Samsung i740, Smartphone Murah Meriah


Buat yang ingin punya smartphonenamun bujet terbatas, bisa jadi Samsung i740 ini adalah pilihan yang patut dipertimbangkan. Walaupun tidak bisa dibilang canggih, namun fitur dasarsmartphone sudah ada dalamgadget ini.

Sebenarnya apa saja yang ditawarkan smarphone dari kelas low-endini?

Jaringannya baru mendukung 2,5G, GSM quadband(850/900/1800/1900), GPRS/EDGE dan bekerja dengan sistem operasi Windows Mobile Pro 6.1 yang dapat dioperasikan lewat layar sentuhnya yang berukuran 2,8 inci. Layar sentuh QVGA ini mampu menampilkan resolusi hingga 320×240 pixel.

Prosesornya dipercayakan pada Monahan LV 624 MHz sementara kamera yang ada di bagian belakang menggunakan kamera 3 megapixel. Samsung i740 ini juga sudah dilengkapi dengan GPS dan radio FM serta koneksi bluetooth 2.0+EDR.

Sayangnya Samsung i740 ini belum memiliki konektifitas Wi-Fi dankeyboard QWERTY. Sampai saat ini belum ada informasi detail darismartphone berdimensi 107×59×13.8mm ini.

Deskripsi :

Nokia Type 3 Evolve

Nokia 3110 Evolve

Nokia 3110 Evolve

Name: Nokia 3110 Evolve
Filename: nokia-3110-evolve.jpg
Keywords: Nokia, 3110, Evolve
Date added: 05.12.2007 06:12
Description:

Nokia 3110 Evolve
Nokia 3110 Evolve
Nokia 3110 Evolve
General
Network:
GSM 900 / GSM 1800 / GSM 1900
Announced:
2007, December
Status: Coming Soon
Size
Dimensions: 108.5 x 45.7 x 15.6 mm, 72 cc
Weight: 87 g
Display
Type: TFT, 256K colors
Size: 128 x 160 pixels
- 5-way navigation key
- Downloadable wallpapers, screensavers
Ringtones
Type: Polyphonic (64 channels), MP3, AAC
Customiz.: download
Vibration: Yes
Memory
Phonebook: Yes
Call records: 20 dialed, 20 received, 20 missed calls
Card slot: microSD (TransFlash), up to 2 GB
- Combo memory with 32 MB flash and 16 MB RAM
- 9 MB user memory
Features
OS: -
GPRS: Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 – 48 kbps
3G No
WLAN: No
HSCSD: Yes
EDGE: Class 10, 236.8 kbps
Bluetooth: Yes, v2.0 with A2DP
Infrared: No
USB: Yes, miniUSB
Messaging: SMS, MMS, Email
Browser: WAP 2.0/xHTML
Games: Yes, download now
Colors: Grey
Camera: 1.3 MP, 1280×960 pixels, video, put your photo on your mobile
- Java MIDP 2.0
- Stereo FM radio
- MP3/MP4/AAC+/3gp/WMA player
- Organizer with calendar
- Alarm clock
- Countdown timer (normal and interval timer)
- Macros Flash Lite 2.0
- Flight mode
- Calculator
- Built-in handsfree
- Voice memo and voice command
- T9
- Built-in handsfree
Battery
Standard battery, Li-Ion 1020 mAh (BL-5C)
Stand-by: Up to 370 h
Talk time: Up to 4 h


SE K550i

Properties

Name: Sony Ericsson K550i
Filename: sony-ericsson-k550i.jpg
Keywords: Sony,Ericsson,K550i
Date added: 06.02.2007 21:05
Description:

Sony Ericsson K550
Sony Ericsson K550
Sony Ericsson K550
Sony Ericsson K550
Sony Ericsson K550
Sony Ericsson K550
General
Network:
GSM 850 / GSM 900 / GSM 1800 / GSM 1900
Announced:
2007, February
Status: Available
Size
Dimensions: 102 x 46 x 14 mm
Weight: 95 g
Display
Type: TFD, 256K colors
Size: 176 x 220 pixels, 1.9 inches
- Wallpapers, screensavers
Ringtones
Type: Polyphonic, MP3
Customiz.: download
Vibration: Yes
Memory
Phonebook: 1000 x 20 fields, Photo call
Call records: 30 dialed, 30 received, 30 missed calls
Card slot: Memory Stick Micro (M2), up to 2GB
- 64 MB internal memory
Features
OS: -
GPRS: Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 – 48 kbps
3G No
WLAN: No
HSCSD: Yes
EDGE: Yes
Bluetooth: Yes, v2.0 with A2DP
Infrared: Yes
USB: Yes, v2.0
Messaging: SMS, MMS, Email, Instant Messaging
Browser: WAP 2.0/xHTML, RSS feeds
Games: Yes, download now
Colors: Jet Black, Pearl White, Plum Ruby
Camera: 2 MP, 1632×1224 pixels, 2.25x digital zoom, autofocus, video(QCIF), flash, put your photo on your mobile
- Java MIDP 2.0
- FM radio with RDS
- TrackID
- PlayNow
- Flight Mode
- MP3/AAC/MPEG4 player
- T9
- Adobe Photoshop Album
- Picture blogging
- Organiser
- Built-in handsfree
- Voice memo/dial
Battery
Standard battery, Li-Po 950 mAh (BST-33)
Stand-by: Up to 350 h
Talk time: Up to 7 h

Riwayat dan Perjuangan Dakwah Syekh Abdul Wahab Bugis di Tanah Banjar

Pengantar
Selama ini, publikasi terhadap tulisan sejarah dan kehidupan tokoh-tokoh lokal begitu terbatas dan agak susah diakses. Wajar jika, tulisan saya yang berjudul “Ketokohan Syekh Abdul Wahab Bugis di Tanah Banjar” (Opini, Jum’at 2 Juli 2004) mendapat sambutan yang positif. Apresiasi terhadap tulisan tersebut memotivasi saya untuk lebih mengenalkan secara dekat tokoh-tokoh besar yang telah mengharumkan banua dalam perjuangan dan syiar dakwah serta dalam perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Sehingga dengan adanya publikasi secara tertulis terhadap sedikit dari biografi dan pemikiran mereka yang bisa diramu, diharapkan generasi sekarang akan lebih tahu tentang sejarah hidup, sumbangan pikiran, dan perjuangan yang telah mereka curahkan untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan hidup umat. Sehingga bermuara dari sini diharapkan tumbuh pula semangat yang sama untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi perkembangan banua, hari ini, besok, lusa dan masa yang akan datang. Untuk itu kita juga salut dengan SKH Kalimantan Post yang tetap concern menerbitkan tulisan-tulisan berkenaan dengan khazanah intelektual lokal.

Pada tulisan terdahulu dijelaskan bahwa dalam catatan sejarah, Syekh Abdul Wahab bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di Madinah, dalam majelis ilmu gurunya (yang kemudian juga menjadi guru Syekh Muhammad Arsyad), Syekhul Islam, Imamul Haramain Alimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. Jika Syekh Muhammad Arsyad (dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani) lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk menuntut ilmu di kota Mekkah (selama 30 tahun) dan Madinah (selama 5 tahun), maka Abdul Wahab (bersama dengan Syekh Abdurrahman Misri) lebih banyak memanfaatkan waktu mereka untuk menuntut ilmu di Mesir.

Pigur Syekh Abdul Wahab Bugis
Berdasarkan pendapat dari Karel S. Steenbrink sebenarnya riwayat hidup seorang tokoh dapat dilacak melalui dua sumber utama. Pertama sumber intern, yakni sumber yang berasal dari tokoh itu sendiri, misalnya karya tulis, biografi tentang sejarah hidupnya atau sumber tertulis lainnya. Kedua, sumber ekstern, yakni tulisan-tulisan yang mengetengahkan tentang riwayat hidup dan perjuangan dari seorang tokoh (1985: 91). Dalam konteks ini pendekatan pertama yang bersifat intern tidak bisa diterapkan, karena sampai sekarang tidak pernah ditemukan satupun karya tulis, buku, risalah, atau kitab karangan Syekh Abdul Wahab Bugis yang bisa dibaca dan ditelaah. Sedangkan pendekatan kedua yang bersifat ekstern yang mengetengahkan tentang riwayat hidup dan perjuangannya juga sangat terbatas dan sedikit sekali, bahkan hampir-hampir tidak ada. Sehingga wajar, walaupun Azyumardi Azra memasukkan Syekh Abdul Wahab Bugis sebagai salah seorang tokoh penting dalam konsep jaringan ulamanya, namun pengungkapan data, riwayat hidup, karier, dan perjuangannya sendiri hampir tidak ada (1994: 243).

Sebagaimana dikatakan, tulisan yang mengetengahkan riwayat hidup tokoh yang satu ini memang sangat sedikit, bahkan hampir-hampir tidak ada. Namun menilik dari namanya, Syekh Abdul Wahab Bugis –selanjutnya ditulis Abdul Wahab– orang sudah bisa menduga bahwa sebenarnya ia bukanlah asli orang Banjar, karena memang ia berasal dari Bugis, Makasar, Sulawesi Selatan. Tepatnya, menurut Abu Daudi (1996: 28), Abdul Wahab adalah seorang berdarah bangsawan, ia keturunan seorang raja yang berasal dari daerah Sadenreng Pangkajene, dan dilahirkan di sana. Sebagai seorang yang berdarah bangsawan ia diberi gelar Sadenring Bunga Wariyah. Jadi nama lengkapnya adalah Abdul Wahab Bugis Sadenreng Bunga Wariyah.

Pangkajene, daerah tempat kelahiran Abdul Wahab sekarang ini adalah adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan, ibukotanya adalah Tomapoa. Terletak di sebelah atau bagian barat dari propinsi Sulawesi Selatan. Di samping di kenal sebagai daerah pertanian yang subur dengan tanah pegunungan dan dataran rendahnya, daerah ini dikenal pula sebagai daerah perikanan. Salah satu peninggalan sejarah yang terkenal di daerah ini adalah Arojong Pangkajene (Depag RI, 1996: 786).

Tidak diketahui secara pasti kapan ia dilahirkan. Perkiraan penulis ia dilahirkan antara tahun 1725-1735, mengingat usianya yang lebih muda dibandingkan dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang dilahirkan pada tahun 1710 M.

