad setelah ‘Abd as-Samad al-Falimbani disebut dalam isnad kitab tasawuf yang diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning Syekh Yasin Padang (Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa al-Fadani) sebagai mata rantai setelah ‘Abd as-Samad.

Kiai Nawawi yang sangat produktif itu juga menulis kitab syarah, Salalim al-Fudhala’, atas teks pelajaran tasawuf praktis Hidayah al-Adzkiya’ (Ila Thariq al-Auliya’) karya Zain ad-Din al-Malibari yang ditulis dalam untaian sajak pada 914 H/ 1508-09 M. kitab ini popular di Jawa, misalnya disebutkan dalam Serat Centhini. Salalim dicetak di tepi Kifayah al-Ashfiya’ karya Sayyid Bakri bin M. Syaththa’ ad-Dimyati.

PENYUMBANG BESAR ILMU FIQH
Kiai Nawawi termasuk ulama tradisional besar yang telah memberikan sumbangan sangat penting bagi perkembangan ilmu fiqh di Indonesia. Mereka memperkenalkan dan menjelaskan , melalui syarah yang mereka tulis, berbagai karya fiqh penting dan mereka mendidik generasi ulama yang menguasai dan memberikan perhatian kepada fiqh.

Ia menulis kitab fiqh yang digunakan secara luas, Nihayat al-Zain. Kitab ini merupakan syarah kitab Qurrat al-‘Ain, yang ditulis oleh ulama India Selatan abad ke-16, Zain ad-Din al-Malibari (w. 975 M). ulama India ini adalah murid Ibnu Hajar al-haitami (wafat 973 M), penulis Tuhfah al-Muhtaj, tetapi Qurrat dan syarah yag belakangan ditulis al-Malibari sendiri tidak didasarkan pada Tuhfah.

Qurrat al-‘Ain belakangan dikomentari dan ditulis kembali oleh pengarangnya sendiri menjadi Fath al-Muin. Dua orang yang sezaman dengan Kiai Nawawi Banten di Makkah tapi lebih muda usianya menulis hasyiyah (catatan) atas Fath al-Mu’in. Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha al-Dimyathi menulis empat jilid I’aanah at-Thalibbin yang berisikan catatan pengarang dan sejumlah fatwa mufti Syafi’I di Makkah saat itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. Inilah kitab yang popular sebagai rujukan utama.

Kiai Nawawi Banten juga menulis dalam bahasa Arab Kasyifah as-Saja’, syarah atas dua karya lain yang juga penting dalam ilmu fiqh. Yang satu teks pengantar Sultan at-Taufiq yang ditulis oleh ‘Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (wafat 1272 H/ 1855 M). yang lain ialah Safinah an-Najah ditulis oleh Salim bin Abdullah bin Samir, ulama Hadrami yang tinggal di Batavia (kini: Jakarta) pada pertengahan abad ke-19.

Kitab daras (text book) ar-Riyadh alBadi’ah fi Ushul ad-Din wa Ba’dh Furu’ asy-Syari’ah yang membahas butir pilihan ajaran dan kewajiban agama diperkenalkan oleh Kyai Nawawi Banten pada kaum muslimin Indonesia. Tak banyak diketahui tentang pengarangnya, Muhammad Hasbullah. Barangkali ia sezaman dengan atau sedikit lebih tua dari Kiai Nawawi banten. Ia terutama dikenal karena syarah Nawawi, Tsamar al-Yani’ah. Karyanya hanya dicetak di pinggirnya.

Sullam al-Munajat merupakan syarah Nawawi atas pedoman ibadah Safinah ash-Shalah karangan Abdullah bin ‘Umar al-Hadrami, sedangkan Tausyih Ibn Qasim merupakan komentarnya atas Fath al-Qarib. Walau bagaimanapun, masih banyak yang belum kita ketahui tentang Kiai Nawawi Banten.

Artikle ini pernah dimuat di Banten Raya Post
Selasa 9 Oktober 2007

REFERENSI:

1. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat –Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, penerbit Mizan, Bandung, cetakan kedua, Mei 1995.

2. Mimi Jamilah, Imam Nawawi Ulama Besar dari Banten, dalam rubric Khazanah Majalah Mimbar Ulama No. 31/XXV.

3. C. Snouck Hurgronje, Mekka, Bd. II: Aus dem Heutigen Leben, Martinus Nijhoff, Den Haag, 1889.

4. L.W.C. van den Berg, Het Mohammedaansche Godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de Daarbij Gebruikte Arabixche Boeken, dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 31, 1886.

5. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Mutiara, Jakarta, cetakan keuda. 1979.

6. Al-Fadani, al-‘Iqd al-Farid min Jawahir al-Asamid, Dar as-Saqqaf, Surabaya, 1401 H

Para ULAMA : Rahim Yang Melahirkan TNI Oleh : Let-Jen.TNI(Pur)Z.A.Maulani



Perang Asia Timur Raya Dai Toa no Senso- pecah diawali dengan serangan armada laut dan udara Kekaisaran Jepang ke Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941. Jepang terpancing oleh provokasi presiden Franklin Roosevelt yang mengeluarkan perintah untuk melakukan embargo atas seluruh perdagangan antara Amerika Serikat dengan Jepang terhitung mulai bulan Oktober 1941. Sejarah kemudian mencatat perintah embargo itu tidak lain dalam rangka memancing kemarahan Jepang. Serangan terhadap pangkalan angkatan laut terbesar di Pasifik tersebut ditujukan untuk menghancurkan armada Amerika Serikat yang ditugasi untuk melakukan blokade terhadap pasokan minyak bumi dari Asia Tenggara ke Jepang, terutama dari ladang-ladang minyak milik Teikoku oil Company di Kalimantan Timur (JM. Robert, “History of the World’, Oxford University Press, New York, 1992).

Dalam tempo kurang dari satu jam “Pacific Fleet’ Amerika itu luluh lantak jadi puing. Dengan serangan itu pula “Dai Toa no Senso” dimulai. Armada kekaisaran bergerak dengan sangat cepat. Pada 16 Desember 1941 sebuah flotila telah berada di lepas pantai Miri, kota pertambangan minyak di negeri Sarawak. Bala tentara Kekaisaran Jepang mendarat di Kalimantan nyaris tanpa perlawanan. Setelah menyerang Davao di Filipina pada tanggal 12 Desember 1941, dua minggu kemudian pada tanggal 26 Desember 1941 Davao jatuh, dan panglima tentara Amerika di Filipina jenderal McArthur berhasil meloloskan diri melalui Corrigedor ke Australia, dengan kata-kata bersayapnya, “I will Return.”


Lieutenant General Masaharu Homma steps ashore at Lingayen Gulf after his troops have secured a beachhead


General Douglas MacArthur, Supreme Commander of Allied forces in the South-West Pacific Area, fulfills his pledge of ‘I shall return’.

Dari Filipina pasukan depan balatentara Jepang menyeberang ke Tarakan dan Balikpapan, dan merebut kedua kota minyak yang jatuh pada 24 Januari 1942. Dari Balikpapan dengan mengikuti jalan setapak pasukan depan balatentara Jepang dengan menggunakan sepeda bergerak dengan cepat ke arah selatan menuju tambang minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) di Murung Pundak, Kalimantan Selatan. Melalui jalan setapak Muara Uya, yang dijadikan sebagai pangkalan bagi pesawat pembom tempur mereka ke Jawa, serta melindungi kapal-kapal perang mereka yang mulai menguasai Laut Jawa. Dengan demikian hubungan antara Kalimantan dengan pulau-pulau lainnya terputus total.


USS Houston


HMAS Perth

Panglima tentara KNIL, Jenderal Ter Poorten, meski demikian tetap sesumbar, “Beter staande stierven dan knielen leven.”(lebih baik mati berdiri daripada hidup dengan bertekuk lutut). Pertempuran Laut Jawa yang legendaris dan berlangsung selama sebulan itu menutup nasib Hindia Belanda.

Pada 27 Februari 1942, seluruh kekuatan laut Belanda yang tersisa dihabisi oleh Jepang di bawah komando Laksamana Kurita. Sisa armada Sekutu yang selamat, kapal perang HMAS Perth dari angkatan laut Australia dan USS Houston milik Amerika Serikat, melarikan diri ke Australia. Dalam pertempuran laut itu panglima angkatan laut Belanda Laksamana Karel Dorman tewas.