Kedatangan Abdul Wahab ke Tanah Banjar seiring dengan kepulangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari setelah menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah selama lebih kurang 35 tahun, yakni pada tahun 1772 M. Pada saat itu yang memerintah di kerajaan Banjar adalah Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidullah, sebagai wali putera mendiang Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (1761-1787 M), yang kemudian sejak tahun 1781-1801 secara resmi memerintah sebagai raja Banjar dan bergelar Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah.

Abdul Wahab mengikuti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari setelah dinikahkan dengan Syarifah (Abu Daudi, 1996: 78). Walaupun kemudian diketahui bahwa Syarifah sendiri telah dinikahkan dengan Usman dan telah mendapatkan satu orang anak, bernama Muhammad As’ad. Tetapi setelah diteliti oleh Syekh Muhammad Arsyad berdasarkan hitungan Ilmu Falak maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan Abdul Wahab dengan Syarifah yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad dengan kedudukan Wali Mujbir di Mekkah lebih terdahulu waktunya daripada pernikahan Syarifah dengan Usman melalui Wali Hakim di Martapura. Karena itulah akhirnya pernikahan Usman dan Syarifah difasakh atau dibatalkan, dan ditetapkan bahwa Abdul Wahab-lah yang menjadi suami Syarifah.

Keputusan ini kemudian ditaati oleh keduabelah pihak, dan menurut cerita Usman akhirnya merantau ke daerah Palembang Sumatera Selatan, serta merintis terbentuknya sebuah desa di sana yang diberi nama Martapura. Karena itu boleh jadi di Indonesia, daerah yang bernama Martapura hanya ada dua, yakni Martapura di Kalimantan Selatan atau Martapura di Palembang (Sumatera Selatan).

Hasil perkawinannya dengan Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad ini melahirkan dua orang anak, masing-masing bernama Fatimah dan Muhammad Yasin. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis kemudian dikawinkan dengan H.M. Said Bugis dan melahirkan dua orang anak, yakni Abdul Gani dan Halimah, sedangkan Muhammad Yasin tidak memiliki keturunan. Abdul Gani anak Fatimah kemudian kawin dengan Saudah binti H. Muhammad As’ad dan juga melahirkan dua orang anak, namun keduanya meninggal dunia. Sementara, Halimahpun juga tidak memiliki keturunan. Abdul Ghani kemudian kawin lagi dengan seorang wanita dari Mukah Sarawak dan mendapatkan lagi dua orang anak, yakni Muhammad Sa’id dan Sa’diyah. Muhammad Said kemudian kawin dan mendapatkan dua orang anak, bernama Adnan dan Jannah. Sedangkan Sa’diyah memiliki anak bernama Sailis, yang menurut cerita kemudian tinggal di Sekadu, Pontianak.

Tekad Abdul Wahab yang bulat untuk memperjuangkan dakwah Islam dan mengamalkan ilmu yang telah didapat ketika belajar di Mesir dan di Madinah, serta ikrar yang ia ucapkan bersama teman-temannya tatkala ingin kembali ke tanah air, semakin menguatkan keinginannya untuk mengabdikan ilmu dan baktinya di Tanah Banjar.

Pendidikan dan Ketokohan
Abdul Wahab dikenal sebagai salah seorang tokoh “empat serangkai”, yakni Syekh Abdurrahman al-Misri, Syekh Abdus Samad al-Palimbani, dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang memiliki akhlak dan kepribadian sebagaimana akhlak dan kepribadian yang dimiliki oleh tokoh empat serangkai lainnya, sebagaimana digambarkan oleh Abu Daudi mereka adalah empat serangkai yang seiring sejalan, yang mendapat pendidikan dari guru yang sama, yang sama-sama mengutamakan ilmu dan amal, dan empat serangkai yang sama-sama pulang bersama serta mengemban tugas yang serupa. Ia adalah sahabat sekaligus menantu dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Jika Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di kota Mekkah, maka Abdul Wahab bersama dengan sahabatnya Syekh Abdurrahman Misri lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di kota Mesir. Sehingga dalam tulisan Abu Daudi, Abdul Wahab tercatat sebagai salah seorang murid dari Syekhul Islam, Imamul Haramain Alimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (Abu Daudi, 1996: 28, 31). Syekh Sulaiman al-Kurdi ini kemudian juga menjadi guru dari Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdusshamad al-Palimbani. Itulah sebabnya ia mengiringi gurunya itu ke kota Madinah ketika gurunya itu hendak mengajar, mengembangkan pengetahuan agama dan Ilmu Adab serta mengadakan pengajian umum.

Di kota Madinah inilah kemudian empat serangkai bertemu dan selanjutnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdus Samad al-Palimbani pun mengikuti majelis pengajian Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi, yang kemudian memicu lahirnya tulisan Syekh Muhammad Arsyad yang berjudul “Risalah Fatawa Sulaiman Kurdi”. Risalah ini berupa naskah yang isinya menerangkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kepada Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi tentang keadaan atau tindakan Sultan Banjar yang memungut pajak dan mengenakan hukuman denda bagi mereka yang meninggalkan shalat Jum’at dengan sengaja, serta berbagai masalah lainnya. Risalah ini ditulis dalam bahasa Arab, dan belum pernah diterbitkan, namun naskah asli tulisan beliau sampai sekarang masih ada dan tetap tersimpan dengan baik pada salah seorang zuriat beliau di desa Dalam Pagar Martapura.

Kemudian atas anjuran dari Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi pula, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani yang haus ilmu pengetahuan yang semula berniat dan berencana untuk menambah ilmu ke Mesir tidak jadi berangkat ke sana, sebab ilmu pengetahuan yang mereka miliki telah dianggap cukup, untuk selanjutnya mereka disarankan segera pulang ke tanah air guna mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah didapat (Abu Daudi, 1996: 29).

Bandingkan dengan pendapat Azyumardi Azra (1994: 253), yang menyatakan bahwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani meminta izin dan restu kepada guru mereka Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri untuk menuntut ilmu ke Mesir, namun oleh Syekh Athaillah mereka disarankan untuk pulang ke tanah air mengamalkan ilmu yang telah didapat, sebab Syekh Athaillah percaya mereka (empat serangkai) telah memiliki pengetahuan yang lebih dari cukup, sehingga akhirnya mereka tidak jadi menuntut ilmu ke Mesir, tetapi tetap ke sana untuk berkunjung. Sebagai tanda kunjungan akhirnya nama Syekh Abdurrahman al-Batawi ditambah dengan al-Misri.

Menurut riwayat, selama di kota Madinah, “empat serangkai” juga belajar ilmu tasawuf kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah, sehingga akhirnya mereka berempat mendapat gelar dan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah Khalwatiyah.

Di samping tercatat sebagai murid dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani (seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah) dan Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Abdul Wahab juga berguru kepada:

1. Abdul al-Mun’im al-Damanhuri, Ibrahim bin Muhammad al-Ra’is al-Zamzami al-Makki (1698-1780 M) yang terkenal sebagai ahli Ilmu Falak (Astronomi)

2. Muhammad Khalil bin Ali bin Muhammad bin Murad al-Husaini (1759-1791 M) yang terkenal sebagai ahli sejarah dan penulis kamus biografi Silk al-Durar

3. Muhammad bin Ahmad al-Jauhari al-Mishri (1720-1772 M) yang terkenal sebagai seorang ahli hadits

4. Athaillah bin Ahmad al-Azhari, al-Mashri al-Makki, yang juga terkenal sebagai seorang ahli hadits ternama serta dianggap sebagai isnad unggul dalam telaah hadits.

Dengan demikian jelas, bahwa guru-guru terkemuka Abdul Wahab di atas juga merupakan guru-guru dari tokoh empat serangkai yang lainnya.

Perjuangan Dakwah
Di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai motor penggerak utama kegiatan dakwah Islam di Tanah Banjar, Abdul Wahab juga memiliki peranan yang penting dalam mengembangkan Islam di Tanah Banjar, mengingat kedudukan dan figur Abdul Wahab sebagai seorang ulama yang dikenal alim dan sekian lama menuntut ilmu di Mesir dan daerah Timur Tengah.

Perjuangan utama Abdul Wahab Di Tanah Banjar sendiri adalah membantu Syekh Muhammad Arsyad mendakwahkan Islam di wilayah kerajaan Banjar yang waktu itu belum begitu berkembang. Mulai dari mengajarkan Islam kepada keluarga kerajaan, mendidik kader-kader dakwah, sampai dengan membangun desa Dalam Pagar, yang kemudian berkembang menjadi pusat penyebaran dan pengajaran Islam di Kalimantan.

Pertama, mengajarkan agama Islam kepada kaum bangsawan dan keluarga kerajaan Banjar. Hal ini terlihat dari awal kedatangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdul Wahab Bugis di tanah Banjar (Martapura) pada bulan Ramadhan tahun 1208 H/1772 M yang disambut meriah oleh seluruh komponen masyarakat Banjar, tidak hanya masyarakat biasa akan tetapi juga kaum bangsawan dari kerajaan Banjar. Mengingat Syekh Muhammad Arsyad sendiri sudah dianggap dan diakui sebagai bubuhan kerajaan, terlebih-lebih lagi manakala mengetahui status Abdul Wahab yang juga seorang bangsawan, sehingga oleh pihak kerajaan ia diberikan tempat untuk tinggal dalam istana. Menjadi guru agama di Istana dan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada bubuhan kerajaan.

Kedua, membantu Syekh Muhammad Arsyad membuka perkampungan Dalam Pagar yang telah dihadiahkan oleh kerajaan Banjar kepada beliau sebagai tanah lungguh. Mengingat tekad kuat dan ikrar setia yang disampaikan oleh Abdul Wahab untuk mensyiarkan agama Islam di tanah air, sesuai dengan pesan guru mereka ketika masih di kota Madinah, ia juga aktif mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat luas yang datang berbondong-bondong ke Dalam Pagar yang sudah dikenal dan menjadi pusat pendidikan serta penyiaran agama Islam pada masa itu.

Ketiga, di samping itu Abdul Wahab sebagai menantu dan sekaligus sahabat Syekh Muhammad Arsyad yang juga memiliki pengetahuan agama yang luas dan alim, diduga sedikit banyak beliau ikut menyumbangkan ilmu, pendapat, dan pandangannya –sumbang saran– terhadap berbagai masalah-masalah keagamaan yang terjadi di Tanah Banjar. Dengan kata lain Abdul Wahab merupakan teman diskusi atau mudzakarah agama Syekh Muhammad Arsyad. Hal ini terlihat dari adanya istilah-istilah tertentu dalam Bahasa Bugis –walaupun dalam jumlah yang sangat kecil, dan untuk hal ini lebih jauh perlu dilakukan penelitian dan pengkajian kembali melalui pendekatan Linguistik– pada penulisan dan penyusunan risalah atau kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, terutama Kitab Sabilal Muhtadin.