Sebulan sesudah hancurnya armada Sekutu dalam Pertempuran Laut Jawa, pada 8 Maret 1942, di Bandung, pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jenderal Imamura, panglima Ryuku-gun ke-16. Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenburg-Stachouwer menjadi tawanan perang di Cimahi.
The signing of the capitulation, Java 1942Japanese soldiers with captured Dutch KNIL soldiers, Java 1942

Ryuku-gun ke-16 -Pemerintahan Militer di Jawa
Sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh Tokyo untuk para panglima di wilayah-wilayah pendudukan, Senryo Tochi Yoko (Garis-garis Besar Kebijakan untuk Wilayah Pendudukan), memuat direktif umum tentang politik pendudukan guna mendukung kemenangan perang. Berdasarkan dokumen tersebut Komando Ryuku-gun ke-16 di Jawa di bawah Jenderal Imamura, mengeluarkan sebuah kebijakan operasional yang berjudul “Saran-saran mengenai Status Masa Depan Pulau Jawa”. Isi dokumen tersebut antara lain, bahwa “…perlu merebut hati penduduk (Jawa) untuk lebih mampu mengembangkan sumber-sumber daya (untuk mendukung perang)”. Dari isinya tampaknya dokumen ini disusun oleh staf dari badan intelijen militer Jepang ’Sambobu Tokebetsu-har’ yang lebih dikenal dengan nama sandi mereka Beppan. Badan Intelijen ini sangat bersimpati dengan bangsa Indonesia, mengingat keberadaan mereka di Hindia Belanda sudah jauh sebelum perang meletus. Merekalah kemudian yang dikenal sangat membantu kaum nasionalis Indonesia, seperti LetnanYanagawa, Letnan Tsuchiya, Letnan Yomamura, serta seorang Muslim Jepang Abdul Hamid Nobuharu Ono.

Mengingat jumlah penduduknya yang sangat besar, markas besar Ryuku-gun ke-16 menyimpulkan dukungan rakyat Jawa itu hanya akan dapat terwujud bila ada “kepastian tentang kemerdekaan” bagi wilayah Jawa dan Sumatera. Untuk kepentingan pengerahan dukungan masyarakat Ryuku-gen ke-16 di Jawa membentuk berbagai organisasi masyarakat, seperti Gerakan Tiga ”A”, Jawa Hoko-ka (Badan Kebaktian Rakjat Jawa). Poetera (Poesat Tenaga Rakjat), MIAI (Madjelisul Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah menjadi Masjumi (Madjelis Sjoero Moeslimin Indonesia). Pendek kata untuk memenangkan usaha perangnya Jepang melakukan politisasi yang sangat intensif terhadap rakyat di Jawa dan Sumatera (Salim Said, Genesis of Power, 1942).

Terbentukya PETA
Tewasnya Laksamana Isoroku Yamamoto di atas pulau Bougainville dan kalahnya secara telak Armada Kekaisaran ke-1 dalam pertempuran merebut pulau Guadalcanal yang berlangsung sengit selama enam bulan, dari Agustus 1942 sampai Februari 1943, bukan saja menghentikan kemajuan mesin perang Jepang dan pasifik, tetapi juga membuat situasi perang berbalik (Ahmad Mansur Suryanegara, ‘Pemberontakan Tentara PETA’, Yayasan Wira Patria Mandiri, Jakarta, 1996).

Situasi baru yang tiada menguntungkan Jepang membuat Komando Ryuku-gun ke-16 makin bulat tekad melibatkan rakyat di Jawa untuk mendukung usaha perangnya. Untuk itu dengan menggunakan sepuluh orang nama ulama terkemuka di koran Asia Raja, terbitan 13 September 1943, diberitakan adanya “tuntutan” para alim-ulama tersebut agar pemerintahan Ryuku-gun ke-16, “segera membentuk tentara sukarela, bukan wajib militer, melainkan tentara yang akan membela pulau Jawa”.

Quote:
Para ulama itu adalah KH. Mas Mansoer, Tuan Guru H. Mansoer, Tuan Guru H, Jacob, H.Moh. Sadri, KH. Adnan, Tuan Guru H. Cholid, KH. Djoenaedi, Dr.H. Karim Amroellah, H. Abdoel Madjid, dan U. Mochtar. Mereka inilah bapak-bapak pendiri PETA.

Terpilihnya tokoh-tokoh di atas, didasarkan pada analisis Beppan. Badan intelijen militer Jepang menyimpulkan, untuk memperoleh dukungan maksimum dari rakyat Jawa, maka “tentara” yang akan dibentuk itu harus didukung penuh oleh potensi umat Islam di bawah pimpinan para ulamanya. Berdasarkan usulan Beppan itulah untuk jabatan komandan batalyon (dai dancho) direkrut dari kalangan ulama, untuk jabatan komandan kompi dan pleton (chodan-cho dan shudan-cho), direkrut dari pemuda berlatar belakang anak-anak ambtenaren (priyayi dan eks-pegawai guberneroen), sedang untuk para bintara (budan-cho) diambil dari pemuda Muslim bahkan panji-panji tentara Peta (daidan-ko) harus terlihat berjiwa Islam, yaitu bulan-bintang putih di atas dasar merah.

Dalam struktur tentara Peta ada dua pertimbangan, yaitu kepentingan militer dan kepentingan politik, hal itu terlihat pada kebijakan rekrutmen personalianya. Para komandan batalyon (daidan-cho), dipilih dari kalangan alim ulama. Latihan yang diberikan sangat dasar, hanya taktik kecil (minor tactics) dan tidak diberikan pengajaran tentang administrasi dan logistik, karena Jepang mengkhawatirkan sekiranya pengetahuan itu diberikan akan memberikan kemampuan kepada satuan-satuan Peta untuk melakukan peperangan secara berlanjut sekiranya mereka sewaktu-waktu berontak terhadap Jepang. Sementara itu bagi para komandan bawahan, khususnya budan-cho dan hei-tai (prajurit) diberikan latihan militer secara spartan oleh para instruktur orang Jepang (sido-kan) menjadi militer profesional. Dari sini tampak para daidan-cho diharapkan menjadi simbol partisipasi politik umat Islam dalam ketentaraan Peta.

Umat Islam menyambut dengan gairah pembentukan Peta yang dikehendaki dengan harapan dapat menjadi instrumen batu loncatan menuju kemerdekaan penuh Indonesia. Setelah itu barulah dilakukan pelatihan pertama untuk membentuk para pelatih di Seimen Dojo Cimahi, Januari 1943. Selanjutnya pelatihan untuk korps perwira di Rensei-tai Cimahi dan Magelang Juli 1943, dan setelah itu peresmian terbentuknya Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Bo-ei Gyugun Kanbu Rensei-tai) disingkat PETA, di Bogor 3 Oktober 1943.


Monumen PETA dari depan

Pintu gerbang

Pelataran monumen

Diorama kesepakatan berdirinya PETA

Diorama latihan PETA Bogor

Koleksi senjata
Sumber : http://www.sejarahtni.mil.id/index.php?cid=2012

Terbentuknya TNI
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan lahirnya Republik Indonesia. Karena pertimbangan politik bahwa republik yang baru lahir ini cinta damai dan bukan bentukan negara fasis Jepang, pemerintah tidak menghendaki kesan itu ada pada Sekutu yang mulai masuk ke Indonesia untuk melucuti senjata tentara Jepang. Untuk itu pemerintah tidak menghendaki adanya badan kemiliteran dalam negara Republik Indonesia yang dapat menimbulkan kecurigaan yang tidak diinginkan.

painting of a pilot, sailor and soldierTetapi perkembangan yang terjadi memperlihatkan bahwa sekutu bukan saja melucuti senjata Jepang tapi juga berdasarkan perjanjian London 1945 antara Inggris dan Belanda, Sekutu diberi pula tugas memulihkan kedaulatan Hindia Belanda di Indonesia. Dengan membonceng tentara Inggris, NICA (Netherland Indies Civil Administration) masuk sebagai lembaga persiapan untuk menegakkan kembali kedaulatan Belanda. Bentrokan senjata antara NICA, dan kadang-kadang dengan tentara Inggris yang melindungi mereka dengan lasykar rakyat tidak terhindarkan. Pertempuran paling sengit terjadi di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 yang dikenang sebagai Hari Pahlawan dan Bandung Lautan Api.

Akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1945, dua bulan setelah negara dan pemerintahan Republik Indonesia terbentuk, pemerintah menyetujui untuk meresmikan lasykar rakyat menjadi BKR (barisan keamanan rakyat). Banyak yang tidak menyadari bahwa pada tanggal 4 september 1945 Soekarno telah mengumumkan susunan kabinetnya yang pertama. Namun dalam susunan tersebut tidak mencantumkan adanya portofolio menteri pertahanan. Jadi, BKR dari namanya saja tidak diniatkan sebagai pasukan militer, tetapi hanya badan keamanan atau kepolisian yang tugasnya hanya membantu pasukan Sekutu memelihara ketertiban serta mengumpulkan tawanan Jepang dan orang-orang Eropa bekas tawanan untuk diserahkan kepada Sekutu.

BKR terdiri dari berbagai unsur perlawanan rakyat, pimpinannya sebagian berasal dari PETA yang didukung oleh 60 batalyon senapan, kemudian unsur perwira-perwira KNIL sebelum perang seperti Oerip Soemohardjo, Didi Kartasasmita, AH. Nasution, TB. Simatupang, Kawilarang dan lain-lain yang tidak membawa anak buah.

Selebihnya adalah para pasukan Heiho, semacam hansip buatan Jepang. Sebulan sesudah itu, pada tanggal 11 November 1945 di Purwokerto atas prakarsa yang dipimpin oleh Oerip Soemohardjo, diadakan konferensi pertama para komandan BKR untuk membahas: pertama menghadapi kekacauan dan anarchie, kedua, atas usul dari Holland Iskandar, seorang mantan perwira Peta, untuk memilih seorang panglima besar BKR. Ada tiga panglima besar yang diajukan untuk memimpin BKR. Pertama Kolonel Soedirman dari kalangan santri dan seorang mantan guru Muhammadiyah di Cilacap. Kedua Oerip Soemohardjo yang merepresentasikan perwira-perwira KNIL. Ketiga Moeljadi Djojomartono dari unsur lasykar rakyat dari Barisan Banteng Surakarta. Lalu terpilihlah Kolonel Soedirman menjadi Panglima Besar BKR, kemudian TKR, terakhir TNI.

BKR sampai dengan TNI di masa perang kemerdekaan pada umumnya dipimpin oleh para panglima dan komandan dari Peta berlatar belakang ulama dan santri. Panglima Besar Soedirman misalnya, disebut oleh anak buahnya dengan panggilan kesayangan Kajine (Pak Haji). Ini merupakan satu penghormatan untuk beliau meski Pak Dirman sendiri belum haji.

Di Jawa Timur Komandan resimen BKR adalah KH. Hasyim Asy’ari, komandan batalyonnya KH. Yusuf Hasyim atau Pak Ud. Di Jawa Tengah komandan resimennya Kasman Singodimedjo. Di Jawa Barat komandan resimennya seorang ulama yang berjuluk Singa Bekasi, KH. Noor Ali. Hampir tidak ada komandan resimen yang tidak bergelar “Kyayi Hadji” saat itu.

Setelah persetujuan Roem van Royen disepakati, diadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda untuk membicarakan masa depan Indonesia. Konferensi tersebut pada tanggal 27 Desember 1949 menyepakati kemerdekaan, kecuali Irian Barat. Menyusul penyerahan kedaulatan tersebut, TB Simatupang yang menjabat sebagai kepala staf angkatan perang menyatakan,

“…kami sangat menyadari dampak dari perang gerilya. Dari pengetahuan kami, negara-negara yang merdekanya dari perang gerilya biasanya akan menghadapi kehidupan politik yang tidak akan stabil. Oleh karena itu, kami tiba pada kesimpulan, karena kami harus mendukung suatu pemerintahan sipil, dimana kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan reorganisasi terhadap ketentaraan dan memberikan pelatihan kepada anggota sesegera mungkin sehingga jumlahnya dapat dikurangi. Dengan melaksanakan gagasan tersebut kami berharap tentara (yang lebih profesional itu) tidak akan menjadi sumber masalah lagi bagi pemerintah.”

Link :

* http://www.geocities.com/dutcheastin…a_gallery.html
* http://id.wikipedia.org/wiki/Sheikh_Nuruddin_ar-Raniry

Jejak Emas Para Ulama



Quote:
Jejak Emas Para Ulama
Indonesia mempunyai sejarah yang penuh dengan ulama luar biasa.

Soekarno, dalam surat menyuratnya dengan A. Hassan, suatu ketika pernah mengritik kesalahan ulama dalam kaitannya tentang sejarah. Menurut Soekarno dalam suratnya yang ia kirim dari tempat pembuangannya di Endeh, kemampuan ulama menulis, terlebih lagi menulis sejarah, sangatlah kurang dan lemah.

“Umumnya kita punja kjai-kjai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun feeling kepada sedjarah, ja, boleh saja katakan kebanjakan tak mengetahui sedikitpun dari sedjarah itu. Mereka punya minat hanjua menudju kepada “agama chususi” sahaja, dan dari agama chususi ini, terutama sekali bagian fiqh. Sedjarah, apalagi bagian “jang lebih dalam”, jakni yang mempeladjari “kekuatan-kekuatan masjarakat” yang “menjebabkan” kemadjuannja atau kemundurannja sesuatu bangsa,— sedjarah disini sama sekali tidak menarik mereka punja perhatian. Padahal, disini, disinilah pada penjelidikan maha-maha-penting. Apa sebab mundur? Apa “sebab” bangsa ini di zaman ini begitu? Inilah pertanjaan-pertanjaan jang maha penting jang harus berputar terus menerus didalam kita punja ingatan, kalau kita mempeladjari naik turunnja sedjarah itu.

Tetapi bagaimana kita punja kjai-kjai dan ulama-ulama? Tadjwid tetapi pengetahuannja tentang sedjarah umumnja “nihil”. Paling mudjur mereka hanja mengetahui “Tarich Islam” sahadja, — dan inipun terambil dari buku-buku tarich Islam jang kuno, jang tak dapat “tahan” udjiannja modern science, jakni tak dapat “tahan” udjiannja ilmu pengetahuan modern!” (Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I, tahun 1963)

Surat di atas dikirim Soekarno kepada A. Hassan tertanggal 14 Desember 1936, dari Endeh. Soekarno bisa jadi benar. Tapi bisa jadi pula, ia salah besar. Sebab, menurut banyak catatan, ulama-ulama Indonesia, bahkan generasi awal-awal dakwah di Indonesia, punya keilmuan yang tinggi dan kemampuan menulis yang luar biasa. Namun ada proses lain, yakni deislamisasi yang dilakukan oleh para penjajah, baik Portugis, Inggris, dan juga Belanda.

Menurut Abdullah bin Abdul Kadir al Munsyi dalam hikayatnya tentang Kerajaan Malaka yang ditulis pada abad ke-13 hijriah, ada aksi pemberangusan yang dilakukan oleh Belanda. Dalam hikayat tersebut dijelaskan, Belanda mengumpulkan buku-buku dan hikayat yang dihasilkan oleh komunitas Muslim dari berbagai wilayah Melayu. Daerah-daerah mulai dari Riau, Langka, Pahang Trengganu dan Kelantan dijarah kekayaan intelektualnya. Tak kurang dari 70 jilid hikayat dan karya para ulama dirampas penjajah. Entah berapa banyak lagi yang telah dirampas dari wilayah Sumatera, Jawa dan juga dari kepulauan Maluku.

Abdullah Munsyi juga menyebutkan, Stamford Raffles setidaknya turut mengumpulkan 300 judul hikayat yang ditulis oleh para ulama zaman itu. Penjajah dari Spanyol dan Portugis bahkan jelas-jelas telah membakar karya-karya klasik para intelektual Islam. Pembakaran tersebut menurut Munsyi dilakukan atas perintah Kardinal Gemenis.