Mengingat kedudukan dan kedekatannya, sumbangan pemikiran Abdul Wahab terhadap sejumlah karya tulis Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dapat saja terjadi, mengingat bahwa:

1. Abdul Wahab adalah salah seorang ahli Fiqih dan murid dari Imam Haramain, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri, yang lama menuntut ilmu di Mesir dan Haramain, beliau adalah seorang yang alim, sahabat sekaligus menantu yang berjuang berdampingan bersama Syekh Muhammad Arsyad, mewujudkan ikrar yang telah ditetapkan ketika berkumpul bersama-sama (dengan tokoh empat serangkai lainnya) sesudah menuntut ilmu di Madinah, dan akan pulang ke tanah air.

2. Abdul Wahab adalah salah seorang tokoh dari “empat serangkai” yang mendapatkan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah ketika keempatnya belajar dan mengkaji ilmu tasawuf atau tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani.

3. Abdul Wahab dianggap sebagai tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19 karena keterlibatannya secara sosial maupun intelektual dalam jaringan ulama tersebut. Ketokohannya diakui dan dapat dilihat dari gelar syekh yang beliau sandang. Sebab gelar syekh dalam khazanah masyarakat Banjar mengisyaratkan kealiman penyandangnya, sekaligus pula menjadi penanda bahwa yang bersangkutan pernah atau lama mengkaji ilmu di Tanah Haramain (Mekkah atau Madinah). Karena itulah di samping diangkat menjadi guru di istana kerajaan Banjar oleh sultan, dalam kehidupan masyarakat luas pun ia dihormati dan dijadikan sebagai guru rohani mereka.

Keempat, untuk mendidik dan membina kader-kader penerus dakwah Islam, Syekh Muhammad Arsyad telah membuka daerah Dalam Pagar, mendirikan surau, rumah tempat tinggal sekaligus mandarasah yang menjadi tempat untuk belajar masyarakat, mengkaji dan menimba ilmu, sekaligus tempat untuk mendidik kader-kader dakwah. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bersama Abdul Wahab telah membangun sebuah pusat pendidikan Islam yang serupa ciri-cirinya dengan surau di Padang Sumatera Barat, rangkang, meunasah dan dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa.

Bangunan tersebut terdiri dari ruangan-ruangan untuk belajar, pondokan tempat tinggal para santri, rumah tempat tinggal Tuan Guru atau kyai, dan perpustakaan. Oleh Humaidy lembaga pendidikan Islam ini, sebagaimana istilah yang biasa dipakai di kawasan dunia Melayu, seperti Riau, Palembang, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Fattani (Thailand) disebut punduk. Sehingga Dalam Pagar akhirnya berhasil menjadi locus dan kawah candradimuka paling penting untuk mendidik serta mengkader para murid yang kemudian hari menjadi ulama terkemuka di kalangan masyarakat Kalimantan.

Tentu di masa-masa sulit seperti ini beliau berdua dengan anak menantu dan sekaligus sahabatnya, Abdul Wahab Bugis saling membantu, mengisi, dan membina kader-kader dakwah yang banyak jumlahnya tersebut. Hasilnya, di samping berhasil menjadikan anak cucu mereka –Fatimah dan Muhammad Yasin bin Syekh Abdul Wahab Bugis serta Muhammad As’ad bin Usman (mufti pertama di kerajaan Banjar)– sebagai ulama, membentuk kader-kader masyarakat yang kelak menjadi ulama terkemuka, mereka berdua juga berhasil membentuk masyarakat Islam Banjar yang memiliki kesadaran untuk berpegang pada ajaran agama Islam melalu dakwah bil-lisan, bil-kitabah, dan bil-hal, serta diteruskan kemudian oleh generasi-generasi dan kader-kader yang telah dibina melalui upaya pengiriman juru dakwah ke berbagai daerah yang masyarakatnya sangat memerlukan pembinaan agama, dari sini akhirnya dakwah terus berkembang dan ajaran Islam semakin tersebar luas ke tengah-tengah masyarakat Banjar.

Perkembangan dakwah Islam yang begitu menggembirakan, pada akhirnya memicu simpatik Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah untuk memberikan keleluasaan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk lebih memantapkan dan mengembangkan Islam di Tanah Banjar secara melembaga, agar agama Islam benar-benar menjadi way of life, keyakinan dan pegangan masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan umumnya.

Sultan Banjar berkeinginan pula untuk menertibkan dan menyempurnakan peraturan yang telah dibuat berdasarkan hukum Islam, wadah atau badan yang menjaga agar kemurnian hukum dapat diterapkan, dan yang lebih penting lagi adalah agar roda pemerintahan di kerajaan benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga bermula dari sinilah kemudian timbul lembaga-lembaga dan jabatan-jabatan keislaman dalam pemerintahan, semacam Mahkamah Syar’iyah, yakni Mufti dan Qadli.

Mufti adalah suatu lembaga yang bertugas memberikan nasihat atau fatwa kepada sultan masalah-masalah keagamaan, jabatan mufti kerjaan Banjar yang pertama dipegang oleh H. Muhammad As’ad bin Usman (cucu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari). Sedangkan qadli adalah mereka yang mengurusi dan menyelesaikan segala urusan hukum Islam, terhadap masalah perdata, pernikahan, dan waris, jabatan qadli yang pertama dipegang oleh H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sampai akhirnya Syariat Islam diterapkan sebagai hukum resmi yang mengatur kehidupan masyarakat Islam di tanah Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mu’tamidillah (1825-1857 M), yang dikenal dengan nama Undang-Undang Sultan Adam (UUSA). Dibentuk dan diberlakukannya UUSA ini bertujuan untuk mengatur agar kehidupan beragama masyarakat menjadi lebih baik, mengatur agar akidah masyarakat lebih sempurna, mencegah terjadinya persengketaan, dan untuk memudahkan para hakim dalam menetapkan status hukum suatu perkara.

UUSA ini antara lain berisikan, Pasal 1 sampai dengan pasal 2 berbicara tentang dasar negara yakni Islam yang Ahlu Sunnah wal Jamaah, pasal 4 sampai dengan pasal 22 menerangkan peraturan dalam peradilan berdasarkan mazhab Syafi’i, pasal 23 sampai pasal 27 berbicara tentang hukum tanah garapan, penjualan tanah, penggadaian, peminjaman dan penyewaan tanah yang harus dilakukan secara tertulis, serangkap di tangan hakim dan serangkap lagi di tangan yang berkepentingan. Gugatan terhadap tanah yang terjadi sebelum diberlakukan undang-undang dapat diajukan sebelum duapuluh tahun semenjak undang-undang ditetapkan, sedang tanah atau kebun yang terjual atau telah dibagi kepada ahli waris, dapat digugat selama sepuluh tahun dari tahun penjualan atau pembagian sampai undang-undang diberlakukan. Orang yang menang dalam perkara tidak boleh mengambil sewa selama berada di tangan tergugat.

Di samping alasan-alasan di atas yang mendasari aktivitas dan perjuangan dakwah Abdul Wahab di Tanah Banjar, sebagai seorang ulama yang alim, ahli Ilmu Fikih dan menguasai Ilmu Tasawuf, menurut asumsi penulis Abdul Wahab juga salah seorang ulama penyebar tarekat Sammaniyah (Pembahasan tentang peranan Syekh Abdul Wahab Bugis sebagai salah seorang pembawa dan penyebar tarekat Sammaniyah yang bercorak Khalwatiyah, di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis al-Banjari lebih jauh dapat dilihat dalam tulisan saya yang berjudul: “Melacak Jejak Pembawa Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar”, Jurnal Khazanah, Volume II Nomor 05, September-Oktober 2003). Sehingga dalam konteks ini memungkinkan sekali jika ia menggunakan pendekatan dakwah sufistik dalam aktivitas dakwahnya, di samping pendekatan dakwah syariah.

Dimaksud dengan dakwah sufistik adalah usaha dakwah yang dilakukan oleh seorang muslim untuk mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun kolektif (jamaah) agar mereka mau mengikuti dan menjalankan ajaran Islam secara sadar, usaha ini dilakukan dengan pendekatan tasawuf, yakni pendekatan dakwah yang lebih menekankan pada aspek batin penerima atau objek dakwah (mad’u) daripada aspek lahiriyahnya.

Dengan kata lain pendekatan dakwah sufistik adalah dakwah dengan menggunakan materi-materi sufisme, yang di dalamnya terdapat aspek-aspek yang berhubungan dengan akhlak, baik akhlak kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada sesama manusia, bahkan akhlak terhadap semua makhluk ciptaan Allah seperti tawadlu’, ikhlas, tasamuh, kasih sayang terhadap sesama, dan lain-lain, sehingga pada akhirnya dalam diri mad’u timbul kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) sedekat-dekatnya agar memperoleh rahmat serta kasih sayang-Nya (Rosyidi, 2004: 46).

Apatah lagi, pada masa itu tasawuf dan berbagai tarekat yang ada telah memainkan peranan penting dalam perkembangan dan Islamisasi di Indonesia sejak abad XI Masehi. Di mana berlangsungnya Islamisasi di Asia Tenggara (termasuk di Indonesia), berbarengan dengan masa-masa merebaknya tasawuf abad pertengahan, dan pertumbuhan tarekat-tarekat, antara lain ajaran Ibn al-‘Arabi (w. 1240 M), ‘Abd al-Qadir al-Jailani (w. 1166 M) yang ajarannya menjadi dasar Tarekat Qadiriyah, ‘Abd al-Qahir al-Suhrawardi (w. 1167 M), Najm al-Din al-Kubra (w. 1221 M) dengan tarekatnya Kubrawiyah, Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 1258 M) dengan tarekatnya Syadziliyah, Baha’u al-Din al-Naqsyabandi (w. 1389 M) dengan tarekatnya Naqsabandiyah, ‘Abd Allah al-Syattar (w. 1428 M) dengan tarekatnya Syattariyah, dan sebagainya (Martin, 1985: 188). Sehingga tasawuf merupakan sesuatu yang sangat diminati, tak terkecuali pula halnya dengan masyarakat Banjar yang telah memiliki bibit-bibit ketasawufan tersebut. Lebih dari itu, Islam yang masuk yang berkembang di Indonesia sendiri menurut para ahli adalah Islam yang bercorak tasawuf (Yunasir, 1987: 94).