Tentang pernyataannya itu, Soekarno sebenarnya perlu dikoreksi. Ulama-ulama awal Nusantara, adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka mempunyai kemampuan dan jaringan yang menakjubkan untuk zaman itu. Salah satu bukti yang menyatakan bahwa ulama silam punya kemampuan yang maksimal dalam penulisan sejarah ditunjukkan oleh tiga serangkai ulama yang cukup terkenal di masanya. Mereka adalah Nuruddin Ar Raniry, Al Singkili dan Al Maqasari yang hidup dan berkiprah pada abad-17. Nuruddin Ar Raniry, yang kini namanya diabadikan sebagai nama IAIN di Nanggroe Aceh Darussalam menulis dengan luar biasa sejarah perkembangan Islam Nusantara dalam risalah kuno berjudul Bustan as Salathin.

Dalam Bustan as Salathin bisa ditemui kisah-kisah “sedjarah” yang dimaksud Soekarno. Ar Raniry menuliskan tentang hubungan diplomatik antara kerajaan Islam di Aceh dengan Khalifah Utsmani di Turki. Ar Raniry mengisahkan, pada tahun 1562 di bulan Juni, seorang duta dari Aceh terlihat berada di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghadapi serangan Portugis di Nusantara. Duta ini, menurut Ar Raniry, adalah sebagian kecil dari duta yang dikirim. Di tengah perjalanan, mereka diserang oleh Portugis di tengah Samudera. Isi kapal yang penuh dengan barang berharga seperti emas, permata dan rempah-rempah dijarah oleh Portugis. Sedianya, barang-barang tersebut adalah persembahan untuk Khalifah Utsmani.

Sepulang dari Istanbul, dikabarkan, sang duta membawa pula bantuan militer yang akhirnya membantu Aceh mengusir Portugis. Duta itu pula yang membawa izin, bahwa kapal-kapal Aceh boleh mengibarkan bendera Turki di perairan sebagai jaminan keselamatan.

Selain menulis Bustan as Salathin, Ar Raniry juga menulis karya-karya lain yang monumental. Ada pula Ash Shirathal Mustaqim yang juga kitab fiqh. Ar Raniry menulis tidak kurang dari 29 karya terdiri dari ilmu kalam, fiqh, hadits, sejarah bahkan sampai ilmu perbandingan agama, yang memang tampak menjadi minat terbesari Ar Raniry.

Al Singkili bahkan pernah menulis karya berjudul Mir’at at Thullab yang membahas masalah-masalah fiqh dan hukum. Di dalam karya ini dibahas tentang syarat-syarat dan aturan menjadi hakim dan penegakan hukum Islam. Al Singkili juga menulis tentang fiqh muamalat dan menulis tafsir al Qur’an dengan judul Tarjuman al Mustafid yang terbit untuk pertama kali justru di Timur Tengah dan bukan di Indonesia.

Sedangkan Al Maqasari yang mempunyai nama lengkah Syekh Yusuf al Maqasari punya kiprah tak kalah luar biasa. Ia pernah berkeliling ke banyak tempat di Nusantara, termasuk singgah di daerah Banten dan menetap di rumah sesepuh Ustadz Abu Ridha atau Abdi Sumaithi yang kini duduk sebagai salah satu anggota Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera. Di Banten, Al Maqasari mengajarkan agama lalu melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah, sebelum mengakhiri usia di Cape Town, Afrika.

Quote:
Ulama-ulama seperti Ar Raniry, Al Singkili dan Al Maqasari adalah para ulama awal Nusantara yang membawa pembaruan dan mengajarkan syariat Islam di mana saja mereka berada

.
Hubungan diplomatik yang terbangun, sebenarnya adalah bentuk hubungan yang lebih muda dibanding hubungan sebelumnya. Sebelum hubungan ini terbentuk, ada hubungan awal yang lebih menentukan, yakni pengiriman dan pertukaran ulama-ulama. Ulama-ulama Timur Tengah dikirim ke Indonesia untuk memberikan dakwah, dan ulama-ulama Indonesia berangkat ke Makkah, Madinah dan beberapa kota ilmu lain untuk memperluas dan memperdalam ilmu agama.

Meski hubungan ini sudah terjadi sejak lama, namun pada generasi setelah Ar Raniry, jaringan ulama Indonesia dan Timur Tengah menemui puncaknya. Beberapa ulama yang sangat terkenal pada generasi ini di antaranya adalah, Syekh Abdus Shamad al Falimbani dari Palembang, Syekh Muhammad Arsyad al Banjari dari Kalimantan, Syekh Rahman al Batawi dari Betawi, dan Syekh Dawud al Fatani dari Patani, Thailand Selatan.

Beberapa ulama yang disebutkan di atas mempunyai jaringan yang kuat. Mereka pernah belajar pada saat yang bersamaan di beberapa kota di Timur Tengah, terutama Makkah dan Madinah. Ulama-ulama ini mempelajari banyak ilmu, mulai dari akidah, akhlak, fiqh, sejarah Islam, matematika hingga ilmu falakh atau astronomi.

Terbetik kisah, suatu ketika, Al Palimbani, Al Banjari, Al Batawi dan Al Bugisi dikabarkan meminta izin pada guru mereka di Makkah, Athallah al Mashri, untuk menimba ilmu ke negeri Nabi Musa, Mesir. Namun sang guru memberi nasihat lain. Mengejar ilmu memang sangatlah penting, tapi mengajarkan ilmu adalah hal yang juga tak bisa ditinggalkan. Lalu sang guru, Athallah al Mashri, meminta mereka untuk kembali ke tanah air dan mengajarkan Islam serta berdakwah di tempat masing-masing.

Namun mereka tetap berkunjung ke Kairo. Tidak untuk belajar memang, hanya berziarah ke negeri dengan peradaban tinggi ini. Setelah ziarah ke Kairo, kecuali Al Falimbani, ulama-ulama lain pulang kembali ke tanah air dan melanjutkan dakwah di tempat masing-masing.

Sebelum mereka menuju perjalanan masing-masing, Arsyad al Banjari dan Wahab al Bugisi sempat singgah di Betawi untuk mengantarkan Rahman al Batawi pada tahun 1773 masehi atau 1186 hijriah. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara menuturkan, dalam persinggahan tersebut, Al Banjari yang memang ahli dalam bidang astronomi dan matematika sempat meluruskan arah kiblat masjid-masjid yang terletak di dua daerah, Pekojan dan Jembatan Lima.

Setelah itu, para ulama ini berkiprah di daerah masing-masing. Kiprah paling menonjol tercatat dijalani oleh Muhammad Arsyad al Banjari yang langsung menduduki mufti Kerajaan Banjar saat sampai di wilayahnya. Sekembalinya Muhammad Arsyad ke Martapura, ia mendirikan pusat pendidikan Islam semacam pesantren di Jawa atau di Kalimantan. Lewat peran Muhammad Arsyad pula, Kesultanan Banjar mendirikan pengadilam hukum Islam yang pertama di Kalimantan. Muhammad Arsyad berusaha keras menerapkan dan menegakkan hukum dan syariat Islam di wilayahnya. Hal lain yang sangat luar biasa adalah, pada zaman itu, Muhammad Arsyad telah membicarakan penerapan zakat sebagai ganti peraturan pajak yang ditetapkan oleh Sultan Banjar.

Kisah-kisah di atas, hanya sebagian kecil saja dari ribuan kisah lain tentang peran ulama Indonesia. Sungguh, Muslim Indonesia mempunyai sejarah yang sangat dahsyat dan luar biasa.

Kita juga punya dasar dan pijakan yang sangat kuat untuk mengusung kembali pusaka yang telah hilang. Pusaka itu, tak lain dan tak bukan adalah hukum dan syariat Islam. Pondasi telah dibangun, tapi untuk beberapa lama kita lalai menjaga. Maka kini saatnya untuk memulai lagi dan membangun masa depan yang cerah, agar kerja para ulama terdahulu tak sia-sia. (Oleh Herry Nurdi/Sabili)

Quote:
Jenderal Soedirman : Panglima Shalih dari Karang Nongko

Pejuang kemerdekaan yang mengobarkan semangat jihad, perlawa nan terhadap kezaliman, membekali dirinya dengan pemahaman dan pengetahuan agama yang dalam, sebelum terjun dalam dunia militer untuk seterusnya aktif dalam aksi-aksi perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan negeri. Mengawali karir militernya sebagai seorang dai muda yang giat berdakwah di era 1936-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu Soedirman adalah dai masyhur yang dicintai masyarakat.

Lahir dari keluarga petani kecil, di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor tebut pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo.

Ketika ia menjadi seorang panglima, Soedirman adalah seorang yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Memiliki semangat berdakwah yang tinggi, dan lebih banyak menekankan pada ajaran tauhid, kesadaran beragama serta kesadaran berbangsa. Sebagai bagian dari hamba-hamba Allah, kepedulian akan kemurnian nilai-nilai ketauhidan terhadap masyarakat Jawa yang masih sangat kental dipengaruhi oleh adat istiadat. Menjadi suatu kegiatan dakwah yang memiliki nilai strategis, karena dengan cara itulah semangat jihad untuk melakukan perlawanan dalam diri rakyat dapat terpompa dan terpelihara. Termasuk bagi seorang Soedirman, yang memulainya dari kepanduan Hizbul Wathon bagian dari Muhammadiyah.

Bakat dan jiwa perjuangannya mulai terlihat sejak dari kepanduan Hizbul Wathon ini, juga peningkatan kemampuan fisik dan penggemblengan mental. Bakat kemiliterannya ditempa melalui organisasi berbasis dakwah. Bahkan semangatnya berjihad telah mengantarkan Soedirman menjadi orang nomor satu dalam sejarah militer Indonesia.

Sebagai kader Muhammdiyah, Panglima Soedirman dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam pengajian “malam selasa”, yakni pengajian yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta. Seorang Panglima yang istimewa, dengan kekuatan iman dan keislaman yang melekat kuat dalam dadanya. Sangat meneladani kehidupan Rasulullah, yang mengajarkan kesederhaan dan kebersahajaan. Sehingga perlakuan khusus dari jamaah pengajian yang rutin diikutinya, dianggap terlalu berlebihan dan ditolaknya dengan halus.

Seorang jenderal yang shalih, senantiasa memanfaatkan momentum perjuangan dalam rangka menegakkan kemerdekaan sebagai bagian dari wujud pelaksanaan jihad fi sabilillah. Dan ini ia tanamkan kepada para anak buahnya, bahwa mereka yang gugur dalam perang ini tidaklah mati sia-sia, melainkan gugur sebagai syuhada. Untuk menyebarluaskan semangat perjuangan jihad tersebut, baik di kalangan tentara atau pun seluruh rakyat Indonesia, Jenderal besar ini menyebarkan pamflet atau selebaran yang berisikan seruan kepada seluruh rakyat dan tentara untuk terus berjuang melawan Belanda dengan mengutip salah satu hadits Nabi. “Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.”

Perang gerilya yang dilakukan, tak luput dari mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sewaktu berada di desa Karangnongko, setelah sebelumnya menetap di desa Sukarame, Panglima Besar Soedirman yang memiliki naluri seorang pejuang, menganggap desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Maka beliau pun mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dengan taktik penyamaran, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah besarta para sahabatnya saat akan berhijrah.

Quote:
Setelah shalat subuh, Pak Dirman yang memiliki nama samaran Pak De dengan beberapa pengawal pergi menuju hutan. Mantel yang biasa dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu, termasuk beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Suparjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya Heru Kesser segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Suparjo Rustam berjalan menuju arah selatan, sampai pada sebuah rumah barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Soedirman. Dan sore harinya pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya memborbardir rumah yang sempat disinggahi Heru Kesser dan Suparjo Rustam, dan ini membuktikan betapa seorang Panglima sekaligus dai ini begitu menguasai taktik dan sejarah perjuangan dalam Islam.

Sebuah perjuangan yang penuh dengan kateladanan, baik untuk menjadi pelajaran dan contoh bagi kita semua, anak bangsa. Perjalanan panjang seorang dai pejuang yang tidak lagi memikirkan tentang dirinya melainkan berbuat dan berkata hanya untuk rakyat serta bangsa tercinta. Penyakit TBC yang diderita, tidak menyurutkan langkah perjuangannya. Sampai akhir usianya, 38 tahun, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dicintai rakyat menutup hidupnya tanggal 29 Januari 1950, tepat hari Ahad. Bangsa ini mencatat satu lagi pejuang umat, yang lahir dari umat dan selalu berjalan seiring untuk kepentingan umat.

Quote:
Bung Tomo : Arsitek Pasukan Bom Syahid

Cita-cita sejati seorang pejuang besar, ingin mendidik anak anak muda bangsa menjadi patriot bangsa. Baginya perjuangan tak memiliki arti, bila tak ada generasi penerus yang memiliki jiwa patriot.

Demikian sedikit dari bagian rencana masa depan seorang patriot bangsa yang lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920, dengan nama Sutomo dan dikenal oleh bangsa ini sebagai Bung Tomo. Sebagai pejuang memang tak henti-hentinya terus memikirkan nasib bangsa. Bung Tomo khawatir jika tak ada generasi penerus yang berjiwa patriot, maka bangsa Indonesia akan hancur dan tentu akan kembali di jajah dalam bentuk lain.

Jiwa patriot yang tertanam dalam dada Bung Tomo, adalah jiwa patriot yang lahir dari kekuatan iman seorang Muslim. Bung Tomo meyakini bahwa berjuang dengan niat ikhlas membela kemerdekaan serta kedaulatan bangsa atas nama Allah, maka tak ada satu pun kerugian yang ia dapatkan. Untuk itulah, saat pemerintah waktu itu dianggap terlalu lambat dalam menghadapi pergerakan Belanda yang membonceng sekutu, Bung Tomo bersama rakyat melahirkan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), dan sejak 12 Oktober 1945 ia menjadi pucuk pimpinan di BPRI.

Hotel Oranye SurabayaSebagai pejuang yang lahir dari kepanduan, ia telah dibekali pemahaman serta pengajaran agama yang matang. Bung Tomo, memegang teguh prinsip bahwa sebagai seorang pandu dan pejuang bangsa dirinya harus suci dalam perkataan atau pun perbuatan. Bekal inilah yang menjadi pondasi dasar dalam setiap pergerakan perjuangannya, sehingga pekikan Allahu Akbar yang selalu terdengar dalam menyemangati perlawanan pemuda dan rakyat memiliki kekuatan sangat besar dan tak tertandingi.

Kalimat Allahu Akbar, serta semboyan merdeka atau mati syahid, merupakan semboyan yang sangat akrab diteriakkan melalui corong radio. Saat itu hanya ada dua orang besar yang mampu mengobarkan semangat perlawanan melalui pidato-pidato perjuangan, Bung Tomo dan Soekarno.

Kisah-kisah perjuangan yang sangat menarik banyak lahir dalam setiap kali terjadi aksi pertempuran, dan ini bukti dari pertolongan Allah kepada para tentaranya yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya demi menegakkan nilai-nilai kebenaran. Sebagaimana yang dialami Bung Tomo dalam satu perang gerilya, bersama pasukannya saat sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa karena pesawat Belanda ketika itu telah mengepung dari atas dan tak ada lagi tempat berlindung. Namun atas kebesaran dan kekuasaan Allah, gumpalan awan menutupi Bung Tomo beserta pasukannya yang berada dalam sasaran tembak pesawat-peswat tempur Belanda.

Inilah yang semakin mengokohkan jiwa perlawanan Bung Tomo. Semangat jihadnya terus meningkat, dan ia tanamkan kepada teman-teman seperjuangannya. Termasuk saat terjadi perisitwa 10 November 1945, Bung Tomo adalah penggerak perlawanan rakyat yang didukung oleh ulama-ulama Surabaya kala itu. Untuk itulah sebagai seorang pejuang besar yang bergerak bersama dengan pekikan Allah Akbar, Bung Tomo menjadi orang yang paling diinginkan Belanda. Bagi yang dapat menangkap atau pun membunuh Bung Tomo, Belanda menjanjikan hadiah besar.