Sayangnya, perjuangan dakwah Abdul Wahab tidak begitu panjang, ia meninggal terlebih dahulu dan lebih muda setelah sekian lama berjuang bahu-membahu mendakwahkan Islam bersama dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yakni lebih kurang 10-15 tahunan.

Tidak diketahui secara pasti memang kapan tahun meninggalnya, namun diperkirakan antara tahun 1782-1790 M, dalam usian enampuluh tahunan. Tahun ini penulis dasarkan pada catatan tahun pertama kali kedatangannya (1772 M) dan tahun pemindahan makamnya. Di mana semula ia dikuburkan di pemakaman Bumi Kencana Martapura, namun oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kemudian, bersamaan dengan pemindahan makam Tuan Bidur, Tuan Bajut (isteri dari Syekh Muhammad Arsyad), dan Aisyah (anaknya Tuan Bajut), makamnya kemudian dipindahkan ke desa Karangtangah (sekarang masuk wilayah desa Tungkaran Kecamatan Martapura) pada pada hari Selasa, 2 Rabiul Awal 1208 H (1793 M). Karena itu bisa diperkirakan bahwa, dihitung dari tahun pertama kedatangan hingga wafatnya, Abdul Wahab telah bahu-membahu dan memperjuangkan dakwah Islam mendampingi Syekh Muhammad Arsyad di tanah Banjar sekitar 10-15 tahun.

Ada pula yang menyatakan bahwa, Abdul Wahab setelah lama berkiprah di Tanah dan kerajaan Banjar serta sesudah kedua anaknya yakni Fatimah dan Muhammad Yasin dewasa, ia kemudian pulang dan meninggal di kampung halamannya Pangkajene, Sulawesi Selatan (Zamam, 1978: 13).

Namun, Berdasarkan catatan pemindahan makamnya yang sampai sekarang masih disimpan oleh Abu Daudi, dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis sebenarnya tidak pulang ke daerah asalnya tetapi meninggal lebih muda dari Syekh Muhammad Arsyad. Karena itu data ini lebih kuat dari yang dikatakan oleh Zafri Zamzam bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis pulang ke daerah asal beliau (Pangkajene) dan meninggal di sana.

Demikianlah, Syekh Abdul Wahab Bugis telah membaktikan ilmu, waktu, dan hidupnya untuk memperjuangan dakwah Islam di Tanah Banjar. Seyogianya peranan, jasa dan perjuangannya itu menjadi cermin bagi generasi sekarang untuk meninggalkan amal shalih yang sama, sehingga berguna bagi generasi selanjutnya untuk membangun dan mengembangkan masyarakatnya.

Penutup
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa Abdul Wahab Bugis, kawan seperguruan, sahabat, dan sekaligus menantu dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga memiliki peran dan jasa yang besar dalam mendakwahkan Islam di Bumi Kalimantan. Mulai dari mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan pada keluarga atau bubuhan bangsawan di kerajaan Banjar sampai membangun tanah lungguh desa Dalam Pagar menjadi locus utama dakwah Islam, pendidikan, dan pengkaderan kader-kader yang kelak menjadi pejuang dakwah diberbagai daerah yang menjadi sebarannya di Kalimantan.

Mengingat ketokohan, akhlak, dan keilmuan yang dimilikinya yang memang diakui, serta melalui kebersamaan sebagaimana yang telah diikrarkan, bahu-membahu, dan ikhlas berjuang bersama Syekh Muhammad Arsyad, Abdul Wahab berhasil menempatkan posisi dirinya sebagai ulama pejuang dalam rangka menjadikan Islam sebagai pola kehidupan masyarakat Banjar, baik bidang kenegaraan maupun bidang sosial kemasyarakatan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Yunasir, Pengantar Ilmu Tasawuf, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1987.

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994.

Basuni, Ahmad, Nur Islam di Kalimantan Selatan, Bina Ilmu, Surabaya, 1996.

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat : Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1999.

Daudi, Abu, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Tuan Haji Besar. Sekretariat Madrasah Sullamul Ulum Dalam Pagar Martapura, 1996.

Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999.

Halidi, Yusuf, Ulama Besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Bina Ilmu, Surabaya, 1984.

Humaidy, “Tragedi Datu Abulung : Manipulasi Kuasa Atas Agama”, Kandil, edisi 2 Tahun I, September 2003.

Jamalie, Zulfa, “Melacak Jejak Pembawa Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar”, Jurnal Khazanah, Volume II Nomor 05, September-Oktober 2003.

Marwan, Muhammad, Manakib Datu Suban dan Para Datu, Toko Buku Sahabat, Kandangan, 2001.

Masdari dan Zulfa Jamalie (ed.), Khazanah Intelektual Islam Ulama Banjar, Pusat Pengakjian Islam Kalimantan (PPIK) IAIN Antasari, Banjarmasin, 2003.

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, INIS, Jakarta, 1994.

Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal : Menentramkan Jiwa Mencerahkan Pikiran, Khazanah Populer Paramadina, Jakarta, 2004.

Sasono, Adi dkk, Solusi Islam Atas Problematika Umat, Gema Insani Press, Jakarta, 1998.

Steenbrink, Karel S. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.

Zamzam, Zafry, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai Ulama Juru Dakwah dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad ke-13H/18 M dan Pengaruhnya di Asia Tenggara, Percetakan Karya, Banjarmasin, 1974.

Pak Habibie

Prof. Dr. Ing Baharuddin Jusuf Habibie
Baharuddin Jusuf Habibie

Masa jabatan
21 Mei 199820 Oktober 1999
Wakil Presiden Tidak ada
Pendahulu Soeharto
Pengganti Abdurrahman Wahid

Masa jabatan
19981998
Pendahulu Try Sutrisno
Pengganti Megawati Sukarnoputri (pada 1999)

Lahir 25 Juni 1936 (umur 72)
Pare-Pare, Sulawesi Selatan
Partai politik Golkar
Suami/istri Ainun Habibie
Agama Islam

Profile secara umum

Baharuddin Jusuf Habibie (lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 72 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih pada 20 Oktober 1999 oleh suara MPR dari hasil Pemilu 1999. Dengan 373 suara MPR, Gus Dur mengalahkan calon presiden Megawati Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.[1]

Baik Alwi Abdul Jalil Habibie maupun R.A.Tuti Marini Puspowardojo bukan kelahiran Sulawesi Selatan. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A.Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunya anak seorang spesialis mata di Yogya, ayahnya bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. Ia bersaudara tujuh orang.[2]

Beliau belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Dia kemudian bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg, hingga mencapai puncak karir sebagai wakil presiden bidang teknologi. Pada 1973 kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.

<!–
//

Karir di Indonesia

Sebelum menjabat Presiden, B.J. Habibie adalah Wakil Presiden (Maret 1998 – 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto dan Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Pada masa jabatannya sebagai menteri ia pun diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Publikasi

  • Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka [Editors]. Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986
  • Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
  • Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965
  • Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. – Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990
  • Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968
  • Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970
  • Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969
  • Detik-detik Yang Menentukan – Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)

Publikasi tentang B.J. Habibie

  • Hosen, Nadirsyah, Indonesian political laws in Habibie Era : Between political struggle and law reform, ,Nordic journal of international law, ISSN 0029-151X, Bd. 72 (2003), 4, hal. 483-518
  • Rice, Robert Charles, Indonesian approaches to technology policy during the Soeharto era : Habibie, Sumitro and others, Indonesian economic development (1990), hal. 53-66
  • Makka, Makmur.A, The True Life of HABIBIE Cerita di Balik Kesuksesan, PUSTAKA IMAN, ISBN 978-979-3-371-83-2, 2008

KH Abdullah Gymnastiar

► e-ti
Nama :
Yan Gymnastiar
Nama Populer :
KH Abdullah Gymnastiar
Nama Panggilan :
Aa Gym
Lahir :
Bandung, 29 Januari 1962
Istri :
Ninih Muthmainah Muhsin
Anak :
- Ghaida Tsuraya
- Muhammad Ghazi Al-Ghifari
- Ghina Raudhatul Jannah
- Ghaitza Zahira Shofa
- Ghefira Nur Fatimah
- Ghaza Muhammad Al Ghazali
Agama:
Islam
Pendidikan formal :
- D-3 PAAP (Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan) Unpad
- Fakultas Teknik Universitas Jenderaln Ahmad Yani
Pendidikan Agama :
- Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya
- Belajar pada Ajengan Junaidi di Garut
Karir:
Komandan Resimen Mahasiswa di Akademi Teknik Jenderal Achmad Yani (1982) Pendiri Kelompok Mahasiswa Islam Wiraswasta (1987)
Pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung (1990- sekarang)
Alamat :
Jalan Gegerkalong Girang No 38, Bandung

Tawarkan Damai dan Manajemen Qalbu

KH Abdullah Gymnastiar, akrab disapa Aa Gym, mengajarkan sebuah konsep baru Syiar Islam. Manajemen Qalbu yang menawarkan diri untuk mengajak orang memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri. Kiyai yang berbekal ilmu laduni itu disambut haru dengan tetesan air mata oleh umat Muslim maupun Kristen di Palu, ketika ia dengan tulus mengunjungi daerah yang diwarnai konflik itu.

Pada tablig akbar yang diikuti lebih 10 ribu jemaah –termasuk warga Kristiani — di Masjid Agung Darussalam Palu— AA Gym, sapaan akrab KH Abdullah Gymnastiar, mengatakan jika buta mata hanya tidak melihat dunia, tetapi jika hatinya yang buta tidak bisa lagi melihat kebenaran. “Mereka inilah yang kacaukan bangsa ini,” tuturnya dengan lantunan lagu. Setelah tablig akbar di Poso, Aa Gym juga berceramah (siraman rohani) di hadapan komunitas kristiani di Tentena.

Kehadiran KH A Gymnastiar di Poso, sangat menyejukkan bagi kedua kelompok bertikai di daerah itu. Diharapkan suasana ini dapat mengugah kembali pengikut kedua agama terbesar di daerah itu dapat hidup berdampingan secara damai di bawah payung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Toleransi kehidupan antarumat beragama di Poso tercabik-cabik akibat konflik yang hanya berawal dari peristiwa remaja yang mabuk-mabukan, kemudian meluas hingga menjerumuskan umat muslim dan kristiani ke dalam peritikaian yang mengenaskan.

Konflik itu mulai mereda setelah Menko Kesra Yusuf Kalla memprakarsai pertemuan pemuka agama dan tokoh masyarakat Poso di Kota kecil Malino, Sulawesi Selatan, yang kemudian melahirkan Deklarasi Malino Damai untuk Poso.