Perjuangan kala itu benar-benar membutuhkan pengorbanan yang besar, dan salah satunya adalah pengorbanan jiwa dengan tulus. Di antara tahun 1945-1949, sebagai bentuk lain perjuangan, Bung Tomo membentuk pasukan berani mati, yakni pasukan bom syahid yang siap mengorbankan jiwanya untuk menghancurkan tentara sekutu dan Belanda yang ingin kembali menancapkan kukunya di bumi pertiwi. Suasana revolusi saat itu, benar-benar melahirkan banyak jiwa-jiwa patriot. Sehingga Bung Tomo pun sangat terharu ketika seorang pemuda dengan perawakan lusuh dan datang jauh dari Surabaya, sekadar ingin bergabung menjadi pasukan bom syahid yang siap meledakkan dirinya ke arah tank-tank penjajah.

Pasukan bom syahid yang dibentuk oleh Bung Tomo, adalah pasukan terlatih dan benar-benar ditempa keimanannya. Termasuk pemuda yang telah mengesankan Bung Tomo, ia menjadi bom syahid pertama yang menubrukkan dirinya ke tank Belanda. Dan bersama dengan hancurnya tank tersebut, bersamaan itu pula lahir satu syuhada yang menjadi bunga bangsa dan teladan bagi siapa pun yang mengaku sebagai pejuang bangsa dan agama.

Sebagai seorang pejuang yang berjuang bersama buruh, petani, tukang becak dan rakyat jelata lain, Bung Tomo tetap mempertahankan kehidupan bersahaja, dan tak pernah mau menerima dalam bentuk apa pun fasilitas dari pemerintah setelah revolusi kemerdekaan usai. Bung Tomo tetaplah pejuang yang memikirkan rakyatnya, memikirkan bangsanya. Pengabdian terhadap bangsa dan negara tetap ia teruskan, semua demi satu tujuan dan keyakinan bahwa surga akan menanti di hadapannya.

Tanggal 16 Okotober tahun 1981, setelah melaksanakan wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah haji, Bung Tomo yang dilahirkan sebagai pejuang bangsa menutup usianya di tempat suci dan pada hari yang dimuliakan oleh Allah.

Ulama Besar Indonesia

Pengantar Umum

“Ulama Besar Indonesia: Biografi dan Karyanya” yang ditulis oleh Muhammad Ulul Fahmi (Patebon-Kendal: Jawa Timur, 2007). Buku yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Al-Itqon dan diberi kata pengantar oleh KH. Kafabihi Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, ini amat penting untuk dibaca.

Di dalamnya penulis menjelaskan 23 ulama besar Indonesia: (1) Syekh Nawawi Al-Bantani (dari Banten); (2) Syekh Kholil Al-Bankalani (dari Bankalan); (3) Syekh Mahfudz At-Turmusi (dari Termas); (4) Syekh Ihsan Jampes (dari Kediri); (5) Syekh Hasyim Asy`ari (dari Jombang); (6) KH. Bisri Musthofa (dari Rembang); (7) Syekh Yasin Al-Fadani (dari Padang); (8) Syekh Ahmad Rifa`iy (dari Kendal, Jawa Tengah); (9) Syekh Muslih Mranggen (dari Demak, Jawa Tengah); (10) Ronggo Warsito (dari Tegal Sari, Ponorog-Jawa Timur); (11) Hamzah Al-Fansuri (dari Fansur, Sibolga-Sumatera Utara); (12) Syekh Ahmad Khotib Al-Minangkabaui (dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat); (13) Habib Usman ibn Yahya (dari Pekojan, Jakarta); (14 )Syamsuddin As-Sumaterani (dari Pasai, Aceh); (15) Nuruddin Ar-Raniri (dari Ranir, dekat Gujarat); (16) Abdur Ra’uf As-Sinkili (dari Fansur, sebelah Barat Laut Aceh); (17) Yusuf Al-Makassari (dari Goa, Sulawesi Selatan); (18) Syekh Abdushamad Al-Falimbani (dari Palembang); (19) Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (dari Kalimantan Selatan); (20) Husain Muhammad Nasir Al-Mas’udi Al-Banjari (dari Martapura, Banjarmasin); (21) Muhammad Nafis Al-Banjari (dari Martapura); (22) KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (dari Pati, Jawa Tengah); (23) KH. Achmad Abdul Hamid (dari Kendal, Semarang).

Di samping 23 ulama besar di atas, penulis juga mencantumkan beberapa ulama kreatif, yakni: (1) KH. Bisri Musthofa; (2) Mbah Soleh Darat yang hidup sezaman dengan Syekh Nawawi; (3) Kiai Abul Fadhal ibn Abdus Syukur; (4) KH. Ali Ma’sum (PP Al-Munawwir, Kerapyak-Yogyakarta); (5) KH. Muslih Abdurrahman; (6) KH. Misbah Musthofa; dan (7) KH. Sahal Aziz Masyhuri.

Walaupun bukunya kecil dan tipis, tapi sarat dengan informasi dan peta keilmuan para ulama kita. Tapi sangat disayangkan, sang penulis tidak mencantumkan nama Buya Hamka. Padahal, Buya Hamka adalah ulama terkenal yang sangat disegani. Berikutnya adalah M. Natsir. Aku tidak tahu jelas apa alasan penulis untuk tidak mencantumkan dua nama besar itu. Padahal, andilnya dalam keilmuan Islam sangat diakui secara internasional.

Ala kulli hal, buku ini penting untuk dimiliki dan ditelaah. Apalagi sebagian besar ulama kita itu banyak yang menjadi “syekh” dan mengajar di Masjidil Haram, Mekah Al-Mukarramah. Bahkan, buku ini juga menginformasikan bahwa masih ada 7.000 manuskrip karya ulama kita itu yang masih tersimpan di Perpustakaan Masjidil Haram.

Sayang sekali dalam Buku tersebut tidak memuat Ulama Besar Tuan Guru Muhammad Zaini Ghani Al Banjari sebagai Pemimpin Ulama, namun demikian kita berikan apresiasi yang baik dan respek yg tinggi atas terbitnya buku tersebut.

Salam Hormatku untuk Abah Guru.

History of Qadiriyya and Naqshbandiyya Orders in Indonesia

The world’s two largest sufi orders, namely the Qadiriyya and Naqshbandiyya, are both prominently followed in Indonesia. It is not known exactly how the Qadiriyya came to Indonesia. Syed Naguib al-Attas states that Hamza Fansuri of Barus, North Sumatra was a Qadiri and, being a man of repute, he gathered about him a large circle of disciples. The earliest known Indonesian reference to Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani, is found in the poems of Fansuri himself, who lived in Acheh in the second half of the 16th century. In addition, Fansuri’s prose works mention notable sufi shaykhs Abu Yazid Bistami, Junayd al-Baghdadi, Mansur al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn `Arabi, Jami, `Attar and several others.
The first Indonesian author who expressly claims to have been initiated into the Qadiriyya is the famous Shaykh Yusuf Makassar (1626-1699). His Qadiriyya teacher, Muhammad Jilani ibn Hasan ibn Muhammad al-Hamid, was an immigrant from Gujarat and the paternal uncle of Nur al-Din al-Raniri. In Yemen, Shaykh Yusuf learned the Naqshbandiyya doctrine from a famous Arab shaykh, Muhammad `Abd al-Baqi. The other Achehnese sufi, `Abd al-Ra’uf al-Sinkili, who studied in Madina in the mid 17th century under the Sufi masters Ahmad al-Qushashi and Ibrahim al-Kurani, also lists them as a line of Qadiriyya teachers.
Lombard informs us of the rise of the Naqshbandiyya order in the Indonesian Archipelago, pointing to L.W.C. van den Berg’s statement that he had come across Naqshbandiyya activity in Acheh and in Bogor (West Java), where he had witnessed the Naqshbandiyya dhikr being performed. He then goes to describe the coming of the Naqshbandiyya to the region of Medan, where a community was founded at Langkat. The author further states that Shaykh `Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqshbandi introduced the Naqshbandiyya to Riau. After spending two years in the Malay Archipelago engaging in trade, he went to Makkah and studied under Shaykh Sulayman al-Zuhdi. In 1854 he received his certificate and came back to Riau where he finally built a Naqshbandi village called Bab al-Salam, “The Door of Peace”.
The merits and benefits of dhikr in Pesantren Suryalaya can be determined by the large numbers of those who have been cured.In the nineteenth century the Tariqat Naqshbandiyya had a branch in Makkah, where, according to Trimingham, one Naqshbandiyya shaykh from Minangkabau (West Sumatra) was initiated in 1845. From Makkah the Tariqat Naqshbandiyya was spread to other countries including Indonesia through the pilgrims every year. Both tariqats were well established as they were born in the 7th and 8th centuries Hijra (12th/13th centuries CE).
Formation of Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya Sufi orders play an important role in Indonesian Muslim society, particularly the Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya (single tariqat with both titles). The significance of this order lies in its Indonesian character. Not only was its founder the locally-born Shaykh Ahmad Khatib Sambas, but the order itself was involved in the struggle against the Dutch and continued being active as a socio-religious movement and an educational institution after independence. A survey of the Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya’s history therefore pertains closely to the development of Indonesian society in this century.
This tariqat is uniquely Indonesian, not only for the reasons cited above, but owing also to some of its practices which are particularly in tune with the beliefs and cultural needs of the people of Indonesia. Further, Shaykh Sambas did not teach the two tariqats separately but in a combined fashion.
Illustrious Founder of the Order Born in Sambas, West Kalimantan, Khatib Sambas settled in Makkah in the early nineteenth century, where he remained until his death in 1875. Among his teachers were Shaykh Daud ibn `Abd Allah al-Fatani, a great Islamic scholar who had also lived in Makkah, Shaykh Muhammad Arshad al-Banjari, and Shaykh `Abd al-Samad al-Palimbani. According to Naquib al-Attas, Khatib Sambas was a Shaykh of Qadiriyya and Naqshbandiyya. Hurgronje mentions as well that he was one of Nawawi al-Banteni’s teachers, excelling in every branch of Islamic knowledge. Zamakhsyari Dhofier has shown the significant role of Shaykh Sambas in the intellectual genealogy of Java’s leading shaykhs and instrumental in the dissemination of Islam throughout Indonesia and the Malay world in the second half of the nineteenth century.
Key to this effort was Shaykh Sambas’ work Fath al-‘Arifin (Victory of the Gnostics), which became one of the most significant works on sufi practice in the Malay world, elaborating on initiation (bay`a), remembrance of Allah (dhikr), meditation (muraqaba) and lineage (silsila) of the Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya.
Disciples of the Illustrious Shaykh
Primarily natives of Java and Madura, disciples of the Shaykh passed on his teachings upon their return from Makkah. It has been said that Shaykh Sambas, in addition to developing Indonesia’s most influential ’ulama, also trained leading ‘ulama in fiqh (Islamic jurisprudence) and tafsir (Qur’anic commentary), such as Shaykh `Abd al-Karim Banten, his successor. Known as “Sultan of Shaykhs”, Abd al-Karim encouraged the uprising against the Dutch in 1888 and then left Banten for Makkah to succeed Shaykh Khatib Sambas.
A majority of European writers are radically mistaken in asserting that Indonesian ‘ulama were generally hostile to Sufi orders.The importance of Shaykh Sambas as a scholar must be stressed here as a majority of European writers are radically mistaken in asserting that the `ulama were generally hostile to the Sufi orders. Among the leading disciples of Shaykh Sambas one can point to scholars such as Shaykh Tolhah from Cirebon (West Java) and Shaykh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad from Madura (East Java), both of whom had lived in Makkah.
The Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya attracted numerous Indonesian disciples, especially in Madura, Banten and Cirebon, and by the end of the 19th century had become the most popular. Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya has spread throughout Malaysia, Singapore, Thailand, Brunei, and Darussalam.
After Shaykh Ahmad Khatib SambasBy 1970, there were four important Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya centers located in Java: Rejoso (Jombang) under Shaykh Romly Tamim; Mranggen (close to Semarang) under Shaykh Muslikh; Suryalaya (Tasikmalaya) with Shaykh Ahmad Sahib al Wafa’ Taj al-`Arifin (Abah Anom) as its head; and Pagentongan (Bogor), under Shaykh Thohir Falak. Rejoso represents the line of Ahmad Hasbullah, Suryalaya the line of Shaykh Tolhah and the others that of Shaykh `Abd al-Karim Banten and his khalifas. In some cases teachings of the tariqat have, over time, been imparted through speeches in mosques and during informal gatherings in the houses of various individuals. So it is not surprising that during that period discourses were not meticulously recorded. However, under Abah Anom, the teachings have been outlined in a book entitled Miftah al-Sudur, “The Key of Hearts”. The book’s objective is to convey the theory and practice of Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya to achieve tranquility in worldly life and victory in the hereafter. Other of his contemporary works include ‘Uqud al-Juman, Al-Akhlaq al-Karimah and Ibadah sebagai Metoda Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja (Worship as a Method of Rehabilitation in Narcotics Abuse and Juvenile Delinquency).
The Tariqat’s Role in Social Reform
Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil has stated that next to terrorism, the second biggest problem of mankind particularly for youth is drugs (The Muslim Magazine, Spring 1999). This social problem is not confined to Western countries but has unfortunately affected youth throughout the world. Although the number of drug addicts in Asian countries is not as great as it is in the West, the problem was serious enough for Abah Anom to establish the “Pondok Inabah”, a drug rehab center that employs the healing aspects of dhikr.
Abah Anom’s methodology was developed as a result of his belief in the practical experience of Sufi masters and in his belief that dhikr Allah contains enlightenment, special characteristics and secrets which can cure the hearts of Muslim believers. This belief is based on God’s saying: “Remember me, I will remember you,” meaning “When you remember Me, the curtain of heedlessness will be removed from you, and you will then become the one remembered and the one given help.” The merits and benefits of dhikr in Pesantren Suryalaya can be determined by the large numbers of those who have been cured.The Tariqat remains active as a socio-religious movement and aneducational institution.A scientific study of Abah Anom’s methodology was made by Dr. Emo Kastomo in 1989. Over eight years, his evaluation included a random selection of 5925 patients from 10 Pondok Inabah rehab centers. Of these, he found 5426 were cured, 212 were still experiencing the healing process, and 7 patients had died.
The Tariqat’s Role in Politics
The first of the three Indonesian uprisings involving the followers of Tariqat Qadiriyya wa Nashbandiyya saw the involvement of many shaykhs and hajjis in the Banten revolt of July 1888. It is reported that while Shaykh `Abd al-Karim Banten did not seem to be interested in political activities, his khalifah, Hajji Marzuki was much more reformist-minded and predominantly anti-Dutch. Although the tariqat was not a leading player in the revolt, the Dutch were worried about its influence, and many of them believed that the Sufi orders in general, and particularly Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya, was a secret organization whose objective was the overthrow of colonial power.
The second revolt was fomented by the Sasak tribe, followers of Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya Shaykh Guru Bangkol. The Dutch therefore considered the tariqat as an important factor in the overall rebellion. Although the Dutch advisor Snouck Hurgronje counseled that it was an exaggeration to believe that the tariqats were a political threat to the Dutch, his opinion was not embraced until Sarekat Islam, a well-established political organization, appeared in 1911.Presently in Java, the three largest branches of the Tariqat Qadiriyya wa Naqshbandiyya—Rejoso, Mranggen and Suryalaya—each uphold different policies in terms of political affiliation, with some more actively aligned with the ruling political party of Indonesia.
Present State of Indonesian TariqatsIn 1957, the “Jam`iyya Ahl Thoriqoh Mu`tabaroh” was established by Nahdlatul Ulama, Indonesia’s current ruling party. Its objective is to unify all sanctioned tariqas and to preserve the silsila (chain of authority) that originated with Prophet Muhammad (s). The Jam`iyya preserves teachings of tasawwuf from 45 sanctioned tariqas

In 1975, Shaykh Musta`in Romly of Rejoso was appointed its chairperson of the Jam`iyya. However, in 1979 when his affiliation changed from Partai Persatuan Pembangunan (Development United Islamic Party, to which the majority of NU `ulama were affiliated) to Golongan Karya (former ruling political party), the `ulama established “Jam`iyyah Ahl al-Thariqoh Mu`tabaroh al-Nahdliyyah”. The present chairperson of the Jam`iyyah, Shaykh Haji Dr. Idham Khalid, had the opportunity to welcome Shaykh Muhammad Hisham Kabbani during his visit to Indonesia in December 1997.