Dalam beberapa kesempatan, pemimpin Ponpes Daurut Tauhid Bandung itu mengemukakan perbedaan golongan dan agama merupakan rahmat. “Nikmatilah perbedaan itu dengan mencari titik persamaannya, yakni kita semua sama-sama bangsa Indonesia yang ingin maju”.

Menurutnya, penyebab terjadinya kerusuhan di sejumlah daerah di Indonesia ini adalah karena rakyat Indonesia masih suka menonjolkan golongannya dan menganggap golongan lain tidak benar. Seharusnya, dengan adanya perbedaan tersebut justru bisa memperkuat dan mempersatukan bangsa ini, dan tidak sebaliknya berpecah-belah saling mempertahankan prinsip, padahal semua itu sama-sama bangsa Indonesia.

Untuk menikmati perbedaan tersebut, Aa Gym mencontohkan bangunan beton, yang campurannya terdiri atas semen, besi, batu krikil, dan air, tapi bisa berdiri dengan kokoh dan kuat, karena bahan-bahan yang di dalamnya tidak saling menonjolkan diri. Demikian juga bangsa ini bisa kokoh dan kuat serta tidak bisa diadu-domba dan ‘dijajah’ oleh bangsa lain, jika kompak dan tidak suka menonjolkan diri.

Ulama kondang ini, tampil di acara Sixty Minutes di TV NBC, AS, bulan November 2002. Media televisi di AS itu tertarik menampilkan Aa Gym karena ia dinilai menghadirkan sebuah nuansa Islam yang sejuk dan damai. Nuansa islami yang dinilai sangat berbeda dengan isu dan pandangan AS tentang Islam selama ini. Beberapa waktu lalu, koran New York Times dan majalah Time juga menyajikan profil Aa Gym, berikut pandangan-pandangannya.

Manajemen Qalbu

Aa Gym mengajarkan sebuah konsep baru Syiar Islam yang menawarkan diri untuk mengajak orang memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri.

Menurutnya, orang sering lupa terhadap diri sendiri. Bahkan, orang selalu menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu pada dirinya. Sebaiknya setiap orang harus sadar, bahwa semua yang terjadi dan bakal terjadi bermula dari dirinya sendiri. Jika ingin jadi baik, tentu dia harus berbuat baik. Jadi, harus lebih dulu mengenali dan memahami diri sendiri.
Dengan mengutip hadis Rasulullah SAW, iamengatakan, bahwa dalam diri manusia itu terdapat suatu organ. Kalau organ itu baik, baik jugalah seluruh manusia itu. Tetapi, kalau ia busuk, busuk pulalah seluruh manusia itu. Organ itu adalah hati.
Menurutnya, hati adalah raja. Sehubungan dengan itu, dalam dakwahnya dia selalu menyampaikan arti penting manajemen qalbu (hati). Sebab, bila seseorang memiliki hati yang baik, maka akan baiklah perilakunya, yaitu perilaku yang dipenuhi rasa ikhlas dan jujur.
Kejujuran adalah modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi, dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari. Dan, disiplin adalah modal dasar untuk membentuk kader-kader unggul yang selalu haus prestasi. Langkah seperti itulah yang diterapkan dalam membina para santrinya.
Kini dia menjadi salah satu pendakwah paling digemari di Indonesia. Bahkan telah mulai melampaui popularitas KH Zainuddin MZ, terutama setelah dai sejuta umat itu menjadi politisi lalu bertikai dan mendirikan partai baru.
Popularitas Aa Gym memang sedang berkibar. Anak tertua dari empat bersaudara, yang dilahirkan di Bandung dengan nama Yan Gymnastiar, dari pasangan Letkol (Pur) Engkus Kuswara dan Hj Yeti Rohayati, itu kini kebanjiran undangan untuk berdakwah di berbagai kota di seluruh pelosok tanah air. Jadwalnya pun makin padat.

Dakwahnya tidak hanya disiarkan di televisi, juga di berbagai radio seperti di Jakarta, Bandung, Semarang dan Medan. Bahkan, banyak isi ceramahnya yang sudah dibukukan, dibuat VCD (video compact disc), atau direkam di pita kaset. Kini, hampir setiap hari, menjelang magrib, dia tampil di SCTV.
Sukses Aa Gym tak terlepas dari konsep barunya tentang syiar Islam. Dia menyiarkan Islam dengan format yang sangat sederhana, lugas dan renyah. Dai muda yang memulai karirnya pada 1990 itu kini menjadi pendakwah yang dikagumi hampir semua lapisan masyarakat. Mulai remaja, ibu rumah tangga, hingga para eksekutif perusahaan. Bahkan, BUMN seperti PT Telkom, Bank BNI, PT DI (Dirgantara Indonesia), dan PT KAI sering mengundang dia memberikan ceramah rohani.
Setiap dia tampil berdakwah, ribuan orang berduyun-duyun ingin mendengar. Pesantrennya di kawasan utara Bandung itu hampir setiap hari dipenuhi para santri yang ingin mengaji, beriktikaf, dan mentoring.
Kemunculan Aa Gym menjadi fenomena dakwah di tengah krisis multidimensional yang sedang melanda negeri ini. Bahkan, ajaran kesederhanaan hidup, kesahajaan, pembenahan hati dari dalam diri sendiri yang dia sampaikan menjadi kebutuhan santapan rohani sekaligus obat untuk kondisi masyarakat saat ini.

“Semua harus dimulai dari hati kita sendiri,” katanya. Karena itu, dia selalu mewanti-wanti jangan sampai apa yang disampaikan tidak tecermin dalam diri sendiri. Tak lupa, dia menyebut keluarga adalah cermin dari sukses dakwah yang dia sampaikan. “Keluarga jadi lingkup terkecil dari orang yang mendengar dakwah kita. Jangan sampai kita sukses mengubah orang lain dengan dakwah itu, tetapi keluarga tidak. Keluarga menjadi sangat penting bagi saya,” bebernya.
Suksesnya di bidang dakwah diikuti pula sukses di bidang pendidikan dan bisnis. Dia berhasil mengelola Yayasan Pesantren Darut Tauhid di Jalan Gegerkalong Girang No 38, Bandung. Pesantren yang dibangun di atas lahan seluas tiga hektar itu tergolong modern dan multifungsi. Ada bangunan masjid 1.000 meter persegi, ada cottage 24 kamar berkapasitas 80 orang (khusus bagi orang tua dan santri dari luar kota yang ikut pelatihan atau pesantren). Ada pula gedung serbaguna, kafetaria, serta swalayan mini yang megah dan elite. Ribuan santri belajar di sana.
Bidang usahanya antara lain, swalayan, warung telekomunikasi, penerbitan buku, tabloid, stasiun radio, pembuatan kaset, dan VCD. Omzetnya miliaran rupiah. “Bisnis ini dikelola dan juga jadi wahana para santri untuk mengaktualisasikan jiwa dan pendidikan wirausahanya. Bukankah Rasulullah menyuruh kita agar berada dalam tangan posisi di atas? Tak harus minta-minta. Ini akan berhasil jika kita mampu membangun jiwa entrepreneurship dalam diri kita sendiri,” ujarnya.
Sosok Aa Gym memang bisa menjadi suri teladan. Dia kyai yang masih muda, sederhana, namun bersahaja dan sukses di bidang usaha. Ia sosok teladan di tengah langkanya keteladanan pada masa kini.
Ketika tampil di depan para elite politik, pejabat negara, dan diplomat asing pada malam peringatan Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal, dai muda yang menekankan kebersihan hati, manajemen qalbu sebagai trademark dakwahnya, itu mengatakan, “Rakyat lebih terpesona kepada pemimpin bersahaja. Pemimpin bangsa tak perlu pamer kemewahan. Melihat orang pakai mobil mewah dan punya rumah mentereng, kita jadi enek. Bukan tidak boleh. Tapi, itu bisa menimbulkan pertanyaan dari mana semua itu?”

Kisah Aa Gym
Lalu, siapakah Aa Gym yang ceramahnya mampu membuat ribuan jemaahnya mengucurkan air mata? Dan, bagaimana ia mengelola Pondok Pesantren Daarut Tauhid sehingga menjadi rujukan beberapa lembaga dari sejumlah negara asing?

Pada tahun 1980-an di Garut, Jawa Barat, di sebuah rumah yang tertata rapi, di sebuah dusun, tampak seorang lelaki muda tengah memperdalam pemahaman spiritual di bawah bimbingan ajengan Junaedi. Hanya dalam tiga hari, lelaki muda itu dinyatakan memiliki ilmu laduni (ilmu yang diberikan Allah Swt kepada hambanya yang beriman, tanpa melalui proses belajar). Untuk lebih meyakinkan ucapan gurunya, lelaki muda itu kembali melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan berguru kepada beberapa ulama zuhud. Hasilnya sama, ia dinyatakan telah dikaruniai ma’rifatullah.

Lelaki yang bernama Abdullah Gymnastiar itu mengaku sering merasakan keajaiban yang sulit dicari penjelasannya. Setiap hari, dia mampu mengajar banyak orang dengan materi yang mengalir begitu saja. Saat materi tersebut di cek dengan kitab-kitab tafsir, ternyata isinya sama persis. “Terkadang saya mendapat ilmu baru tatkala sedang menyampaikan ceramah di hadapan jemaah,” ujarnya.

Berbekal ilmu laduni itu, ia mulai menyebarkan ajaran Islam kepada sesama manusia melalui pengajian dan ceramah, baik secara langsung maupun menggunakan media cetak dan elektronik. Langkah awal dakwahnya dimulai dengan membangun Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT). Ide pembentukan DT terilhami oleh keberhasilan gerakan Al-Arqom dari Malaysia yang sukses mengembangkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari secara Islami. Tapi, perbedaannya, DT tidak bersifat eksklusif seperti Al-Arqom. DT terbuka untuk semua orang.

DT, yang berarti perkampungan atau rumah bagi orang-orang yang bertekad mengabdi hanya kepada Allah Swt., dirintis dari usaha wiraswasta Aa Gym bersama teman-temannya melalui lembaga Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta (KMIW) pada 1987.

Saat itu, KMIW bergerak pada beberapa usaha kecil seperti pembuatan sticker, t-shirt, gantungan kunci, dan stationary yang dilengkapi slogan-slogan religius. Sebagian hasil usahanya digunakan untuk menopang dakwah, yaitu dalam bentuk pengajian rutin untuk remaja dan umum di bawah bimbingan Aa Gym.