SYEIKH NAWAWI AL BANTANI


Para Ulama Makkah pun Berguru padanya

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi’iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan Muharram tahun 631 H.

Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.

Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya.

Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua (Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran Banten (Imam Nawawi al-Bantani).

Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun Beiau adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu’. Terbukti kemudian, meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keislaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas (Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, sehingga Beliau tidak pernah mentawajuh/membai’ah (melantik) seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan thariqah.

Guru-gurunya

Di Mekah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain.

Murid-muridnya

Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab.

Murid-muridnya yang berasal-dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah.

Jejak Islam di Lombok

Pengantar

Jejak penyebaran agama Islam tidak hanya ada di pulau Jawa, namun hampir di seluruh pulau di Nusantara terdapat jejak-jejak peninggalan Islam. Namun, jejak peninggalan para penyebar agama Islam yang paling kental adalah masjid. Berkat kerja keras para penyebar agama Islam, Islam mampu menyentuh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan jejak perjuangan dalam mengusir penjajah pun tak lepas dari semangat jihad para ulama.

Di Lombok, perjuangan mengusir kaum penjajah juga tak lepas dari peran serta para ulama yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru. Sebut saja, TGH Moh Sidiq Karang Kelok yang membantu perjuangan masyarakat Praya dalam Praya Congah. TGH Ali Batu Sakra yang pernah menggegerkan Lombok Timur bahkan memicu terjadinya Perang Lombok pada tahun 1894 dan masih banyak lagi peran serta Tuan Guru dalam sosial kehidupan masyarakat Lombok. Dalam upaya menyusuri kembali perjuangan para penyebar agama Islam di Nusantara, PT PLN (Persero) bekerja sama dengan Batavia Air dan PT Nusantara Multimedia menyorot kembali jejak peninggalan para penyebar agama Islam dengan tajuk Jejak Masjid Nusantara. Dalam lawatannya untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, Jejak Masjid Nusantara mengambil Masjid Ar Raisyah di Sekarbela dan Masjid Bayan Beleq di Bayan.

Masjid Ar Raisiyah


Masjid Ar Raisiyah, Masjid yang termasuk dalam kawasan Desa Sekarbela ini telah mengalami renovasi beberapa kali. Renovasi yang pertama dilakukan setelah Masjid terbakar akibat peperangan antara masyarakat Sekarbela yang menuntut kematian Tuan Guru Padang Reak dengan penguasa saat itu. Saat itu, bentuk masjid Sekarbela berbentuk empat persegi dengan dinding bedek, atap rumbia, lantai tanah dan yang menjadi ciri khas adalah empat soko guru. Setelah kebakaran, Masjid dibangun kembali oleh TGH Mustafa dan TGH Moh. Toha. Bentuk Masjid masih sederhana dengan empat soko guru. Dari peninggalan yang ada yakni sebuah kaligrafi tertulis angka 1350 H. Saat itu bangunan Masjid sudah lebih baik dari sebelumnya namun masih sederhana. Kemudian pada tahun 1890 M, atas prakarsa TGH M Rais, masjid direnovasi dengan memanfaatkan atap dari genteng. Jamaah yang semakin banyak menginspirasikan penerus selanjutnya, yakni TGH Muktamat Rais anak dari TGH Muhamaad Rais, untuk membangun kembali Masjid pada tahun 1974 dengan kontruksi beton. Namun dikarenakan jamaah yang semakin banyak dan kompleknya kegiatan, pada tahun 2001 Masjid direnovasi kembali dengan desain Timur Tengah dan berlantai tiga. Diperkirakan dana yang dihabiskan untuk membangun Masjid ini sekitar Rp 6 milyar. Ketua pembangunan Masjid Ar Raisiyah, H. Saiful Haq menjelaskan dana untuk membangun masjid sebagian besar dari swadaya masyarakat. “Insya Allah, tahun depan bangunan sudah rampung,” terangnya.

Masjid Bayan Beleq


Masjid yang terletak di Desa Bayan kecamatan Bayan kabupaten Lombok Barat ini menjadi saksi sejarah masuknya Islam ke pulau Lombok. Menurut beberapa catatan, Islam masuk ke Lombok dibawa oleh Wali Songo sekitar abad ke-16. Dalam perkembangannya, Islam yang masuk ke Lombok khususnya Bayan diwarnai oleh adat istiadat setempat. Semakin kompleknya perkembangan, kemudian di Bayan berkembang menjadi suatu ajaran yang dikenal sebagai Wetu Telu. Menurut pemangku adat Bayan, Raden Gedarif, Wetu Telu merupakan ajaran leluhur yang berintikan ajaran; bertelur, beranak dan tumbuh. Bila kondisi ini bisa dijalankan oleh manusia maka dunia akan aman sejahtera. “Ajaran ini menselaraskan hidup manusia dengan Allah, alam dan sesama manusia,” terangnya. (sumber PLN Lombok)

Indahnya Kaligrafi Islam


Dalam Sebuah Ornamen

Square Kufi 1Melihat sebuah ornamen yang terpasang di dinding kamar, mengingatkan saya pada kejadian berpuluh tahun yang silam.

Kenangan

Sekitar tahun 1994 —masa dimana saya sangat menggandrungi kaligrafi— saya sempat memiliki sebuah buku tentang kaligrafi islam. Saya sangat tertarik pada beberapa ornamen yang terdapat dalam buku itu. Sedemikian hebat rasa ketertarikan saya hingga akhirnya saya pun berniat untuk menjadikannya sebuah karya-ukir.

Kemudian saya menyiapkan kertas dan mencoba menggambar kembali ornamen tersebut. Walaupun hanya meniru dari buku ternyata cukup sulit juga hingga memakan waktu beberapa hari dalam pengerjaannya. Setelah selesai, saya mencari pengukir (pengrajin kayu) di daerah Mesjid Agung (Alun-Alun) Bandung. Akhirnya saya mendapatkan pengrajin yang mau mengerjakannya. Setelah bernegoisasi, saya sepakat dengan biaya yang diminta oleh pengrajin tersebut —kurang-lebih— @ 35,000 rupiah. Angka yang lumayan besar bagi saya, tapi tak apalah toh demi memuaskan “hasrat” saya.

Square Kufi 2Seminggu kemudian, saya membawa pulang karya-ukir tersebut. Gembira, haru dan sedih. Inilah salah satu (dari sekian banyak) hasil karya seni dari abad keemasan islam dan saya masih dapat menikmatinya —Insya Allah, mengamalkannya juga.

Ornamen

Ornamen 1 (atas) adalah surat Al-Ikhlash. Dibaca secara melingkar dari luar-ke-dalam searah jarum jam.

Ornamen 2 (kanan) kalimat pembuka dari ayat Kursi. Pola yang berulang, dapat dibaca dari setiap sisi. Keduanya menegaskan akan ke-ESA-an Allah (Tauhid).

Kedua ornamen ini menggunakan huruf square kufi. Dinamakan sesuai dengan nama kota dimana model huruf ini dikembangkan, Kufah — Irak.

Setiap kali melihatnya, saya cuma dapat berkata: Indah! Menakjubkan! Gabungan antara seni, tipografi dan matematik. Belum lagi model lainnya —yang sering dijumpai dalam Al-Qur’an atau ornamen di mesjid-mesjid— seperti model kursiv (Naskh, Thuluth, Muhaqqaq, Nastaliq atau Riqa’)

Hasil Ukiran

Bahan dasar kayu (tidak tahu jenisnya apa) yang dibakar dan dilapisi cairan semacam lilin.

Ukir 1

Ukir 2

Apakah anda tertarik untuk memperindah/mempercantik ruangan rumah ! Cobalah