Seiring dengan perkembangan usaha dan peningkatan jemaah pengajian, maka pada 1990 KMIW mendirikan DT di rumah orang tua Aa Gym. Beberapa waktu kemudian, DT pindah lokasi ke Jalan Gegerkalong Girang 38. Di lokasi baru yang berupa rumah pondokan dengan 20 kamar itu, ia menyewa dua kamar. Di sini gerakan dakwah lelaki penggemar warna putih itu mendapat tantangan berat. Sebab, lokasi itu dikenal sebagai markas “biang kerok” keresahan masyarakat. Dan, dengan keteguhan jiwa, akhirnya lelaki yang pintar beradaptasi dengan lingkungan itu berhasil mengontrak seluruh kamar yang ada. Bahkan, ia berhasil membeli rumah kontrakan tersebut langsung dari pemiliknya dengan harga Rp 100 juta.

Selanjutnya, pada 1993, ia memperbaiki markasnya dengan membangun gedung permanen berlantai tiga. Lantai satu digunakan untuk kegiatan perekonomian, lantai dua dan tiga dijadikan masjid. Masjid DT itu sering disebut masjid seribu tangan karena dibangun secara gotong royong oleh ribuan warga yang tinggal di sekitar tempat tersebut dan jemaah DT.

Usahanya berjalan lancar. Pada 1994, lelaki yang antirokok itu berhasil mendirikan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) DT untuk menopang dakwahnya. Dan, pada 1995, seorang jemaah membelikan sebidang tanah berikut bangunannya di Jalan Gegerkalong Girang 30 D, sekitar 50 meter dari masjid. Bangunan itu lalu digunakan sebagai kantor yayasan, kediaman pemimpin pondok, Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), ruang pertemuan, ruang produksi konveksi, gudang, dan kamar para santri.

Menjelang akhir tahun 1997, sarana dakwah dan perekonomian lelaki yang kurang suka pada pakaian batik itu bertambah lengkap setelah berdiri Gedung Kopontren empat lantai di seberang masjid. Gedung yang cukup representatif itu digunakan untuk kantor Baitul Mal wat-Tamwil (BMT), penerbitan dan percetakan, swalayan dan mini market, warung telekomunikasi, pusat informasi, serta lain-lain.

Pada 1999, DT berhasil memiliki Radio Ummat yang mengudara sejak 9 Desember 1999, mendirikan CV House and Building (HNB), PT MQs (Mutiata Qolbun Salim), PT Tabloid MQ, Asrama Daarul Muthmainnah 2000, Radio Bening Hati, dan membangun Gedung Serba Guna. Sampai 1999, aset DT–yang semula tidak seberapa–telah bernilai Rp 6 miliar.

Usaha ekonomi yang berjalan sukses tersebut ternyata sangat membantunya dalam menjalankan misi DT sebagai fasilitator pengembangan seluruh aktivitas sosial, budaya, teknologi, dan pendidikan yang bernuansa Islam. Dan, kesuksesan usaha ekonomi DT itu tercapai karena pengelolaannya menggunakan sistem keuangan yang transparan, profesional, dan inovatif, ditambah kejujuran para santri. Sifat jujur para santri itu tak terlepas dari peran sentral Aa Gym dalam menggembleng mereka.

Dalam mendidik atau menyampaikan sebuah materi ajaran agama, ia senantiasa menekankan pentingnya pembenahan hati, atau yang sering disebut metode Manajemen Qalbu. Manajemen Qalbu adalah upaya untuk mengatur dan memelihara kebeningan hati dengan cara mengenal Allah. Salah satu caranya dengan berzikir. Selanjutnya, hati yang damai itu diisi dengan nilai-nilai rohani Islam seperti sabar, rida, tawakal, ikhlas, jujur, dan disertai dengan ikhtiar.

Menurut ustad yang tidak memiliki pembantu rumah tangga itu, hati adalah raja yang dapat membuat manusia melakukan apa saja. “Kita banyak amal, tapi kalau hatinya tidak ikhlas, ya tidak akan diterima,” ujarnya. Bagi Aa Gym yang fasih mendendangkan nasyid, itu suatu hal yang disampaikan dengan pikiran, maka hanya akan menyentuh pikiran. Sedangkan apa yang disampaikan dengan hati yang tulus, maka akan menyentuh relung hati pendengar yang paling dalam.

Pendapat itu terbukti kebenarannya. Sebab, di tiap pengajian yang ia adakan tiap minggu di DT, meskipun hanya membahas materi ringan ternyata mampu menyejukkan hati ribuan pendengarnya yang datang dari berbagai kota di Jawa Barat, bahkan Jakarta. Malah, ketika ia bernasyid atau memanjatkan doa, banyak jemaah yang tak kuasa membendung air matanya. “Terasa seperti sedang memutar rekaman film dari tingkah laku saya sendiri. Benar-benar menyentuh hati ceramahnya,” ujar salah seorang santrinya.

Selain diajari Manajemen Qalbu, para santri DT yang jumlahnya lebih dari lima ribu orang itu juga harus mengikuti program Santri Quantum. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan dan melipatgandakan kemampuan otak dalam berpikir. Sebagai pelengkap, para santri juga digembleng kemampuan fisiknya, sehingga daya tahan (endurance) mereka dalam aktivitas hidup sehari-hari bisa optimal. “Di sini, seseorang dilatih untuk menjadi dirinya sendiri,” ujarnya dengan mantap.

Metode pendidikan ala Aa Gym itu berjalan sukses karena dalam pelaksanaannya dijalankan dengan disiplin yang ketat. Bila ada santri yang salah, ia tak segan-segan menjatuhkan sanksi. Biasanya, sanksi diberikan sesuai dengan kemampuan orangnya, misalnya disuruh push up.

Secara umum, metode pendidikan yang menekankan arti penting zikir, pikir, dan ikhtiar itu banyak menarik minat lembaga lain untuk mempelajarinya. Misalnya, ada salah satu kesatuan TNI AD yang mengikuti pendidikan di pesantren itu selama satu bulan. Hasilnya, disiplin mereka tidak kaku seperti robot lagi, tapi berubah menjadi disiplin yang memiliki roh. Bahkan, banyak prajurit yang menjadi rajin mengerjakan salat dan mulai meninggalkan kebiasaan merokok.

Juga ada beberapa lembaga dari luar negeri, seperti dari Australia, Jepang, Mesir dan Singapura, yang pernah melakukan studi banding tentang resep sukses DT. Dan, kini, pengajian atau ceramah Aa Gym tidak lagi hanya diadakan di Bandung dan Jakarta, tapi telah merambah ke kota-kota lain seperti Semarang, Yogyakarta, Batam, dan Padang. Malah, ke luar negeri.

Selain terus berupaya meningkatkan kualitas para santrinya, Aa Gym yang semasa remaja menjadi penggemar musik country itu juga sangat peduli pada kebersihan, keamanan, dan ketenteraman lingkungan sekitarnya. Untuk masalah kebersihan, ia yang siap melayani umatnya kapan saja, itu tak segan-segan memungut kertas permen yang berserakkan di lingkungannya untuk dibuang ke tempat sampah. Dan, ia menugaskan para santrinya untuk membersihkan lingkungan pesantren dari segala macam sampah setiap hari Sabtu.

Sedangkan untuk membersihkan Bandung dari perbuatan maksiat dan perjudian, Aa Gym bersama Satuan Santri Siap Guna tidak segan-segan turun langsung ke lapangan guna mengingatkan para penjudi dan pelaku maksiat lainnya.

Keberaniannya tersebut ternyata membuatnya sering dimusuhi para bandar judi. Tapi, semua itu tak membuatnya menyurutkan langkah dalam memerangi maksiat. Sebaliknya upayanya ternyata berdampak positif. Kini, kawasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid menjadi kawasan bebas rokok dan wilayah teraman dan terbaik se-Jawa Barat.

Pria bertubuh ramping dengan sorot mata tajam itu terkenal murah senyum. Sejak SMA, naluri bisnisnya telah berkibar. Saat itu, ia pernah berjualan roti, koran, film, dan membuat percetakan.

Moto hidupnya adalah berprestasi bagi dunia dan akhirat. Ia u menikah dengan Ninih Mutmainah M dan kini telah dikarunia enam anak, yaitu Ghaida Tsuraya, M. Ghazali Al-Ghifari, Ghina Rauddathul Jannah, Ghaitsa Shofa, Ghefira Nur Fatimah, dan M. Ghaza Al-Ghazali.

Sebagai orang yang super sibuk, ia menerapkan manajemen keseimbangan. Menurutnya, segalanya harus diukur secara proporsional. Sebab, setiap ketidakseimbangan adalah kezaliman, sedangkan kezaliman dilarang oleh Islam. “Sesibuk apa pun, menimang dan bercengkerama dengan anak harus dilakukan,” ujarnya.

Dalam mendidik putra-putrinya, penggemar kegiatan membaca itu selalu menekankan arti penting kejujuran dan keikhlasan. Maksudnya, agar kita menjadi insan bertakwa dan berprestasi. Atau, siapa tahu, mendapat karunia ilmu laduni seperti Aa Gym?

Wawancara
Konsep baru syiar Islam yang ditawarkan Aa Gym adalah tentang manajemen qalbu (MQ). Apa dan bagaimana MQ itu, berikut petikan wawancaranya dengan Widaningsih:

Apa sebenarnya konsep manajemen qalbu yang ditawarkan dalam pesan dakwah Anda?
Konsep manajemen qalbu itu sebuah konsep yang menawarkan diri untuk mengajak orang memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri.
(Dia lantas mengutip hadis Rasulullah SAW). Bahwa dalam diri manusia itu terdapat suatu organ. Kalau organ itu baik, baik jugalah seluruh manusia itu. Tetapi, kalau ia busuk, busuk pulalah seluruh manusia itu. Organ itu adalah hati.
Orang kadang lupa terhadap diri sendiri. Bahkan, orang selalu menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu pada dirinya.
Kalau dia sadar, semua yang terjadi dan bakal terjadi bermula dari dirinya sendiri. Jika ingin jadi baik, tentu dia harus berbuat baik. Contoh yang paling konkret adalah diri sendiri. Untuk itu, mengenali dan memahami diri sendiri itu menjadi penting.

Apakah format yang cantik dan penyampaian lugas serta bahasa sederhana jadi resepnya sehingga pesan MQ yang Anda tawarkan begitu segar dan sangat menyentuh?
(Dia tertawa). Ada kalanya, beberapa pesan yang kita sampaikan harus berbentuk sesuatu yang sangat familiar. Contoh-contoh konkret harus ada di sekitar kita atau biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, bagaimana kita butuh upaya untuk pengembangan pribadi, bagaimana membangun keluarga sakinah, bagaimana membangun peradaban, atau bagaimana kita bisa meraih sukses.
Contoh nyata atas apa yang saya sampaikan juga harus tecermin dalam diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa mempengaruhi orang kalau saya sendiri tak berbuat seperti itu.
(Lalu, Aa Gym bercerita tentang kiat suksesnya dengan mengutip ayat Alquran Surat Al Qashash:77). Seorang mukmin yang kuat itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah. (Aa juga bertutur tentang keunggulan Nabi Muhammad). Sejak kecil, beliau memiliki etos kerja yang tinggi dan profesional.
Dari contoh itu, saya hanya sedikit meramunya dengan kiat sukses yang dirumuskan dalam rumus 7 T. Yakni tenang, terencana, terampil, tertib, tekun, tegar, dan tawadlu (rendah hati).

Mengapa Anda sering menyampaikan pesan itu secara jenaka?
Ada kalanya, apa yang kita sampaikan sangat bergantung pada situasi yang terjadi. Misalnya, saat pesan yang disampaikan berupa muhasabah atau perenungan, agar jadi lebih baik, harus konsentrasi.
Tetapi, ada kalanya, kita juga menggunakan gurauan yang membuat orang bisa dan perlu menertawakan diri sendiri. Gurauan itu punya makna sangat tinggi. Biar orang bisa mengevaluasi dirinya sendiri. Walaupun tertawa, silakan menertawakan diri sendiri.

Inti MQ itu upaya menyentuh hati atau tasawuf. Tapi, ada juga pendapat tasawuf malah menghambat karena orang cenderung berserah diri. Komentar Anda?
Jujur saja, sebenarnya saya kurang begitu paham tentang tasawuf ini. Saya hanya paham bagaimana Rasulullah mengajarkan dalam tubuh ini ada segumpal daging. Kalau daging itu baik, baik pula sekujur tubuhnya. Jika buruk, buruk pula sekujur tubuhnya itu. Segumpal daging itu dinamakan qalbu (hati).
Rasulullah mengatakan seperti itu. Dan, saya yakin, itu sebuah kebenaran. Jika kita kemas dengan cara tepat dan profesional, ini akan berdampak bukan hanya pada diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain sampai pada akhir hayat atau kiamat nanti.

Apa betul, bangsa kita sedang sakit? Lantas, apakah penyembuhan hati ini satu-satunya jalan?
Masyarakat Indonesia kini mengalami krisis multidimensional. Kembali menata hati dan memulai perubahan pada diri sendiri menjadi kondisi psikologis dan kebutuhan yang diperlukan masyarakat kita.
Tentu saja, itu bukan sebagai satu-satunya jalan. Tapi, saya pikir, penyembuhan hati sangat penting, terutama karena perilaku orang ditentukan hatinya. Kalau akal dan pikiran itu menunjukkan esensi, perbuatan untuk menjadikannya sebuah nilai sangat bergantung pada hatinya.
Kita lihat, banyak orang pandai, tetapi tidak punya hati nurani. Ya, dia korupsi. Korupsi itu bukan pekerjaan orang bodoh. Kerusakan negeri ini justru disebabkan orang-orang yang mempunyai kemampuan berpikir, tapi hatinya kurang baik.
Ini yang harus kita sembuhkan. Jangan lupa, penduduk Indonesia itu lebih dari 250 juta orang. Ini merupakan aset yang luar biasa.

Apakah agama masih dianggap sebagai suatu solusi?
Itu harus. Agama pasti mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi bangsa ini. Hanya, masalahnya, mengamalkan agama dan menyosialisasikannya harus dilakukan terus-menerus, lebih inovatif, dan kreatif. Jadi, bisa diterima masyarakat yang terus mengalami perubahan.
Yang terpenting pula, bagaimana mengaktualisasikan pemahaman agama itu dengan benar dan konsisten. Dengan begitu, masyarakat bisa menerima agama sebagai suatu solusi. Jangan hanya mengaku beragama, tetapi tindakan dan perilakunya justru jauh dari agama itu. Kondisinya saat ini kan seperti itu. Banyak masyarakat yang tidak konsisten dengan agamanya.

Jadi, peran ulama dan dai sangat penting? Kenyataannya, sangat jarang dai seperti Anda. Banyak yang cenderung masih sangat konservatif dan ketinggalan perkembangan di masyarakat?
Saya tidak berani menilai. Sebab, kapasitas pengetahuan dan pemahaman saya tentang orang lain masih sangat terbatas. Namun, saya percaya, ulama itu harus memiliki pemahaman soal agamanya dengan benar.
Dia harus bersungguh-sungguh dan konsisten dalam mengamalkan agamanya untuk menjadi suri teladan umat. Tidak untuk kepentingan apa pun dan siapa pun, kecuali Allah semata.
Allah SWT yang mengangkat derajat umat yang tidak takut siapa pun, kecuali takut kepada Allah. Sepanjang hayatnya bersih untuk mengabdikan diri bagi kemaslahatan umat. Kalau ulama berhati tulus dan pengamalannya benar, dia akan punya kekuatan ruhiyah yang sangat tinggi.
Seorang ulama harus bisa menyajikan opini di masyarakat bahwa kebenaran itu begitu indah dan bisa menjadi jalan keluar yang realistis bagi umat. Tentu, jika melihat dinamika masyarakat yang terus berkembang dengan penggunaan perangkat modern, misi itu bakal bisa menggugah dan mengubah masyarakat itu sendiri.

Anda membina pondok pesantren dengan cara amat modern. Terbukti, itu cukup berhasil, termasuk di bidang bisnis. Misi itu tidak berbenturan?
Intinya begini. Untuk bisa berdakwah dengan baik, harus ada contoh nyata. Dengan demikian, umat tidak hanya mendengar bagaimana Islam menjadi solusi. Kami membuat Pesantren Darut Tauhid sebagai miniatur realitas.
Karena itu, kami bekerja keras untuk membuktikan bagaimana Islam benar-benar bisa membuat orang sejahtera di bumi ini. Bahwa Islam juga sangat profesional.
Islam juga membuat kita mendapat dunia dan menikmati dunia dengan baik, tetapi juga punya nilai yang bisa menjadi bekal di akhirat nanti. Dengan santri-santri yang kita bina, Islam juga bisa membuktikan bagaimana cara berbisnis yang baik. Pebisnis dengan hati dan mental yang baik itu kan yang kita perlukan. Dua sisi yang saling melengkapi.

Itu berarti keseimbangan tetap harus ada?
Saya kira begitu. Metode manajemen qalbu yang saya tekankan di Pesantren Darut Tauhid tersebut diarahkan untuk mencapai keberagamaan yang intrinsik. Keseimbangan itu dibangun dalam praktik agama yang bersifat lahiriah dan batiniah. Jadi, terwujud keseimbangan antara zikir, pikir, dan ikhtiar.
Islam membuat kita mendapat dunia dan menikmati dunia dengan baik. Tetapi, juga punya nilai untuk bekal di akhirat dan punya nilai yang membuat orang berinteraksi dengan dunia ini. Orang tidak tertipu hiruk-pikuk dunia sehingga membuat orang terhina oleh dunia yang dimilikinya.
Kita punya dunia. Namun, kita harus jauh lebih bernilai daripada dunia yang kita genggam itu sendiri. Ini yang ingin saya tekankan

KH. ALI YAFIE

► e-ti/rpr
Nama:
Prof KH Ali Yafie
Lahir:
Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926
Agama:
Islam
Isteri:
Hj Aisyah
Anak:
Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru
Ayah:
Mohammad Yafie

Jabatan:
1. Ketua Dewan Penasehat ICMI
2. Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA)
3. Ketua Umum Majelis Ulama (MUI)
4. Ketua Dewan Penasehat MUI
5. Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN)
6. Anggota Dewan Riset Nasional (BDN)
7. Guru Besar UIA-IIQ-IAIN

Riwayat Pekerjaan:
1. Hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar
2. Kepala Inspektorat Peradilan Agama
3. Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang
4. Anggota DPR/MPR (tahun 1971–1987)
5. Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional
6. Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia
7. Ketua Dewan Syariah Nasional MUI

Tanda Jasa/Penghargaan:
1. Bintang Maha Putra
2. Bintang Satya Lencana Pembangunan

Sumber:
Dari berbagai sumber, di antaranya MUI

Prof KH Ali Yafie

Ulama Ahli Fiqh

Prof KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.

Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.
Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.

Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.
Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.

Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.
Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren.

Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain

Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.

Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.

Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971–1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.

Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.

Adam Malik

H. Adam Malik
Adam Malik
Adam Malik

Masa jabatan
19781983
Presiden Soeharto
Pendahulu Hamengkubuwono IX
Pengganti Umar Wirahadikusumah

Masa jabatan
28 Maret 196629 Maret 1978
Presiden Soeharto
Pendahulu Soebandrio
Pengganti Mochtar Kusumaatmadja

Lahir 22 Juli 1917
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Meninggal 5 September 1984 (umur 67)
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Partai politik Golongan Karya
Agama Islam

Adam Malik Batubara (Pematang Siantar, 22 Juli 1917Bandung, 5 September 1984) adalah mantan Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, antara lain beliau pernah menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Beliau juga pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia yang ketiga.

Ia merupakan personifikasi utuh dari kedekatan antara diplomasi dan media massa. Jangan kaget, kalau pria otodidak yang secara formal hanya tamatan SD (HIS) ini pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York dan merupakan salah satu pendiri LKBN Antara. Kemahirannya memadukan diplomasi dan media massa menghantarkannya menimba berbagai pengalaman sebagai duta besar, menteri, Ketua DPR hingga menjadi wakil presiden.
Sang wartawan, politisi, dan diplomat kawakan, putera bangsa berdarah Batak bermarga Batubara, ini juga dikenal sebagai salah satu pelaku dan pengubah sejarah yang berperan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia hingga proses pengisian kemerdekaan dalam dua rezim pemerintahan Soekarno dan Soeharto.

Pria cerdik berpostur kecil yang dijuluki ”si kancil” ini dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 22 Juli 1917 dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Semenjak kecil ia gemar menonton film koboi, membaca, dan fotografi. Setelah lulus HIS, sang ayah menyuruhnya memimpin toko ‘Murah’, di seberang bioskop Deli. Di sela-sela kesibukan barunya itu, ia banyak membaca berbagai buku yang memperkaya pengetahuan dan wawasannya.

Ketika usianya masih belasan tahun, ia pernah ditahan polisi Dinas Intel Politik di Sipirok 1934 dan dihukum dua bulan penjara karena melanggar larangan berkumpul. Adam Malik pada usia 17 tahun telah menjadi ketua Partindo di Pematang Siantar (1934- 1935) untuk ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Keinginannya untuk maju dan berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik merantau ke Jakarta.

Pada usia 20 tahun, Adam Malik bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, memelopori berdirinya kantor berita Antara tahun 1937 berkantor di JI. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional. Sebelumnya, ia sudah sering menulis antara lain di koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo.

Di zaman Jepang, Adam Malik aktif bergerilya dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, Adam Malik pernah melarikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Mewakili kelompok pemuda, Adam Malik sebagai pimpinan Komite Van Aksi, terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan. Selain itu, Adam Malik adalah pendiri dan anggota Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan anggota parlemen.

Akhir tahun lima puluhan, atas penunjukan Soekarno, Adam Malik masuk ke pemerintahan menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Karena kemampuan diplomasinya, Adam Malik kemudian menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Selesai perjuangan Irian Barat (Irian Jaya), Adam Malik memegang jabatan Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin (1965). Pada masa semakin menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia, Adam bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap sebagai musuh PKI dan dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra-revolusi.

Ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan Orde Lama, posisi Adam Malik yang berseberangan dengan kelompok kiri justru malah menguntungkannya. Tahun 1966, Adam disebut-sebut dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik. Pada tahun yang sama, lewat televisi, ia menyatakan keluar dari Partai Murba karena pendirian Partai Murba, yang menentang masuknya modal asing. Empat tahun kemudian, ia bergabung dengan Golkar. Sejak 1966 sampai 1977 ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II / Menlu ad Interim dan Menlu RI.

Sebagai Menlu dalam pemerintahan Orde Baru, Adam Malik berperanan penting dalam berbagai perundingan dengan negara-negara lain termasuk rescheduling utang Indonesia peninggalan Orde Lama. Bersama Menlu negara-negara ASEAN, Adam Malik memelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967. Ia bahkan dipercaya menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York. Ia orang Asia kedua yang pernah memimpin sidang lembaga tertinggi badan dunia itu. Tahun 1977, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR. Kemudian tiga bulan berikutnya, dalam Sidang Umum MPR Maret 1978 terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-3 menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang secara tiba-tiba menyatakan tidak bersedia dicalonkan lagi.

Beberapa tahun setelah menjabat wakil presiden, ia merasa kurang dapat berperan banyak. Maklum, ia seorang yang terbiasa lincah dan aktif tiba-tiba hanya berperan sesekali meresmikan proyek dan membuka seminar. Kemudian dalam beberapa kesempatan ia mengungkapkan kegalauan hatinya tentang feodalisme yang dianut pemimpin nasional. Ia menganalogikannya seperti tuan-tuan kebon.

Sebagai seorang diplomat, wartawan bahkan birokrat, ia seing mengatakan ‘semua bisa diatur”. Sebagai diplomat ia memang dikenal selalu mempunyai 1001 jawaban atas segala macam pertanyaan dan permasalahan yang dihadapkan kepadanya. Tapi perkataan ‘semua bisa diatur’ itu juga sekaligus sebagai lontaran kritik bahwa di negara ini ‘semua bisa di atur’ dengan uang.

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, H.Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker lever. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan.

Samsung SGH i700

<!–

–>


<!–

–>










Pocket Office (Outlook, Word, Excel)

Take your office with you, with the Samsung i700 Mobile PDA. The SGH-i700 is the perfect business companion for your mobile life. Slim, competent and durable, the i700 is the most technologically advanced mobile PDA available with the convenient functionality of Pocket PC for a combination of elements including applications like Pocket Outlook, Pocket Word and Pocket Excel to make you more productive as you manage your busy schedule.


Voice Recognition / Rotating VGA (640 x 480) Camera

In addition, it incorporates a state-of-the-art speaker voice recognition system that lets you control your PDA hands-free. It sports a sleek and lightweight design with a built-in 180o rotating digital camera, camcorder and a 3.5 high-quality 65 000 TFT colour screen. Its built-in SD I/O port also provides the flexibility to enhance your capabilities with additional add-on functionality like Wi-fi and Bluetooth.


Camcorder (MPEG4/3GPP)

The 300 000 pixel CMOS digital camera is great for still shots or video clips, which can be stored and played back. An integrated camcorder and movie player lets you take movies in MPEG4/3GPP format and send them to your friends via MMS. Bundled with MITs Wizard software gives you the power to edit and customize your PC images and video taken with your i700. Samsungs new i700 lets you experience the Web in vibrant color and at high-speed on its full-colour touch-screen display, which can be freely adjusted for either portrait or landscape viewing. The i700 also supports sending pictures wirelessly and in full colour.


MultiMedia (MP3/WMA)

The Windows Media Player plays back video files and MP3 files just like a PC, providing a full range of entertainment options. And it comes with a built-in writeable memory capacity of 64MB and an SD I/O port that can expand onboard memory up to 1GB for additional enjoyment as you play games like Jawbreaker and Solitaire and download music and video files.

LG KE770

Desain Layar Keypad & Tombol User Interface Kamera Video Internet Pemutar Musik Games Konektivitas Messaging Video Call Baterai Kinerja Komentar Editor

Shine Candybar, Kamera 2 MP

Selain fitur kesamaan seri Shine ini adalah desain yang semuanya terbuat dari bahan metal mengkilap. Termasuk tombol shortcut, keypad numerik, hingga penutup slot untuk charger terbuat dari metal. Dengan desain seperti ini, meski tipis, KE770 terlihat tetap kokoh. Perbedaan yang menyolok dibanding KE970 selain konsep desain adalah pada tombol pemutar MP3 dan kamera. Di KE970 tombol MP3 dan kamera terpisah meski berdekatan, sementara di KE770 tombol MP3 dan kamera menyatu.

KAMERA
Selain mengunggulkan desain, KE770 juga menawarkan sejumlah fasilitas multimedia. Untuk imaging misalnya, dengan bekal kamera 2 MPix plus flash membuatnya bisa digunakan untuk fotografi maupun rekam video yang memadai. Fasilitas fotografi yang menyertai diantaranya adalah pengaturan self-timer, 6x multishot, color effect, dan white balance. Sementara untuk rekam video tersedia opsi resolusi 128×96 pixels dan 176 x144 pixels, flash, dan effect. Untuk penyimpanan dua aplikasi ini selain menyediakan memori internal 48 Mb juga tersedia slot memori jenis micro SD. Hanya sayang, kartu memori sifatnya tidak hot swap sehingga untuk memasangnya kita harus mematikan telepon dan membongkar baterai dulu.

MUSIK
KE770 juga menyediakan pemutar MP3. Suara yang muncul dari pemutar musik ini lumayan oke, lengkap dengan fasilitas seperti equalizer dan set shuffle. Di player ini, lagu MP3 pilihan bisa diset sebagai ringtone. Kita pun bisa membenamkan lagu-lagu kesayangan dengan mudah ke ponsel dari PC atau Notebook lewat fasilitas koneksi yang tersedia.

INTERNET
Untuk berselancar ke dunia maya, KE770 sudah menyediakan akses internet dengan kualitas EDGE. Meski belum 3G, asal masih berada di coverage operator yang menyediakan layanan tersebut, internet bisa dinikmati dengan cepat. Hanya, untuk ponsel yang diuji coba Selular, tidak tersedia opsi setting otomatis sehingga kita mesti melakukan setting manual.

KONEKTIVITAS
Untuk konektivitas, ponsel ini menyediakan bluetooth dan koneksi via USB. Catatan untuk koneksi via USB, kita harus menginstal CD bawaan yang ada dalam paket penjualan. Agar koneksi berjalan lancar di menu connectivity harus dipilih opsi yang sesuai apakah ingin melakukan PC Sync atau menganggapnya sebagai media penyimpan layaknya USB Flash Disk. Bila memilih PC Sync kita bisa melakukan sinkronisasi phonebook, schedule, dan memo dari ponsel ke komputer atau sebaliknya. Selain bisa berfungsi sebagai PC Sync, kita juga bisa memanfaatkan ponsel ini sebagai modem komputer agar bisa leluasa berinternet di komputer.

GAME
Selain kamera dan MP3 player, aplikasi hiburan juga mendapat tempat. Bagi penggemar games, tersedia dua game bawaan yakni bubble soccer dan fishing mania. Selain itu, fitur lain termasuk komplet misalnya untuk melihat beragam dokumen dengan format populer hingga merekam suara. Berikut beberapa fitur lain yang menyertai

USB CONNECTION MODE
Ada dua opsi di aplikasi ini yakni data service dan mass storage. Agar bisa tersinkronisasi dengan komputer, kita harus memberi tanda centang untuk data service. Jangan sampai lupa karena bila salah mencentang, ponsel tidak akan tersinkronisasi karena dianggap sebagai penyimpan data saja

FISHING MANIA
Games ini cocok bagi pengguna yang hobi memancing. Di sini kita bisa mendapatkan tutorial memancing di berbagai tempat di dunia seperti Hawaii atau lainnya. Ketika pancing termakan ikan, maka akan ada alert dalam bentuk vibrasi yang cukup menyenangkan.

MEMORY STATUS
Untuk manajemen memori, kita bisa memanfaatkan fasilitas ini. Kita bisa mengecek penggunaan memori sehingga tak ada rasa kuatir memori internal akan terlalu penuh. Aplikasi ini bisa dibuka di menu setting > memory status > multimedia memory.

PERFORMA
Kinerja ponsel ini termasuk baik, ketika digunakan untuk melakukan atau menerima panggilan. Adanya sejumlah fasilitas multimedia membuat pengguna ponsel ini bisa merasakan sejumlah aplikasi seperti akses internet, musik, sampai bermain games. Fasilitas sinkronisasi dengan komputer sebaiknya diaktifkan untuk memback-up data terutama untuk nama kontak. Caranya mudah, cukup mengikuti instruksi di CD instalasi yang tersedia di box pembelian.

BATERAI
Tenaga baterai yang terbenam di seri ini mencapai 800 mAh. Teknologi yang digunakan adalah lithium ion. Kekuatannya adalah mampu digunakan untuk bicara non stop hingga 3 jam dengan waktu jaga mencapai 280 jam.

KOMPETITOR: